LOGINSherry was ready to leave her billionaire husband's mansion. She was mad because his husband backed out on his words and didn't give her a divorce based on their agreement before their twins were born. Ready to leave, she showered her adorable twins with kisses and hugged them one last time, hoping that when they grew up, they wouldn't hate her for abandoning them. Her husband stood near the door; he declared, "If you leave this house today, you will never see the twins again." Distraught, she replied, "Take care of the twins for me." Sherry exited the room with tears falling on her cheeks. While descending the staircase, a nagging question was burning in her mind. Is it worth abandoning her twins just to be with the guy who can make her happy?
View More“Astaga!”
Frank Harper terkesiap saat mendapati pundak ramping yang dipenuhi jejak bibir. Cap kemerahan itu ada di mana-mana, bahkan di dekat tahi lalat yang memang berada pada posisi menggairahkan.
Masih dengan mulut ternganga lebar, Frank menatap wajah korbannya. Lipstik dan maskara gadis itu keluar jauh dari batas. Menyadari kebrutalannya, Frank bergegas mengambil ponsel.
“Sia-sia aku membayar kalian mahal! Kau dan sembilan pengawal itu sungguh tidak berguna!” umpat Frank begitu panggilannya diterima.
“Ada apa, Tuan? Bukankah Anda sendiri yang meminta kami pulang? Anda bilang ingin merayakan anniversary bersama tunangan Anda.”
“Tunangan dari mana? Aku tidak mengenal gadis ini!”
Frank menyoroti Kara Martin dengan mata merah membara. Kebencian telah membakar jiwanya.
Beberapa kali Isabela berusaha merayunya, ia tidak pernah goyah. Namun, semalam, ia sudah lengah. Bagaimana mungkin ia merusak citra sempurnanya bersama seorang gadis yang tidak dikenal?
“Cepat selidiki bar semalam! Seseorang telah memasukkan obat ke dalam minumanku. Dan cari tahu di mana Isabela sekarang! Tidak biasanya dia membatalkan janji tanpa memberi kabar.”
“Bagaimana dengan gadis yang sedang bersama Anda? Apakah saya perlu menelusuri informasi tentangnya?”
Frank menggertakkan rahang. Bagaimana mungkin gadis itu masih terlelap di saat kemarahannya telah meledak-ledak?
“Aku akan menanganinya.”
Setelah meletakkan ponsel di atas meja, Frank bergegas mengenakan pakaian. Kemudian, tanpa sedikit pun keraguan, ia menampar sang gadis dengan segelas air.
“Hmmph!”
Kara spontan meraup wajah dan menegakkan badan. Begitu melihat seorang pria tampan berambut acak-acakan, ia terperangah. “Siapa kau?”
“Akulah yang seharusnya bertanya. Kau siapa?”
Frank meninggikan sebelah alis. Wajahnya sama sekali tidak ramah. Mata abu-abunya memancarkan aura dingin yang mematikan.
“Tunggu dulu! Ini kamarku. Kenapa kau bersikap seolah-olah ini kamarmu?” balas Kara dengan nada bicara yang lebih tinggi. Ia belum sadar bahwa pakaiannya tidak melekat di tubuh lagi.
“Kau tidak tahu siapa aku?” gumam Frank dengan sebelah alis mendesak dahi. Sedetik kemudian, ia mendengus. “Ini hotelku, dan kamar ini sudah kusiapkan khusus untuk tunanganku. Jadi, berhentilah mengada-ada!”
“Kaulah yang mengada-ada! Tim kami menyewa tiga kamar di Hotel Harper ini sejak kemarin siang. Lihatlah, koperku ....”
Kara tersentak melihat pakaiannya berserakan di dekat kaki sang pria. Begitu ingatan tentang mimpi semalam terputar, matanya terbelalak.
“Kau ...!” Kara menarik selimut dengan tampang horor. “Apa yang sudah kau lakukan kepadaku?”
Dengan tangan disempal dalam saku, Frank melangkah maju. “Akulah yang seharusnya histeris. Bagaimana mungkin aku bisa menyentuh perempuan rendahan yang sejelek dan sebodoh dirimu?”
Sambil mencondongkan tubuh ke depan, ia mengamati raut korbannya yang dirasa berlebihan. Mata yang berwarna tembaga keemasan itu bergetar terlalu hebat.
“Ck, bahkan anjing Samoyed jauh lebih berkelas dibandingkan dirimu.”
Pria itu menatapnya seperti makhluk paling menjijikkan dari seluruh dunia. Kara kehabisan kata-kata.
“Hentikan sandiwaramu! Kau pasti senang sudah tidur denganku. Jutaan wanita mendambakan kesempatan itu. Kau seharusnya bersyukur, sedangkan aku ....” Frank mendengus dan mengedikkan bahu. “Semalam adalah mimpi terburuk dalam hidupku.”
“Munafik! Jelas-jelas kau sudah mengambil keuntungan dariku. Sekarang, kau menganggapku sampah?”
Air mata Kara mulai mengalir. Kekesalannya sudah mencapai puncak.
“Kau memang sampah. Kau itu ibarat setitik noda dalam lukisan mahal yang tanpa cela. Kau tidak layak memasuki kanvasku. Karena itu, lupakan apa yang telah terjadi dan jangan pernah menemuiku! Jika di luar kamar ini kau masih menampakkan batang hidungmu, jangan salahkan aku jika kau lenyap dari muka bumi.”
“Kau pikir aku sudi disentuh olehmu? Kaulah sampah yang sesungguhnya! Kau telah merampas hak tunanganku! Sekarang, kau harus bertanggung jawab!” hardik Kara dengan suara bergetar. Tenaganya memang telah terkuras, tetapi kemarahan memaksanya menolak untuk diam.
Sementara itu, Frank menyipitkan mata. “Gadis ini masih ingin bertingkah seperti korban? Dia bahkan berani menekanku dengan tuntutan?” Ia mendengus sinis.
“Aku bukan memintamu untuk menikahiku,” jelas Kara sigap. “Kau hanya perlu menjelaskan kejahatanmu kepada tunanganku.”
“Apakah peringatanku kurang jelas?” tanya Frank dengan nada tak senang. Masih dengan tangan yang disempal dalam saku celana, ia menempatkan wajah beberapa senti di depan Kara. “Aku ... tidak mau ... berurusan lagi ... denganmu.”
Nada bicara pria itu tidak main-main. Kara nyaris bergidik ngeri, tetapi ia tetap mengangkat dagu.
Sayangnya, belum sempat keberaniannya terucap, pria itu sudah mendorong keningnya dengan telunjuk. Sedetik kemudian, ia melengos pergi sambil membersihkan tangan dengan kain sutra yang berukiran emas.
“Hei!”
Kara bergegas mengejar. Namun, begitu ia berhasil meraih lengan sang pria, ia langsung merapat dengan dinding.
“Kau pikir aku bercanda?” Frank mengeratkan cengkeraman tangannya pada leher Kara, tak peduli jika gadis itu megap-megap mencari udara.
“Aku tidak sudi melihat wajahmu yang menjijikkan ini, apalagi disentuh oleh tangan kotormu. Sekali lagi kau mengusikku, hidupmu akan berakhir detik itu juga.”
Begitu Frank melepas cengkeraman, Kara langsung ambruk dan terbatuk-batuk. Ia tidak punya tenaga lagi untuk mengejar. Sambil mencengkeram selimut, ia hanya bisa memandangi pintu dan menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba, sepasang sepatu pantofel kembali terlihat. Kara mendongak. Saat mendapati seorang pria dengan mata yang memerah, ia terkesiap.
“Finnic?”
Pria itu mendesah tak percaya. “Jadi ini kelakuanmu di belakangku?”
Kara berkedip-kedip dengan lidah kaku. “Tidak .... Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Fin.”
Sambil menggertakkan geraham, Finnic melemparkan ponsel yang berisi sebuah rekaman. Saat menyaksikannya, tubuh Kara langsung gemetar.
~Nine Months Later~ One sunny day. Inside one of the private rooms of Silver Lake Hospital, Kristina and Russell welcome their first child, a healthy baby boy. Feeling amazed and proud, Russell can't get his eyes off his son. He looks so healthy and big. Tears of happiness shimmered in his eyes while cradling his beloved firstborn. Kristina smiled radiantly. Seeing the father and son bonding skin to skin was a dream come true for her. "Is he sleeping now?" she asked. Russell looked at Kristina and replied, "Yes, he is. He's still a day old. He will keep sleeping for now and only wake up if he's hungry. That's what the nurse told me." "OK. Give our son to me if he is already awake so I can breastfeed him," Kristina said, smiling brightly. She loves being a mother for the first time and getting closer to the guy she fell in love with in such a short time. She hoped he wouldn't discard her easily, knowing she came from a humble beginning, not wealthy like him. Russell continues gazi
Two months later.At 9:00 in the morning, Sherry went to the hospital to fetch her husband. She settled the hospital bills first before going to her husband's room. Three days ago, Axel had finished his physical therapy and was given a go signal to go home by his therapist.When Sherry arrived at the room, Axel already finished packing his things. Clara and Edd went home yesterday to oversee the welcome party they had prepared for their son, starting at 3:00 in the afternoon today."Everything is pack already?" Sherry asked, looking at the two bags in the corner."Yes, hon! I can't wait to go home. I miss home!" Axel gushes excitedly."Alright, if nothing else, let's go home," Sherry said, heading to the door.Suddenly, Axel hugged Sherry tightly. She looked at his face, surprised by his blatant display of affection. "What are you doing?" she asked.Axel planted a kiss on her head. "I miss you. I just want you to know that I'm grateful that you no longer want to divorce me. I apprecia
After entering Russell's penthouse, Kristina's eyes widened in admiration, dazzled by the incredible luxurious place. "Wow, your place is amazing!" she gushes in delight. "I'm glad you like my man cave. Feel at home," Russell said, plopping down on the couch. Kristina lowered herself onto the comfy couch and continued roaming her eyes around the place equipped with modern appliances and amenities. "Do you like to swim in the pool?" Russell offered. "Yes! Show me your pool!" Kristina replied in a thrilled voice. "Follow me." Russell left the couch and walked towards the pool area. Kristina followed him to the pool area. When they arrived there, she smiled ecstatically. "Wow, your pool is amazing! We can see the view of the entire island here! Fantastic view!" she raved in elation. They settled on the sun loungers. Russell poured the bottle of tequila cocktail drink into the two glasses. "Have a drink," he said, handing the glass to his beautiful companion. "Thank you, Sir!" Kri
She looked into his eyes and said, "Alright, I will no longer divorce you but on one condition..." Axel grinned happily. "I agree to all your conditions as long you will no longer divorce me." Sherry rolled her eyes, amused by his reaction after she told him her condition. Her husband is desperate to keep her by his side, no matter the cost. "Alright, we will talk about this matter after you come home. Today is not the right time to discuss family affairs," she said, dropping the topic quickly. "OK, I understand," Axel said, agreeing to his wife's decision to continue discussing their marital condition some other time. The couple bonded with their adorable twins in the bed. The babies' and their parents' joyous laughter filled the room, bringing joy to everyone's hearts. The parents hoped that today's family reunion could be the start of the couple's reconciliation. Sherry, her mother, and the twins stayed in the hospital until early evening. Clara ordered delicious dishes for di






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews