LOGIN⚠️ Warning!! Novel 18+++ Bijaksalah memilih bacaan sesuai dengan usia kalian. "Tidak perlu malu, itu hanya ciuman," kata Kenzo mulai menggoda Alexa lagi. Alexa mengalihkan pandangannya kearah pria di depannya yang hanya berjarak beberapa centimeter darinya. "Hah? Kau pikir aku malu kepadamu? Kau yang tidak tahu malu!" Alexa menatap Kenzo dengannya tatapan kesal meski wajahnya jelas merah merona. Kenzo menyeringai di dalam hatinya. "Ciumanmu sangat buruk, kau harus banyak belajar," cibirnya. "Aku bisa kok lebih baik," kata Alexa tidak terima dengan ejekan dari Kenzo. Kenzo mendekatkan wajahnya kembali kepada Alexa. "Benarkah? Aku tidak yakin," katanya dengan nada mengejek, sengaja memprovokasi Alexa. "Aku bisa kok!" "Hhmmm... Bisa? Kalau begitu tunjukkan jika kau memang bisa," ucap Kenzo semakin memprovokasi Alexa, sudut bibir pria tampan itu menyeringai licik.
View MorePrologue
"Gabe!" Suara Alexa melengking, gadis dengan tinggi 158 cm bernama Alexandria Johanson dan biasa di panggil Alexa itu langsung menarik kursi di seberang meja kerja Gabriel dan duduk tanpa menunggu dipersilakan. Gabriel Smith, saudara sepupu Alexa menatap Alexa yang tiba-tiba muncul di ruang kerjanya dengan tatapan dingin, itu adalah sebuah bentuk antisipasi karena bisa dipastikan Alexa akan mengganggu ketenangannya bekerja. Tidak mungkin gadis itu datang tanpa memiliki rencana konyol tanpa melibatkan dirinya. "Ayolah, Gabe. Jangan tatap aku seperti itu," gerutu Alexa sambil menaikkan sebelah kakinya ke atas kursi. "Turunkan kakimu," ucap Gabriel dengan nada tak kalah dingin dari tatapan matanya. Alexa tidak menggubris, gadis itu menarik ponsel di dalam saku celana panjang bermotif Army lalu mulai asyik sendiri menggeser layar ponselnya. "Kau seorang Johanson, tapi lihat sikapmu sama sekali bukan seperti seorang Johanson." Gabriel menggelengkan kepalanya sambil matanya menelusuri pakaian yang dikenakan Alexa. Gadis itu mengikat rambutnya dengan sembarangan, mengenakan celana Army dipadukan dengan kaus longgar berwarna hitam dan sneaker senada dengan kaosnya. Menurut Gabriel, seharusnya Alexa mengenakan gaun semi formal, mengenakan sepatu hak tinggi lalu berjalan dengan anggun sambil tangannya menenteng tas mahal. Menurut Gabriel seharusnya begitu. Alexa mencebik. "Aku tidak perlu menjaga sikapku di depanmu. Kau hanya seorang Smith, kekayaan orang tua kita tidak sebanding," ucapnya dengan nada sangat sombong. Gabriel bersedekap, ia menyandarkan bahunya di kursi kebesarannya. Perasaannya, tentu disabar-sabarkan menghadapi gadis di depannya. "Kau juga seorang Smith, jika tidak ada keluarga Smith, memangnya ibumu itu bisa lahir di dunia ini?" Alexa memutar bola matanya. "Baiklah, aku akui, keluarga Smith sedikit hebat, tapi tak sehebat keluarga Johanson." Di London, keluarga Johanson adalah salah satu keluarga yang sangat disegani, meskipun mereka bukan salah satu keluarga bangsawan, tetapi kekayaan mereka sangat fantastis. Tidak hanya di London, bisnis mereka nyaris menguasai daratan Eropa dan Amerika juga Asia. Keluarga Johanson memiliki lima anak dan Alexa adalah anak bungsu di keluarga itu dan sangat dimanjakan hingga mungkin menggunting kukunya saja ia tidak pernah melakukannya sendiri atau bahkan ia tidak bisa melakukannya. "Jadi, ada apa kau datang ke sini?" Gabriel menaikkan