Share

Terperangkap

Author: MJoy Ganteng
last update publish date: 2026-10-09 12:30:22

Laras menoleh ragu ke arah sofa. Di sana, Arga sedang duduk santai dengan satu kaki bertumpu di atas kaki lainnya. Jemari tegapnya memegang ponsel apel tergigit terbaru. 

Cahaya remang dari layar pendar memantulkan garis wajah tegas dan rahang kokoh pria itu yang kini menatap lurus ke arah Laras, sambil memamerkan senyuman miring yang begitu jahil.

Pria itu dengan sengaja mengetuk layar ponselnya, mematikan rekaman voice note tersebut, lalu berdiri perlahan mendekati Laras yang membeku bak patung es.

"Suara pacar online-ku yang kabur seminggu lalu," ucap Arga santai, suaranya terdengar begitu tenang, bernada rendah, sekaligus sangat mematikan. "Mirip banget sama suara kamu. Mungkin… pas lagi nggak serak-serak becek gitu?" 

Jdarrr! 

Tidak cuma jantung, isi kepala Laras rasanya ingin meletus saat itu juga. Ingin sekali Laras menjerit, menyadari Arga seperti sengaja mengatakan itu padanya. Otaknya mendadak blank total. Rasa malu, panik, merinding, dan terintimidasi bercampur aduk menjadi satu bom meletus.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, didorong oleh refleks bertahan hidup dan rasa panik tingkat bidadari, Laras langsung berbalik arah dan berlari kencang kembali menuju kamarnya.

Brak!

Pintu kamar ditutup kasar dan dikunci dari dalam. Laras menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang dingin, napasnya naik turun tak beraturan, dadanya bergemuruh hebat karena syok berat.

"Gila banget, sumpah! Nggak bisa. Aku nggak bisa tinggal di sini barang sehari lagi!" racau Laras panik sendirian sembari mengacak rambutnya frustasi.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Laras menarik kopernya dari atas lemari. Dia membanting koper itu ke atas kasur, lalu menarik pakaian-pakaiannya secara acak dari dalam lemari dan memasukkannya asal-asalan.

Persetan dengan biaya kost tinggi di Jakarta. 

Masa bodo’ dengan ibu tirinya dan Ucok si lajang lapuk seratus kilo di kampung.

Di kepala Laras saat ini cuma ada satu tujuan mendesak. Kabur malam ini juga sebelum membongkar semuanya pada Nisa, lalu meminta ganti rugi hatinya yang patah.

“Nis, maafin aku kabur-kaburan kayak bocil gini, ya. Ntar kalau udah dapat kos-kosan, aku ngasih tau kamu, deh…” gumamnya sendiri karena merasa bersalah pada kebaikan bestie-nya itu.

Sreettt!

Laras menarik resleting kopernya dengan terburu. Mata bulatnya menatap liar ke arah jendela kamar, menghitung waktu untuk bersiap mengendap-endap kabur begitu seluruh penghuni rumah sudah terlelap nanti malam.

Hingga jam dinding menunjukkan pukul satu malam lewat sedikit.

Suasana rumah besar itu sudah sunyi senyap. Hanya ada temaram lampu lorong dan suara pendingin ruangan yang berdegung halus. Laras menarik napas panjang, mengendap-endap keluar kamar sembari menjinjing kopernya tinggi-tinggi agar roda di bawahnya tidak menimbulkan kegaduhan di atas lantai.

Setiap jengkal langkah terasa seperti misi hidup dan mati. Jantung Laras berdegup amat kencang, nyaris melompat keluar dari rongga dadanya karena syok dan panik yang belum reda sejak tadi sore.

Laras menyusuri lorong remang-remang menuju area pintu utama. Begitu pandangannya menangkap gagang pintu kayu besar di depan sana, gumpalan lega langsung membuncah di dalam dadanya.

‘Bisa yuk, bisa… Dikit lagi, Laras!’ batinnya menyemangati diri sendiri.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, Laras mengulurkan tangan. Dialihkannya cengkeraman pada gagang pintu lalu memutarnya pelan-pelan. 

