Home / Romansa / Fragmen di Bawah Hujan / Bab 143 — Interogasi Data

Share

Bab 143 — Interogasi Data

Author: Ey senja
last update publish date: 2026-04-07 18:12:26

Grafik panjang masih terpampang di layar proyektor.

Garis deviasi kecil di bagian akhir terlihat jelas.

Beberapa orang di ruangan itu masih menatapnya dengan ekspresi serius.

Damar berdiri di depan meja.

Tangannya bertumpu ringan di permukaan meja rapat.

Ia menatap Aira dengan tenang.

“Baik,” katanya akhirnya.

“Saya ingin memahami satu hal.”

Ruangan kembali hening.

“Apa yang membuat kalian memutuskan menambahkan variabel ini?”

Pointer di layar bergerak.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 150 — Ujian yang Sesungguhnya

    Malam turun lebih cepat dari yang mereka sadari.Lampu di ruang kerja tim proyek masih menyala ketika sebagian besar lantai kantor sudah mulai sepi. Beberapa ruangan di ujung koridor telah gelap, menyisakan hanya suara pendingin udara yang berdengung pelan.Namun di ruang kecil tempat Aira, Arkan, dan Raka bekerja, cahaya layar komputer masih terang.Di layar utama Aira, struktur model baru terbuka.Bagian yang dulu mereka anggap sebagai gangguan—pola kecil dalam distribusi error—sekarang justru menjadi pusat dari desain ulang sistem.Ia menatap kode di layar.Beberapa jam terakhir mereka bekerja hampir tanpa henti.Arkan membantu merumuskan ulang hubungan matematis antara variabel utama dan pola yang ditemukan Raka.Sementara Raka sendiri menyusun kerangka simulasi yang jauh lebih besar dari sebelumnya.Simulasi yang akan menguji model baru ini dalam kondisi ekstrem.Bukan lagi ribuan siklus.Melainkan puluhan ribu.Jika model baru in

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 149 — Pola yang Terlupakan

    Hari ketiga dari dua minggu itu berjalan lebih sunyi dari sebelumnya.Ruang kerja tim proyek dipenuhi suara halus kipas laptop dan ketukan keyboard yang jarang-jarang.Di luar jendela, langit siang tampak pucat.Namun di dalam ruangan itu, waktu terasa seperti bergerak lebih lambat.Aira duduk di kursinya dengan mata lelah.Sejak pagi ia mencoba membangun ulang struktur model yang semalam mereka sepakati untuk dirombak sebagian.Namun semakin lama ia bekerja, semakin jelas satu hal muncul dalam pikirannya:Membangun ulang sesuatu tidak sesederhana mengganti bagian yang rusak.Setiap perubahan kecil menciptakan konsekuensi baru.Ia menatap layar.Beberapa simulasi pendek yang ia jalankan menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan.Namun ia belum berani percaya.Di papan tulis, Arkan masih berdiri dengan spidol di tangan.Setengah dari rumus yang dulu memenuhi papan itu sudah dihapus.Digantikan dengan struktur yang lebih sederhana

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 148 — Batas Waktu

    Hari pertama dari dua minggu itu dimulai dengan suasana yang tidak biasa.Ruang kerja tim proyek biasanya penuh dengan percakapan ringan di pagi hari.Namun pagi ini berbeda.Semua orang bekerja lebih cepat.Lebih diam.Seolah setiap detik memiliki berat yang berbeda.Di meja kerjanya, Aira sudah membuka beberapa jendela data sekaligus.Grafik simulasi baru berjalan di layar utama.Di layar lain, tabel parameter terbuka.Ia sedang mencoba sesuatu yang belum pernah mereka uji sebelumnya.Penyesuaian kecil pada variabel tambahan.Jika berhasil, drift yang muncul dalam simulasi panjang bisa dikurangi.Jika gagal—model itu mungkin akan menjadi jauh lebih tidak stabil.Aira mengetik beberapa baris kode.Simulasi baru dimulai.Angka-angka mulai bergerak.Ia tidak berkedip.Di meja sebelah, Raka juga sedang tenggelam dalam datanya.Ia membuat beberapa model perbandingan.Jika mereka harus merombak sebagian str

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 147 — Keputusan di Meja Panjang

    Pagi datang terlalu cepat bagi Aira.Ia hampir tidak tidur.Bayangan grafik dari simulasi semalam masih terus muncul di pikirannya.Deviasi kecil itu.Drift yang hampir tidak terlihat.Namun cukup untuk mengubah arah masa depan proyek mereka.Ketika ia memasuki kantor, suasana sudah berbeda dari biasanya.Beberapa orang berdiri di dekat meja kerja masing-masing.Percakapan terjadi dalam suara rendah.Semua orang tahu hari ini bukan hari biasa.Hari ini adalah hari evaluasi lanjutan.Hari di mana manajemen akan memutuskan apakah proyek ini masih layak dilanjutkan.Aira berjalan menuju ruang rapat.Pintu kaca besar itu sudah terbuka.Di dalamnya, meja panjang sudah dipenuhi laptop dan berkas.Damar sudah duduk di kursinya.Bagas juga sudah ada di sana.Raka dan Arkan datang beberapa menit setelah Aira.Semua orang duduk.Tidak ada pembukaan panjang.Damar langsung memulai.“Kita lanjutkan dari simulasi

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 146 — Titik Retak

    Malam sudah turun ketika sebagian besar lampu di lantai kantor itu mulai dimatikan.Koridor panjang menjadi sunyi.Hanya beberapa ruangan yang masih menyala.Salah satunya adalah ruang kerja tim proyek.Arkan masih duduk di depan komputernya.Layar monitor memantulkan cahaya pucat di wajahnya.Grafik simulasi dari rapat tadi masih terbuka.Ia tidak langsung pulang.Ada sesuatu dalam grafik itu yang terus mengganggu pikirannya.Deviasi kecil itu.Terlalu kecil untuk dianggap kegagalan.Namun juga terlalu jelas untuk diabaikan.Arkan menarik kursinya sedikit lebih dekat ke meja.Ia membuka kembali file simulasi.Kemudian mengekspor data mentahnya.Baris demi baris angka muncul di layar.Ia mulai memeriksanya perlahan.Di ruangan yang sama, Aira juga masih ada.Ia berdiri di dekat jendela.Kota di luar tampak seperti lautan lampu yang berkilauan dalam gelap.Tangannya menyilang di depan dada.Pikirannya

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 145 — Simulasi Terakhir

    Ruang rapat perlahan berubah menjadi ruang kerja.Laptop-laptop terbuka.Beberapa orang mulai menuliskan parameter baru.Arkan duduk di depan komputernya dengan fokus penuh.Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard.Di layar, baris-baris kode berjalan seperti aliran sungai yang tidak pernah berhenti.Aira berdiri di belakangnya.Matanya mengikuti setiap parameter yang dimasukkan.“Masukkan skenario panjang dulu,” katanya pelan.Arkan mengangguk.“Seribu siklus?”Aira berpikir sebentar.“Dua ribu.”Arkan menoleh sedikit.“Itu jauh di luar rentang operasional.”Aira tersenyum tipis.“Justru itu yang ingin mereka lihat.”Arkan tidak membantah lagi.Ia mengubah angka di parameter simulasi.Di sisi lain ruangan, Bagas juga sedang bekerja di laptopnya.Raka berdiri di sampingnya.Sesekali mereka berbicara pelan.Sementara itu Damar berdiri di dekat jendela.Ia tidak ikut menyentuh komputer.

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 123 — Malam Kedua

    Pagi datang lebih cepat dari yang diharapkan.Bagi Aira, malam terasa terlalu pendek. Ia hampir tidak benar-benar tidur. Pikiran tentang grafik yang tidak stabil itu terus kembali setiap kali ia mencoba memejamkan mata.Ketika ia tiba di kantor, langit masih kelabu.Beberapa meja suda

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 122 — Pola yang Tersembunyi

    Kantor mulai sepi ketika malam datang.Lampu-lampu di sebagian ruangan sudah dimatikan. Hanya beberapa area yang masih menyala, menandakan ada orang-orang yang belum pulang.Proyek dengan batas waktu tiga hari tidak memberi banyak ruang untuk istirahat.Di salah satu sudut ruangan, Ai

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 120 — Jarak yang Dipaksa Dekat

    Siang itu ruang kerja terasa lebih tegang dari biasanya.Tidak ada yang benar-benar panik. Tidak ada suara keras. Semua orang tetap bekerja seperti biasa.Namun ritme ruangan berubah.Setiap orang membaca angka dengan lebih lama.Setiap diskusi kecil terdengar lebih serius.Pr

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 119 — Angka yang Tidak Lagi Jinak

    Pagi datang seperti biasa.Langit masih berwarna pucat ketika Aira tiba di kantor. Lorong-lorong belum ramai, hanya beberapa lampu yang sudah menyala di ruang kerja yang lebih awal terisi.Ia menyukai jam-jam seperti ini.Ketika dunia belum sepenuhnya terbangun, dan segala sesuatu ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status