LOGINReyhan sudah lama menjadi bodyguard keluarga konglomerat. Namun, menjaga Mona, nyonya muda yang kesepian dalam pernikahan dingin bersama Jordan, membuatnya nyaris melupakan batas. Malam itu, Reyhan menemukan Mona mabuk di kamar hotel. Ia harus segera membawanya pulang sebelum Jordan datang, tetapi Mona justru duduk di pangkuannya dan memintanya tinggal. “Kamu tahu rasanya punya suami, tapi tetap kesepian?” bisik Mona. Reyhan tahu satu sentuhan bisa menghancurkan segalanya. Namun, Mona terlalu rapuh untuk ditinggalkan dan terlalu menggoda untuk diabaikan. Sejak malam itu, tugas Reyhan berubah menjadi rahasia paling berbahaya.
View More"Menjadi bodyguard Nyonya dengan gaji tiga digit."
Suara Jordan bergema di dalam ruang kerjanya. Reyhan baru saja masuk ke ruangan tersebut, tapi Jordan langsung mengatakan itu membuat Reyhan bingung. "Tuan, apa maksudnya?" Wajah Reyhan sangat bingung, ia meminta penjelasan. "Bukankah kau membutuhkan uang untuk biaya adikmu di rumah sakit?" Tatapan Jordan dan Reyhan saling beradu. Ada rasa kesal yang ditahan Reyhan karena Jordan menyangkut-pautkan pekerjaan dengan kehidupan pribadinya. Reyhan memang membutuhkan banyak uang untuk pengobatan adiknya, Dea. Namun, jika Jordan seperti ini, sama saja Jordan mengancam Reyhan. "Sebelum proyek di mulai, istri saya harus mendapatkan bodyguard seperti kamu!" Suara Jordan tegas, tidak bisa ditolak. Reyhan mengatur napasnya dalam-dalam, ia sempat mengepalkan tangannya, tapi ia lepaskan kepalan itu. "Kenapa harus saya, Tuan?" Sekilas Jordan menoleh ke arah Reyhan. "Tuan tahu, saya sudah bekerja menjadi bodyguard Tuan selama tujuh tahun, tapi kenapa saya harus menjadi bodyguard Nyonya?" Reyhan tetap tidak menerimanya. Reyhan tidak akan terima jika dirinya harus dipindah tugaskan. Reyhan yang biasanya menjadi bodyguard Jordan, kini Reyhan harus menjadi bodyguard Mona? Maksudnya Reyhan harus menemani Mona pergi ke salon? Pergi ke mall? Pergi ke kafe? Itu sama sekali bukan pekerjaan Reyhan. Sudah 7 tahun Reyhan mengabdi kepada keluarga konglomerat itu, keluarga Henderson. Namun, sekarang Reyhan seperti tidak ada harga dirinya sama sekali. Reyhan kecewa, tapi... "Jika tidak mau, saya bisa pecat kamu!" Jordan bangun dari duduknya. Keputusannya sudah bulat, tidak bisa diubah dengan apapun. Wajah Reyhan yang tadinya kecewa kini berubah menjadi kegelisahan. Reyhan tidak bisa kehilangan pekerjaannya untuk saat ini, ia harus menyembuhkan adiknya. Reyhan tidak ingin kehilangan keluarganya lagi. Saat ini Reyhan hanya memiliki Dea. Reyhan dan Dea adalah anak yatim-piatu. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Reyhan tidak ingin kehilangan adiknya. "Dani, tolong siapkan berkas dan...," ucap Jordan terhenti. Dani sudah siap menerima perintah Bosnya, Dani adalah asisten Jordan. "Baiklah." Reyhan menghela napasnya dengan kasar. "Saya menerima tugas baru dan pekerjaan baru dari Tuan." Akhirnya Reyhan menurut. Bukan menurut, tapi Reyhan masih membutuhkan uang demi sang adik. Sekilas Jordan tersenyum tipis. "Bagus, pilihan yang tepat." "Ini bukan pilihan, tapi takdir," gumam Reyhan. Takdir yang tidak akan pernah bisa Reyhan ubah. "Dani, siapkan berkas yang harus Reyhan tandatangani!" Jordan memerintah. "Baik, Bos." Dani mengangguk. Dani segera melangkah pergi dari ruangan, dan Jordan kembali duduk. "Tuan, mulai kapan saya harus...," ucap Reyhan terhenti. "Mulai saat ini!" "Baik." Reyhan mengangguk, paham. Reyhan tidak banyak bicara, tapi masih merasakan kecewa pada Tuannya. Banyak pertanyaan yang ingin Reyhan tanyakan pada Jordan tentang sang Nyonya, Mona. Mulai dari. 'Kenapa Nyonya tidak dicarikan bodyguard perempuan? Kenapa harus Reyhan? Kenapa...,' Sudahlah, semuanya sudah tidak berguna lagi. Reyhan sudah menerima tugas baru dari Jordan. Setidaknya Reyhan sudah tidak perlu memikirkan biaya pengobatan Dea untuk saat ini, karena Reyhan akan mendapatkan gaji tiga digit mulai bulan depan. "Saya akan mengirim gaji kamu hari ini," ucap Jordan. Reyhan membelalakkan matanya, ia terkejut mendengar ucapan Jordan. Apakah Jordan mendengar isi hati Reyhan? Ah, itu tidak mungkin. Jordan bukan dukun, pikirnya. "Terima kasih." Hanya itu yang Reyhan ucapkan, dan Jordan hanya mengangguk pelan. Tidak lama kemudian, Dani masuk ke dalam ruangan dengan map coklat ditangannya. Dani memberikan map tersebut pada Reyhan, dan Reyhan segera membukanya. Perlahan-lahan Reyhan membaca setiap tulisan dalam lembar kertas yang ada di dalam map tersebut. Reyhan mulai menandatangani itu. Sudah tidak ada pilihan lain selain menandatangani, dan menerima