Mag-log in(WARNING: R18. Contains shameless, explicit smut. Not intended for young viewers.) *** "Rune," Xavier called, his voice a low, throaty groan that sent heat straight to my core. "Baby, you don't have to do this." Determination surged through me, lighting my nerves on fire. "I want to." That was without a doubt. Even though I have no idea what the hell I'm about to do. I'm about to rely on the wild tales Marcella told me, and that one lesson with a banana. Fucking hell. I'm about to suck her dad off...using her own lessons! **** Rune Vitali is the poster child for "down on your luck." Out of a job, black sheep of her family, and mentally exhausted, the last thing she expects is to find her boyfriend cheating on her with his stepbrother just a day before she brings him home. Hurt and angry, she goes to a bar to drink her worries away. There she meets a handsome stranger. One night of hasty decisions lead to massive fallout. Not only was this stranger Xavier Creighton, the country's most popular and ruthless Criminal Lawyer, he was also her best friend's father. And her new boss. If her life was bad before, it's about to get even worse. How long can she keep her dirty little secret before her best friend finds out? Or before the scandal blows up and ruins her forever? She should stay away. But there's something about Xavier she can't resist. Something almost...supernatural. Like there's a force pulling them together, one she can't resist no matter how hard she tries.
view moreBocah laki-laki yang usianya sekitar 10 tahun itu sedang berdiri tertegun di depan pintu kamarnya, matanya tidak berkedip sama sekali, dia tidak sedang melihat hal yang menyenangkan di depannya, melainkan dia melihat sesuatu yang membuat kedua lututnya bergetar.
Pyar ...
Terdengar suara pecahan benda yang dilempar, dan bunyinya menggema di seluruh ruangan. Bocah itu masih tidak bergeming berdiri di tempatnya.
“Ayah, Mama, sudah! Jangan bertengkar sepertini, kenapa kalian membuat kita ketakutan?” suara seorang gadis dengan rambut yang di kepang duanya, dia berusaha berada di tengah-tengah pertengkaran kedua orang tuanya.
“Kamu diam saja, Nat!” bentak seorang wanita cantik dengan rambut sebahunya. “Kamu masih kecil dan tidak tau tentang apa yang terjadi di sini. Jadi diamlah!” sekali lagi dia membentak gadis yang usianya masih 18 tahun itu.
“Sandra! Jangan membentak putrimu seenaknya, dia sudah dewasa dan dia berhak tau semuanya,” bentakan seorang pria dengan rambut berwarna blondenya.
“Dia memang harus tau semuanya, semua tentang apa yang sudah kamu lakukan di luar sana, kamu benar-benar menjijikan, aku sudah tidak mau lagi bersama dengan kamu. Dan Noah akan ikut denganku nantinya. Dia tidak akan hidup dengan pria brengsek seperti kamu!” serunya dengan nada tinggi.
“Noah ... Noah, kamu di mana?” Wanita itu berjalan menuju ke dalam kamar putranya. Noah tertegun melihat wajah mamanya yang sudah berderai air mata, wanita itu duduk dengan dua lutut menyangga tubuhnya, kedua tangannya memegang erat kedua lengan tangan Noah. “Noah, kamu akan ikut mama, kamu tidak perlu tinggal di sini lagi.”
Tangan bocah kecil itu terangkat mengusap tetesan air mata yang ada di pipi mamanya. “Mama kenapa?”
“Mama tidak apa-apa, Sayang. Kamu sekarang ambil tas kamu dan kita pergi dari rumah ini.” Wanita itu berdiri dan menyambar tas ransel berwarna hitam yang ada di atas meja belajar, dia memasukkan beberapa baju Noah—putranya ke dalam tas itu dan menggandeng tangan Noah keluar dari kamar itu.
Pria dengan rambut blondenya itu hanya melihat diam ke arah istrinya dan putra kecilnya. “Ma, aku tidak mau mama dan ayah berpisah, aku dan Noah masih membutuhkan kalian. Aku mohon, Ma,” Gadis yang tak lain adalah kakak Noah bahkan sampai memegang erat tangan mamanya agar tidak pergi dari rumah itu.
“Lepaskan, Na!” Wanita itu menghentakkan tangannya dengan kasar. “Kamu sebaiknya ikut dengan ayah kamu, karena mama hanya akan mengajak Noah pergi.”
“Ma, aku tetap bersama Nathali,” ucap Noah lirih.
“Kamu akan pergi dengan mama, Noah. Kita tinggalkan mereka saja, nanti kalau kamu ingin bertemu dengan Nathali, mama bisa mengantarkan.”
Noah dan mamanya berjalan menuju pintu keluar. Saat mamanya akan membuka pintu, terdengar teriakan keras dari ayah Noah. Seketika Noah dan mamanya menoleh ke arah belakang. Di sana mereka tubuh Nathali yang sudah tergeletak di lantai dengan tangan yang bersimbah dara.
“Nat!” teriak mama Noah. Noah pun sekali lagi hanya bisa terdiam di tempatnya, dia benar-benar shock melihat tubuh kakaknya yang tidak bergerak sama sekali saat kedua orang tuanya memanggil- panggil namanya.
Noah hanya bisa melihat ayahnya membawa tubuh kakaknya keluar dan masuk ke dalam mobil, sedang mamanya mencoba berbicara dengan Noah, tapi Noah seolah tidak mendengar jelas apa yang mamanya ucapkan.
“Noah bangun ... bangun Noah!” suara seseorang memanggil Noah, dan seketika Noah membuka kedua matanya dengan keringat bercucuran.
“Dan, ini--?” Noah langsung bangkit dari tidurnya, dia duduk bersebelahan dengan sahabatnya.
“Kamu mimpi buruk lagi? Apa tentang keluarga kamu?”
“Brengsek! Aku ingin sekali melupakan masa lalu itu.” Noah mengusap wajahnya kasar.
“Sudahlah! Kejadian itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu, kamu harus melupakan kejadian itu?” Tangan pria itu menepuk pundak Noah.
Memang kejadian itu sudah sangat lama, bahkan sekarang Noah sudah bukan bocah kecil lagi yang polos dan tampak culun, dia sudah berubah menjadi seorang pria dengan paras yang sangat tampan dan memiliki postur tubuh yang gagah, tapi kenangan masa lalunya benar-benar menjadi mimpi buruk di setiap tidurnya. Kenangan-kenangan itu yang membuat Noah menjadi pribadi yang berbeda.
Noah mengambil napas panjangnya. “Aku memang harus melupakan kejadian itu. Bahkan aku harus melupakan jika aku pernah memiliki keluarga seperti itu.” Noah beranjak dari tempatnya dia menuju lemari pendingin dan mencari minuman yang mengandung alkohol kesukaannya.
“Noah, pagi ini kamu punya rencana apa? Kita tidak punya uang sedikitpun. Apa kita akan pergi ke rumah ayah tiri kamu saja dan seperti biasa, kita akan meminta uang kepadanya?”
“Aku tidak mau, nanti malam saja kita pergi ke arena balap, di sana aku akan menantang Bruno dan Hugo untuk balapan, dan aku yakin, kita akan mendapatkan uang dari sana.”
Daniel sahabat Noah itu membanting tubuhnya di atas kasur. “Lalu pagi ini kita mau berbuat apa?” tanyanya malas.
“Aku mau pergi ke suatu tempat hari ini.”
“Apa? Pergi Ke suatu tempat? Kalau begitu aku ikut.” Dan langsung beranjak dari tempatnya.
“Maaf, Dan, aku tidak bisa mengajak kamu, aku ingin sendirian ke sana, kamu di sini saja.” Noah menyaut jaket hitam miliknya dan kunci motornya yang ada di atas nakas.
“Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku Noah?” tanya Dan curiga. “kita sudah lama menjadi sahabat, sejak kamu kabur dari rumah, kita sama-sama memutuskan untuk tinggal bersama seperti saudara, tanpa ada rahasia apapun.”
Dan hanya memberikan seringaiannya dan dia keluar dari kamar itu. Dan, kembali merebahkan tubuhnya, dia sudah tau bagaimana sifat sahabatnya itu.
Noah sudah sampai di tempat yang dia tuju. Noah memarkirkan motornya, dan berjalan perlahan masuk ke arah pemakaman, di sana suasananya sangat sepi, bahkan hanya Noah yang tampak sebagai manusia. Noah berdiri di salah satu pusaran yang tidak terlihat nama di batu nisa itu.
Noah duduk berjongkok di samping pusaran itu. “Maaf, jika aku tidak pernah ke sini. Tapi aku akan tetap mengingatmu.” Noah terdiam sejenak, kenangan masa lalunya seolah kembali tergambar jelas di depannya.
“Kenapa mama selama ini membohongiku? Aku membencimu, bahkan aku ingin melupakan jika aku mempunyai keluarga, kalian benar-benar bukan orang tua yang aku harapkan!”
Tlit ... Tlit ...
Noah tersadar akan lamunannya. Saat ponsel di sakunya berdering, dia melihat nama yang tidak asing baginya pada layar ponselnya.
“Halo.”
“Noah, apa kamu nanti bisa datang ke sini?”
“Besok pagi aku bisa ke sana, saat ini aku belum bisa ke sana. Apa semua baik-baik saja?” tanya Noah dengan raut wajah cemasnya, dia berharap semua akan baik-baik saja.
Salam kenal ya kakak pembaca semua, semoga suka dengan cerita yang aku tulis, salam semoga kakak semua sehat selalu. Aamiin.
