เข้าสู่ระบบ“Untuk kamu ketahui aja, Intan. Aku bukanlah pria yang pantas menjadi pendamping hidupmu, Kamu gadis baik dengan profesi yang cemerlang, sementara aku telah jauh melangkah dan terperosot dalam pergaulan bebas di kota. Aku bukanlah pria baik-baik yang cocok untuk kamu jadikan imam dalam bekerluarga,” tutur ku menjelaskan perihal diri ku.“Seperti yang aku katakan tadi, Kak. Siapapun pria pilihan kedua orang tuaku, itu merupakan pria yang terbaik menurutku.” ucap Intan diiringi senyumannya.“Iya, tapi kamu nggak tahu kan apa yang telah aku alami selama tinggal di Kota P?” ujar ku.“Ya, aku memang nggak tahu Kak karena kita baru bertemu kembali setelah beberapa tahun yang lalu di rumah ini.” ujar Intan.“Aku nggak mau nantinya kamu kecewa, karena aku kembali ke desa dan menerima perjodohan ini demi menebus kesalahan yang telah aku lakukan pada kedua orang tuaku. Aku kuatir nanti nggak bisa membahagiakanmu,” tutur ku.“Hemmm... Aku juga seperti itu, Kak. Karena aku nggak ingin mengecewaka
“Lantas bagaimana tanggapanmu dengan rencana kami ingin menjodohkan kamu dengannya itu?” tanya Ayah.“Aku sih nurut aja, jika memang hal itu yang terbaik dan dapat membahagiakan Ayah dan Ibu.” ucap ku.“Loh, ini semua bukan untuk kebahagiaan kami. Justru buat dirimu sendiri, apa kamu ada wanita pilihan lain di kota sana?” tanya Ayah.“Nggak ada Ayah.” jawab ku singkat.“Kalau nggak ada kenapa kamu sepertinya ragu dengan rencana yang Ayah buat dengan Syamsul?”“Aku nggak ragu kok, Ayah. Justru aku berkata demikian karena ingin membahagiakan serta nggak mau membuat Ayah dan Ibu kecewa lagi.” ujar ku.“Ya, tapi tentunya kamu juga nggak merasa tertekan akan perjodohan itu. Karena bagaimana pun juga kalian lah yang akan menjalani kehidupan berumah tangga itu nantinya.” tutur Ayah.“Bagaimana dengan Intan sendiri? Apakah dia nggak keberatan, Ayah?” Aku balik bertanya.“Kemarin sore kami mengunjungi mereka, dan kami juga ketemu Intan di sana. Sesuai yang dikatakan Syamsul jika putrinya itu t
Sama halnya kebiasaan buruk yang aku alami saat ini, sejak hubungan terlarang ku bersama Dola di gudang bekas perpustakaan sekolah dulu, membuat ku ketagihan bercinta dengan para wanita terutama sebaya dengan Dola. Aku bahkan tak perduli harga diri ku tak berharga lagi, saat wanita yang aku kecani memberikan sejumlah uang berkat kepuasan yang diperolah dari hubungan terlarang ku itu.Aku saat itu masih dalam perjalanan ke desa mengendarai sepeda motor, mungkin akan tiba di desa saat hari sudah gelap, karena aku berangkat dari Kota P selepas tengah hari kala aku bermenung diri sejenak di pinggiran pantai. Akankah aku mampu merubah kebiasaan ku itu saat berada di desa nanti? Dan apakah aku bersedia dijodohkan Ayah dengan Intan, putri semata wayang Pak Syamsul dan Bu Karmila?*****Hampir jam 9 malam aku tiba di halaman rumah kedua orang tua ku di desa itu, Ayah dan Ibu yang memang belum tidur mendengar suara sepeda motor itu berhenti di depan rumah, dengan segera Ibu membukakan pintu me
“Selamat Tinggal Kota P, kota yang selama ini telah memberi dan mengajariku berbagai hal dalam kehidupan. Aku nggak tahu apakah suatu saat aku dapat mengunjungi kota ini lagi! Kenangan-kenangan indah banyak tercipta di kota ini, begitu pula hal pahit dan manis yang ku jalani.” ucap ku dalam hati.Sepeda motor kembali aku nyalakan, lalu aku pun melanjutkan perjalanan menuju desa, tentu saja aku merasa berat meninggalkan kota yang selama ini telah banyak mengajari pengalaman hidup, kota yang selama ini membuat aku mengerti perbedaan antara hitam dan putih di segala sisi kehidupan. Namun apa hendak dikata, rasa hormat dan patuh pada kedua orang tua ku selama ini, membuat ku memilih dan mengambil keputusan untuk kembali ke desa tempat kelahiran ku.*****Sore itu Ayah dan Ibu berkunjung ke rumah Pak Syamsul, setelah kemarin sore mereka batalkan karena hujan lebat menguyur desa itu. Kedatangan mereka tentu disambut gembira oleh Pak Syamsul dan Bu Karmila, sementara Intan putri mereka belum
“Tante nggak usah sedih! Suatu saat jika aku mengunjungi kota ini kembali, aku pasti akan menemui Tante. Sampaikan salam dan permintaan maafku pada seluruh teman-teman yang ada di cafe! Moga usaha Tante selalu lancar,” ucap ku yang sekarang menyapu air mata yang membasahi pipi Eva dengan jemari ku.“Kamu janji ya, Ryan! Jika suatu saat kamu akan mengunjungi kota ini, jangan lupa untuk memberi kabar! Biar aku yang akan jemput kamu di terminal, jika kamu datang ke sini nggak dengan kendaraan pribadi,” tutur Eva, aku tersenyum sembari anggukan kepala.Malam pun menjelang, Eva pun harus kembali pulang menemui anak-anaknya. Sebelum pergi aku sempat mengatakan akan mengantar kunci kediaman ku itu besok pagi ke rumah Eva sembari aku menuju rumah Om Ramlan, Eva pun menyetujuinya dan akan menunggu ku besok pagi di rumahnya.Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan mengikat barang bawaan ku di atas sepeda motor, setelah berpamitan para seluruh penghuni kos-kosan dan mengunci pintu rumah tempat ked
“Wah, tentu saja Ayahmu marah dan memintamu untuk segera kembali ke desa. Karena memang apa yang kamu lakukan itu nggak seharusnya kamu lakukan, aku sempat berfikir cara mencegah kebiasaan yang kamu lakukan itu namun sulit, Ryan. Karena aku tahu persis akibat hubungan terlarangmu bersama Dola dulu itu, membuatmu ketagihan dan sulit sekali dirubah serta dicegah.” ujar Eva.“Iya Tante, benar-benar sulit rasanya aku melepaskan diri dari kebiasaan itu.” aku menarik napas berat sambil bersandar ke dinding ruangan.“Mungkin dengan kembalinya kamu ke desa, bisa mencegah kebiasaan yang sering kamu lakukan itu. Karena di sana ada kedua orang tuamu yang tentunya amat kamu hormati dan sayangi membimbingmu setiap saat, serta pergaulan di desa takan berdampak besar pengaruhnya dibandingkan dengan kamu bergaul di kota ini.” ujar Eva. “Ya Tante.” ucap ku singkat.“Jadi kapan rencananya kamu akan pulang ke desa?”“Rencananya besok siang, Tante. Paginya aku mampir dulu ke rumah Om Ramlan, se
“Hemmm... Aku nggak pernah ingin berkata yang nggak sejalan dengan hatiku, Tante. Apa yang aku lihat dan nilai, akan aku katakan apa adanya.” Dola menatap lekat ke wajah ku seolah-olah mencari kebenaran atas semua yang aku ucapkan, Dola kemudian tersenyum dan merasa yakin kalau aku benar-benar berk
Apa yang selama ini tidak membuatnya terlalu curiga pada Deni, saat mendengar Riko sahabat mereka bercerita melalui sambungan telepon kabel, kalau Deni suaminya itu tengah terlibat jalinan cinta terlarang dengan seorang wanita karyawan di perusahaan tempatnya bekerja. Dola seakan tidak percaya deng
Malam itu di rumah Bu Dola kedatangan seorang pria yang telah hampir sebulan tidak mengunjungi Guru cantik itu, pria yang bernama Deni itu merupakan suaminya yang baru kembali dari luar kota. Harusnya ada kehangatan tersendiri saat mereka berkumpul kembali, namun hal yang terlihat justru sebaliknya
“Lele goreng Ibu benar-benar lezat! Sudah lama aku nggak pernah menikmati makanan selezat yang Ibu masak ini,” puji ku, membuat Ibu tersanjung.“Memangnya di kota nggak pernah kamu temui ikan lele yang dimasak seperti yang Ibumu masak, Ryan?” tanya Ayah.“Ada sih lele goreng, tapi lele nya bukan le