takdirnya untuk menjadi bodyguard sang Nyonya. Setelah menandatangani kontrak baru, perjanjian baru, dan pekerjaan baru. Reyhan segera keluar dari ruangan Jordan. Reyhan melangkahkan kakinya dengan sangat malas. Namun, Reyhan harus segera keluar dari ruangan tersebut. Tatapan mata Reyhan cukup kosong. Reyhan terus melangkah menelusuri lorong di gedung itu, gedung yang sudah menjadi saksi perjuangan Reyhan menjadi seorang bodyguard. Helaan napas Reyhan sangat berat. Pikirannya mulai teringat tentang sang Nyonya yang hampir saja menggodanya saat itu. Saat itu Reyhan baru saja diterima menjadi bodyguard Jordan, tapi Mona sangat terang-terangan menggodanya. "Bagaimana caranya mengatasi kesepian jika pasangan sibuk bekerja?" bisiknya dengan tangan nakal yang menyentuh dada bidang.Matahari sore melukis langit dengan warna keemasan yang lembut, persis seperti bertahun-tahun lalu saat perjalanan ini bermula. Namun kali ini, tidak ada pelukan yang disembunyikan, tidak ada bisik-bisik yang penuh ketakutan, dan tidak ada pintu yang tertutup rapat. Semuanya terbuka, terang, dan damai. Reyhan duduk di beranda rumah itu, menatap ke arah halaman yang kini terlihat lebih hidup dari sebelumnya. Di sana, Cindy yang kini tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan berani sedang mengajari adik laki-lakinya berlari di antara bunga-bunga yang ditanam Mona sendiri. Tawa mereka terdengar jernih, memantul di udara yang bersih dan bebas dari segala beban masa lalu. Mona keluar membawa teh hangat, duduk di samping Reyhan seperti yang selalu dilakukan setiap sore. Wajahnya berseri, tidak lagi pucat atau penuh kekhawatiran. Garis halus di sudut matanya bukanlah tanda penuaan, melainkan jejak senyum yang tak pernah berhenti
Beberapa tahun berlalu. Matahari pagi menyinari halaman rumah kecil itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Reyhan berdiri di beranda, memandang pemandangan di depannya dengan hati yang penuh syukur. Di halaman, Cindy yang kini sudah lebih besar berlari mengejar kupu-kupu di antara bunga-bunga yang tumbuh subur. Tawanya terdengar jernih dan riang, bebas dari segala beban yang dulu sempat menghantui masa kecilnya. Di sampingnya, berjalan seorang anak laki-laki yang tegap dan ceria, putra mereka, yang kini sudah bisa berlari dan berbicara dengan lantang. Wajahnya memancarkan ketegasan dan kelembutan sekaligus, persis seperti kedua orang tuanya. Mona keluar dari pintu rumah, membawa nampan berisi minuman dan buah-buahan segar. Wanita itu tampak lebih cantik dari sebelumnya, bukan karena perhiasan atau gaun mewah, melainkan karena pancaran kedamaian dan kebahagiaan yang tulus bersinar dari wajahnya. Tidak ad
Mobil melaju meninggalkan kota, menjauh dari gedung-gedung tinggi dan kemewahan yang dulu menjadi dunia Mona. Reyhan menyetir dengan tenang, namun di dalam dadanya terasa penuh harapan sekaligus tanggung jawab yang besar. Di kursi belakang, Mona duduk di tengah, memeluk bayi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya digenggam erat oleh Cindy. Tak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Namun keheningan itu bukan lagi penuh ketakutan seperti dulu. Keheningan ini penuh kedamaian dan kepastian. Mereka bergerak bukan untuk lari dari bahaya, melainkan menuju kehidupan yang benar-benar milik mereka sendiri. Tujuan akhir perjalanan adalah sebuah rumah kecil namun nyaman, terletak di pinggiran kota yang tenang. Dikelilingi pepohonan hijau dan udara yang bersih. Tidak ada pagar tinggi yang memisahkan dari tetangga, tidak ada pengawal yang berpatroli, dan tidak ada tatapan curiga atau penuh keben
Surat itu tergeletak di atas meja kayu ruang tengah. Amplop putih rapi dengan segel resmi keluarga besar. Isinya jelas dan tegas, Mona harus memilih, meninggalkan Reyhan dan tetap memegang seluruh hak waris serta kedudukan, atau memilih Reyhan dan kehilangan segalanya. Reyhan berdiri di dekat jendela, menatap ke luar tanpa bergerak. Ia mendengar suara langkah kaki Mona mendekat, lalu keheningan yang panjang. Wanita itu pasti sudah membaca semuanya. Pilihan itu begitu kejam, memaksa Mona memilih antara cinta dan kesejahteraan masa depan kedua anaknya. "Reyhan..." panggil Mona pelan. Suaranya tidak terdengar menangis, namun penuh beban yang berat. "Mereka memaksa saya memilih, antara kamu dan segalanya." Reyhan berbalik perlahan. Ia melihat Mona berdiri di dekat meja, tangan wanita itu memegang kertas itu erat-erat. Wajahnya tidak bingung, namun terlihat sedih karena harus dihadapkan pada pilihan yang seharusnya tid
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.