ログインOne impulsive kiss in Paris was supposed to be a harmless lie. Desperate to silence her arrogant ex, petite Asia grabs the nearest stranger, Ruthless Billionaire oil tycoon Eden Gregory. She claims him as her fiance for the moment. She never imagined that he'd play along, or even told her to keep the pretense ongoing. Back in New York and fighting for survival, Asia lands a high paying job at a prestigious baby products company,by pretending to be a happily married mother. But on her first day, the new boss walks in and it's Eden Gregory. Now he's determined to make her pay for running away that night.
もっと見る“Gimana, Abra, enak nggak sup iganya?” suara Riani mengisi ruang makan.
Serayu melirik suaminya yang menjawab singkat, “Enak,” sambil tetap makan.
Senyum puas muncul di wajah sang mertua, senyum yang sudah sering Serayu lihat, tapi tak pernah terasa hangat.
Abra merangkul bahu Serayu dengan santai. Sentuhan itu membuatnya kaku, bukan karena tidak nyaman, tapi karena ia tahu mata Riani sudah memperhatikan.
Dan benar saja, tatapan tajam itu langsung menusuk, seolah menilai bahwa Serayu tak pantas berada di sana.
“Ini masakan Aileen,” ucap Riani tiba-tiba.
Nama itu menghantam Serayu lebih kuat daripada nada suara yang mengatakannya.
Abra tersedak spontan, dan saat Serayu hendak memberinya air, Riani menepis tangannya seolah ia hanya gangguan. Sang mertua yang kemudian menyodorkan gelas pada Abra, membuat batas antara mereka semakin jelas, bahwa Serayu tetap orang luar.
“Aileen mampir tadi. Sekarang dia pindah tugas ke sini,” lanjut Riani. “Tambah cantik, pintar, karirnya bagus… Harusnya dulu kamu sabar nunggu dia S2.”
Ucapan itu menusuk, bukan karena Serayu cemburu, tetapi karena ia sudah terlalu sering dibandingkan dengan perempuan yang bahkan belum pernah ia temui.
Abra menahan ibunya dengan satu kata, “Mama.”
Saat itu juga Serayu tahu makan siang itu sudah berakhir untuknya.
“Kenapa, Abra? Nyatanya, sampai detik ini Mama memang tidak pernah merestui pernikahan kalian,” ujar Riani tanpa ragu. Ia menatap Serayu dengan tajam, seperti bagaimana ia selalu menatap menantunya itu.
“Ma, sudahlah.” Abra mulai kesal, tapi masih menahan diri.
Sementara Serayu, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tahu, ia hanyalah koas dari keluarga sederhana yang masuk rumah sakit itu lewat beasiswa.
Hidupnya berubah sejak kecelakaan kecil dengan mobil milik Abra, dokter bedah muda yang arogan dan pewaris rumah sakit. Berniat bertanggung jawab, Serayu menyadari jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperbaiki mobil itu cukup besar.
Hingga akhirnya, tawaran pernikahan kontrak muncul dari Abra sebagai jalan keluar. Serayu sudah menolaknya, tapi keadaan keluarganya yang serba kekurangan memaksanya menerima.
Tak ada yang tahu perjanjian itu, termasuk Riani, yang sejak awal menolaknya. Serayu terlalu “biasa” untuk keluarga besar itu.
Apa pun yang Serayu lakukan selalu tampak salah di mata Riani. Bahkan hal sekecil menaruh gelas pun bisa menjadi alasan untuk merendahkannya.
“Abra, sampai kapan kamu mau dibutakan oleh istri kecilmu itu? Dia ini hanya mengincar hartamu, memanfaatkan popularitasmu di dunia kedokteran!” seru Riani tak tahan lagi. Tatapannya kembali terarah pada Serayu. “Kamu ini dari keluarga miskin, modal beasiswa, harusnya kamu sadar diri.”
Serayu kembali menunduk, tak tahu harus merespon dengan kalimat apa. Ia tahu, pernikahan ini hanya di atas kertas, tapi apa yang ibu mertuanya katakan tentang latar belakang keluarganya benar-benar meluikai hatinya.
“Ibu Riani, saya memang dari keluarga miskin, tapi saya nggak pernah punya niatan buruk pada Mas Abra dan keluarga,” lirih Serayu berusaha membela diri.
Awalnya, ketika menerima perlakuan buruk dari sang ibu mertua, Serayu tak ingin ambil pusing. Ia hanya perlu bertahan hingga kontrak pernikahannya dengan Abra berakhir. Namun lama-kelamaan, ibu mertuanya semakin keterlaluan.
“Di dunia ini tidak ada maling yang mengaku, Serayu! Saya nggak tahu, apa yang sudah kamu perbuat sampai bisa mencuci otak anak saya dan berani melawan ibunya sendiri,” cibir Riani tanpa perasaan.
Serayu meremas ujung bajunya di bawah meja. Tatapannya terarah ke arah Riani dengan penuh rasa tidak terima.
Abra yang melihat ekspresi Serayu langsung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya di bawah meja. Seolah memberi instruksi untuk tidak lagi membalas ucapan ibunya agar suasana tidak semakin keruh.
