LOGINEighteen-year-old and naive, Winter admires her parents' relationship and wishes to have a sweet love story of her own, but of all people, she is in love with her future brother-in-law, Hans. On the night after her sister's engagement with Hans, Winter spends the night with him, believing they would go on their respective paths the next day. However, one thing leads to another, and Winter devises a plan to elope with her now brother-in-law. But what happens when Winter's plans go awry and she is sent into the future by accident? Will Winter ever find her true love?
View MoreAda dua orang yang bersahabat yaitu Rina dan Robi. Mereka telah bersahabat sejak jaman kuliah dulu. Sayangnya Rina telah menikah dan dijodohkan oleh ortunya dengan anak dari teman ayahnya di kantor yaitu Rudi. Padahal Rina tak begitu menyukai meski Rudi sudah mapan dan baik cuma karena memang tak ada rasa cinta.
Makanya pernikahan mereka terasa hambar sampe-sampe saat Rina melayani hasrat suaminya itu di kamar pun ia lakukan dengan tanpa rasa kepuasan dirinya. Rina cuma menjalankan tugas sebagai istri saja. Rina pun mencoba mencari pelampiasan kegundahannya itu dengan curhat kepada sang sahabat yaitu Robi. Mereka berda sering bertemu di cafe favorit dekat kampus dulu saat mereka masih sama-sama di bangku kuliah.
Pertemuan Rina dan Robi di kedai kopi favorit mereka berlangsung seperti biasa. Mereka duduk di sudut yang tenang, berbagi cerita dan tawa. Namun, belakangan ini, Rina semakin sering mengungkapkan perasaannya kepada Robi, termasuk masalah privasi dalam hubungan suami istri dengan Rudi.
Sambil mengela nafas Rina berucap, “Robi, aku benar-benar merasa seperti dalam penjara. Pernikahan ini semakin membuatku terjebak.”
Robi dengan wajah prihatin, “Rina, apa yang terjadi? Kamu tahu aku selalu di sini untuk mendengarkanmu.”
Sambil menatap secangkir kopi di hadapannya Rina berkata, “Aku tahu, Robi. Dan itu yang membuatku merasa lebih baik, bisa berbicara denganmu.”
Robi tersenyum, “Sahabat sejati selalu mendengarkan, Rina.”
Rina melanjutkan, “Rudi, dia adalah pria yang baik. Tapi aku tidak mencintainya, Robi. Orangtuaku menginginkan pernikahan ini, dan aku hanya menurutinya.”
Robi mengangguk), “Aku mengerti bahwa kamu melakukannya untuk orangtuamu, tapi pernikahan tanpa cinta itu seperti penjara. Kamu harus bicara dengan Rudi, Rina. Jangan biarkan dirimu terjebak dalam perasaan yang tidak bahagia.”
Rina berbisik, “Robi, ini bukan satu-satunya masalah. Aku merasa seperti aku tidak pernah mendapatkan kepuasan saat kami berdua di kamar. Aku mencoba berbicara dengan Rudi, tapi aku takut melukainya.”
“Rina, aku mengerti itu adalah masalah yang serius. Kamu perlu mencoba berbicara terbuka dengan Rudi. Ini tentang kebahagiaanmu juga,” ucap Robi dengan mimik prihatin.
Setelah itu percakapan mereka berlanjut malam harinya lewat aplikasi W******p.
Rina mengirim pesan, “Robi, bisakah kita bertemu lagi besok? Aku butuh seseorang untuk diajak berbicara.”
Robi membalas pesan, “Tentu, Rina. Aku akan di sana. Apa yang terjadi?”
“Aku hanya ingin berbicara denganmu tentang semuanya,” balas Rina lagi.
Robi mengirim pesan lagi, “Aku selalu di sini untukmu, Rina.”
Pertemuan berikutnya, Rina merasa semakin nyaman berbicara dengan Robi tentang masalah yang ada dalam pernikahannya. Mereka bahkan membahas masalah yang sangat pribadi.
Waktu berlalu, dan Rina terus merasa nyaman berbicara dengan Robi tentang semua masalah dalam pernikahannya. Pertemuan mereka di kedai kopi menjadi tempat di mana Rina bisa membuka hatinya tanpa rasa takut atau malu. Robi selalu mendengarkan dengan sabar dan memberikan nasihat yang baik.
Robi menyeduh secangkir kopi, “Bagaimana perkembanganmu dengan Rudi, Rina?”
