LOGIN“AAARGH! TIDAAAK!” teriak gue panik, karena melihat sesuatu yang hilang dari pandangan. Tiba-tiba, seorang pelayan wanita datang menghampiri. “Ada apa, Mas?” tanyanya, antara panik dan penasaran.
Dengan jari menunjuk ke arah meja, gue menatapnya tajam. Pelayan itu menghela napas diikuti oleh anggukan kecil. “Oh, gelas Mas tadi udah saya bawa ke belakang,” jawabnya kemudian santai.
Gue menggeleng cepat, “Bukan gelas, Mbak!” Refleks dahi gue mengerut menahan kesal. “Lho… terus apa, Mas?” Pelayan itu tampak makin bingung. “Tadi kan saya ada titip sesuatu, sebelum saya ke kamar kecil, inget nggak?” tanya gue, penuh penyesalan atas kecerobohan yang baru saja gue lakukan.
Ia tampak berpikir, namun tatapannya kosong. “Hmm… yang mana ya?” dengan raut wajahnya yang seperti mahasiswa salah masuk kelas ujian, pelayan itu memastikan. “Yang bentuknya kayak buku itu, Mbak. Scrapbook. Sekarang di mana benda itu?” Kesabaran gue mulai menipis.
“Sekrabuk?” ulangnya, kini dengan ekspresi tersesat. Ia menengok ke kanan, kiri, lalu belakang, mencari rekan kerja yang mungkin dapat membantunya. Namun sayangnya di area service hanya ada kami berdua.
Tiba-tiba ia mendekatkan bibirnya ke arah telinga gue. Tanpa sadar gue mundur setengah langkah. Pertahanan diri gue mode siaga penuh. Tidak menyerah, ia membusungkan tubuhnya sedikit. Mulutnya ikut maju dua senti. “Ngomong-ngomong… sekrabuk itu apa ya, Mas?” bisiknya kemudian.
Refleks gue menyeringai stres. “Scrapbook! Scrap-to the-book, Mbak. Bukan sekrabuk. Saya serius lho ini, Mbak!” tegas gue dengan kedua bola mata yang membesar. “Lho, saya juga nggak bercanda kok, Mas. Saya emang nggak tau. Kalo F******k, saya tau,” balasnya dengan senyum iklan pasta gigi kadaluarsa, yang justru membuat emosi gue naik hingga ke ubun-ubun.
Gue pun menarik napas panjang sejenak. Saatnya memanggil seluruh energi positif di alam semesta. “Whooosaaaah…”
“Jadi gini, Mbak. Tadi… waktu saya duduk di meja ini. Saya kan ada nulis-nulis di buku tuh, yang hampir ketumpahan kopi saya tadi, inget nggak?” Tanya gue sekali lagi, dengan nada ramah bak sekuriti bank swasta.
“Oooh, inget-inget, Mas!” Tampak terlihat ekspresinya seperti menang kuis. “Kalo saya nyebutnya itu buku diare, Mas,” lanjutnya, sukses membekukan otak gue selama lima detik.
“Di… diary, Mbak. Bukan diare,” koreksi gue halus. “Eh, iya! Kalo diare mah saya tadi pagi. Perut mules-mules, salah makan kayaknya.” Ia mengusap perutnya bangga, seolah itu adalah sebuah prestasi. Sementara kesabaran gue hampir copot dan pindah ke dimensi lain. Bodo amat!
“Jadi, intinya—Mbak liat nggak?!” tegas gue untuk kesekian kalinya. “Yah, saya kurang merhatiin, Mas. Tadi sewaktu saya bersihkan gelas sih masih ada. Tapi… pas saya balik lagi, ah! Terkejutlah saya,” jawabnya dramatis. Gue menahan napas. “Kenapa, Mbak?”
“Buku itu tiba-tiba hilang! Padahal saya kan bukan pesulap,” lanjutnya datar, sampai-sampai rasanya ingin gue paksa masuk ke dalam kulkas.
