Share

Chapter 2

Tepatnya di meja makan milik keluarga Gantara sudah duduk anggota keluarga untuk menikmati makan pagi. Bisa dilihat bahwa yang tertua disana adalah orang tua dari Bram yang datang mengunjungi putranya sekaligus kangen cucu yang telah lama tidak di tengoknya. Bram yang baru dibangunkan istrinya Sasa belum kunjung turun untuk ikut sarapan jadi Sasa menggantikan Bram menemani mertuanya sarapan terlebih dahulu.

“Kabarmu sama suamimu gimana, Sa? Pertanyaan itu terlontar dari Ima sang ibu mertua, “Ibu harap kamu dapat memaklumi kelakuan Bram ya Sa. Apalagi sekarang sudah ada Kenan pasti kamu repot kan. Sekarang sudah tau susahnya jadi ibu jadi banyakin sabar saja.” Ucap Ima membuat Sasa tersenyum kikuk, “Kalian sudah dewasa apalagi Bram yang sudah kepala tiga, kalo ada masalah selesaikan dengan kepala dingin.” Tambah Ima menasehati menantunya agar kejadian yang menimpa dirinya tidak terjadi pada orang lain. Jujur saja Ima masih tidak bisa melupakan rasa sakit akibat kegoisannya menjadikan pernikahan yang di lakukan sekali seumur hidup itu palah berantakan. Ima melirik suaminya Bima yang sedang asik bermain dengan cucu kesayanganya. Terselip rasa senang melihat Bima melebarkan senyumnya begitu merekah, “Diem aja Sa? Ada masalah memang?” Tanya Ima lagi yang melihat kesenduhan di mata Sasa. Ima bukan cenayang tapi wanita terkadang mampu mengerti perasaan wanita lain hanya bisa menerka-nerka saja.

“Kabar kita baik mah cuma mas Bram lagi sibuk banget sekarang-sekarang mungkin karna sekarang sudah tidak ada pembatasan juga. Kita jarang ngabisin waktu berdua aja sih mah.” Jawab Sasa mengingat tadi malam ada perdebatan yang cukup membuat keduanya diam-diaman. Ima mengucap syukur pelan sekali disetai senyum Sasa yang tampak sengaja di paksakan.

“Telpon siapa Bram?” Tanya Ima yang melihat anaknya begitu serius apalagi keberadaanya itu sama sekali tidak di lihat oleh Bram yang sibuk dengan perbincangan seseorang di seberang sana, “Astaga ini anak!” Ima beranjak mendekati Bram menepuk pundaknya.

“Atasan mah biasa. Baru dateng apa?” Tanya Bram sambil mencium pipi mama angkatnya.

“Udah dari tadi Bram. Nungguin kamu lama yaudah mama sarapan duluan.” Cibir Ima mengejek putra angkatnya yang terlalu sibuk bahkan hanya untuk menyapanya sedari tadi susah sekali, “Jangan terlalu maksa Bram kalo kerja, kamu sudah berkeluarga loh sekali-kali kasih waktu buat keluarga loh.” Ujar Ima yang mulai menasehati Bram.

“Aku kerja kan buat mereka mah.” Bela Bram sedikit melirik Sasa istrinya yang langsung pergi menuju dapur. Bram menghela nafas tahu jika istrinya masih ngambek padanya mengenai persoalan kemarin. Jadi kemarin Sasa mengecek ponsel Bram dan melihat chatingan dirinya dengan wanita yang tidak lain adalah Yura. Dia salah satu anak magang di kantornya. Bram sampai memblokir nomor Yura agar Sasa percaya bahwa keduanya iya hanya teman biasa walaupun jarak usia keduanya berbeda jauh. Sebenarnya Sasa sudah mengetahui chating itu dari jauh hari sebelum melabrak suaminya langsung tapi dia masih tetap diam tidak mau bertindak gegabah. Sampai hari itu tiba Sasa berani langsung bilang ke suaminya setelah menemui ayah gadis itu yang kebetulan sekali bawahan di perusahaan ayahnya, “Aku ke ayah dulu ya mah.” Ucap Bram kemudian menghampiri ayah beserta anaknya kenan.

“Gimana kerjaan, Bram?” Tanya Bima yang memang sudah menyerahkan segala tugasnya pada sang anak.

“Aman, pah. Sekarang aja lagi banyak yang musti diurus jadi ya sibuk.” Jawab Bram disertai tepukan pelan di punggung Bram oleh Bima. Bima tahu bahwa dulu dia memang mengalaminya sendiri. Bram beralih mengamati putranya yang sedang asik bermain lego,“Hello boy!” sapa Bram membuat kenan langsung bergelanyut manja. Karna jarang bertemu jadi interaksi mereka sangat jarang hanya mainan yang selalu diberikan Bram membuat anak usia 5 tahun itu manja karena tau yang selalu menuruti segala keinginanya adalah Bram.

Di sebuah tempat alat elektronik Yura ditemani Kiano menservise laptopnya yang tibia-tiba mati. Setelah Kiano mati-matian menjauhi Yura tapi nyatanya tidak bisa. Setelah hampir tiga bulan akhirnya keduanya kembali mengirim pesan. Kiano mulai menyadari bahwa sebaiknya kembali seperti awal sebelum dia dan Yura berpacaran itu lebih baik dari pada saling menjauh membuatnya tersiksa. Karna juga hanya Yura yang sering membantunya dalam tugas kuliah itu jelas menguntungkannya.

“Udah puas liburanya?” Tanya Yura sambil menyeruput minuman ditangannya. Yura tau jika Kiano habis pulang ke kampungnya di Yogyakarta. Tidak ada kabar menghilang selama tiga bulan begitu saja membuat Yura sempat memaki Kiano di benaknya. Yura memang sudah pernah bilang agar setelah putus keduanya tetap berteman layaknya dulu sebelum memulai hubungan tapi entah mengapa Kiano palah mulai menjaga jarak dengannya. Sampai disitu Yura hanya bisa bersikap biasa saja namun hari ini Kiano yang mungkin sudah sadar kembali menajadi Kiano yang Yura kenal. Teman yang selalu menemaninya saat dibutuhkan.

“Sebenernya belum. Kangen kota gue.” Jawabnya sambil terkekeh pelan, “Kangen gue apa Yur?” Candanya lagi membuat Yura bergidik jijik mendapat gombalan dari Kiano yang memang sangat receh, “Oh ya! Gimana magang lo?” Tanya Kiano yang penasaran mengenai kegiatan Yura selama tiga bulan yang dia tahu ya itu sedang magang.

“Ya gitu-gitu aja.” Jawab Yura membuat Kiano mengernyit heran dengan sikap Yura, “Hari ini lo mau kemana lagi?” Tanya Yura mengalihkan topik yang enggan ditanyai mengenai tempat magangnya.

“Engak ada. Gue cuma nganter lo doang.” Jawab Kiano dengan santainya. Mereka berbincang-bincang sambil menunggu tukang servicenya selesai membenarkan laptop Yura.

Dari trotoar terlihat wanita berjaket navy dengan celana jeans berkoyak pokoknya cantik. Wanita itu melirik jam tanganya sembari mengeluh kesal pacarnya tidak kunjung datang. Mobilnya tiba-tiba mogok membuat wanita 22 tahun itu harus menikmati rasanya menunggu. Karena selama dirinya hidup selalu dia yang membuat orang menunggu mungkin sekarang hadiah terindah balasan untuknya. Sudah hampir 30 menit menunggu Raka yang masih dijalan bilangnya tadi harus mengurus berkas kerjaanya. Raka memang sudah terjun membantu ayahnya dalam perusahaan.

