Mag-log in"Aku gembrot. Siapa yang mau sama aku?" Laras selalu percaya bahwa kecantikan wanita punya standar ketat yang tak bisa dipenuhinya. Oleh karena itu, saat menjalin hubungan online dengan Arga, dia mengandalkan filter kamera dan trik sudut pengambilan gambar untuk menyembunyikan bentuk tubuhnya yang berisi. Namun, ketika Arga mendesak untuk bertemu di dunia nyata, rasa takut Laras memuncak. Dia memilih mengakhiri hubungan dan memutus semua komunikasi. Bagi Arga, penampilan fisik tak pernah menjadi poin utama. Suara Laras yang manis dan kepribadiannya yang menyenangkan sudah cukup untuk mencuri hatinya. Namun, pencariannya terhadap sang mantan online menemui jalan buntu, sampai adiknya, Nisa, membawa seorang gadis rantauan untuk tinggal di rumah mereka. Satu kata yang diucapkan Laras di depan pintu rumahnya langsung membuat Arga mengenali pemilik suara yang selama ini dia cari. Bukannya langsung membongkar kartu, Arga memilih memainkan permainan kucing-kucingan yang menggemaskan, menikmati setiap kepanikan Laras yang berusaha menyembunyikan identitas aslinya. Saat kebenaran akhirnya terungkap, bisakah Laras mengatasi ketidakpercayaan dirinya dan menerima keseriusan Arga yang tak main-main?
view morePonsel di genggaman Larasati Putri bergetar untuk yang kesepuluh kalinya dalam lima menit terakhir. Di layar kaca yang sedikit retak di bagian sudutnya itu, nama Arga terpampang jelas, diiringi rentetan pesan singkat yang sukses membuat pasokan udara di paru-paru Laras mendadak surut.
[Laras, weekend ini aku ke Bandung, ke tempatmu ya. Kita ketemu langsung. ShareLoc sekarang.]
[Aku udah nggak mau tunda lagi. Enam bulan cuma dengar suaramu lewat telepon itu nggak cukup.]
Dua balon chat sederhana, tapi bagi Laras—gadis dua puluh satu tahun yang baru saja lolos ujian masuk perguruan tinggi di Jakarta—dua kalimat tersebut rasanya tak ubahnya vonis hukuman mati.
Jari-jemari Laras yang sedikit berisi mengusap wajahnya yang memerah panik. Pandangannya beralih ke cermin rias kecil di atas mejanya. Di sana, terpantul sosok Uti—begitu keluarga dan teman-temannya biasa memanggilnya—dengan pipi chubby, mata bulat yang ekspresif, serta bentuk tubuh berisi yang sering kali dicap 'gembrot' oleh kerabat-kerabatnya.
Gembrot. Montok. Bohai. Kata-kata itu sudah seperti makanan sehari-hari yang meremukkan rasa percaya dirinya.
Dua tahun menjalani gap year setelah lulus SMA bukanlah keinginannya. Selain dipaksa mengurus seluruh pekerjaan rumah tangga oleh ibu tirinya, Laras menghabiskan harinya di kamar, mengurung diri sambil menulis novel online demi mendapat penghasilan sendiri. Dunia maya dan imajinasi tulisan adalah satu-satunya tempat Laras merasa aman. Lewat online pula dia berkenalan dengan Arga.
Selama enam bulan berpacaran secara online dengan pria itu, Laras selalu bersembunyi di balik canggihnya filter kamera tirus, pencahayaan dramatis, dan sudut pengambilan gambar dari atas yang pandai menipu mata.
Mungkin Arga di Jakarta sana, Laras terlihat seperti gadis imut nan mungil. Tapi ketika melihat wujud aslinya di dunia nyata? Laras yakin Arga akan langsung berbalik arah dan ilusi cinta mereka akan hancur lebur saat itu juga.
'Aku gembrot gini. Mana ada cowok kota ganteng kayak Bang Arga yang mau sama cewek kayak aku?' batin Laras histeris. 'Daripada dia ilfil dan nyesal pas ketemu, mending aku yang hilang duluan!'