Mendengar penjelasannya itu, seketika gue putus asa. Menyalahkan diri sendiri karena sudah meninggalkan benda sepenting itu begitu saja. Tapi… buku itu besar, tidak mungkin hilang begitu saja. Sambil bercekak pinggang, gue memperhatikan sekeliling. Tiba-tiba mata gue tertuju ke satu benda yang tanpa sadar telah membuat gue tersenyum sendiri.
“Ah, akhirnya gue melihat sebuah harapan,” gumam gue, melihat CCTV yang menggantung di plafon coffee shop. “Mbak, boleh lihat itu nggak?” tanya gue bersemangat, sambil menunjuk ke satu-satunya harapan terakhir gue. “Ya, silahkan liat aja, Mas. Nggak ada yang larang,” jawabnya santai sambil berlalu pergi.
Hening.
MAKSUD LO APAAA? WOY!
“Mbak, saya mau lihat REKAMAN videonya, bukan cuma ngeliatin CCTV-nya! NGAPAIN saya liat CCTV!” Arrgh! Sumpah rasanya gue mau salto keliling bandara.
“Oh, a… anu, Mas,” Ia kembali sambil menggigit jari, “i… itu CCTV-nya udah lama rusak,” Gue terdiam. Terasa hampa. Pikiran mendadak kosong seperti isi dompet di akhir bulan.
Yah, mau bagaimana lagi. Sepertinya gue memang harus berpisah dengan scrapbook yang sudah menemani perjalanan hidup gue selama enam tahun terakhir itu. Buku yang sangat spesial, pemberian dari orang yang sangat berarti bagi gue.
Beberapa jam sebelumnya
“Aduh! Lama banget sih ni anak jemputnya. Udah panas pantat gue duduk dari tadi,” rutuk gue dalam hati. Teman yang janji mau menjemput gue dari dua jam lalu hilang entah ke belahan dunia mana.
Untung ada scrapbook kesayangan—buku penuh kenangan hidup yang sering jadi tempat pelarian gue. Setidaknya, gue bisa menghabiskan waktu dengan merangkai kata-kata ngawur yang diproduksi oleh lobus frontal[1],
yang tertanam di otak gue ini.Belum lama gue asyik menulis, seorang pelayan wanita tampak berjalan mendekat. Sampai di hadapan gue, ia membungkukkan badannya pelan-pelan, lalu mulai membuka… Ya! Membuka mulutnya.
“Permisi, Mas. Mungkin Masnya mau tambah lagi?” tanyanya dengan nada centil, sambil menunjuk ke arah gelas gue yang tinggal ampas harapan. “Nggak, Mbak, terima kasih,” jawab gue berusaha sopan.
“Kalo gitu, gelasnya ini boleh saya angkat, Mas?” tanyanya lagi, memastikan, “Oh, iya-iya, silahkan.” Perlahan tapi pasti, ia pun mengambil gelas itu. Tapi karena tangannya entah sedang piknik atau pikirannya lagi liburan panjang, byur!—tumpahlah sisa-sisa ampas itu.
Refleks, gue langsung menyelamatkan scrapbook yang tepat berada di sampingnya. Untung masih selamat. Tapi baju gue? Basah. Lengket. Dan baunya: kopi. Arghh, sial!
“Aduh, maaf-maaf, Mas! Nggak sengaja!” ucapnya panik sambil menggenggam tangan gue erat-erat. “Nggak sengaja atau nggak konsen? Mbak lagi mikirin apa sih!” bentak gue, mulai jengkel. Tapi bukannya merasa bersalah, ia malah senyum-senyum menggoda.
“Abis gaya Masnya… keren banget sih,” jawabnya membekukan gue sesaat. “Sampai-sampai dunia saya teralihkan sejenak, Mas.” Mendengar itu, seketika bulu kuduk gue berdiri. “Gatel banget ni cewek. Pengen gue garuk pake excavator rasanya.” Gerutu gue dalam hati.
