LOGIN"Ti! Aku berangkat kuliah duluan ya! Ada rapat UKM mendadak pagi ini, kamu sarapan sendiri nggak apa-apa, kan?" seru Nisa dari balik pintu.
“Sendiri?” bisiknya pelan, "I-iya, Nis! Hati-hati di jalan ya!" sahut Laras setengah bersorak dalam hati.
Begitu mendengar langkah kaki Nisa menjauh disusul deru sepeda motornya yang meninggalkan pekarangan rumah, Laras langsung melompat dari tempat tidur. Rasanya seperti baru saja mendapatkan pengampunan hukuman mati.
‘Aman! Mas-Mas Baper itu pasti udah berangkat ngantor dari pagi-pagi buta kan, ya?’ batin Laras penuh kemenangan.
Dengan santai Laras keluar dari kamar tamu. Hanya mengenakan kaus oblong oversized rumahan bertuliskan Malang Never Dies dan celana kain semata kaki, Laras melangkah riang menuju area dapur untuk mencari segelas air dingin demi membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
Namun, begitu kakinya melangkah melewati pembatas ruang keluarga menuju konter dapur berkonsep open space... langkah Laras seketika terkunci total.
Lidahnya mendadak kelu. Gelas di tangannya nyaris terlepas dari cengkeraman.
Di sana, di depan kompor, Arga sedang berdiri santai. Pria itu tidak mengenakan kemeja kantor atau jas mewahnya, melainkan hanya kaus polos berwarna abu-abu gelap yang membungkus pas dada tegapnya dan celana kain santai. Pria itu sedang membalikkan adonan pancake di atas teflon, sembari menyesap cangkir kopinya.
Arga memutar tubuhnya perlahan, menatap Laras yang membeku bak patung di ambang dapur.
"Pagi, Uti..." tegur Arga rendah dengan nada yang begitu santai, namun sarat akan kejahilan yang menusuk.
"M-Mas Arga... kok belum berangkat kerja?!" pekik Laras panik, refleks mengambil dua langkah mundur.
Arga meletakkan teflonnya, lalu berjalan santai mendekati Laras sembari bersedekap dada. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang teramat berbahaya.
"Mas sengaja ambil Work From Home hari ini," ucap Arga santai, melangkah maju satu demi satu hingga mengikis jarak di antara mereka. "Pengin nemenin bestie adik Mas yang hobi pura-pura serak dan main drama... sekaligus pacar online-ku yang hobi kabur-kaburan."
‘Mampus aku!’ Laras makin panik, melangkah mundur sampai punggungnya menabrak keras pinggiran konter dapur. Dia terjebak. Tidak ada jalan keluar, dan tidak ada Nisa yang bisa dijadikan tameng adu domba seperti semalam!
Arga menghentikan langkahnya tepat di depan Laras. Pria itu mengulurkan kedua tangannya, meletakkannya di tepi konter dapur dan secara sempurna mengurung tubuh berisi Laras di antara kedua lengan tegapnya. Aroma maskulin khas woody-citrus berpadu dengan wangi segar sabun mandi Arga seketika menyerbu indra penciuman Laras, membuat dadanya bergemuruh hebat.
"Nisa nggak ada di rumah seharian ini, Uti," bisik Arga rendah, menundukkan kepalanya hingga hembusan napas hangatnya menyapu lembut permukaan kulit leher dan pipi Laras yang mendadak merona merah padam. "Nggak ada tempat sembunyi, dan nggak ada penjahat yang bisa kamu adu domba lagi."
"M-Mas Arga apaan sih!" sergah Laras mencoba bersuara galak, meski pita suaranya justru bergetar ketakutan. Laras berusaha mendorong dada tegap Arga, namun otot-otot keras pria itu sama sekali tak bergeming. "Mundur dikit dong, Mas. Aku... aku bukan pacar online-mu. Mas salah orang!"