Pintu terbuka sedikit, mengalirkan hawa dingin angin malam Jakarta. Laras bersiap mendorong daun pintu itu lebih lebar. Tapi—Sreek!

Tanpa aba-aba dan suara apapun yang terdengar sebelumnya, sebuah lengan tegap tiba-tiba menerobos dari luar, menyambar tepi daun pintu, lalu mendorongnya kembali rapat dengan satu gerakan bertenaga.

Klek!

Bunyi kunci pintu diputar bergema begitu nyaring di keheningan malam.

Laras melonjak kaget setengah mati. Seluruh persendian di tubuhnya serasa lolos seketika, lidahnya kelu tak sanggup bersuara, sementara matanya membelalak lebar disergap rasa syok yang luar biasa. 

“M-Mas Arga?”

Daun pintu ditarik menutup perlahan. Sosok jangkung Arga berdiri tegap memenuhi ambang pintu. Pria itu masih mengenakan kaus polos hitam dan celana santai, menyandarkan bahu tegapnya di kusen pintu sembari menatap Laras dari ketinggian dengan tatapan mengunci.

“Memangnya siapa lagi?” Jawab Arga tenang.

Sebelum Laras sempat memproses rasa syoknya atau sekadar mengambil langkah mundur, jemari tegap Arga sudah lebih dulu menyambar gagang koper Laras, merebutnya tanpa ampun, lalu memindahkannya ke belakang tubuh tegapnya sendiri. 

Arga berkacak pinggang, berdiri rapat mengunci satu-satunya jalan keluar yang tersisa.

Laras makin gemetar hebat. Napasnya tersengal-sengal di tempat, matanya berkaca-kaca menatap Arga karena panik ketangkap basah di tengah malam begini.

Arga menundukkan kepalanya sedikit, mengikis jarak hingga aroma maskulin khas miliknya menyerbu indra penciuman Laras. Sudut bibirnya terangkat tipis, memamerkan senyuman miring yang begitu mematikan.

"Mau lari ke mana? Rumahmu jaraknya delapan jam dari sini, dan ini udah jam satu malam," bisik Arga sangat jernih, mengunci tatapan matanya lurus ke manik mata Laras yang bergetar hebat. "Kamu pikir aku bakal biarin kamu ninggalin aku dua kali... Laras?"

Deg!

​Napas Laras tertahan total. Tatapan mata Arga yang pekat dan mengintimidasi tepat di depan wajahnya membuat seluruh keberaniannya menguap. Jarak mereka begitu dekat—hingga hisapan napas Arga yang hangat menyapu permukaan kulit pipi Laras.

​"K-kok... Mas bisa..." cicit Laras terbata, pita suaranya mendadak lemas tanpa daya.

​Sudut bibir Arga makin terangkat, memamerkan senyum miring yang menyimpan kekehan rendah dari dalam dadanya. Pria itu sengaja memajukan wajahnya selangkah lagi, menunduk hingga bibirnya hampir menyapu daun telinga Laras.

​"Kamu pikir aku seminggu ini cuma nangis-nangis di kamar gara-gara diputusin?" bisik Arga dengan intonasi berat dan dalam yang membuat bulu kuduk Laras meremang seketika. "Aku ngetrack nomor kamu, Laras. Semua IP address, semua jejak digital yang pernah kamu pakai buat login dan online bareng aku."

​Arga mengulurkan satu tangannya, menyandar ke dinding persis di samping kepala Laras, ia mengunci tubuh gadis itu sepenuhnya di antara dadanya dan tembok dingin.

​"Seminggu aku nggak nemu apa-apa karena kamu matiin semua akses. Tapi tadi siang..." Arga berdeham rendah, membocorkan rahasia dengan nada kepuasan yang begitu pekat. "... notifikasi alarm pairing di aplikasi lokasi akun kita mendadak bunyi."

​Mata Laras membelalak kian lebar. Ia langsung menyadari sudah membuka celah komunikasi mereka ketika menelepon Nisa dengan ponsel lama retaknya, karena saat itu ponsel barunya padam, kehabisan daya setelah dipakai menghidupkan musik dan game selama di perjalanan.

​"Begitu akun kamu aktif lagi di jaringan rumah ini, radarnya langsung ngasih tahu kalau jarak kamu sama aku cuma berjarak beberapa meter," lanjut Arga pelan, diiringi hembusan napas hangatnya yang menyentuh leher Laras, membuat gadis itu gemetar hebat. "Di dalam rumahku sendiri."

​Arga mengamati saksama respons tubuh Laras. Bibir mungil yang terkatup gemetar, napas yang memburu panik, serta rona merah yang merayapi pipi hingga lehernya.

​"Aku bela-belain nunggu di luar teras sejauh ini cuma buat numpuk kesabaran... Aku mau tahu seberapa nekat pacar kecilku ini nyoba kabur lagi," bisik Arga tajam namun memabukkan. 

Tangannya yang bebas terangkat perlahan, menggunakan buku jarinya untuk merapikan sehelai rambut Laras yang menempel di pipi. "Tapi maaf... malam ini kamu masuk perangkap, Sayang. Kamu nggak akan ke mana-mana."

“Nggak lupa, kan, kalau kamu itu milikku?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Money Angel
Jangan kasih kabur, Ga!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Bibir Pemancing Gemas

    Pagi hari menyapa dengan sinar matahari hangat yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar. Laras terbangun dengan napas lega luar biasa begitu mendengar suara ketukan pintu kamar dan pamitan dari Nisa."Ti! Aku berangkat kuliah duluan ya! Ada rapat UKM mendadak pagi ini, kamu sarapan sendiri nggak apa-apa, kan?" seru Nisa dari balik pintu.“Sendiri?” bisiknya pelan, "I-iya, Nis! Hati-hati di jalan ya!" sahut Laras setengah bersorak dalam hati.Begitu mendengar langkah kaki Nisa menjauh disusul deru sepeda motornya yang meninggalkan pekarangan rumah, Laras langsung melompat dari tempat tidur. Rasanya seperti baru saja mendapatkan pengampunan hukuman mati.‘Aman! Mas-Mas Baper itu pasti udah berangkat ngantor dari pagi-pagi buta kan, ya?’ batin Laras penuh kemenangan.Dengan santai Laras keluar dari kamar tamu. Hanya mengenakan kaus oblong oversized rumahan bertuliskan Malang Never Dies dan celana kain semata kaki, Laras melangkah riang menuju area dapur untuk mencari segelas air d

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Adu Domba Tengah Malam

    Pertanyaan Arga bergema rendah di ruangan yang temaram, sarat akan intimidasi pekat dan kehangatan yang memabukkan. Namun di kepala Larasati Putri, ucapan pria itu bukannya bikin melayang, melainkan memicu alarm bahaya tingkat nasional yang berbunyi sangat nyaring.Beban mental Laras seketika membumbung tinggi, meremukkan seluruh persendian di tubuhnya. Bayangan rasa insecure soal bentuk tubuh berisinya tanpa polesan filter kamera, ketakutan luar biasa melihat kekecewaan di mata Arga yang sempurna, hingga bayangan horor jika Nisa—sahabat karibnya—sampai tahu bahwa perempuan yang membuat Mas-nya stres berat seperti ODGJ semingguan ini adalah Laras... semuanya berputar bagai angin puting beliung yang memporak-porandakan otaknya.‘Nggak! Aku belum siap. Aku nggak mau ngaku sekarang. Gimana kalau dia ilfil pas lihat aku aslinya?!’ jerit Laras histeris dalam hati. Bibirnya terkunci rapat, enggan mengeluarkan sepatah kata pun untuk membenarkan prasangka Arga. Tatapan matanya bergetar liar,

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Terperangkap

    Laras menoleh ragu ke arah sofa. Di sana, Arga sedang duduk santai dengan satu kaki bertumpu di atas kaki lainnya. Jemari tegapnya memegang ponsel apel tergigit terbaru. Cahaya remang dari layar pendar memantulkan garis wajah tegas dan rahang kokoh pria itu yang kini menatap lurus ke arah Laras, sambil memamerkan senyuman miring yang begitu jahil.Pria itu dengan sengaja mengetuk layar ponselnya, mematikan rekaman voice note tersebut, lalu berdiri perlahan mendekati Laras yang membeku bak patung es."Suara pacar online-ku yang kabur seminggu lalu," ucap Arga santai, suaranya terdengar begitu tenang, bernada rendah, sekaligus sangat mematikan. "Mirip banget sama suara kamu. Mungkin… pas lagi nggak serak-serak becek gitu?" Jdarrr! Tidak cuma jantung, isi kepala Laras rasanya ingin meletus saat itu juga. Ingin sekali Laras menjerit, menyadari Arga seperti sengaja mengatakan itu padanya. Otaknya mendadak blank total. Rasa malu, panik, merinding, dan terintimidasi bercampur aduk menjadi