“Yaudah, saya mau ke kamar kecil dulu. Tolong titip jagain scrapbook saya, ya,” ucap gue kemudian, sambil mengambil tas ransel berisi baju ganti.
Saat ini gue sedang berada di terminal kedatangan domestik Bandara Soetta. Menunggu kawan lama yang katanya mau menjemput, tapi entah kenapa rasanya lebih lama dari masa penantian skripsi. Karena itu, gue memutuskan untuk duduk di coffee shop ini sambil memikirkan alternatif penjemputan lain. Ya, sekalian menenangkan pikiran sejenak dari perjalanan yang baru saja gue lalui.
Itu rencana awalnya. Siapa sangka, kedatangan pertama gue ke Jakarta setelah sekian lama justru disambut oleh kesialan babak satu ini. “Argh!”
Tujuan gue kembali ke Jakarta adalah untuk mengakhiri masa perantauan gue yang cukup panjang. Setelah sekian lama gue berada di tanah orang, ini adalah untuk pertama kalinya lagi gue menginjakkan kaki ke kota yang telah membesarkan gue dengan banyak luka. Di mana luka itu hanya membuat gue makin terpuruk dan terjebak ke dalam situasi yang belum gue temukan jalan keluarnya.
Bzz! Bzz! Tiba-tiba ponsel gue bergetar. Kawan gue mengirim pesan. Katanya ia sudah sampai dan bisa melihat gue yang sedang berdiri seperti patung selamat datang.
Dengan buru-buru mata gue menyisir area penjemputan bandara, mencari sosok mobil yang dikendarai oleh kawan gue itu. Dan—"ah, itu dia!" Sebuah tangan melambai-lambai dari balik kaca sedan hitam, membuat dada gue mengendur lega.
Karena tampaknya kendaraannya tidak boleh berhenti lama di area penjemputan, gue langsung tancap lari. Petugas bandara sudah meniup peluitnya, seolah-olah gue ini peserta maraton yang start-nya ketinggalan. Priit! Priit! Ayo! Priit!
“Woy, Bay! Jangan ngebut dong, lo kata gue macan tutul?!” protes gue dengan napas tersengal-sengal. Lalu gue segera meluncur ke kursi belakang seperti atraksi lumba-lumba masuk ke lingkaran. Whoop!
Setelah gue perhatikan, ternyata kawan gue tidak sendirian—ada seorang wanita yang duduk di kursi pengemudi. Refleks gue tersenyum, berusaha terlihat ramah. “Sori ya, sebenernya gue yang nyaranin untuk nggak parkir, biar lo nggak kelamaan nunggunya,” ucap sosok wanita yang masih belum gue kenal itu.
“Iya, Dra. Parkiran penuh banget tadi. Oh, iya, kenalin ini temen gue—Vero. Dia yang punya mobil,” tambah Abay, memperkenalkan. “Iya, gue Vero. Lo Deandra kan? Abay banyak cerita tentang lo. Salam kenal ya,” ucapnya tanpa lepas fokus dari jalan. “Oh, iya, gue Deandra. Maaf ya, gue jadi ngerepotin,” balas gue menatapnya. “Oh, nggak kok. Kebetulan gue hari ini free,” jawabnya santai.
“Btw, lo berubah banget, Sob?” celetuk Abay, tiba-tiba memberikan tatapan menghakimi. “Berubah gimana? Jadi ranger biru?” Gue meledeknya, sambil memperagakan gaya Power Rangers saat berubah. Abay pun geleng-geleng kepala.
Memang, penampilan gue jauh berbeda dari terakhir saat bertemu dengannya. Tangan hingga leher penuh tato. Telinga dengan ear plug 18mm. Sangat jauh dari Deandra versi SMA.