Arga malah terkekeh rendah, suara beratnya bergetar geli di dalam dada. Pria itu bukannya mundur, justru makin memajukan tubuhnya, menatap Laras dari jarak yang begitu rapat.
"Salah orang?" ulang Arga dengan alis terangkat sebelah, nada bicaranya berubah menjadi godaan yang memabukkan. "Masa, sih? Tapi suara kamu pas lagi panik begini... persis banget sama suara cewek yang suka merengek di telepon pas jam sebelas malam."
"Aku nggak pernah gitu ya!" tangkis Laras cepat, wajahnya makin panas membara.
"Oh, ya? Beneran nggak pernah?" Arga menunduk lebih rendah, menyejajarkan bisikannya tepat di samping telinga Laras yang kini memerah layaknya buah ceri matang. "Mas Arga... besok jangan lupa makan siang ya, nanti sakit… kalau sampai sakit, aku ngambek nih!”
“Ingat nggak kalimat itu? Dulu ada cewek Malang yang ngomong gitu pakai nada manja banget, sampai bikin aku nggak bisa tidur seharian."
JDAAAR!
Serangan kata-kata Arga menghantam ingatan Laras tepat di ulu hati. Itu... itu memang kalimat yang pernah dia ucapkan dua bulan lalu, ketiga Arga gila lembur tapi mengabaikan makan.
"I-itu kan cuma kemiripan suara aja." racau Laras mengelak, tangannya meremas kuat-kuat pinggiran kaus oversized-nya yang longgar. "Suara orang di Indonesia ini ada ratusan juta, Mas. Bisa aja kan suaraku mirip sama mantanmu yang kabur itu?"
Arga mengamati saksama ekspresi panik di wajah Laras. Pria itu menatap bagaimana mata bulat Laras bergerak liar, dadanya naik-turun memburu, dan warna merah merona yang kini sudah menyebar luas dari pipi, leher, hingga ke dada atasnya. Keimutan dan kepolosan Laras dalam bertahan hidup benar-benar memicu naluri goda Arga ke tingkat paling maksimal.
"Kalau cuma mirip suara, mungkin aku bisa percaya," bisik Arga santai, jari telunjuknya yang hangat mendadak terulur, mengusap pelan dagu Laras dan menengadahkan wajah gadis itu agar menatap lurus ke matanya. "Tapi gimana soal gestur kamu? Cara kamu gigit bibir bawah kalau lagi bohong, cara kamu meremas ujung baju kalau lagi tegang…”
“Mungkin sebelumnya kamu pakai filter, tapi kepribadian kamu nggak bisa ditutupi kecanggihan kamera, Sayang.”
Jemari Arga berpindah, dengan sangat lembut mengusap pipi chubby Laras menggunakan punggung jarinya. Sentuhan halus itu menghantarkan sengatan listrik ajaib yang membuat seluruh tubuh Laras kaku seketika.
"M-Mas Arga... j-jangan pegang-pegang!" cicit Laras dengan sisa-sisa keberaniannya. "Aku... aku aduin Nisa nanti kalau Mas nakal!"
"Aduin aja," tantang Arga rendah sembari terkekeh bisik. "Biar sekalian Nisa tahu kalau cewek yang bikin abangnya hampir gila semingguan di kamar... ternyata sahabatnya sendiri yang lagi sembunyi di balik baju kegedean ini."
Laras bungkam seribu bahasa. Lidahnya benar-benar dikunci mati. Tatapan mata Arga yang pekat, tajam, namun dipenuhi binar kehangatan dan rasa gemas yang membakar, membuat pertahanan mental Laras hancur berkeping-keping.
Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Laras yang bergetar hebat, sebelum pandangannya turun pelan-pelan... terkunci tepat pada bibir mungil Laras yang sedikit terbuka dan gemetar panik.
Ibu jari hangat Arga terangkat perlahan, mengusap sudut bibir Laras dengan sentuhan lembut yang menghantarkan sensasi mendesir ke seluruh pembuluh darah gadis itu.