“Apa gue telpon dia aja ya!” Batin Geby yang ragu sambil menggeser layar ponselnya menimang-nimang baik-buruknya,

“Ah! Jangan-jangan nanti kalo ketemu Raka gimana kan bisa berabe. Tapi jarak dari sini ngga jauh sih dari tempat dia kerja. Coba aja kali ya siapa tau bisa bantu.” Batin Geby lagi setelah itu langsung memencet tompol menghubungi seseorang yang langsung di angkat olehnya tidak butuh waktu yang lama.

Sebuah mobil Avanza berhenti tepat di depan Geby. Lelaki itu tesenyum disambut pelukan dari Geby, “Lama iya?” Ucapnya mengelus kepala Geby pelan. Sebelum keduanya langsung masuk ke dalam mobil Avanza dan meninggalkan mobil Gaby yang nantinya diurus pihak dealer.

“Bentar lo tunggu sini.”Ucapnya pada Kiano. Yura berlari melihat mobil yang sudah bergerak maju meninggalkan tempat dimana tadi berhenti, “Kok gue kaya kenal. Apa mirip kali ya.” Batin Yura melihat punggung mobil yang kian menjauh. Yura hendak kembali ke tempat duduk semula namun dirinya hampir saya ditabrak oleh motor Raka. Alhasil suara decitan rem yang mendadak membuat Raka banting stir dan terjatuh.

Kiano reflex menghampiri Yura dengan wajah khawatir, “Gila! lo baik-baik aja kan, Yur?” Yura hanya menganggukan kepalanya, matanya langsung beralih pada pria yang sedang ditolong oleh pengguna jalan lain. Raka di bantu melipirkan kendaraanya yang untung saja tidak ada hal yang serius terjadi padanya hanya kaca spion yang pecah selebihnya aman.

“Laporin aja mas! mba itu kok yang salah tadi banyak kok saksinya.” Ucap salah satu warga yang menjadi saksi kejadian barusan. Beberapa orang yang berkerumun juga setuju dengan pendapat itu adapula yang menjadi penengah agar di selesaikan baik-baik dulu.

Yura berjalan mendekati Raka yang masih terduduk di trotoar, “Saya mau tanggung jawab kok! Masnya gimana?” Tanya Yura yang berusaha ingin berdamai dengan premotor yang hampir menabraknya. Raka mengarahkan pandanganya pada wanita yang berdiri cukup dekat denganya. Sempat terdiam karena kedua kalinya mereka bertemu lagi. Mata itu kembali mengingat pertemuan pertamanya di café yang terletak di Jakarta Pusat. Sedangkan Yura ingat-ingat lupa tapi kaya kenal gitu melihat wajah Raka mungkin karna waktu itu Raka menggunakan masker jadi Yura tidak terlalu jelas bahwa malam itu Rakalah yang berpapasan dengannya. Tentu saja sosok di samping Yura yang tidak kalah menjadi sorotan di mata Raka,

Kiano mendekati Raka berdalih ingin mengajak bicara, “Mas, damai aja ya. Temen saya enggak sengaja kok.” Ucap Kiano sembari meminta maaf pada Raka.

“Yasudah saya mah enggak, kita damai aja. Saya juga enggak mau ribet juga.” Ucap Raka membuat Yura yang mendengar itu menghembuskan nafas leganya.

“Tapi ganti ruginya dicicil ya mas, saya masih kuliah soalnya gajinya belum seberapa.” Nego Yura lagi membuat Raka kaget juga karena ternyata wanita di depanya kuliah sambil kerja. Biasanya kan banyak yang hanya mengandalkan uang orang tua saja apalagi melihat wajahnya seperti anak yang di manja oleh kedua orang tuanya ternyata cukup bisa dibilang mandiri, “Oh iya ada nomor telepon yang bisa dihubungi nggak ya biar gampang nanti ngabarinnya.” Tambah Yura kemudian Raka langsung mengambil kertas kecil disakunya dan langsung di berikan ke Yura.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status