“Oh, emang dulu gimana?” tanya Vero penasaran. “Yah, dulu Andra cupu. Jangankan jadi jagoan, di deketin cewek aja takut, kayak kucing liat vacuum cleaner,” ledek Abay, diakhiri dengan tawanya yang mungkin bisa membangunkan tupai hibernasi. Gue cuma menatap keluar jendela, malas menanggapi.
“Oh, ya, Dra. Seru nggak sih merantau di Bali?” celetuk Vero kemudian. “Hmm, biasa aja,” jawab gue datar. “Oh, gitu. Gue biasanya ke sana pas liburan aja dan nggak pernah puas,” lanjutnya tampak iri. Abay nimbrung lagi. “Si Andra emang gitu, Ro. Hidupnya flat, nggak bergairah, monoton. Seakan-akan kebahagiaan udah di-uninstall dari tubuhnya.” Kini giliran Vero tertawa ngakak.
“Ngomong apaan sih lo, Bay. Ngasal banget!” omel gue, memberikan lirikan tajam ke arahnya. “Ya, lagian elo! Yang namanya orang pulang kampung tuh, bahagia gitu, seneng, senyuuum. Masih inget caranya senyum nggak?” ledeknya. Gue pun membalas dengan cubitan di kedua pipinya yang tembam seperti adonan donat gagal mengembang itu. “Akhg!” Abay mengerang. “Ish, apaan sih kalian, bromance banget.” Mata Vero memicing, namun terdapat senyum kecil di wajahnya.
Ya, begitulah gue dan Abay—love-hate relationship versi pertemanan. Menyebalkan, tapi paling bisa diandalkan. Dulu ia adalah satu-satunya teman yang gue punya waktu SMA. Karena rumah kami berdekatan, mau tidak mau kami jadi akrab.
“Oh, ya, jadi selama empat tahun kemarin itu lo nggak pernah pulang ke Jakarta, Dra?” Vero bertanya lagi. “Nggak, ini pertama kalinya.” jawab gue datar. Ia langsung terkejut. “Wah, pasti lo kangen banyak hal, ya. Mau kita buka aja nggak kaca mobilnya? Siapa tau lo mau hirup udara Jakarta.”
“Dih, bau apaan yang mau dikangenin? Karbon Monoksida, Sulfur, Nitrogen Dioksida, Ozon…” sahut Abay, flexing kepintarannya. “Hmm, boleh-boleh. Udah lama nggak ngerasain sibuknya kota Metropolitan ini,” antusias gue, sambil membuka kaca yang tepat berada di samping gue.
Whooosaaah… hmmp… Ya, beginilah bau ibu kota ini. Bau semangat orang-orang yang berambisi untuk mencapai keinginan pribadi. Tersebar wajah-wajah kemunafikan yang kerap bersembunyi di balik profesi. Juga tatapan-tatapan curiga yang saling menghakimi. Banyak topeng-topeng palsu bertebaran di setiap sudut kota. Namun inilah Jakarta, dengan segala pesonanya yang tak pernah mati.
Setelah melewati padatnya lalu lintas di malam hari, akhirnya kami sampai di depan rumah gue yang terletak di daerah selatan Jakarta. “Ya, ampun! Ternyata rumah lo di sini, Dra?” seru Vero, tidak percaya. “Kenapa?” Gue mengerutkan dahi, penasaran. Ia geleng-geleng kepala—lalu tersenyum, “Iya, sebelumnya Abay udah bilang sih, kalo rumah lo itu sekitaran sini. Tapi, gue nggak nyangka juga kalo ternyata sedeket ini.”
Kini gue yang terkejut. “Oh, ya!” spontan gue menatap Abay. “Iya, beda beberapa blok doang kok,” celetuk Abay menambahkan. “Yaudah, pada mau mampir nggak nih?” tanya gue basa-basi, sambil membuka pintu mobil yang berhenti tepat di depan pagar. Belum sempat mereka membalas, gue sudah di hadapkan dengan sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan gue.
***
[1] Lobus frontal merupakan salah satu bagian otak, yang ada dipaling depan dari cerebrum (otak besar). Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan, kemampuan gerak, kreativitas, perencanaan, dan penyelesaian masalah.
Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Apakah akhir-akhir ini awan hitam itu muncul lagi?” tanya Aya, memastikan keadaan gue. Suaranya pelan, tapi tepat sasaran. “Hmm… entah ada hubungannya atau nggak, tapi akhir-akhir ini aku lumayan sibuk sama urusanku. Jadi kayaknya aku terdistraksi,” jawab gue, ada sedikit rasa lega merembes keluar dari kalimat itu. “Oh, ya? Itu bagus. Terutama kalau aktivitasmu bikin kamu lebih produktif,” ucap Aya, tersenyum kecil. Senyum yang terasa seperti lampu meja yang hangat di ruangan dingin. “Iya, selain cari kerja tambahan, aku juga mulai suka boxing, Ay,” tambah gue. Alis Aya langsung naik antusias. “Boxing? Yang tinju-tinju itu kan?” “Iya. Tapi bukan buat bertanding. Cuma latihan seru-seruan aja. Ya sekalian olahraga lah.” Gue tidak bisa menahan senyum, teringat sensasi pukulan yang memacu adrenalin itu. “Yakin cuma seru-seruan?” Aya menyipitkan mata, menilai ekspresi gue. “Barusan kamu kelihatan bahagia banget waktu nyeritainn
Gara-gara Sonya yang sukses meracuni gue dengan dunia boxing, kini gue resmi jadi maniak boxing dalam waktu super singkat. Bayangin aja—semalaman gue begadang cuma buat menonton video bela diri, dari yang tutorial dasar sampai pertandingan kelas dunia. Pagi-pagi mata gue bengkak menghitam mirip panda migrain. “Eh, mau kabur ke mana kamu?” tanya Ibu, melihat gue membawa ransel sebesar dosa. “Mau jualan di CFD,” jawab gue asal, bibir manyun. Ibu terkekeh. “Kamu nggak bawa macem-macem kan?” Gue menghela napas. “Ini baju olahraga, Ma.” Gue buka sepersekian detik. “Olahraga? Tumben.” Ibu menatap curiga. “Iya, biar kuat kayak Mike Tyson,” celetuk gue sambil berlalu pergi. Hari ini gue ada janji sama Sonya. Katanya ia mau menunjukkan tempat latihan boxing yang “sepi banget”. Bersama si bandit, gue menyusuri sudut Jakarta dari selatan ke arah pusat. Untung ada GPS—kalau tidak, mungkin sekarang gue sudah nyasar ke komplek pejabat… atau justru ikut arisan ibu-ibu setemp
Event VeroHari ini adalah hari di mana event catwalk yang diselenggarakan oleh Vero dan kawan-kawannya akhirnya digelar. Acaranya outdoor dengan tema garden bizarre—sebuah kombinasi antara taman anggun dan pesta kostum para peri yang mungkin baru pulang lembur.Dekorasi dan pakaian yang ditampilkan penuh dengan elemen flora, tapi dengan sentuhan nyentrik yang membuat gue merasa seperti lagi berjalan di dunia dongeng. Hasil eksperimen fashion show dan film fantasi indie.“Lho, Dra! Lo sendiri? Abay mana?” tanya Vero begitu melihat gue datang seorang diri. “Abay nggak bisa dateng. Katanya ada keperluan mendadak.” Vero langsung pasang ekspresi aduh-kasian-lo-Dra.“Yah, lo sendirian dong. Gue juga nggak bisa lama, harus balik ke backstage,” ucapnya merasa bersalah. “Santai aja. Ini kan acara lo, masa lo tinggal-tinggal. Gue mau keliling dulu sebelum acara mulai,” jawab gue sok kalem, padahal rasa panik gue sudah mulai loading 87% karena keramaian.Dengan sedikit paksaan pada diri sendiri
