MasukMalam ini Gadis merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar apartemen ini. Ia memikirkan kehidupannya yang ternyata kadang jauh dari rencananya. Ia harus secepatnya pulang ke Solo, namun ia harus menunggu Angela yang akan datang ke tempat ini besok siang. Mereka akan bertemu dengan jajaran direksi perusahaan tempat Pradipta dulu bekerja. Entah kenapa Papanya meneleponnya secara mendadak dan memintanya melakukan ini besok siang.
"Gimana, Dis?" Tanya Gavriel kala melihat Gadis tampak menggigit ujung kuku jarinya setelah menelepon Alena."Alena belum balik. Kamu kasih tugas apaan sih di kantor?""Kenapa mesti tanya kalo kamu sendiri tahu apa yang dia kerjakan.""Iya-iya, aku paham, tapi kalo dia setiap hari lembur begini, kapan dia bakalan dapat jodoh?""Memangnya penting punya pasangan kalo cewek itu sudah mandiri secara finansial?""Tergantung individunya.""Kalo kamu?""Aku?"Gavriel menganggukkan kepalanya. Ia bisa mel
Alena menatap rumah dengan pagar tinggi berwarna hitam yang ada di seberang jalan. Ia mendapatkan alamat rumah ini dari Banyu. Entah darimana Banyu tahu tentang alamat rumah Rachel. Yang bisa Alena lihat adalah rumah itu cukup ramai karena ada beberapa mobil box yang keluar masuk dari rumah itu."Si Dipta pakai pelet apaan, ya? Dibuang sama Gadis masih bisa dapat Rachel yang punya usaha besar begini," Kata Alena pelan dibalik kemudi mobilnya.Sebagai seorang amatiran, Alena masih bingung tentang apa yang harus ia lakukan di tempat ini. Namun saat sebuah mobil sedan keluar dari halaman rumah, Alena memilih mengikutinya. Entah kenapa Alena yakin jika ini adalah mobil milik Rachel. Dengan menjaga jarak aman, Alena mengikuti mobil berwarna merah ini hingga akhirnya memasuki sebuah mall. Saat pengemudi itu keluar dari mobil untuk
Gadis membuka kedua matanya kala merasakan sebuah bibir yang sejak satu menitan yang lalu menempel kuat di bibirnya hingga mereka bermain lidah bersama akhirnya terlepas. Pemandangan wajah Gavriel yang berjarak kurang dari sejengkal di depannya membuat Gadis berkedip. Nyatakah ini? Ia berbagi saliva bahkan bermain lidah bersama mantan musuh bebuyutannya sendiri. Goblognya ia justru menikmati semua itu, bahkan membalas ciuman Gavriel dengan tidak kalah antusiasnya.Bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini, Gadis memilih langsung berdiri. Bukannya bertanya tentang alasan Gavriel melakukan itu, Gadis justru langsung berjalan ke arah dapur begitu saja. Ia baru berhenti berjalan kala sudah berada di depan tempat cuci piring. Saat melihat ada beberapa piring dan gelas yang kotor, Gadis langsung mencucinya. Setidaknya ini jauh lebih baik daripada ia harus menghadapi Gavriel
Gadis memasuki rumah Pak RT yang ternyata sudah cukup penuh dengan para ibu-ibu yang sedang duduk lesehan di teras rumah. Mereka tampak sedang memperhatikan Gadis dengan tatapan ingin tahunya."Permisi, Bu RT," Ucap Suminah sambil mulai mengajak Gadis untuk duduk. Ia baru melepaskan cekalannya pada tangan Gadis saat mereka sudah duduk di karpet."Ya, Sum. Ini siapa?""Katanya Mbaknya ini temannya pak Gavriel. Tapi saya enggak percaya, Bu RT masa teman bawa koper waktu datang kaya mau pindahan aja."Sialan...Harga diri Gadis sebagai seorang wanita terasa ternodai dengan kata-kata Suminah ini. Dirinya selama ini selalu berusaha menjaga kehormatannya dengan baik. Jangankan untuk tinggal serumah tanpa ika
Gadis menghela napas panjang setelah ia berhasil mendarat di Jakarta kembali siang ini. Penerbangan selama satu jam sudah ia lalui bersama Angela. Kini ia memilih berpisah dengan pengacaranya itu yang langsung dijemput oleh supir kantor. Gadis sendiri memilih menunggu taxi online yang akan membawanya menuju ke alamat rumah Gavriel. Lebih baik ia menunggu Gavriel di sana daripada harus menyambangi kantornya. Ia tak mau menimbulkan gosip yang tidak-tidak ditambah ia juga tahu bagaimana sibuknya Gavriel di saat jam kerja seperti ini.Kini saat berada di dalam taxi online, handphone Gadis berdering yang ternyata adalah panggilan dari Alena. Ia mengernyitkan keningnya kala mengetahui Alena bisa meneleponnya di saat jam kerja seperti ini. Segera saja Gadis mengangkatnya."Hallo, Len?"
Pukul tiga sore ini Gadis sudah berhasil memarkirkan mobilnya di depan pagar rumahnya. Rumah yang tampak sepi tak berpenghuni ini benar-benar membangkitkan kenangannya tentang kejadian Pradipta yang hampir membunuhnya beberapa waktu lalu. Angela yang duduk di samping Gadis dan melihat gelagat clien-nya ini hanya bisa memegang pundak Gadis pelan."Bu Gadis?"Gadis menoleh ke arah Angela. Dari ekspresi Gadis ini, Angela tahu jika perempuan ini sedang gugup dan takut."Kalo Ibu tidak yakin, lebih baik lain kali saja kita datang ke sini."Gadis menggelengkan kepalanya. Ia tahu bahwa cepat atau lambat dirinya harus memastikan tentang sertifikat rumah dan perhiasan miliknya yang ada di dalam berangkas. Ia harus m
Dengan telinga yang rasanya sudah pekak karena ocehan Banyu, akhirnya hari ini Gadis memilih menuruti keinginan kakaknya itu untuk pulang ke Solo. Padahal Gadis ingin menyelesaikan semua ini terlebih dahulu baru pulang ke Solo. Sayangnya Banyu tidak
Dengan kaos oblong yang sudah memiliki banyak ventilasi kecil dan celana rumahan selutut, malam ini Gavriel sampai di kamar jenazah salah satu rumah sakit besar di Jakarta. Saat sampai di sana tampak Wilson dan Aditya yang sedang menemani Elang dudu
Gavriel yang melihat Alena diam saja hanya bisa menghela napas panjang. Sejak tadi temannya itu tampak sedang berpikir keras. Entah apa yang Alena pikirkan, tapi Gavriel mengira jika itu karena ia kecewa dengan penerbangan kelas ekonomi yang dirinya
Group Lapak DosaGavriel : Dit, lo punya rumah di Bontang enggak?Wilson