“Sejak awal semua sudah berjalan lancar. Abra hanya tinggal menunggu waktu untuk menikah dengan Aileen, tapi tiba-tiba kamu muncul dan mengacaukan semuanya. Seharusnya kamu nggak usah menampakkan diri di hidup anak saya,” lanjut Riani seolah masih belum puas menyudutkan sang menantu.
“Ma, dari awal Abra memang nggak ingin menikah dengan Alieen,” sahut Abra menyanggah.
“Iya karena perempuan ini lebih dulu mencuci otakmu, Abra!” seru Riani makin kesal.
Serayu makin merasa kesal. Ia tahu, tiap kali kejadian seperti ini datang, Abra memang berusaha membelanya. Entah apa motif sebenarnya, setidaknya Serayu sedikit merasa terbantu meskipun rasanya juga percuma karena ibu mertuanya itu sama sekali tak bisa dibantah.
Jika saja Abra bersikap abai, mungkin hidup Serayu akan semakin terasa terperosok. Sudah terjebak dalam pernikahan kontrak, masih juga ditindas di keluarga suaminya tanpa pembelaan sedikitpun.
“Sudahlah, Abra antar Mama pulang,” kata Abra pasrah. Ia berdiri dan bersiap untuk pergi dari ruang makan.
“Kamu benar-benar berubah semenjak menikah dengannya,” tuduh Riani dengan nada dingin.
Abra tidak menanggapi, hanya menghela napas lalu menoleh pada istrinya.
“Masuklah dulu, Saya akan antar Mama pulang,” titahnya berbisik, meminta Serayu masuk ke dalam kamar.
Serayu menurut, tapi belum genap langkahnya tiba-tiba suara Riani membelah keheningan.
“Ceraikan Serayu, Abra!”
Asia’s POVBy 8:52 p.m., I had officially stopped pretending this job respected labor laws.The office was almost completely silent now.Not quiet.Silent.The kind of silence that only existed after business hours, when everyone sensible had gone home and only the deeply unfortunate remained.Apparently, I was one of the unfortunate.I sat at my desk surrounded by spreadsheets, contract drafts, highlighted reports, and the slow emotional collapse of what used to be my sanity.The city outside had shifted into nighttime.Lights glowed through the glass windows, painting the office in softer reflections.It should’ve been peaceful.Instead, it felt eerie.Like I had somehow wandered into a different version of Gregory Empire.My neck ached.My shoulders hurt.And my laptop screen had started looking mildly offensive.I checked the time again.Still 8:52.Fantastic.Time itself had apparently stopped moving.My phone buzzed softly beside my keyboard.I grabbed it immediately.Not becaus
Asia’s POVIt was continued working none stop.By noon, I had developed a very specific opinion about Eden Gregory.He was exhausting.Not in the loud, dramatic, impossible to work with kind of way.That, at least, would’ve been straightforward.No.Eden was exhausting in a far more refined manner.The kind that made you question your own competence after every interaction.The kind that somehow turned a simple request into psychological warfare.I was beginning to understand why everyone on this floor moved with such terrifying efficiency.Fear.The answer was fear.Professional, polished fear.I sat at my desk staring at a spreadsheet that had begun to blur into meaningless numbers.Vendor contracts.Budget inconsistencies.Renewal clauses.All things I normally could’ve handled without issue.Normally.Unfortunately, normal had packed its bags and abandoned me sometime around Paris.My phone vibrated quietly beside my laptop.My blood froze.Every muscle in my body locked instantly
Asia’s POVBy 6:45 a.m, I was already questioning every decision that had led me here.The city was barely awake.Mine should have been too.Instead, I was standing outside Gregory Empire with a coffee in one hand, a headache threatening to split my skull open, and approximately three hours of sleep clinging desperately to my system.Sleep had been a joke.Every time I closed my eyes, I saw my mother.Bruised.Terrified.Waiting.And every time I managed to drift off, another image replaced it.Dark eyes.I took a long sip of coffee and walked inside.The lobby looked less intimidating this early.Still expensive.Still polished enough to make me feel underdressed no matter what I wore.But quieter.Which I appreciated.Less people.Less staring.Less chance of someone noticing that I was functioning entirely on anxiety and caffeine.I made my way toward the elevators, badge clipped neatly to my blazer.Temporary staff access.Six months suddenly didn’t feel temporary at all.By the t
Asia’s POVThe elevator ride down felt longer than it should have.Too quiet.Too slow.Like the building itself was giving me extra time to think about the mistake I had just signed myself into.Six months.Six whole months.Not with just any boss.With HIM.Eden’s last words still clung to me like smoke.‘You should get used to seeing me….six months is a long time.’That man had a way of saying simple things that somehow sounded like a threat.Sometimes like warnings or promise.I wasn’t sure which one it was.By the time the elevator doors finally slid open, my pulse was still too fast.Too uneven.The lobby was crowded.People moved around me with purpose, heels clicking against marble floors, phones pressed to ears, voices blending into one giant blur.Normal.Everything looked offensively normal.Meanwhile, my life had just become significantly more complicated in under an hour.I exhaled slowly and stepped out.The fake ring on my finger suddenly felt unbearable, as if I had pu
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.