Home / Young Adult / From Bully to Love Me / 66. Menginterogasi Gavriel

Share

66. Menginterogasi Gavriel

last update publish date: 2026-04-15 08:00:23

Pukul sebelas malam ini Gavriel baru saja sampai di rumah setelah mengantarkan Alena pulang terlebih dahulu. Untung saja ia tidak terkena macet di sepanjang tol dan Alena mau bergantian menyetir. Perjalanan pulang kali ini pun Alena lebih banyak menyetir daripada dirinya. Sepertinya Alena benar-benar menepati perkataannya untuk menggantikannya menyetir.

Andai saja Gavriel bisa, ia ingin seg

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • From Bully to Love Me   175. Bersyukur dan Ikhlas

    Sebulan sejak acara pernikahannya dengan Gadis, akhirnya Gavriel bisa merasakan berumah tangga seutuhnya karena Gadis sudah mengikuti dirinya untuk pindah ke Jakarta. Meksipun rumahnya tak sebesar rumah keluarganya, namun Gavriel bersyukur karena Gadis sama sekali tidak pernah protes atas semua keadaan ini. Ia masih tetap bekerja di bank seperti biasanya, Gadis pun juga masih bekerja di perusahaan keluarganya yang sejak seminggu ini sudah membuka kantor cabang baru di Jakarta. Semua ini dilakukan bukan hanya karena Gadis tinggal mengikuti dirinya namun lebih daripada itu karena memang sudah cukup banyak kerjasama yang dilakukan dengan rekan bisnis yang bertempat tinggal di Jakarta. Untuk lebih menghemat biaya perjalanan dinas serta waktu, maka dengan membuka kantor cabang di kota ini segera dilakukan sebagai solusinya. Sejak menikah pun Gavriel dan Gadis sepakat untuk tidak mengg

  • From Bully to Love Me   174. Kejutan dari penghuni lapak dosa

    Untuk pertama kali di hidup Gavriel ia merasa gugup, cemas, was-was bercampur sedikit tegang. Keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya. Di hadapannya sudah duduk seorang penghulu dan Sudibyo Bimantara. Rasanya cukup sekali ia berada di situasi ini. Kehadiran Gadis yang duduk di sampingnya nyatanya tak efektif membuatnya merasa tenang sama sekali. Meskipun sudah menghafalkan semuanya sejak semalam dan ada catatan di atas mejanya agar ia tidak salah saat mengucapkan ijab qobul namun tetap saja tidak membuatnya merasa lebih tenang. "Bisa kita mulai sekarang?" tanya penghulu itu dengan pelan namun Gavriel hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya. Setelah itu tidak lama setelahnya Gavriel menjabat tangan Sudibyo. Ternyata bukan hanya dirinya yang sedikit tegang dan takut menghadapi situasi ini. Sudibyo bahkan ju

  • From Bully to Love Me   173. Makan Malam Bersama

    Satu Tahun Kemudian...Setelah pengajuan cuti nikah ditambah dengan cuti tahunan diambil, maka praktis Gavriel memiliki jatah seminggu untuk libur kali ini. Tentu saja mau tidak mau acara pernikahannya dengan Gadis harus dilakukan di Solo. Jatah 30 undangan yang tahun lalu ia minta pada akhirnya tetap saja kurang karena para tetangganya yang pernah bertemu dengan keluarga Gadis (salah satunya ibu RT) meminta untuk hadir dalam acara pernikahannya. Meskipun ingin menolak namun Gavriel tak kuasa yang akhirnya membuatnya menyewa sebuah bus pariwisata berkapasitas 60 orang. Untung saja keluarga Gadis tidak mempermasalahkan jika para tetangga dan beberapa rekan kerjanya datang menggunakan bus saat acara. Niat hati ingin berhemat pun tak bisa dilakukan karena pada akhirnya ia harus memesan sebuah hotel sebanyak 20 kamar untuk para tamu yang datang menggunakan bus.

  • From Bully to Love Me   172. Mencoba Bicara Pada Orangtua

    Gavriel menatap sekeliling ballroom hotel bintang lima di Jogja ini yang kini sudah disulap seperti berada di negri dongeng. Seketika Gavriel sadar jika pernikahan Joe dan Angi ini kemungkinan besar menghabiskan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Dirinya yang kini tengah duduk di samping Gadis dan menikmati jalannya acara ini semakin takjub karena doorprize yang diberikan untuk para tamu undangan benar-benar membuat kedua matanya membelalak. Di mulai dari sekedar smart tv, logam mulia, paket liburan ke Bali selama tiga hari dua malam hingga motor 155 cc.Wow, demi apapun juga jika melihat hadiah yang seperti ini, Gavriel berharap ia akan menerima salah satunya. Toh, lumayan juga balik modal isi amplop sumbangan. Sayangnya ia harus gigit jari karena tidak satupun dari salah satu nomer tamu undangan yang beruntung itu adalah nomernya. Kala sal

  • From Bully to Love Me   171. Enggak mau acara ribet

    Gavriel menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 21:30 WIB dan ia sudah sampai di stasiun Tugu Yogyakarta bersama Gadis yang duduk di sampingnya. Sebenarnya Gavriel masih ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi berdua bersama Gadis di kamar hotelnya namun Gadis yang sudah bermain dua ronde bersamanya sepertinya tidak akan memaafkannya jika ia sampai ketinggalan kereta malam ini. "Gav, kamu masuk ke peron dulu. Tinggal lima belas menit lagi keretanya sampai.""Nanti aja kalo kurang lima menit. Masih mau temani kamu duduk di sini.""Kita ini masih bakalan ketemu lima hari lagi di nikahan Angi.""Aku belum cari tiket, Dis. Kayanya aku naik pesawat aja turun Solo.""Turun Jogja. Aku sama keluarga aku sudah di Jogja sejak hari Rabu. Nanti aku carikan tiket buat kamu, buat masalah tempat tinggal nanti kamu tidur di kostan Mas Banyu. Masi

  • From Bully to Love Me   170. Kita Bikin Panas Malam ini

    "Apanya yang mau di-packing ini, Gav? barang-barang kamu sudah di dalam koper semua tinggal diangkut aja," ucap Gadis saat sudah selesai mengelilingi isi kamar hotel ini. Sudah Gadis tidak ada barang pribadi Gavriel yang tertinggal di sini. Bukannya menjawab perkataan Gadis, Gavriel langsung memeluk pacarnya itu dari arah belakang. Mendapatkan perlakuan seperti ini secara dadakan, Gadis cukup terkejut hingga ia menegang di tempatnya berdiri saat ini. Baru juga Gadis akan memprotes perilaku Gavriel kepadanya ini, namun bisikan kata-kata rindu yang dipadukan dengan kecupan-kecupan kecil di sekitar leher hingga tengkuknya membuat Gadis melupakan semuanya. Yang terjadi pada dirinya saat ini adalah ia yang sudah mulai lupa dengan akal sehatnya dan terbawa suasana. Kelakuan Gavriel berhasil membuat Gadis merinding. Apala

  • From Bully to Love Me   78.Pendapat Mama

    Gadis mencari-cari sang Mama ketika bus sore ini sudah sampai di lokasi tujuan pertama piknik ini. Beberapa kali Gadis menelepon Mamanya hingga akhirnya diangkat oleh sang Mama."Mama di mana?"

  • From Bully to Love Me   77. Calon Suami Potensial

    "Pa....Papa."Suara teriakan Aryanti dari dalam rumah membuat Sudibyo mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kursi penumpang mobil. Ia memilih menunggu istrinya itu hingga sampai menghampiri

  • From Bully to Love Me   76. Benarkan kalo aku anak Bunda sama Ayah?

    "Ti, pak Gavriel kok belum sampai-sampai, ya? Tinggal dia aja ini yang belum datang.""Jemput pacarnya dulu mungkin," Kata Suyati sambil menaruh barang-barangnya di atas tempat duduk yang ada d

  • From Bully to Love Me   75. Coba Kamu Pikirkan Lagi

    Gavriel tidak tahu bagaimana bisa Gadis justru mengatakan hal seserius itu dikala mereka sedang berdiri dan dalam keadaan gelap. Hanya cahaya rembulan yang masuk melalui jendela yang menjadi sumber cahaya. Gavriel tak pernah menyangka jika Gad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status