"Semalam kamu pinter banget mainin akting di depan Nisa," bisik Arga serak, suara beratnya bergetar penuh sensasi gemas yang teramat pekat. Pria itu makin memajukan wajahnya, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
"Sumpah demi apa pun... aku rasanya gatal banget mau gigit bibir kamu yang manis ini."
Sensasi aroma napas Arga yang hangat menyapu permukaan bibir Laras, membuat gadis itu memejamkan mata rapat-rapat karena jantungan tingkat tinggi.
“Kalau masih nggak mau ngaku, aku cium aja kali ya?”
Pagi hari menyapa dengan sinar matahari hangat yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar. Laras terbangun dengan napas lega luar biasa begitu mendengar suara ketukan pintu kamar dan pamitan dari Nisa."Ti! Aku berangkat kuliah duluan ya! Ada rapat UKM mendadak pagi ini, kamu sarapan sendiri nggak apa-apa, kan?" seru Nisa dari balik pintu.“Sendiri?” bisiknya pelan, "I-iya, Nis! Hati-hati di jalan ya!" sahut Laras setengah bersorak dalam hati.Begitu mendengar langkah kaki Nisa menjauh disusul deru sepeda motornya yang meninggalkan pekarangan rumah, Laras langsung melompat dari tempat tidur. Rasanya seperti baru saja mendapatkan pengampunan hukuman mati.‘Aman! Mas-Mas Baper itu pasti udah berangkat ngantor dari pagi-pagi buta kan, ya?’ batin Laras penuh kemenangan.Dengan santai Laras keluar dari kamar tamu. Hanya mengenakan kaus oblong oversized rumahan bertuliskan Malang Never Dies dan celana kain semata kaki, Laras melangkah riang menuju area dapur untuk mencari segelas air d
Pertanyaan Arga bergema rendah di ruangan yang temaram, sarat akan intimidasi pekat dan kehangatan yang memabukkan. Namun di kepala Larasati Putri, ucapan pria itu bukannya bikin melayang, melainkan memicu alarm bahaya tingkat nasional yang berbunyi sangat nyaring.Beban mental Laras seketika membumbung tinggi, meremukkan seluruh persendian di tubuhnya. Bayangan rasa insecure soal bentuk tubuh berisinya tanpa polesan filter kamera, ketakutan luar biasa melihat kekecewaan di mata Arga yang sempurna, hingga bayangan horor jika Nisa—sahabat karibnya—sampai tahu bahwa perempuan yang membuat Mas-nya stres berat seperti ODGJ semingguan ini adalah Laras... semuanya berputar bagai angin puting beliung yang memporak-porandakan otaknya.‘Nggak! Aku belum siap. Aku nggak mau ngaku sekarang. Gimana kalau dia ilfil pas lihat aku aslinya?!’ jerit Laras histeris dalam hati. Bibirnya terkunci rapat, enggan mengeluarkan sepatah kata pun untuk membenarkan prasangka Arga. Tatapan matanya bergetar liar,
Laras menoleh ragu ke arah sofa. Di sana, Arga sedang duduk santai dengan satu kaki bertumpu di atas kaki lainnya. Jemari tegapnya memegang ponsel apel tergigit terbaru. Cahaya remang dari layar pendar memantulkan garis wajah tegas dan rahang kokoh pria itu yang kini menatap lurus ke arah Laras, sambil memamerkan senyuman miring yang begitu jahil.Pria itu dengan sengaja mengetuk layar ponselnya, mematikan rekaman voice note tersebut, lalu berdiri perlahan mendekati Laras yang membeku bak patung es."Suara pacar online-ku yang kabur seminggu lalu," ucap Arga santai, suaranya terdengar begitu tenang, bernada rendah, sekaligus sangat mematikan. "Mirip banget sama suara kamu. Mungkin… pas lagi nggak serak-serak becek gitu?" Jdarrr! Tidak cuma jantung, isi kepala Laras rasanya ingin meletus saat itu juga. Ingin sekali Laras menjerit, menyadari Arga seperti sengaja mengatakan itu padanya. Otaknya mendadak blank total. Rasa malu, panik, merinding, dan terintimidasi bercampur aduk menjadi
