Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!

Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!

last updateHuling Na-update : 2026-10-14
By:  MJoy GantengIn-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
6Mga Kabanata
9views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

"Aku gembrot. Siapa yang mau sama aku?" Laras selalu percaya bahwa kecantikan wanita punya standar ketat yang tak bisa dipenuhinya. Oleh karena itu, saat menjalin hubungan online dengan Arga, dia mengandalkan filter kamera dan trik sudut pengambilan gambar untuk menyembunyikan bentuk tubuhnya yang berisi. Namun, ketika Arga mendesak untuk bertemu di dunia nyata, rasa takut Laras memuncak. Dia memilih mengakhiri hubungan dan memutus semua komunikasi. Bagi Arga, penampilan fisik tak pernah menjadi poin utama. Suara Laras yang manis dan kepribadiannya yang menyenangkan sudah cukup untuk mencuri hatinya. Namun, pencariannya terhadap sang mantan online menemui jalan buntu, sampai adiknya, Nisa, membawa seorang gadis rantauan untuk tinggal di rumah mereka. Satu kata yang diucapkan Laras di depan pintu rumahnya langsung membuat Arga mengenali pemilik suara yang selama ini dia cari. Bukannya langsung membongkar kartu, Arga memilih memainkan permainan kucing-kucingan yang menggemaskan, menikmati setiap kepanikan Laras yang berusaha menyembunyikan identitas aslinya. Saat kebenaran akhirnya terungkap, bisakah Laras mengatasi ketidakpercayaan dirinya dan menerima keseriusan Arga yang tak main-main?

view more

Kabanata 1

Tumbal Lajang Lapuk Seratus Kilo

Ponsel di genggaman Larasati Putri bergetar untuk yang kesepuluh kalinya dalam lima menit terakhir. Di layar kaca yang sedikit retak di bagian sudutnya itu, nama Arga terpampang jelas, diiringi rentetan pesan singkat yang sukses membuat pasokan udara di paru-paru Laras mendadak surut.

[Laras, weekend ini aku ke Bandung, ke tempatmu ya. Kita ketemu langsung. ShareLoc sekarang.]

[Aku udah nggak mau tunda lagi. Enam bulan cuma dengar suaramu lewat telepon itu nggak cukup.]

Dua balon chat sederhana, tapi bagi Laras—gadis dua puluh satu tahun yang baru saja lolos ujian masuk perguruan tinggi di Jakarta—dua kalimat tersebut rasanya tak ubahnya vonis hukuman mati.

Jari-jemari Laras yang sedikit berisi mengusap wajahnya yang memerah panik. Pandangannya beralih ke cermin rias kecil di atas mejanya. Di sana, terpantul sosok Uti—begitu keluarga dan teman-temannya biasa memanggilnya—dengan pipi chubby, mata bulat yang ekspresif, serta bentuk tubuh berisi yang sering kali dicap 'gembrot' oleh kerabat-kerabatnya.

Gembrot. Montok. Bohai. Kata-kata itu sudah seperti makanan sehari-hari yang meremukkan rasa percaya dirinya.

Dua tahun menjalani gap year setelah lulus SMA bukanlah keinginannya. Selain dipaksa mengurus seluruh pekerjaan rumah tangga oleh ibu tirinya, Laras menghabiskan harinya di kamar, mengurung diri sambil menulis novel online demi mendapat penghasilan sendiri. Dunia maya dan imajinasi tulisan adalah satu-satunya tempat Laras merasa aman. Lewat online pula dia berkenalan dengan Arga.

Selama enam bulan berpacaran secara online dengan pria itu, Laras selalu bersembunyi di balik canggihnya filter kamera tirus, pencahayaan dramatis, dan sudut pengambilan gambar dari atas yang pandai menipu mata. 

Mungkin Arga di Jakarta sana, Laras terlihat seperti gadis imut nan mungil. Tapi ketika melihat wujud aslinya di dunia nyata? Laras yakin Arga akan langsung berbalik arah dan ilusi cinta mereka akan hancur lebur saat itu juga.

'Aku gembrot gini. Mana ada cowok kota ganteng kayak Bang Arga yang mau sama cewek kayak aku?' batin Laras histeris. 'Daripada dia ilfil dan nyesal pas ketemu, mending aku yang hilang duluan!'

Tanpa berpikir panjang, dibimbing oleh rasa insecure yang memuncak sampai ke ubun-ubun, jempol Laras bergerak cepat. Tekan tombol block. Hapus kontak. Hapus akun media sosial. Clean sweep. Dalam hitungan detik, seluruh jejak hubungan mereka selama setengah tahun menguap begitu saja. 

Laras melempar ponselnya ke atas kasur, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangisi kebodohan sekaligus rasa takutnya sendiri.

Namun, penderitaan Laras ternyata belum selesai sampai di situ.

"Uti! Keluar dulu kamu. Ada Tulang Roni sama Ucok di depan. Sambut dulu tamu dari Medan ini!" suara nyaring ibu tirinya menggelegar dari arah ruang tamu, menyentak Laras dari kehancuran hatinya.

Laras mengusap matanya kasar, lalu melangkah ragu keluar kamar. Meski sebagai anak dari perpaduan darah Jawa dari ayah dan Sunda dari almarhumah ibunya, tapi budaya Medan yang kental dibawa ibu tirinya, Laras sudah biasa betul dengan suara beroktaf tinggi ibu tirinya yang berdarah Batak itu.

Di ruang tamu yang tak seberapa luas, sudah duduk Pak Roni—juragan jeruk ternama dari Tanah Karo yang tanah perkebunannya membentang berhektar-hektar, bersama anak bujangnya, Ucok. Pria bernama Ucok itu berusia tiga puluh tahun, dengan bobot tubuh menembus angka seratus kilogram lebih dan tinggi badan ‘minimalis ‘, membuat garis lehernya yang hampir tak terlihat.

Rahasia umum di kampung mereka sempat didengar Laras dari percakapan orang tuanya. Tentang tak ada satu pun gadis di sana yang mau menikah dengan Ucok. Selain karena statusnya sebagai lajang tua yang sangat tambun, tabiatnya juga dikenal pemalas dan hanya mengandalkan kekayaan ayahnya.

Ibu tiri Laras tersenyum lebar, menatap sang anak tiri dengan pandangan penuh perhitungan. Niat mulusnya sangat jelas. Dengan menjodohkan Laras kepada Ucok yang masih terhitung kerabatnya sendiri, dia tidak perlu pusing memikirkan biaya kuliah Laras di Jakarta yang berpotensi menyedot tabungan keluarga. Ditambah lagi, memiliki hubungan kekerabatan yang makin dekat dengan juragan jeruk kaya raya tentu akan mendongkrak gengsinya di hadapan para kerabat.

"Nah, ini dia Uti," ujar ibu tirinya semringah. "Uti, Tulang Roni ke sini bawa niat baik mau melamar kamu buat si Ucok. Kamu nggak usah pusing mikirin biaya hidup atau mikir mau kuliah jauh-jauh ke Jakarta. Lagian, dua tahun kamu di rumah aja udah enak, ngapain tinggi-tinggi sekolah? Ujung-ujungnya ke dapur juga, Nak."

Darah Laras serasa berhenti mengalir. Matanya membelalak tak percaya. 

‘Dijodohin sama Ucok? Yang bener aja! Dia sengaja numbalin aku karena nggak mau Bapak biayain kuliah, kan?!’ batinnya meronta.