Tanpa berpikir panjang, dibimbing oleh rasa insecure yang memuncak sampai ke ubun-ubun, jempol Laras bergerak cepat. Tekan tombol block. Hapus kontak. Hapus akun media sosial. Clean sweep. Dalam hitungan detik, seluruh jejak hubungan mereka selama setengah tahun menguap begitu saja.
Laras melempar ponselnya ke atas kasur, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangisi kebodohan sekaligus rasa takutnya sendiri.
Namun, penderitaan Laras ternyata belum selesai sampai di situ.
"Uti! Keluar dulu kamu. Ada Tulang Roni sama Ucok di depan. Sambut dulu tamu dari Medan ini!" suara nyaring ibu tirinya menggelegar dari arah ruang tamu, menyentak Laras dari kehancuran hatinya.
Laras mengusap matanya kasar, lalu melangkah ragu keluar kamar. Meski sebagai anak dari perpaduan darah Jawa dari ayah dan Sunda dari almarhumah ibunya, tapi budaya Medan yang kental dibawa ibu tirinya, Laras sudah biasa betul dengan suara beroktaf tinggi ibu tirinya yang berdarah Batak itu.
Di ruang tamu yang tak seberapa luas, sudah duduk Pak Roni—juragan jeruk ternama dari Tanah Karo yang tanah perkebunannya membentang berhektar-hektar, bersama anak bujangnya, Ucok. Pria bernama Ucok itu berusia tiga puluh tahun, dengan bobot tubuh menembus angka seratus kilogram lebih dan tinggi badan ‘minimalis ‘, membuat garis lehernya yang hampir tak terlihat.
Rahasia umum di kampung mereka sempat didengar Laras dari percakapan orang tuanya. Tentang tak ada satu pun gadis di sana yang mau menikah dengan Ucok. Selain karena statusnya sebagai lajang tua yang sangat tambun, tabiatnya juga dikenal pemalas dan hanya mengandalkan kekayaan ayahnya.
Ibu tiri Laras tersenyum lebar, menatap sang anak tiri dengan pandangan penuh perhitungan. Niat mulusnya sangat jelas. Dengan menjodohkan Laras kepada Ucok yang masih terhitung kerabatnya sendiri, dia tidak perlu pusing memikirkan biaya kuliah Laras di Jakarta yang berpotensi menyedot tabungan keluarga. Ditambah lagi, memiliki hubungan kekerabatan yang makin dekat dengan juragan jeruk kaya raya tentu akan mendongkrak gengsinya di hadapan para kerabat.
"Nah, ini dia Uti," ujar ibu tirinya semringah. "Uti, Tulang Roni ke sini bawa niat baik mau melamar kamu buat si Ucok. Kamu nggak usah pusing mikirin biaya hidup atau mikir mau kuliah jauh-jauh ke Jakarta. Lagian, dua tahun kamu di rumah aja udah enak, ngapain tinggi-tinggi sekolah? Ujung-ujungnya ke dapur juga, Nak."
Darah Laras serasa berhenti mengalir. Matanya membelalak tak percaya.
‘Dijodohin sama Ucok? Yang bener aja! Dia sengaja numbalin aku karena nggak mau Bapak biayain kuliah, kan?!’ batinnya meronta.
"Iya, Uti. Kalau Kam mau, bulan depan kita buat pesta besar," timpal Ucok dengan suara beratnya, menatap bentuk tubuh berisi Laras dari atas sampai bawah dengan senyum yang membuat Laras merasa merinding risih. "Tapi kalau Kam masih kekeh mau kuliah di Jakarta itu... ya silakan lah. Tapi carilah biaya sendiri. Mana sanggup bapak Kam dan Bibik membiayai Kam di kota besar begitu."
Kalimat itu sejatinya dimaksudkan untuk menyudutkan Laras agar pasrah menerima nasib. Namun di kepala Laras, kombinasi antara rasa tertekan, harga diri yang diinjak-injak, dan penolakan menjadi beban keluarga justru memicu percikan nekat yang tak terbendung.