Pria itu akhirnya menegakkan kembali tubuhnya yang jangkung, lalu melangkah santai meraih kunci mobil dan tas kerjanya menuju pintu depan."Mas berangkat kantor dulu, Nis," pamit Arga datar."Iya, Mas. Hati-hati di jalan!" sahut Nisa dari dapur.Namun baru berjalan lima langkah mendekati pintu utama, Arga mendadak menghentikan langkah. Pria itu memutar tubuhnya utuh, menatap ke arah meja makan di mana Laras tengah menghela napas panjang dan menyapu dadanya dengan rasa lega yang membuncah.Baru saja Laras mengira bahaya telah berlalu, akan tetapi pendengarannya mendadak menangkap kembali suara derap langkah sepatu yang mendekat.Arga melangkah kembali menyeberangi ruang makan. Langkah kakinya yang berat dan berirama di atas lantai marmer membuat napas Laras yang baru saja terhela mendadak kembali tersangkut erat di tenggorokan.Pria itu berhenti persis di depan meja Laras. Melirik ke adiknya yang masih sibuk mencuci piring bekas makannya. Tanpa meminta izin atau memberikan tanda, Arga
Malam pertama di rumah megah itu dihabiskan Larasati Putri dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar tamu. Bantal empuk dan sprei wangi lavender tak mampu menenangkan debar jantungnya yang seperti sedang maraton. Pikirannya dipenuhi satu nama… Arga.‘Duh Gusti... Gimana ceritanya aku malah nyetor nyawa ke rumah pacar online yang seminggu lalu kuputusin?!’ batin Laras histeris sambil menarik selimut menutup seluruh wajahnya sampai ke batas dada.Pikirannya kalut membayangkan kerapuhan penyamarannya saat ini. Beruntung sejak masa SMA di Malang dulu, Nisa sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Uti, nama panggilan akrab dari keluarganya. Fakta bahwa Nisa dan Laras memang berteman sejak bangku SMA di Jawa Timur menjadi penyelamat sementara. Laras tidak perlu mengarang kebohongan soal latar belakang daerah asalnya di hadapan Arga, karena Nisa tentu sudah menceritakan bahwa sahabatnya ini adalah kawan lama dari masa sekolah mereka.Namun, ancaman terbesar kini jelas ada pada
Taksi online yang ditumpangi Laras akhirnya berhenti di depan sebuah pagar besi hitam menjulang tinggi. Di baliknya, berdiri kokoh sebuah rumah megah bergaya modern minimalis tiga lantai dengan pencahayaan hangat. Laras sempat tertegun beberapa detik di pinggir jalan, memandangi bangunan yang lebih mirip istana kecil itu sambil merapatkan jaketnya.‘Ini rumah apa gedung kantoran? Gede banget!’ batin Laras terperangah.Pagar otomatis bergeser pelan saat Laras mendekat. Di pintu utama rumah, sosok Nisa—sahabat karibnya—sudah berdiri semringah dengan kaus santai dan celana piyama. Gadis itu langsung berlari kecil menyambut Laras."Uti! Ya ampun, akhirnya sampai juga!" seru Nisa heboh, langsung memeluk Laras erat-erat sampai Laras sedikit kesulitan bernapas. "Kangen banget aku sama kamu. Kok bisa-bisanya nekat merantau sendirian nggak bilang-bilang dari jauh hari?"Meskipun dua tahun berpisah jarak, tapi pertemanan keduanya masih sangat intens. Laras dan Nisa sering bertukar pendapat, bai