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Jebakan

    Pria itu akhirnya menegakkan kembali tubuhnya yang jangkung, lalu melangkah santai meraih kunci mobil dan tas kerjanya menuju pintu depan."Mas berangkat kantor dulu, Nis," pamit Arga datar."Iya, Mas. Hati-hati di jalan!" sahut Nisa dari dapur.Namun baru berjalan lima langkah mendekati pintu utama, Arga mendadak menghentikan langkah. Pria itu memutar tubuhnya utuh, menatap ke arah meja makan di mana Laras tengah menghela napas panjang dan menyapu dadanya dengan rasa lega yang membuncah.Baru saja Laras mengira bahaya telah berlalu, akan tetapi pendengarannya mendadak menangkap kembali suara derap langkah sepatu yang mendekat.Arga melangkah kembali menyeberangi ruang makan. Langkah kakinya yang berat dan berirama di atas lantai marmer membuat napas Laras yang baru saja terhela mendadak kembali tersangkut erat di tenggorokan.Pria itu berhenti persis di depan meja Laras. Melirik ke adiknya yang masih sibuk mencuci piring bekas makannya. Tanpa meminta izin atau memberikan tanda, Arga

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Tatapan Maut

    Malam pertama di rumah megah itu dihabiskan Larasati Putri dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar tamu. Bantal empuk dan sprei wangi lavender tak mampu menenangkan debar jantungnya yang seperti sedang maraton. Pikirannya dipenuhi satu nama… Arga.‘Duh Gusti... Gimana ceritanya aku malah nyetor nyawa ke rumah pacar online yang seminggu lalu kuputusin?!’ batin Laras histeris sambil menarik selimut menutup seluruh wajahnya sampai ke batas dada.Pikirannya kalut membayangkan kerapuhan penyamarannya saat ini. Beruntung sejak masa SMA di Malang dulu, Nisa sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Uti, nama panggilan akrab dari keluarganya. Fakta bahwa Nisa dan Laras memang berteman sejak bangku SMA di Jawa Timur menjadi penyelamat sementara. Laras tidak perlu mengarang kebohongan soal latar belakang daerah asalnya di hadapan Arga, karena Nisa tentu sudah menceritakan bahwa sahabatnya ini adalah kawan lama dari masa sekolah mereka.Namun, ancaman terbesar kini jelas ada pada

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Bukan Dia

    Taksi online yang ditumpangi Laras akhirnya berhenti di depan sebuah pagar besi hitam menjulang tinggi. Di baliknya, berdiri kokoh sebuah rumah megah bergaya modern minimalis tiga lantai dengan pencahayaan hangat. Laras sempat tertegun beberapa detik di pinggir jalan, memandangi bangunan yang lebih mirip istana kecil itu sambil merapatkan jaketnya.‘Ini rumah apa gedung kantoran? Gede banget!’ batin Laras terperangah.Pagar otomatis bergeser pelan saat Laras mendekat. Di pintu utama rumah, sosok Nisa—sahabat karibnya—sudah berdiri semringah dengan kaus santai dan celana piyama. Gadis itu langsung berlari kecil menyambut Laras."Uti! Ya ampun, akhirnya sampai juga!" seru Nisa heboh, langsung memeluk Laras erat-erat sampai Laras sedikit kesulitan bernapas. "Kangen banget aku sama kamu. Kok bisa-bisanya nekat merantau sendirian nggak bilang-bilang dari jauh hari?"Meskipun dua tahun berpisah jarak, tapi pertemanan keduanya masih sangat intens. Laras dan Nisa sering bertukar pendapat, bai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status