Ditolak oleh standar kecantikan sudah biasa, tapi dijadikan umpan demi gengsi ibu tiri dan dinikahkan dengan lajang tua lebih dari seratus kilo?
‘Ada gila-gilaknya kalian, ya?!’ lagi, rasanya Laras ingin berteriak.
"Saya belum niat nikah. Saya pilih kuliah ke Jakarta. Pakai uang saya sendiri, jadi nggak usah repot mikirin biaya!" tegas Laras dengan nada lantang, membuat ibu tiri dan tamu-tamunya melotot tak percaya.
Seminggu kemudian…
Suara gemuruh mesin bus antar provinsi menyambut langkah Laras di Terminal Pulo Gebang, Jakarta. Berbekal koper tua berisi pakaian seadanya, uang tabungan hasil menulis novel online selama dua tahun, dan perhiasan peninggalan Almarhumah ibu kandungnya, Laras akhirnya menjejakkan kaki di ibu kota.
Pikirannya kalut. Jakarta begitu luas, dan uang di dompetnya sangat terbatas untuk menyewa kos-kosan layak. Di tengah kebingungannya di pinggir jalan, ponsel barunya berdering. Nama Nisa—sahabat karibnya yang sudah lebih dulu pindah ke Jakarta—terpampang di layar.
"Halo, Nis..." bisik Laras, berusaha menahan tangis karena lelah dan merasa asing, “Aku baru sampai Jakarta…”
“Uti! Beneran kamu udah sampai Jakarta?! Kamu di mana sekarang? Ya ampun, kok nggak kabarin dari kemarin sih kalau nekat berangkat hari ini!” suara Nisa mencecar dari balik telepon.
"Aku... aku di terminal Pulo Gebang, Nis. Bingung mau ke mana. Di sini rame banget, beda sama di kampung..."
“Udah, nggak usah pusing! Jangan aneh-aneh cari kosan malam-malam begini. Kamu ke tempatku aja!” potong Nisa cepat tanpa ragu.
“Kamu ingat nggak? Kubilang aku tinggal sama Mas-ku, sekalian jagain rumahnya, soalnya Mas-ku jarang di rumah, dia sibuk kerja mulu. Rumahnya gede banget dan kamar kosongnya banyak. Kamu tinggal di sini aja buat temenin aku!”
Laras ragu sejenak. "Segan banget nggak, Nis? Nanti Mas-mu risih lagi ada orang asing di rumahnya..."
“Santai! Abangku itu dingin kayak es batu, tapi baik kok. Udah, aku kirim lokasinya sekarang, kamu naik taksi online ke sini, ya!”
Laras menghela napas lega, merapatkan jaket tebalnya. Perasaan bersyukur membuncah di dadanya. Setidaknya malam ini dia punya tempat berteduh, jauh dari cengkeraman juragan jeruk dan niat busuk ibu tirinya, serta jauh dari kenangan tentang Arga yang telah dia tinggalkan di alam maya.
Laras tersenyum tipis, merasa pelariannya selama lebih dari sepuluh jam perjalanan ini akhirnya membuahkan hasil yang aman. Dia tidak tahu saja, bahwa langkah kakinya menuju rumah megah milik ‘Mas-mas sahabatnya’ itu justru baru saja mengantarkannya tepat ke dalam mulut singa.