RUNE:My heart hammered, thrashing against my chest like it wanted to escape. I couldn’t piece everything together without feeling like I was losing my fucking mind!My blood. Me. I’m the sacrifice. Except I’m not going to be cut up on some altar. No. I’ve already handed this council the one thing they needed to succeed. And I did it with my eyes wide open.I could pause and say that Elias lied to me and decieved me. But did he?He told me from the start, that lycan blood needed consent. And I gave it to him. Only I didn’t know exactly what he was going to use it for. He said it was for research, for drugs. I was stupid. So fucking stupid. “Oh and did you know,” Marcella spun on me after a few seconds of her relentless pacing. “This is just a personal suspicion, but Elias is a lycan.”“You’re lying…”“She’s not.” My lycan purred. “I felt it the first time we met. That man is one of us.”“What?! And you didn’t tell me?!”“I had my reasons.”“What’s going on?” Marcella asked wi
RUNEIt’s fine. I’m not here to fix her relationship with Xavier. She doesn’t even look like she wants it fixed. That’s none of my business. Although a tiny voice whispers that eventually the three of us will need to sit down and have a real conversation, that’s not the part of me I want to listen to right now.Not my business.So I took a seat. On the couch far from Marcella. She noticed the distance and scoffed, muttering something about a scared cat under her breath. Then she went back to her drink, whipping out another full of bottle of beer.“Go on,” she said impatiently. “What?”“What happened to you?”She laughed. It was a cold and heartless sound. “Like hell you care.”“I cared.”Cared.Her brows quirked at that word. So many memories came rushing to my mind, all the time we’d spent together. All the happy and sad times we had. All of them now turned to ash. “Good thing it’s in past tense. Please just say what you want and get out.”Suddenly, the confidence is marched in her
RUNE“Why the fuck do you sound so happy?”I rolled my eyes, even though Lorenzo wasn’t there to see it. “What? Can’t your sister be happy anymore?”He made a huffing sound. “Whatever. The Eclipse, did you get any information about it?”And just like that, my smile vanished. Ah. The Eclipse. Everything in between. My spirits dampened. Pulling my legs up to my chest, I rested my cheek over my knees. “I asked Elias and no. He said he wasn’t on the council, so he didn’t have any information on it. He did give me the details of it, the sacrifice.”“That stopped a while back. They don’t do sacrifices anymore, my guess is that they use blood. Or hair. Something personal like that.”“Yeah. I tried to find the person, the…sacrifice. But I don’t know where to start.”“Don’t.”“What?”“Rune, it’s best to stay away from the council. Although that’s going to be a bit impossible given who you’re dating.”“Xavier isn’t aware either.”Lorenzo paused and went silent. I thought he’d hung up, but he
RUNEI was still straddling his hips, soft moans spilling out of my mouth, when he flipped us over with one smooth motion. I landed on my back, laughing breathlessly as he settled between my thighs like he belonged there.“You’re sleepy,” I mumbled, cupping his face and running my thumbs over his cheekbones. He leaned closer to my touch, pressing soft kisses into my palms. “Fuck sleep,” he whispered, his voice still rough. Whether it was from sleep or from how I’d sucked his soul out of his cock, I didn’t know. I’d like to guess the latter. “You’re beautiful, Rune.”His sudden admittance made me blink. Then warmth flooded my entire body. A tingly, giddy kind of warmth. I smiled. “Thanks…you’re beautiful too.” I traced his neck, running my fingers softly over the marks I’d given him. So beautiful. So mine.He took my hand, brought it to his lips and kissed every one of knuckles. His kisses were slow, reverent, and I felt like I was being worshiped. His golden eyes never left mine, s
RUNE“Promise me,” I said as he lifted me up, helping me stand steady. “Promise you won’t stop if I beg you to. Promise you’ll hurt me the way I need,”He gripped my chin harshly, “baby, I’m going to make you forget what gentle feels like. And when I’m done, you’ll thank me for it.”Excitement rush
RUNEIt took a while for my tears to die down. When they were gone, I felt better. Better than I’d felt in the past two days. I wiped my eyes with the back of my hands and snuggled closer to Xavier. “I ruined your shirt,”“I’ll buy another one.”“And if I ruin that one?”“Don’t worry about a thin
RUNEMy heart snatched upon seeing Xavier. It had only been two days but it might have as well been two years. His eyes were dark, dim too, like he had stopped existing somewhere between two days ago and now. A dark shadow was on his chin, showing hints of stubble. But the moment he saw me, his e
XAVIER“Sir, we haven’t found her yet. She wasn’t seen exiting that building.”I told myself that I’d give Rune some time. A week, at most. Enough space for her to breathe without feeling like I was stifling her. A week indeed. It took six hours and my body became restless.I couldn’t sit still.












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu