Share

bab 18. basah..?

Author: Hazel R.Y.
last update publish date: 2026-04-18 12:48:44

Marcellino mengajak Freya ke balkon, menjauh dari keramaian di dalam rumah.

"Kita harus memperbaiki ini dan meyakinkan semua orang bahwa kita benar-benar menjalin hubungan," ujar Marcellino serius. "Zayden sudah menyadari bahwa kita hanya berpura-pura."

"Kirana juga mengatakan hal yang sama." Freya lalu menceritakan pertemuannya dengan sepupu Marcellino di kamar mandi.

Ekspresi Marcellino langsung berubah muram. Ia tampak jelas tidak menyukai kenyataan itu.

Freya menatapnya sejenak, sedikit ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 34. mandi bersama di pantai

    Setelah membersihkan tubuhnya dari jus jeruk yang lengket, Freya membuka lemari dan memilih pakaian lamanya. Ia mengenakan celana denim biru yang sudah lama tidak dipakai, dipadukan dengan kemeja denim sederhana. Setelah merapikan rambutnya, ia kembali ke ruang makan.Begitu ia tiba, suasana mendadak hening.Marcellino menatapnya dengan seringai menggoda. “Kau terlihat cantik,” ujarnya.“Terima kasih,” jawab Freya singkat sambil duduk di kursinya.Lydia mendorong semangkuk kecil puding cream ke arahnya sambil tersenyum lebar. Freya sempat heran melihat ibunya terus tersenyum seperti itu, hingga ia menyadari gigi palsu barunya.Freya baru saja menyuapkan sesendok makanan penutup ke mulutnya ketika Lydia tiba-tiba berkata, “Terima kasih, Marcellino, karena telah mempromosikan Freya.” Freya hampir tersedak. Ia langsung menoleh ke arah Marcellino, yang terlihat sedikit bingung sebelum akhirnya mengalihkan pandangan padanya.'Astaga… aku lupa memberitahunya,' batin Freya panik.“Sayangku…

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 33. makan siang bersama

    Sejak perjalanan menuju Bogor, Marcellino sebenarnya sudah diliputi rasa gelisah. Ia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini, mengunjungi keluarga seseorang, apalagi sebagai pacar.Di dalam mobil, sebelum mereka tiba, ia sempat melirik Freya dengan ragu.“Orang tuamu tahu aku ikut?” “Ya. Aku menelepon ibu tadi malam,” jawab Freya.“Dan…?” Marcellino menggantungkan kalimatnya, menunggu kepastian.Freya menoleh, sedikit mengernyit. “Maksudmu?”“Apa mereka… setuju?” lanjutnya.Freya tersenyum kecil. “Tentu saja. Mereka justru ingin bertemu denganmu.”Marcellino menghela napas panjang, menyembunyikan kegelisahan yang sejak tadi ia rasakan. Ia mencoba tetap tenang di tengah suasana yang terasa asing baginya.Kehadiran David sedikit meredakan ketegangannya, setidaknya ia sudah lebih dulu mengenal pemuda itu. Namun, berhadapan dengan Damian tetap membuatnya gugup. Meski pria itu bersikap ramah, ada sesuatu dalam tatapannya yang terasa tajam dan mengamati.Sebaliknya, Lydia justru memancar

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 32. bertemu orang tua Freya

    Freya masih menyimpan sedikit kekesalan terhadap Marcellino sejak kejadian malam sebelumnya. Pria itu sempat kembali menunjukkan sisi lamanya yang dingin, arogan, dan mudah tersulut emosi, seperti sosok Pak Pradana yang dulu ia kenal. Sepanjang perjalanan malam itu, Freya memilih diam, menahan diri karena khawatir Marcellino akan meluapkan amarahnya.Namun pagi ini terasa berbeda.Marcellino kembali menjadi pria yang belakangan ini mulai ia sukai, yang hangat, perhatian, dan jauh lebih manusiawi. Ia menyiapkan sarapan untuk Freya, lengkap dengan cokelat panas favoritnya, sesuatu yang bahkan Freya sendiri tak ingat pernah ia ceritakan. Perhatian kecil itu membuat hatinya tersentuh.Di gereja, Freya melihat sisi lain dari Marcellino. Pria itu berlutut dengan khusyuk, berdoa dengan tenang. Pemandangan itu terasa asing sekaligus menenangkan, seolah membuka bagian dirinya yang selama ini tersembunyi.Perjalanan mereka menuju Bogor dipenuhi percakapan santai dan tawa. Untuk pertama kalinya,

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 31. pergi ke kampung halaman Freya

    Freya terbangun karena suara bel pintu yang terus berbunyi.Dalam keadaan setengah sadar, ia menatap langit-langit kamar yang putih dengan pandangan kosong, mencoba memahami apa yang sedang terjadi di pagi buta hari Minggu itu. Butuh beberapa detik sebelum pikirannya akhirnya bekerja dan menyadari sesuatu yang membuatnya langsung tersentak.Marcellino akan datang pukul delapan tiga puluh untuk menjemputnya.Ia langsung bangkit dari tempat tidur dan melirik jam di meja samping. Jam delapan pagi.“Ya ampun…” gumamnya. Ia bangun kesiangan.Dengan cepat ia mengingat kembali alarm yang ia pasang semalam. Namun saat menyadari kesalahannya, ia hanya bisa menghela napas panjang. Ia ternyata mengatur alarm untuk pukul enam sore, bukan pagi.Bel pintu kembali berbunyi.Freya segera mengenakan jubah hijau lamanya, lalu menatap sekilas bayangannya di cermin. Rambutnya berantakan, wajahnya masih tampak mengantuk. Ia membersihkan kotoran di matanya dan merapikan rambutnya seadanya dengan jari-jari,

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 30. malaikat vs penyihir

    Marcellino sudah kehilangan mood. Perasaan kesal dan frustrasi bercampur menjadi satu, membuatnya menyesali keputusannya datang ke tempat itu.Ivanka terus menggoda pelayan, sementara sesekali melemparkan tatapan provokatif ke arahnya. Marcellino tahu itu disengaja. Ia paham betul permainan perempuan itu, dan justru karena itulah ia semakin kesal pada dirinya sendiri karena tidak mampu benar-benar mengabaikannya.Di sisi lain, Freya berusaha mengalihkan perhatiannya dari Ivanka. Namun setiap kali berhasil, gadis itu justru menjaga jarak darinya. Hal itu membuat Marcellino semakin frustrasi.Ia berjalan ke bar dan mengambil segelas wiski lagi. Saat itulah ia melihat Brandon mengajak Freya ke lantai dansa.Marcellino mencoba mengalihkan pikirannya dengan berbincang bersama keluarga Bastian—pasangan lanjut usia yang sudah lama ingin ia jadikan investor. Ia hampir berhasil meyakinkan mereka, hingga Ivanka tiba-tiba muncul dan menyela percakapan, menuntut janji dansa yang pernah ia lontark

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 29. mengalihkan perhatian Marcellino dari Ivanka

    Freya menarik rambut Marcellino lebih keras agar dia berhenti, tetapi bibir pria itu seperti lintah yang menempel di lehernya. Lidah Marcellino begitu hangat dan kuat, menjilat dengan nikmat di area sensitif lehernya, yang tiba-tiba menimbulkan rasa sakit dan denyutan yang kuat di tengah kewanitaannya, meminta ingin dipenuhi."Marcellino, jangan di sini."Hal itu membuat Marcellino berhenti dan menatap Freya."Berarti kita bisa melanjutkannya nanti?" Mata pria itu menjadi gelap saat menatap Freya."Tidak! Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?"Tiba-tiba Marcellino tampak seperti anak kecil yang merajuk setelah permintaannya untuk mendapatkan permen ditolak."Kupikir kau ingin membantuku, untuk mengalihkan pikiranku dari Ivanka.""Ya, tapi...""Berhasil. Sekarang kau berhasil menarik perhatianku sepenuhnya." Marcellino meraih pipi Freya dan memegangnya."Marcellino, aku tidak bermaksud seperti itu." Freya menepis tangan Marcellino dari wajahnya dan meletakkannya di pangkuannya.Ia mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status