sebalah alisnya. Alexa memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. "Minggu depan adalah pesta pernikahan Grace dan William," ujarnya. "Seluruh dunia juga tahu." Gabriel menguap lalu mengubah posisi lengannya yang bersedekap menjadi berada di belakang kepalanya. "Pesta pernikahan itu digelar terbuka roof top bangunan hotel milik kami dari sore hari hingga malam," kata Alexa dengan penuh semangat. Matanya yang berwarna abu-abu berpendar hingga tampak menyilaukan. Gabriel tertawa kecil. "Dan?" "Gabe, di dalam hotel itu ada sebuah club malam, Daddy pasti sibuk menyapa keluarga, temani aku melihat club itu, aku ingin sekali melihat tempat itu. Hanya melihat," ucap Alexa dengan nada memelas. Gabriel nyaris tersedak air liurnya sendiri, pria itu menegakkan punggungnya hingga setegak papan. "Alexa, pertama-tama tolong turunkan kakimu, tidak pantas seorang gadis duduk seperti itu," ucapnya lagi, kali ini dengan nada tegas. Alexa kembali mencebik, tetapi ia menurunkan kakinya mengikuti perintah Gabriel. Kemudian duduk dengan anggun meski bibirnya tampak memberengut. Gabriel berdehem. "Aku lebih baik kau tenggelamkan ke dasar sungai Thames dibandingkan harus menemanimu pergi ke club. Dan... di dalam hotel itu bukan club, itu hanya sebuah lounge." Bersambung. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar dan RATE. Terima kasih dan salam manis dari Cherry yang manis. 🍒Epilogue"Luna mengirimkan beberapa hadiah untuk Ryu," ujar Alexa, matanya tertuju pada layar ponselnya yang berisi pesan dari Luna. Yamada Ryuu adalah nama putra pertama mereka yang baru saja satu Minggu yang laku dilahirkan oleh Alexa. Bayi mungil itu tampak gemuk dan sehat, Ryuu juga memiliki hobi menangis dan tidak penyabar saat menginginkan air susu ibunya saat merasa lapar. "Sampaikan salam kami untuknya," ujar Kenzo yang sedang menggendong Ryuu. "Bagaimana perkembangan terapinya?" "Ia mengatakan operasi pertama beberapa bulan yang lalu sangat membantu, Minggu ini ia mulai belajar melangkahkan kakinya." Kenzo menyentuh pipi putranya menggunakan ujung hidungnya. "Syukurlah." Pada akhirnya, baik Alexa maupun Luna, keduanya memilih saling berdamai dengan keadaan. Terutama Luna, wanita malang itu memilih menerima kenyataan jika ia harus melepaskan Kenzo, juga kesempurnaannya raganya. Namun, Tuhan tidak tinggal diam karena pada akhirnya, mungkin dengan cara itulah ia bert
Ending "Ayo, tunda pernikahan kita." Alexa menatap bayangan dirinya di cermin. Mereka berada di dalam kamar Kenzo, di kediaman Edward, kakek Kenzo. Mereka baru mengetahui kehamilan Alexa dua hari yang lalu, kandungan Alexa telah berusia enam Minggu. Kenzo menyipitkan kedua matanya, pernikahan mereka hanya tinggal beberapa hari lagi dan Alexa mengatakan ingin menundanya. Tentu saja ia keberatan. "Sayangku, jangan bermain-main." Alexa berbalik menatap Kenzo dengan tatapan kesal. "Kau menghamiliku. Lihat, aku sangat gemuk sekarang," ucapnya terdengar sangat kesal sabil setengah merentangkan tangannya dan matanya menatap tubuhnya yang sedikit bertambah berat. "Aku tidak ingin foto pernikahanku terlihat tidak sempurna." Kenzo menjepitkan sejumput rambut ke belakang telinga Alexa. "Dengar, sayangku. Aku tidak masalah menikahimu kapan saja. Tapi, jika kita menikah menunggu calon buah hati kita lahir, orang tuamu tidak akan setuju." Juga orang tuaku tentunya, terutama ibuku yang su
41. My BenefitBersamaan dengan itu Kenzo menginjak rem mobil yang ia kemudikan, pria itu dengan tenang keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri Alexa dan Gilbert. "Jiel," sapa Kenzo. "Lama tidak berjumpa." Gilbert tersenyum. "Selamat atas pertunangan kalian." "Terima kasih." Kenzo menarik pinggang Alexa, merapatkan tubuh mereka seolah ia sedang menegaskan jika Alexa hanya miliknya. Pria itu mengecup pelipis sebelah kanan Alexa. "Selamat pagi, Sayang." "Selamat pagi, Ken." Alexa tersenyum manis, ia harus mendongak untuk menatap wajah Kenzo karena perbedaan tinggi mereka yang jauh. "Jiel, sayang sekali, aku harus pergi bekerja," ucap Alexa dengan nada tidak nyaman karena ia harus meninggalkan Gilbert. "Kita akan mengobrol lagi nanti, oke?" Gilbert memasukkan tangannya ke saku jaketnya. "Jangan khawatir, aku akan berada di sini satu Minggu. Kita memiliki banyak waktu." "Good," ujar Alexa. Gilbert melirik sekilas ke arah Kenzo. "Bagaimana jika siang ini kita makan sian
40. Your Fault"Bermain denganku tidak perlu berpura-pura mengalah," ucap William. Seusai acara makan malam di kediaman keluarga Johanson, Alexander meminta William menggantikannya bermain catur bersama Kenzo. William dengan senang hati menggantikan ayahnya bermain catur karena ia juga ingin mengenal pria yang akan menjadi suami dari adiknya, Alexa. "Sama sekali tidak," sahut Kenzo kepada pria bermanik mata berwarna Hazel di depannya. Otak yang memiliki pembawaan sedikit kaku tetapi faktanya tidak selalu yang tampak dari luar, bagi Kenzo, William cukup ramah. Ia memang telah berpura-pura mengalah agar Alexander mendapatkan kemenangan dua kali dalam bermain catur meskipun tidak sepenuhnya Kenzo berpura-pura lemah karena bagaimanapun juga permainan catur Alexander tidaklah buruk. Tetapi, tetap saja calon mertuanya itu bukanlah lawan yang seimbang baginya. William tersenyum simpul. "Kau mengalah dua kali dari ayahku, kau hanya ingin mengetahui kemampuan permainan catur ayahku,
Alexa membenamkan kepalanya di kursinya tanpa memedulikan Kenzo yang terus menatapnya dengan tatapan menggodanya, untuk apa mereka repot-repot bercinta di mobil kalau akhirnya Kenzo mengikutinya pergi ke London menggunakan jet pribadi milik keluarga Yamada. Meski sebenarnya ia sangat gembira karena
"Kau membohongiku!" Alexa bersungut-sungut ketika mereka tiba di sebuah rumah bergaya bangunan Jepang asli. Rumah itu terletak di pinggir jalan yang bisa di lalui kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat, letaknya tak jauh dari perkebunan teh yang telah mereka lewati sejauh lima kilo met
"Aku seperti orang bodoh, ya?" Alexa menerima tisu dari tangan Kenzo untuk mengelak air mata yang berderai di pipinya."Aku tidak mengatakannya," ujar Kenzo."Jelas sekali, di sini akulah gadis yang paling bodoh di dunia," ucap Alexa tersengal-sengal. Ia sedang merasa menjadi gadis yang paling bod
“Kau yakin bisa mengalahkan Daddy bermain catur?” Alexa menatap Kenzo dengan tatapan khawatir. Ia sengaja datang pagi-pagi ke kediaman kakek Kenzo untuk menemui kekasihnya setelah mendengar bahwa ayahnya memberikan syarat yang tidak masuk akal kepada Kenzo. Mengalahkannya bermain catur selama tuju






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore