LOGIN“Tante cantik sekali dengan gaun yang Tante kenakan itu.” puji ku, yang membuat Clara merasa senang.“Ah, kamu bisa aja Ryan. Jangan terlalu memujiku begitu, nanti aku bisa pingsan sambil berdiri.” ucap Clara diiringi senyumnya.“Memang bisa ya Tante, pingsan sambil berdiri?”“Bisa aja asal ada yang menopangnya dari belakang, hingga nggak terjatuh.” ucap Clara kali ini diiringi tawa renyahnya yang melukiskan kebahagiaan menikmati malam itu bersama ku.“Hemmm... Tante ini memang jago ya menyusun kata-kata.” ujar ku.“Aku juga jago di ranjang, Ryan.” kali ini Clara berucap lirih sambil berbisik ke telinga ku disertai senyum yang mengoda.“Ah, masa sih Tante?”“Eh, nggak percaya. Nanti deh aku buktikan ke kamu, dan aku pasti menaklukanmu.” ujar Clara.“Hemmm... Oke nanti kita buktikan!” ucap ku diiringi senyuman, seperti menjawab tantangan Clara.“Ngapain juga nanti, sekarang aja yuk!” lagi-lagi Clara berbisik dan menggoda ku.Aku pun tak kuasa lagi menahan gejolak akan godaan-godaan yan
Kehidupan Clara yang bergelimang harta dan kemewahan berasal dari perusahaan besar yang ia miliki, semua itu tentunya tidak didapati dengan mudah melainkan berkat kerja kerasnya selama ini, cara hidupnya yang terkesan bebas dan cenderung dipandang tak baik oleh kebanyakan orang, bukan pula tanpa alasan dan semua itu ada penyebabnya.Awal menikah dengan mantan suaminya dulu, kehidupan Clara penuh dengan kebahagiaan, baik dari segi materi maupun dalam hubungan rumah tangganya, namun setelah melahirkan Clara mulai diperlakukan tidak baik oleh suaminya, sang suami mulai sering tidak pulang ke rumah selama berhari-hari dengan alasan mengurus proyek perusahaan di luar kota.Pada mulanya Clara percaya pada suaminya itu, menurutnya tidak ada salahnya jika sang suami memperluas cabang perusahaannya di luar kota, toh semua itu demi dia dan buah hati juga, namun lama-kelamaan timbul rasa curiga dan kecurigaannya itu pun terbukti jika suaminya bukan hanya memperluas cabang perusahaannya di luar k
“Tante tenang aja, aku udah faham dan pasti bisa antisipasi semuanya. Terlebih lagi dengan melibatkan perasaan, rasanya perasaanku untuk wanita benar-benar telah lenyap. Seperti yang Tante bilang semua ini nggak lain hanya untuk happy-happy aja,” ujar ku diiringi senyum.“Baguslah kalau begitu, aku nggak mau lagi kejadian dengan mantan Gurumu itu terulang lagi. Udah cukup kamu dibuatnya terjerumus dalam pergaulan bebas yang belum waktunya kamu ketahui, apalagi menjadi bagian di dalamnya.” tutur Eva.“Tante nggak perlu mengingatkan aku pada Tante Dola lagi, semuanya udah aku buang jauh-jauh dari pikiranku...” belum selesai aku berucap tiba-tiba ponsel ku kembali berbunyi.“Tante Clara! Sebentar ya Tante, aku angkat dulu!” ucap ku, Eva tersenyum dan mengangguk.“Hallo Tante.” sapa ku mengangkat panggilan di ponsel.“Gimana Ryan, apa kamu bersedia aku ajak jalan hari ini?” tanya Clara.“Oke Tante. Aku udah diijinin oleh Tante Eva, dan sekarang ini dia lagi ada di sini di kos-kosan.” jawa
“Jadi sekali pun kamu nggak pernah pacaran?” Intan hanya tersenyum anggukan kepala menjawab pertanyaan Salsa itu.“Pantasan kamu nggak begitu respon saat cowok-cowok menghampirimu di kantin tadi, rupanya itu yang menjadi alasanmu untuk nggak menerima tawaran mereka.” ujar Salsa.“Bukan nggak mau merespon dan menerima tawaran dari mereka, hanya aku kuatir maksud dari tawaran mereka itu untuk apa. Karena aku lihat cara mereka menawarkan tadi di kantin, sepertinya ada maksud-maksud tertentu yang dapat mengikat kita jika terima tawaran mereka itu.” tutur Intan.“Iya juga sih, mereka begitu karena ingin mendekatimu dan ujung-ujungnya bakal ngajak kamu jalan.” ucap Salsa.“Nah, itu kamu tahu. Kalau kita terima tawaran mereka di kantin tadi, pasti selanjutnya mereka akan bertujuan ke sana. Kita pasti bakal nggak enak menolak ajakan mereka, karena kita sejak awal telah mau menerima tawaran seperti halnya tadi akan mentraktir kita makan di kantin itu.” tutur Intan lebih memperjelas maksud dari
Namun sejak dulu hingga sekarang ini, Intan bukanlah gadis yang mudah untuk ditaklukkan, dia sama sekali tak terpengaruh dengan rekan-rekannya yang hampir keseluruhannya memiliki pasangan di kampus, bahkan ada yang sudah sering berganti-ganti pasangan. Baginya tujuan ke ibu kota dan ke kampus itu semata-mata hanya untuk menuntut ilmu, agar yang ia cita-citakan menjadi seorang dokter terwujud nantinya.Para rekan mahasiswi banyak yang iri akan kecantikan dan semua yang ada di diri Intan, namun itu bukanlah hal yang membanggakan baginya, ia tetap bergaul seperti biasanya tanpa membedakan teman yang satu dengan yang lainnya. Saat jeda mata kuliah, ia dan beberapa rekan mahasiswi duduk disebuah kantin yang berada di kawasan kampus universitas ternama itu.Melihat kehadiran Intan para cowok-cowok yang lebih dulu tiba di kantin itu seperti berebutan menghampiri sembari menawarkan segala sesuatu yang tersedia di kantin itu, namun Intan pintar untuk menghadapi semua itu dengan tidak menerima
Sebenarnya aku tak sampai hati pula melakukan semua itu, namun aku harus mengambil langkah itu demi kebahagiaan Dola bersama Bram, aku pun berfikir di samping Bram memang benar-benar mencintai Dola dan ingin membahagiakan mantan Guru ku itu, aku pun merasa tak mungkin membiarkan Dola menunggu ku hingga selesai kuliah, karena terlalu lama dan tak pasti pula kapan aku menyelesaikan kuliah ku yang baru aku jalani.Satu semester telah aku lalui di kampus, semua biaya yang memang telah naik 3 kali lipat dari biasanya, membuat aku tak mau bergantung terus pada Eva. Aku berfikir meskipun gaji yang aku terima dari Eva itu bisa menutupi biaya kuliah ku per semester ke depan, namun Eva terlalu besar memberi ku gaji tak sesuai dengan yang aku lakukan.Ditambah lagi dengan gampangnya Eva membelikan barang-barang mahal, seperti halnya ponsel nokia 6600 yang saat itu trend dengan layar yang lebar, berwarna dan juga telah dilengkapi kamera, waktu itu Eva membelikan ponsel itu seharga Rp. 2.900.000,-
“Kan udah aku bilang alasannya, dan kamu pun udah mengetahui banyak tentang kehidupanku. Aku belum punya uang lebih untuk jalan ke luar, karena seperti yang udah aku katakan pada mu kalau orang tuaku hanya bisa mengirimku uang untuk hal-hal yang wajib saja, seperti sewa kos dan SPP serta ongkos ang
“Nah, mereka itu pasangan kekasih dan begitulah cara mereka berpacaran. Setiap malam minggu selalu mengajak pacarnya untuk jalan ke luar,” tutur Bu Dola, aku hanya tersenyum malu karena aku sempat menjawab sudah punya pacar saat Bu Dola bertanya di ruang kelas, ternyata aku sendiri memang tak menge
“Kenapa bisa begitu, Bu?”“Maksud kamu apa, Ryan?”“Maksudku, kenapa aku yang Ibu pilih untuk melakukan semua itu?” jawab ku balik bertanya.“Entahlah, aku juga nggak habis pikir. Yang pasti setiap kali melihatmu, hasrat itu muncul bahkan melebihi saat aku bertemu dengan suamiku,” jawab Bu Dola juj
Kejadian itu berlangsung di ruangan dapur, saat Somat si penarik becak membawa barang-barang belanjaan Bi Lastri masuk, karena waktu itu Bu Dola tidak berada di rumah, tentu saja mereka leluasa untuk ngobrol hingga terjadi perselingkuhan.Meskipun mereka lakukan itu dalam situasi yang was-was dan