FAZER LOGIN"Mas berangkat kantor dulu, Nis," pamit Arga datar.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan!" sahut Nisa dari dapur.
Namun baru berjalan lima langkah mendekati pintu utama, Arga mendadak menghentikan langkah. Pria itu memutar tubuhnya utuh, menatap ke arah meja makan di mana Laras tengah menghela napas panjang dan menyapu dadanya dengan rasa lega yang membuncah.
Baru saja Laras mengira bahaya telah berlalu, akan tetapi pendengarannya mendadak menangkap kembali suara derap langkah sepatu yang mendekat.
Arga melangkah kembali menyeberangi ruang makan. Langkah kakinya yang berat dan berirama di atas lantai marmer membuat napas Laras yang baru saja terhela mendadak kembali tersangkut erat di tenggorokan.
Pria itu berhenti persis di depan meja Laras. Melirik ke adiknya yang masih sibuk mencuci piring bekas makannya. Tanpa meminta izin atau memberikan tanda, Arga menundukkan badannya yang tinggi, mensejajarkan wajah tampannya hingga hanya berjarak segaris tipis dari pipi chubby Laras yang memerah panik.
Tatapan mata Arga terkunci tajam, seolah menembus langsung ke dalam manik mata Laras yang bergetar hebat.
"Suara kamu... Nggak asing di telinga," bisik Arga pelan namun sangat jernih dan bergetar di telinga Laras, lengkap dengan nada hembusan napas khas yang biasa digunakan saat menelpon Laras di malam-malam panjang mereka dulu. "Beneran kita nggak pernah ketemu sebelumnya?"
Pertanyaan bernada hembusan napas hangat itu menghantam indra pendengaran Laras seperti petir di siang bolong. Pasokan udara di paru-parunya menguap seketika.
‘Duh Gusti... ini orang sengaja banget! Beneran jumping nih jantung!’ batin Laras histeris, makin merapatkan punggungnya ke sandaran kursi demi mengikis jarak dengan wajah Arga yang terlalu dekat.
Dengan sisa-sisa tenaga dan akting seraknya yang setengah mati dipertahankan, Laras menggeleng pelan tanpa berani menatap mata Arga. "N-nggak pernah, Mas... Saya... saya cuma cewek kampung dari Malang..."
"Uti memang dari Malang, Mas, tapi dia bukan pacar online kamu, tau!" Nisa tiba-tiba muncul dari balik konter dapur sambil mengeringkan tangannya dengan serbet. Tanpa rasa curiga sedikitpun, gadis itu menyeletuk santai memotong keheningan. "Udah sana gih, buruan ngantor. Kami juga mau ke kampus nih, ntar telat ngurus berkas administrasi."
Arga menatap lekat-lekat mata bulat Laras yang bergetar panik. Bukannya menjauh, sudut bibirnya justru terangkat tipis, membentuk senyuman misterius yang sarat akan intrik pancingan.
"Yaudah. Santai aja, mukanya nggak perlu semerah tomat gitu," kekeh Arga rendah, sangat puas melihat reaksi syok gadis di depannya.
Pria itu akhirnya kembali menegakkan tubuhnya yang tegap, berbalik santai, dan benar-benar melangkah keluar rumah. Begitu suara deru mesin mobil mewah Arga melaju pergi meninggalkan pekarangan, Laras langsung merosot di kursinya. Napasnya terengah-engah seolah baru saja lolos dari cengkeraman singa jantan.
‘Gila banget, ya! Bener-bener nggak bisa diprediksi BMKG ini cowok!’ umpat Laras murka dalam hati. Wajahnya panas membara karena malu sekaligus jengkel setengah mati. Mana pernah dia menduga kalau ‘Mas Arga’ yang di telepon dulu terkesan dewasa, tenang, dan chill, ternyata aslinya punya hobi mengobrak-abrik jantung orang lewat keusilan yang mengintimidasi begitu.
"Kamu kenapa sih, Ti? Muka merah, napas kembang kempis. Mas Arga cuma godain dikit aja kamu udah kayak mau pingsan gitu," celetuk Nisa heran sembari menarik kursi di samping Laras.
Laras berdehem keras-keras mencoba menetralkan pita suaranya yang mendadak makin gatal karena kepanikan. "N-nggak... kaget aja. Lagian Mas-mu aneh banget, nanya-nanya suaraku segala." Laras memancing pelan, berusaha mengorek informasi tanpa menimbulkan kecurigaan. "Emang... Mas Arga beneran punya pacar online?"
Nisa langsung tertawa menyemburkan napasnya. "Aduh, Ti. Jangan ditanya. Mas Arga itu ya, keliatannya aja dingin, tegas, keren kayak CEO di novel-novel. Tapi aslinya? Behhh! Bucin parah sama pacar online-nya yang orang Malang itu!"
Laras menelan ludah pait-pait. "M-masa, sih?"
"Ciyusss! Seminggu lalu dia stres berat kayak ODGJ gara-gara diputusin sepihak sama tuh cewek. Bayangin coba, urusan kantor berantakan total gara-gara dia ngurung diri semingguan di kamar sambil galau. Hari ini tuh baru hari pertama dia mau masuk ngantor lagi. Mood swing banget kan tuh lajang tua sebiji?" Nisa menggeleng-gelengkan kepala, tidak tahu saja kalau pelaku utama yang bikin abangnya hampir gila itu sedang duduk manis di sampingnya.
Deg!!!
Informasi bombastis dari Nisa sukses membuat konsentrasi Laras hancur lebur sepanjang hari. Bayangan Arga yang dikira cuma mas-mas manajer kantoran biasa di Jakarta, ternyata adalah seorang pimpinan eksekutif. Ditambah kenyataan bahwa Arga galau berat sampai mengurung diri gara-gara ulahnya, membuat pikiran Laras bercabang hebat saat berada di kampus.
Padahal hari ini adalah hari penting. Laras resmi mengurus pendaftaran akhirnya di jurusan Sastra Indonesia. Setelah dua tahun sukses menangguk rupiah sebagai penulis web novel otodidak dengan belasan juta readers, Laras sadar dia butuh pondasi teori penulisan dan riset literatur yang lebih dalam.
Sementara Nisa, sahabatnya yang memang hobi menggambar sejak SMA, mantap memilih jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) demi mengajar cita-cita menjadi komikus w*****n profesional.
Namun, alih-alih fokus mendengarkan penjelasan bagian administrasi kampus, otak Laras malah terus terngiang-ngiang ucapan Nisa.
‘Mas Arga itu keliatannya aja dingin... tapi aslinya bucin parah... ngurung diri di kamar semingguan…’
‘Gusti... aku dosa banget ya bikin anak orang stres kayak gitu?’ batin Laras meratapi nasibnya yang makin terjepit.
Siang berganti malam. Arga ternyata pulang ke rumah jauh lebih awal dari biasanya.
Laras yang seharian berusaha mengurung diri di kamar tamu demi menghindari konfrontasi, akhirnya terpaksa keluar. Nisa memanggilnya dari luar untuk membantu memindahkan beberapa piring camilan ke meja ruang keluarga.
Langkah Laras sangat pelan dan berhati-hati. Pandangannya menyapu sekeliling, menajamkan telinga demi memastikan pria ber aura intimidatif itu tidak sedang berkeliaran.
Namun, begitu Laras melintasi lorong remang-remang menuju ruang TV, langkah kakinya mendadak terkunci rapat.
Dari arah sofa ruang tamu yang temaram, terdengar suara rekaman audio berputar melalui speaker ponsel dengan volume sedang. Suara seorang gadis dengan intonasi khas, lembut, dan sedikit manja mengisi kehampaan ruangan.
‘Mas Arga... jangan lupa makan malam ya. Jangan kerja mulu, nanti sakit…’
‘Habis itu jangan ngopi lagi, loh, ya. Aku lagi nggak full batere buat temenin Mas lembur.’
Deg!
Seluruh darah di tubuh Laras serasa berhenti mengalir saat itu juga. Seperti ada es membeku di dalam pembuluh darahnya.
Itu... suara VN miliknya sendiri. Audio manja yang pernah dikirimkan kepada ‘Mas Arga’ tiga bulan lalu, saat pria itu berpura-pura mengeluh lelah karena pekerjaan dan meminta perhatian Laras.
Pagi hari menyapa dengan sinar matahari hangat yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar. Laras terbangun dengan napas lega luar biasa begitu mendengar suara ketukan pintu kamar dan pamitan dari Nisa."Ti! Aku berangkat kuliah duluan ya! Ada rapat UKM mendadak pagi ini, kamu sarapan sendiri nggak apa-apa, kan?" seru Nisa dari balik pintu.“Sendiri?” bisiknya pelan, "I-iya, Nis! Hati-hati di jalan ya!" sahut Laras setengah bersorak dalam hati.Begitu mendengar langkah kaki Nisa menjauh disusul deru sepeda motornya yang meninggalkan pekarangan rumah, Laras langsung melompat dari tempat tidur. Rasanya seperti baru saja mendapatkan pengampunan hukuman mati.‘Aman! Mas-Mas Baper itu pasti udah berangkat ngantor dari pagi-pagi buta kan, ya?’ batin Laras penuh kemenangan.Dengan santai Laras keluar dari kamar tamu. Hanya mengenakan kaus oblong oversized rumahan bertuliskan Malang Never Dies dan celana kain semata kaki, Laras melangkah riang menuju area dapur untuk mencari segelas air d
Pertanyaan Arga bergema rendah di ruangan yang temaram, sarat akan intimidasi pekat dan kehangatan yang memabukkan. Namun di kepala Larasati Putri, ucapan pria itu bukannya bikin melayang, melainkan memicu alarm bahaya tingkat nasional yang berbunyi sangat nyaring.Beban mental Laras seketika membumbung tinggi, meremukkan seluruh persendian di tubuhnya. Bayangan rasa insecure soal bentuk tubuh berisinya tanpa polesan filter kamera, ketakutan luar biasa melihat kekecewaan di mata Arga yang sempurna, hingga bayangan horor jika Nisa—sahabat karibnya—sampai tahu bahwa perempuan yang membuat Mas-nya stres berat seperti ODGJ semingguan ini adalah Laras... semuanya berputar bagai angin puting beliung yang memporak-porandakan otaknya.‘Nggak! Aku belum siap. Aku nggak mau ngaku sekarang. Gimana kalau dia ilfil pas lihat aku aslinya?!’ jerit Laras histeris dalam hati. Bibirnya terkunci rapat, enggan mengeluarkan sepatah kata pun untuk membenarkan prasangka Arga. Tatapan matanya bergetar liar,
Laras menoleh ragu ke arah sofa. Di sana, Arga sedang duduk santai dengan satu kaki bertumpu di atas kaki lainnya. Jemari tegapnya memegang ponsel apel tergigit terbaru. Cahaya remang dari layar pendar memantulkan garis wajah tegas dan rahang kokoh pria itu yang kini menatap lurus ke arah Laras, sambil memamerkan senyuman miring yang begitu jahil.Pria itu dengan sengaja mengetuk layar ponselnya, mematikan rekaman voice note tersebut, lalu berdiri perlahan mendekati Laras yang membeku bak patung es."Suara pacar online-ku yang kabur seminggu lalu," ucap Arga santai, suaranya terdengar begitu tenang, bernada rendah, sekaligus sangat mematikan. "Mirip banget sama suara kamu. Mungkin… pas lagi nggak serak-serak becek gitu?" Jdarrr! Tidak cuma jantung, isi kepala Laras rasanya ingin meletus saat itu juga. Ingin sekali Laras menjerit, menyadari Arga seperti sengaja mengatakan itu padanya. Otaknya mendadak blank total. Rasa malu, panik, merinding, dan terintimidasi bercampur aduk menjadi
Pria itu akhirnya menegakkan kembali tubuhnya yang jangkung, lalu melangkah santai meraih kunci mobil dan tas kerjanya menuju pintu depan."Mas berangkat kantor dulu, Nis," pamit Arga datar."Iya, Mas. Hati-hati di jalan!" sahut Nisa dari dapur.Namun baru berjalan lima langkah mendekati pintu utama, Arga mendadak menghentikan langkah. Pria itu memutar tubuhnya utuh, menatap ke arah meja makan di mana Laras tengah menghela napas panjang dan menyapu dadanya dengan rasa lega yang membuncah.Baru saja Laras mengira bahaya telah berlalu, akan tetapi pendengarannya mendadak menangkap kembali suara derap langkah sepatu yang mendekat.Arga melangkah kembali menyeberangi ruang makan. Langkah kakinya yang berat dan berirama di atas lantai marmer membuat napas Laras yang baru saja terhela mendadak kembali tersangkut erat di tenggorokan.Pria itu berhenti persis di depan meja Laras. Melirik ke adiknya yang masih sibuk mencuci piring bekas makannya. Tanpa meminta izin atau memberikan tanda, Arga
Malam pertama di rumah megah itu dihabiskan Larasati Putri dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar tamu. Bantal empuk dan sprei wangi lavender tak mampu menenangkan debar jantungnya yang seperti sedang maraton. Pikirannya dipenuhi satu nama… Arga.‘Duh Gusti... Gimana ceritanya aku malah nyetor nyawa ke rumah pacar online yang seminggu lalu kuputusin?!’ batin Laras histeris sambil menarik selimut menutup seluruh wajahnya sampai ke batas dada.Pikirannya kalut membayangkan kerapuhan penyamarannya saat ini. Beruntung sejak masa SMA di Malang dulu, Nisa sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Uti, nama panggilan akrab dari keluarganya. Fakta bahwa Nisa dan Laras memang berteman sejak bangku SMA di Jawa Timur menjadi penyelamat sementara. Laras tidak perlu mengarang kebohongan soal latar belakang daerah asalnya di hadapan Arga, karena Nisa tentu sudah menceritakan bahwa sahabatnya ini adalah kawan lama dari masa sekolah mereka.Namun, ancaman terbesar kini jelas ada pada
Taksi online yang ditumpangi Laras akhirnya berhenti di depan sebuah pagar besi hitam menjulang tinggi. Di baliknya, berdiri kokoh sebuah rumah megah bergaya modern minimalis tiga lantai dengan pencahayaan hangat. Laras sempat tertegun beberapa detik di pinggir jalan, memandangi bangunan yang lebih mirip istana kecil itu sambil merapatkan jaketnya.‘Ini rumah apa gedung kantoran? Gede banget!’ batin Laras terperangah.Pagar otomatis bergeser pelan saat Laras mendekat. Di pintu utama rumah, sosok Nisa—sahabat karibnya—sudah berdiri semringah dengan kaus santai dan celana piyama. Gadis itu langsung berlari kecil menyambut Laras."Uti! Ya ampun, akhirnya sampai juga!" seru Nisa heboh, langsung memeluk Laras erat-erat sampai Laras sedikit kesulitan bernapas. "Kangen banget aku sama kamu. Kok bisa-bisanya nekat merantau sendirian nggak bilang-bilang dari jauh hari?"Meskipun dua tahun berpisah jarak, tapi pertemanan keduanya masih sangat intens. Laras dan Nisa sering bertukar pendapat, bai