"Iya, Uti. Kalau Kam mau, bulan depan kita buat pesta besar," timpal Ucok dengan suara beratnya, menatap bentuk tubuh berisi Laras dari atas sampai bawah dengan senyum yang membuat Laras merasa merinding risih. "Tapi kalau Kam masih kekeh mau kuliah di Jakarta itu... ya silakan lah. Tapi carilah biaya sendiri. Mana sanggup bapak Kam dan Bibik membiayai Kam di kota besar begitu."

Kalimat itu sejatinya dimaksudkan untuk menyudutkan Laras agar pasrah menerima nasib. Namun di kepala Laras, kombinasi antara rasa tertekan, harga diri yang diinjak-injak, dan penolakan menjadi beban keluarga justru memicu percikan nekat yang tak terbendung.

Ditolak oleh standar kecantikan sudah biasa, tapi dijadikan umpan demi gengsi ibu tiri dan dinikahkan dengan lajang tua lebih dari seratus kilo? 

‘Ada gila-gilaknya kalian, ya?!’ lagi, rasanya Laras ingin berteriak.

"Saya belum niat nikah. Saya pilih kuliah ke Jakarta. Pakai uang saya sendiri, jadi nggak usah repot mikirin biaya!" tegas Laras dengan nada lantang, membuat ibu tiri dan tamu-tamunya melotot tak percaya.

Seminggu kemudian…

Suara gemuruh mesin bus antar provinsi menyambut langkah Laras di Terminal Pulo Gebang, Jakarta. Berbekal koper tua berisi pakaian seadanya, uang tabungan hasil menulis novel online selama dua tahun, dan perhiasan peninggalan Almarhumah ibu kandungnya, Laras akhirnya menjejakkan kaki di ibu kota.

Pikirannya kalut. Jakarta begitu luas, dan uang di dompetnya sangat terbatas untuk menyewa kos-kosan layak. Di tengah kebingungannya di pinggir jalan, ponsel barunya berdering. Nama Nisa—sahabat karibnya yang sudah lebih dulu pindah ke Jakarta—terpampang di layar.

"Halo, Nis..." bisik Laras, berusaha menahan tangis karena lelah dan merasa asing, “Aku baru sampai Jakarta…”

“Uti! Beneran kamu udah sampai Jakarta?! Kamu di mana sekarang? Ya ampun, kok nggak kabarin dari kemarin sih kalau nekat berangkat hari ini!” suara Nisa mencecar dari balik telepon.

"Aku... aku di terminal Pulo Gebang, Nis. Bingung mau ke mana. Di sini rame banget, beda sama di kampung..."

“Udah, nggak usah pusing! Jangan aneh-aneh cari kosan malam-malam begini. Kamu ke tempatku aja!” potong Nisa cepat tanpa ragu. 

“Kamu ingat nggak? Kubilang aku tinggal sama Mas-ku, sekalian jagain rumahnya, soalnya Mas-ku jarang di rumah, dia sibuk kerja mulu. Rumahnya gede banget dan kamar kosongnya banyak. Kamu tinggal di sini aja buat temenin aku!”

Laras ragu sejenak. "Segan banget nggak, Nis? Nanti Mas-mu risih lagi ada orang asing di rumahnya..."

“Santai! Abangku itu dingin kayak es batu, tapi baik kok. Udah, aku kirim lokasinya sekarang, kamu naik taksi online ke sini, ya!”

Laras menghela napas lega, merapatkan jaket tebalnya. Perasaan bersyukur membuncah di dadanya. Setidaknya malam ini dia punya tempat berteduh, jauh dari cengkeraman juragan jeruk dan niat busuk ibu tirinya, serta jauh dari kenangan tentang Arga yang telah dia tinggalkan di alam maya.

Laras tersenyum tipis, merasa pelariannya selama lebih dari sepuluh jam perjalanan ini akhirnya membuahkan hasil yang aman. Dia tidak tahu saja, bahwa langkah kakinya menuju rumah megah milik ‘Mas-mas sahabatnya’ itu justru baru saja mengantarkannya tepat ke dalam mulut singa.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
6 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status