Rina tersenyum getir, “Kami mencoba untuk lebih terbuka satu sama lain, Robi. Tapi aku masih merasa seperti ada tembok di antara kami. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”
Robi membungkuk dekat, “Rina, jangan pernah merasa sendirian dalam hal ini. Kamu akan menemukan jalan keluar bersama-sama, seperti yang selalu kita lakukan.”
Rina meraih tangan Robi, “Terima kasih, Robi. Kamu adalah sahabat terbaik yang bisa kumiliki.”
Robi tersenyum, “Dan kamu juga sahabat terbaikku, Rina.”
Rina dan Robi terus mendukung satu sama lain dalam perjalanan hidup masing-masing. Rina tahu bahwa meskipun pernikahannya mungkin rumit, dia memiliki sahabat sejati yang selalu siap mendengarkan dan memberikan dukungan. Dan sementara Rina mencari cara untuk mengatasi masalahnya, dia tahu bahwa Robi akan selalu ada di sisinya, memandanginya dengan mata penuh kasih dan kepercayaan, siap mendukungnya dalam setiap langkah yang dia ambil.
Pada suatu malam, Rina menelpon lewat WA ke Robi ketika sang suami sedang menginap di rumah ortunya karena ada urusan persiapan pernikahan sodara dari keluarga Rudi. Percakapan mereka pun semakin intim dan bahkan Robi mulai bertanya hal-hal yang sensitif ke Rina dengan harapan Rina bisa mendapatkan kepuasan dari chat mesra mereka malam itu.
“Rin, kamu biasanya melayani suami jam segini kan, heheh, maaf sekedar nanya!” ucap Robi seolah kepo banget dengan urusan ranjang Rina.
“Hihih, koq tau aja sih Rob?” balas Rina sambil tertawa memencet tombol WA di ponselnya.
“Biasanya dia yang minta duluan ya, Rin?” tanya Robi lagi semakin berani
“Yaa...gitulah...kan laki-laki rata-rata begitu!” balas Rina sambil senyum-senyum
“Trus, kalo malam ini dia gak pulang gimana tuh?”
“Gimana? Gimana maksudnya?” tanya Rina yang masih menebak-nebak kemana arah pertanyaan Robi itu.
“Ya untuk kamu dapet kepuasan, Rin!” ujar Robi akhirnya terus terang.
“Hihi, kamu benar-benar mau tau ya?” balas Rina sambil tertawa lagi di depan layar ponselnya.
“Iya Rin, kan aku jadi kepo banget setelah kamu sering curhat betapa kamu gak dapet kepuasan dari suamimu itu!” ujar Robi menjelaskan alasan kenapa ia bertanya tentang hal yang sensitif itu.
Tidak lama kemudian tiba-tiba ada pesan WA masuk ke Robi berupa gambar dan Robi terbelalak ketika membuka gambar yang dikirim Rina ternyata adalah Penis Buatan yang cukup besar, panjang dan berurat.
“Hahhh...Serius, Rin?” tanya Robi setengah tak percaya
“Ya iyalah, aku kan gak dapet enak dari suami, ya aku cari kepuasan lewat bantuan alat ini aja, heheh!” balas Rina dengan antusias.
“Emangnya enak Rin pake itu?” tanya Robi lagi semakin penasaran.
“Yahhhh...ini kan salah satu pelampiasanku! Terpenting bisa ada saluran! Meski....” Rina tak menyeleaisan ucapannya.
“Meski apa Rin?”
“Meski gak seenak pake yang aslinya, hihih!” ucap Rina lagi sambil tergelak di depan ponselnya.
“Emangnya punya suamimu kecil atau gimana?” tanya Robi semakin berani dan blak-blakan.
“Sedang sih, tapi kalo sudah tegang, efeknya gak lama, begitu masuk langsung selesai, Payah!” ucap Rina kini dengan nada mulai sedih lagi.
“Yah ampun, kesian kamu ya Rin!” ucap Robi dengan suara terdengar sangat prihatin dengan nasib sahabatnya itu.
“Pernah sih aku ajak ke dukun urut untuk kejantanan dia, tapi gak ngefek Rob!” ujar Rina menjelaskan.
“Sayang banget yah, padahal bodimu aduhai banget!” ujar Robi menilai bentuk tubuh sahabatnya itu.
“Ehhh...Robi, kira-kira punyamu lebih besar dari punya suamiku atau alatku ini?” pertanyaan Rina itu kali ini membikin Robi terkejut tapi Robi juga senang karena pancingannya ke Rina mulai kena.
“Kamu mau liat?”
“Hihih, kalo kamu bersedia sih!”
“Bentar....!” balas Robi dan Rina pun dengan berdebar menunggu kiriman gambar dari Robi.
A few more days before the wedding, Hans doesn’t visit, leaving me to my own devices. Although I often felt used and under his control when he lured me to do his bidding, I genuinely enjoyed the pleasure of his touching and groping. For me to sink into the depths of an unexplainable sin was genuinely beyond me. Hans called me lusty, but nobody could talk to who would understand how I felt.Tonight, he was busy preparing as a member of the Yang family rather than a son-in-law. Half an hour ago, I slunk away as I saw how excited Autumn was about their impending wedding. But after I saw how Hans had her sash days ago, it made me wonder if she cannot perform the duties of a wife. After all, how would Han smell of her fragrance and possess the sash she wears over her clothes?That night, my whole body burned. I knew that I desired to fill the gap between my legs, and by no doubt, I was embarrassed that I want him so desperately inside me. I had thrown away the contraceptive herbs that I ha
Before Charley could say anything more, I slammed the door in his face.“What was that?” my mother asked. “The wind,” I snickered. She shook me off as if I was crazy. I walked to the kitchen and dropped off her five packs of herbs. Then I climbed up the steps with the remaining two packs, entering my room. My mother doesn’t notice as she was engrossed with knitting a scarf for my father, who has gone out with Uncle Gerald.If I stayed a moment longer to speak to my mother, she would try to bring up the engagement with Charley, which I was uninterested in at all. I was already hopelessly in love with Hans, and nothing could ever change that. Once I have made up my mind, nothing can change my decision. Thinking about Hans and my sister just drove me nuts. I pushed open the door of my room and searched for more porcelain items to smash, but there were none. Then I let out a scream, one after another, until I felt exhausted. After goodness knows how many hours have passed, I put away
--A few days later--My mother has sent me on an errand. But unlike any other day, it is the pesky fly Charley who is following me. He takes his position at guarding my back like a docile pet. I know it is useless to say anything to my mother, who has her eyes on him as her future son-in-law, so I pretend he is invisible. Charley's father Gerald was once a human, cursed with demonism. His mother, Jane, was my mother’s best friend. My mother had run into Gerald during her travels in the futuristic world. There, Gerald had vowed to protect her all his life. When my parents time-travelled back to Tyi, he had joined them to spend the remnants of his long lifespan in Tyi. As Gerald had earned many merits helping my mother, she regarded him as her benefactor.Although Charley is half-demon and half-human, the old shaman of Tyi made a sacrifice during Aunt Jane's pregnancy. He parted with more than hundreds of years of cultivation to ensure that demonism did not manifest in her unborn child
I woke up with his robe covering my bare body, shivering in the coldness of the night. Fortunately, my parents never bothered to check up on me if I was at home. Otherwise, they would have suspected me of sneaking out late at night to indulge in indecent behaviour. Such actions were highly condoned in Tuyi, as maidens were expected to keep themselves pure for marriage. But my mother was different since she was raised with sword-fighting training and born with innate powers. She didn’t meet the definition of “maiden”, so why should I? Hans was still asleep, with his arm lodged deep in my bosom. Silently, I disconnected him from my body and crept towards the lake to watch my reflection under the bright moon. Removing Hans' robe slowly, I observed the marks he had left on my naked body.I had very fair skin, snow-white by definition, which went very well with my name, Winter. My skin got bruised easily, which Hans knew. I didn’t understand what he stood to gain by leaving these marks. D
Soon, I realised something was amiss as his rough kisses bruised my lips. He pressed me as hard as he could on the cold rock that I was sitting on earlier, sending chills through me. Every landmark in Tyi, including this rock was magical, and the cold froze me from inside my body.What had happened
After Hans left, I lay in my bed in a daze. I had been lying there for goodness knows how long when I looked up and then saw Autumn in the room. While I lacked a good relationship with either of my siblings, Autumn was more of a neutral type and for some reason, I had wanted to sympathize with her
After that night with Hans when I lost my virginity, I locked myself in my bedroom for three days and three nights, bawling to the monsoon rain that continued to afflict the village with their agriculture.On the morning of the fourth day, my mother and I had an abrupt quarrel.“I told you that I l
Outside the cavern, the sky thundered. Yet, I took no notice of what was happening. My eyes sting from how I had been crying. All because of him, Hans. He was the man of my heart, yet he could never be mine.He was the orphan that my parents took in when I was no more than a child of six. Apart from






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews