Share

FAUZIAH AZZAHRA
FAUZIAH AZZAHRA
Penulis: Suharni

Fitnah

Malam telah menjelajahi keramaian kota. Kengerian tercipta seiring dengan munculnya binatang malam. Hujan baru saja reda, tapi rintiknya masih sedikit ada. Sesaat lagi, jarum panjang mengakhiri interaksi yang sangat panjang, berputar-putar, berkeliling-keliling angka satu keangka yang lain. dan ini dikerjakan selama 24 jam, tak pernah mengeluh ‘aku sudah lelah.’

Pun dengan seorang gadis remaja. Fauziah Azzahra, biasa disapa Azizah oleh teman-temannya. Azizah merupakan gadis periang serta penyayang keluarga. Usianya yang masih terbilang belia, tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda bertanggung jawab sebagai seorang wanita dewasa. Wajahnya yang rupawan, menjadikan ia sebagai gadis natural tanpa polesan. Banyak yang kagum pada sosok gadis itu. Sehingga membuatnya dipandang selayaknya bunga desa. Akan tetapi, kecemburuan sosial membuatnya terhempas bagai sampah masyarakat di lingkungannya sendiri. Sementara kedua orangtuanya tak peduli. Meski begitu, Azizah tetap menanamkan cinta kasih kepada mereka yang telah melahirkannya, seperti pribahasa jarum jam tadi, bahwa dia tak pernah berkata ‘aku sudah lelah.’

Azizah merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kakaknya yang tertua merantau ke ibu kota dan akhirnya menikah disana. Sementara kakaknya yang kedua menyebrang ke pulau bangka untuk mengejar cita-cita sebagai pengusaha tima. Tinggallah Azizah dan adiknya yang bernama Yana di rumah.

Di penghujung musim panas usia dua belasnya, pria paruh baya menyimpulkan sial dan tak punya harga diri pada gadis remaja itu. Mungkin karena dia sering mendapat cacian dari para tetangga maupun kerabat. Kemalangan yang di hadapi Azizah bermula ketika ia mengikuti kegiatan tujuh belasan di kotanya. Saat itu ia jatuh pingsan hingga harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Setibanya di rumah sakit tersebut, Azizah dinyatakan kekurangan darah dan kelelahan, serta mengalami penyakit magh. Sehingga ia harus dihentikan melanjutkan kegiatan.  Setelah itu Azizah diantar pulang oleh ketua karantaruna mereka. Namun, setibaya di rumah Azizah mendengar  fitnah yang sukses membuatnya terpukul. Dimana dia dikatakan hamil dan keguguran oleh paman dan bibinya sendiri.

“Apa saja yang sudah kau lakukan sampai kau membuat kami malu, Azizah?!” Fahri, ayah Azizah mencerca gadis itu dengan pertanyaan yang sama sekali tak ia pahami. Azizah pun hanya berkerut kening sembari menahan sakit pada bagian perut.

“Jawab aku!” imbuh Fahri masih dengan nada membentak.

“Apa maksud papa? Kesalahan apa yang sudah Azizah lakukan?” Dengan polosnya Azizah bertanya pada ayahnya. Karena memang gadis itu tak tahu apa-apa. Dia baru saja kembali dari kegiatan tujuh belasan.

“Kau hamil dan keguguran bukan?” Sumpah demi apapun, Azizah terkejut mendengar sebait kalimat tanya Fahri. Bagaimana bisa dia dikatakan hamil, sementara pernyataan dokter berbeda dari apa yang dikatakan oleh ayahnya itu.

“Hamil? Keguguran? Apa maksudnya?” Masih dengan polosnya, Azizah kembali mengajukan pertanyaan. Bukannya pura-pura polos, tapi memang dia tak tahu menahu tentang yang dikatakan oleh ayahnya itu. Bahkan kata hamil dan keguguran masih sangat asing ditelinga gadis bermata coklat tersebut. Pun untuk menyebut dua kata tabu tadi, seolah terasa kaku diujung lidahnya.

Plak!

Satu tamparan keras dilayangkan Fahri pada Azizah tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan dari putrinya itu. Sementara Azizah memegang pipinya yang terasa perih. Padahal sakit diperut masih lah nyeri, tetapi muncul lagi rasa sakit ditempat yang baru, yakni hati.

“Kau jangan pura-pura bertanya selayaknya anak kecil yang tak tahu apa itu kata hamil dan keguguran! Nyatanya kau sudah pernah tidur dengan banyak orang! Dengan siapa kau menadah tubuhmu ini, ha?” Fahri mencengkeram dagu Azizah, hingga gadis malang itu menitikan air mata. Dia menangis bukan karena rasa sakit pada bagian perut serta pipi, melainkan pada luka hati yang sengaja ditorehkan oleh orang yang paling ia kasihi.

“Azizah tidak mengerti maksud papa. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa papa mengatakan, bahwa Azizah hamil?” Dengan suara terbata-bata, Azizah kembali mengajukan pertanyaan.

“Sudahlah, pa. Lepaskan dulu dia. Biarkan dia mengganti seragamnya.” Kali ini Safia yang berbicara. Ibu Azizah itu sedikit merasa iba pada putrinya. Walau sebenarnya dia juga merasa geram atas apa yang didengar dari kerabatnya beberapa jam yang lalu.

“Kau manjakan saja terus dia! Akhirnya dia menjadi seperti ini. Dia sudah membuat kita malu! Dasar anak pembawa sial!” Sungguh tak ada yang lebih menyakitkan dari kata ‘pembawa sial.’ Dan parahnya lagi kata itu terlontar dari mulut ayah sendiri.

“Mengapa kau malah menyalahkan aku? Apakah aku yang membawanya kesemak-semak untuk melakukan perbuatan hina itu? Bukan hanya kau yang merasa malu dan marah disini, tapi aku juga! Apa kau pikir perbuatan Azizah tak membuatku terguncang? Bahkan aku tak kuasa menatap mata Alwi tadi,” tandas Safia tak terima.

Alwi adalah sepupu Fahri. Pria paruh baya itu yang membawa kabar, bahwa Azizah hamil dan keguguran. Entah dari mana asalnya rumor tak sedap itu, yang pasti tengah hari Alwi datang ke rumah Fahri dan memberi informasi tak mengenakan hati.

“Ini semua karenamu!” Alih-alih simpatik, Safia justru menyalahkan putrinya. Seolah melupakan rasa ibanya.

Sembari berurai air mata, Azizah pun kembali bertanya, “Sebenarnya siapa yang mengatakan Azizah hamil? Bahkan saat ini Azizah sedang datang bulan.” Mendengar ucapan Azizah, bukannya percaya Fahri justru semakin marah.

“Hala, itu Cuma alasan kamu saja! Itu bukan darah haid, tapi darah karena kamu keguguran!” Ingin rasanya Azizah berteriak, menegaskan betapa dia masih suci. Haruskah gadis itu meraung sembari membuka celana berlapis pembalut yang menampung darah kotor bulanan seorang wanita?

“Mulai sekarang kau tidak boleh kemana-mana lagi! Habiskan waktumu di rumah sampai rumor itu meredah. Atau kau rasakan sendiri akibatnya!” imbuh Fahri. Mengeluarkan kalimat ancaman bernadakan sabda tak terbantahkan.

“Tapi bagaimana dengan sekolah Azizah?” Gadis malang itu masih memikirkan nasib pendidikannya yang telah berada diujung pemberhentian.

“Untuk sementara waktu kau tidak boleh ke sekolah! Bukankah para guru sudah tahu, bahwa kau sedang sakit karena keguguran? Lalu mengapa kau harus memikirkan pendidikan yang tak ada guna? Percuma saja kau sekolah, tapi moralmu tak baik. Kau bergaul pada sembarang orang, sampai mau saja tidur dengan mereka! Entah siapa pria yang sudah berhasil mengambil kesucianmu!” tukas Fahri seolah lupa siapa Azizah. Padahal sebagai orangtua, seharusnya ia lebih mempercayai putrinya, ketimbang omongan orang yang tak mengenal mereka luar dalam. Atau paling tidak dengarkan penjelasan gadis malang itu. Dia hanyalah korban fitnah dari beberapa orang yang tak bertanggung jawab.

Sementara pembawa kabar burung tersebut tengah tertawa ria di rumahnya, tanpa tahu seberapa dalam luka hati Azizah karena rumor yang sengaja ia sebar. Padahal si pengghiba itu adalah kerabat Fahri sendiri.

“Nikmatilah kemalanganmu Azizah!” Sembari tersenyum menyeringai, Alwi membayangkan Fahri menampar serta menyiksa Azizah. Gadis polos nan malang yang baru saja ia fitnah. Padahal Azizah merupakan keponakannya sendiri. Entah ada dendam apa yang terjadi diantara dua keluarga beda kasta tersebut, yang pasti Alwi sangat benci dan dengki terhadap keluarga Fahri.

“Pa, mengapa senyum-senyum? Apa kau baru saja memenangkan lotre?” Halima, istri Alwi yang baru saja datang dengan secangkir kopi ditangan, melihat suaminya tersenyum cengengesan. Merasa penasaran, hingga ia mengajukan pertanyaan.

“Ini bukan lagi tentang lotre, tapi tentang Azizah yang tengah hamil dan keguguran,” terang Alwi. Membuat Halima penasaran. Dia duduk disisi Alwi sembari meletakkan cangkir kopi yang ia pegang tadi.

“Jadi kau dengar juga rumor itu?” tanya Halima.

“Tentu saja! Apa kau pikir aku akan melewatkan kabar baik ini? Ini adalah senjata kita untuk membuat keluarga Fahri malu. Beruntung tadi aku ke warung sebelah. Jadilah kita memiliki alibi untuk menjatuhkan nama baik mereka. Irma, gadis gemuk itu sudah mengantar kita menuju kemenangan.”

Irma adalah sahabat Azizah. Dialah orang pertama yang membawa berita tak sedap itu pada tetangga. Sehingga Alwi yang kala itu tengah belanja rokok dan keperluan rumah lainnya diwarung orangtua gadis bertubuh pendek serta gemuk rersebut, menajamkan pendengaran. Irma bercerita, bahwa Azizah jatuh pingsan ketika kegiatan tujuh belasan tengah berlangsung, dan dokter memvonis gadis berhijab itu tengah mengalami pendarahan. Padahal kenyataannya tidak seperti apa yang dikatakan Irma. Gadis itu hanya merasa dengki pada Azizah, sebab tak diikut sertakan dalam kegiatan tujuh belasan.

Sungguh alasan klasik, namun tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang sahabat tega memfitnah sahabat lainnya sekeji itu. Padahal usia Azizah masih lah belia. Dua belas tahun merupakan fase dimana seseorang baru pertama kali mengalami puberitas, namun tergolong labil. Lalu mengapa dalam hal ini Azizah harus menderita akibat dari paradoks tak mendasar?

To be continued…

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status