“Kak, ini ada apa sih, kok mata Diana pake di tutup segala,” bingung Diana, karena kedua matanya gue tutup dengan sebuah topi kupluk hitam, hasil pinjaman dari Vero. Tak berselang lama, gue pun menuntunnya ke garasi rumah karena ada yang ingin gue persembahkan kepadanya. Diikuti juga oleh Ibu dan Vero yang telah membantu menyiapkan kejutan ini.Setelah beberapa saat, “Surpriiiise!” teriak gue, sambil melepas kupluk hitam dari kepalanya. Tampak Ibu dan Vero ikut bertepuk tangan, memeriahkan suasana.“Ya ampun, Kak! Ini apa?” tersentak Diana, lalu ternganga. Sepertinya ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini—sebuah motor matic yang sedang populer di kalangan anak muda seusianya.“Mama, ini buat Diana?!” ucapnya memastikan. Matanya berbinar. Napasnya mulai tak beraturan. “Tanya Kakakmu dong, Mama nggak tau apa-apa,” jawab Ibu, lalu melirik gue. Gue pun mengangguk diikuti senyuman kecil di bibir ini.“Makasih ya, Kak” ucap Diana kemudian, bergegas mendaratkan sebuah pe
KelahiranAyah kandung gue adalah anak pertama dari seorang pengusaha ekspor-impor yang cukup ternama di daerah asalnya. Lahir dan besar di keluarga mapan membuatnya terbiasa hidup dalam tekanan untuk selalu jadi yang terbaik.Harga diri dan egonya nyaris sebesar ambisinya sendiri. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di hadapan ayah dan kedua adiknya. Dalam hidupnya, kemenangan adalah segalanya—apa pun akan ia lakukan untuk mencapainya.Sementara ibu gue, adalah kebalikan dari semuanya. Ia anak tunggal yang lahir di sebuah desa di dataran tinggi, yang dikelilingi perkebunan kopi yang sudah diurus turun-temurun oleh keluarganya.Ia anak yang sederhana, perempuan yang masih percaya bahwa kehidupan manusia diatur oleh takdir dan tanda-tanda semesta. Sejak muda, ibu gue sering datang ke rumah seorang guru spiritual yang dihormati di desanya. Setiap keputusan besar selalu ia konsultasikan ke sana—termasuk keputusan untuk menerima lamaran dari ayah gue.Pertemuan mereka bukan karena cin
Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Selamat siang,” sapa gue pelan, begitu gue duduk di kursi di hadapannya. Dan gue langsung tertegun—karena perempuan di hadapan gue ini jauh lebih muda dari bayangan gue tentang seorang psikolog.“Siang, halo.” Senyumnya hangat, tidak dibuat-buat. “Dengan… Mas Deandra, ya?” tanyanya memastikan. “Iya, benar, Dok.” Telapak tangan gue dingin, seperti waktu pertama ketemu dokter Silvi dulu.“Jangan panggil dok,” potongnya lembut. “Saya bukan dokter. Saya psikolog. Psikolog itu dari ranah ilmu psikologi, bukan kedokteran. Kalo psikiater baru lulusan kedokteran yang lanjut spesialis kejiwaan,” lanjutnya menjelaskan.“Oh, gitu…” Gue merasa bodoh sendiri. “Saya kirain sama, Dok—eh, maksud saya, Bu.” Ia ketawa kecil. “Panggil nama aja, Aya. Biar santai. Lagian saya lebih muda dari Mas, kok.”Gue berpikir sebentar—dan sadar kalau nama yang baru diucapkannya itu versi singkat dari Cahaya, nama belakang yang sempat gue lihat sekilas di kartu nama.“Oke… kalo gitu