Pertanyaan Arga bergema rendah di ruangan yang temaram, sarat akan intimidasi pekat dan kehangatan yang memabukkan. Namun di kepala Larasati Putri, ucapan pria itu bukannya bikin melayang, melainkan memicu alarm bahaya tingkat nasional yang berbunyi sangat nyaring.Beban mental Laras seketika membumbung tinggi, meremukkan seluruh persendian di tubuhnya. Bayangan rasa insecure soal bentuk tubuh berisinya tanpa polesan filter kamera, ketakutan luar biasa melihat kekecewaan di mata Arga yang sempurna, hingga bayangan horor jika Nisa—sahabat karibnya—sampai tahu bahwa perempuan yang membuat Mas-nya stres berat seperti ODGJ semingguan ini adalah Laras... semuanya berputar bagai angin puting beliung yang memporak-porandakan otaknya.‘Nggak! Aku belum siap. Aku nggak mau ngaku sekarang. Gimana kalau dia ilfil pas lihat aku aslinya?!’ jerit Laras histeris dalam hati. Bibirnya terkunci rapat, enggan mengeluarkan sepatah kata pun untuk membenarkan prasangka Arga. Tatapan matanya bergetar liar,
Laras menoleh ragu ke arah sofa. Di sana, Arga sedang duduk santai dengan satu kaki bertumpu di atas kaki lainnya. Jemari tegapnya memegang ponsel apel tergigit terbaru. Cahaya remang dari layar pendar memantulkan garis wajah tegas dan rahang kokoh pria itu yang kini menatap lurus ke arah Laras, sambil memamerkan senyuman miring yang begitu jahil.Pria itu dengan sengaja mengetuk layar ponselnya, mematikan rekaman voice note tersebut, lalu berdiri perlahan mendekati Laras yang membeku bak patung es."Suara pacar online-ku yang kabur seminggu lalu," ucap Arga santai, suaranya terdengar begitu tenang, bernada rendah, sekaligus sangat mematikan. "Mirip banget sama suara kamu. Mungkin… pas lagi nggak serak-serak becek gitu?" Jdarrr! Tidak cuma jantung, isi kepala Laras rasanya ingin meletus saat itu juga. Ingin sekali Laras menjerit, menyadari Arga seperti sengaja mengatakan itu padanya. Otaknya mendadak blank total. Rasa malu, panik, merinding, dan terintimidasi bercampur aduk menjadi
Pria itu akhirnya menegakkan kembali tubuhnya yang jangkung, lalu melangkah santai meraih kunci mobil dan tas kerjanya menuju pintu depan."Mas berangkat kantor dulu, Nis," pamit Arga datar."Iya, Mas. Hati-hati di jalan!" sahut Nisa dari dapur.Namun baru berjalan lima langkah mendekati pintu utama, Arga mendadak menghentikan langkah. Pria itu memutar tubuhnya utuh, menatap ke arah meja makan di mana Laras tengah menghela napas panjang dan menyapu dadanya dengan rasa lega yang membuncah.Baru saja Laras mengira bahaya telah berlalu, akan tetapi pendengarannya mendadak menangkap kembali suara derap langkah sepatu yang mendekat.Arga melangkah kembali menyeberangi ruang makan. Langkah kakinya yang berat dan berirama di atas lantai marmer membuat napas Laras yang baru saja terhela mendadak kembali tersangkut erat di tenggorokan.Pria itu berhenti persis di depan meja Laras. Melirik ke adiknya yang masih sibuk mencuci piring bekas makannya. Tanpa meminta izin atau memberikan tanda, Arga
Malam pertama di rumah megah itu dihabiskan Larasati Putri dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar tamu. Bantal empuk dan sprei wangi lavender tak mampu menenangkan debar jantungnya yang seperti sedang maraton. Pikirannya dipenuhi satu nama… Arga.‘Duh Gusti... Gimana ceritanya aku malah nyetor nyawa ke rumah pacar online yang seminggu lalu kuputusin?!’ batin Laras histeris sambil menarik selimut menutup seluruh wajahnya sampai ke batas dada.Pikirannya kalut membayangkan kerapuhan penyamarannya saat ini. Beruntung sejak masa SMA di Malang dulu, Nisa sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Uti, nama panggilan akrab dari keluarganya. Fakta bahwa Nisa dan Laras memang berteman sejak bangku SMA di Jawa Timur menjadi penyelamat sementara. Laras tidak perlu mengarang kebohongan soal latar belakang daerah asalnya di hadapan Arga, karena Nisa tentu sudah menceritakan bahwa sahabatnya ini adalah kawan lama dari masa sekolah mereka.Namun, ancaman terbesar kini jelas ada pada
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.