Home / Romansa / GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA / Hinaan para tetangga

Share

Hinaan para tetangga

last update Last Updated: 2022-11-29 10:37:47

"Dek, kita enggak usah bersedih di usir Ibu. Gimana kalau kita ke rumahku aja? Daripada kita tinggal di pondok belakang ini, sungguh tak layak di sebut pondok. Apalagi tempat bernaung untuk kita tinggali," tawar Mas Wawan kepadaku. Aku masih mengusap air mataku yang terjatuh karena kata-kata Ibu.

Mataku berbinar-binar mendengar kalau Mas Wawan akan mengajakku ke rumahnya. Tetapi memang benar apa yang di katakan Mas Wawan, pondok di belakang yang di sebut Ibu lebih mirip kandang kambing ketimbang rumah.

"Emang enggak papa di rumah Mas?" tanyaku dengan suara tangis yang terisak. 

"Siapa yang bilang enggak boleh? Yuk kita bereskan dulu pakaian kita," kata Mas Wawan dengan sabar membujukku.

"I, iya Mas. Tapi aku kan belum pernah ke rumah kamu sama sekali. Aku malu Mas." 

Di kampungku terbilang tak elok jika seorang gadis berkunjung ke rumah seorang laki-laki jika belum menikah.

"Nah makanya karena kita sudah sah. Ayo kita ke rumahku."

Aku pun mengangguk. Dengan cekatan Mas Wawan memasukkan pakaian kami ke dalam tas yang tadi di lempar oleh Mbak Arumi. 

"Pakai kerudungmu dulu, Sayang," kata Mas Wawan sambil menyerahkan kerudung model bergo berwarna hitam kepadaku. Untungnya aku memakai daster lengan panjang yang panjangnya sampai mata kaki.

"Oh iya hampir lupa Mas," balasku mengambil kerudung yang berada di tangan Mas Wawan. 

Mas Wawan tersenyum melihat tingkahku. Aku memakai kaos kaki hitam. Dasterku juga berwarna hitam polos dengan aksen renda coklat di bagian lengan dan dada. Penampilanku seperti orang yang sedang berduka cita. Memang benar aku sedang berduka cita karena di usir oleh Ibuku dari rumah. 

"Kita naik apa Mas ke rumahmu? Bukannya kamu tau, kalau aku tak punya sepeda motor lagi karena sudah di jual oleh Ibuku," tukasku dengan nada sedih. 

"Kok bisa di jual?" tanya Mas Wawan dengan mengernyitkan kening. 

"Katanya karena aku cuma bekerja di rumah jualan online jadinya daripada sepeda motorku nganggur, mending di jual aja. Itung-Itung sebagai biaya ganti rugi karena menyekolahkanku dulu."

Pekerjaanku adalah jualan online. Hobiku adalah membuat kerajinan makrame. Makrame adalah suatu seni yang menyatukan simpul yang terdiri atas beberapa tali atau benang untuk membuat sebuah karya tangan.

Aku suka membuat tas dan dompet dari tali kur. Kemudian memasarkannya secara online melalui aplikasi sosial media yang kumiliki. Peminat tas dan dompet buatanku mulai dari teman-temanku sendiri sampai ke luar pulau. Biasanya mereka memesan terlebih dahulu model tas atau dompet yang mereka inginkan. 

Mas Wawan geleng-geleng kepala mendengar ceritaku. Mungkin ia tak habis pikir atau bahkan tak percaya dengan apa yang kukatakan. 

"Kok ada ya Ibu macam itu. Aku aja tadi kaget, kok bisa sih Ibumu bersikap begitu kepada kita," sahut Mas Wawan dengan nada yang bertanya-tanya. 

Tentu saja aku malu dengan kalimat yang Mas Wawan ucapkan. Baru beberapa jam sah menjadi suamiku, tapi sudah mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari Ibuku sendiri.

"Maafkan Ibuku ya Mas. Mungkin kamu kaget dengan sikap beliau yang seperti itu. Tapi aku sudah terbiasa dengan sikap beliau," jawabku dengan perasaan yang tak enak. 

"Iya, enggak usah di pikirkan. Oh ya, tapi kita jalan kaki aja ke rumahku. Kamu mau aja kan?" 

"Iya enggak papa Mas."

Aku berjalan bersama Mas Wawan dengan bergandengan tangan. Sepanjang jalan kami bertukar cerita tentang masa kecil kami yang indah. Para warga kampung melihat kami dengan tatapan sinis. Aku menyadari arti tatapan mereka karena bagi mereka aku hanya menikah dengan pria miskin.

"Mau kemana Ar? Kok baru jadi manten sudah bawa tas aja?" celetuk Bu Sinta, salah satu Ibu-ibu tukang gosip. 

"Halah paling di usir sama Ibunya karena menikah dengan pria miskin! Kok bisa ya sarjana tapi menikah dengan pria miskin. Percuma sekolah tinggi. Mending enggak usah sekolah aja sama sekali," balas Bu Indah yang di sambut gelak tawa oleh Ibu-ibu yang lain. 

Mas Wawan hanya membalas dengan  senyuman ejekan Ibu-ibu itu. Jelas aku tak terima dengan ejekan mereka. 

"Mas balas dong Ibu-ibu itu! Jangan diem aja kayak gini," kataku sewot dan tak terima suamiku di hina.

Mas Wawan menenteng tas yang berisi pakaian kami sedari tadi. Ia mengambil ponsel dari saku celananya. Sepertinya ia sedang mengecek notifikasi dari ponsel miliknya yang bergambar apel di gigit. Tentu saja aku terkejut melihatnya.

 

'Wow itu kan ponsel mahal! Aku aja enggak sanggup untuk membelinya. Kok bisa sih Mas Wawan mempunyai ponsel itu," kataku dalam hati. 

"Kita tunggu sebentar di sini dulu ya," ujar Mas Wawan yang membuatku jengah. 

"Lho kok nunggu di sini sih Mas? Apa enggak lihat tuh Ibu-Ibu pada berbisik melihat ke arah kita?" protesku kesal.

"Sabar ya. Sebentar lagi datang kok, enggak sampai lima menit," jawab Mas Wawan sambil menarik hidungku gemas. 

"Ih apaan sih Mas," balasku menepis tangan Mas Wawan. "Apanya yang datang?" tanyaku heran. 

Mas Wawan hanya tersenyum menanggapi pernyataanku. Tak sampai lima menit. Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan kami. 

"Ayo masuk," ajak Mas Wawan meraih tanganku. 

Aku terbengong. Tak percaya dengan apa yang kulihat di hadapanku. Kenapa sampai Mas Wawan menyuruhku naik mobil mewah ini. 

"Ayo cepat masuk. Udah di tungguin tuh sama Ayah," kata Mas Wawan lagi. 

"Ayah?" celetukku kebingungan. 

Pria yang menyetir mobil itu menoleh kepadaku dan tersenyum memamerkan deretan giginya yang masih bagus walau pria itu sudah berusia setengah baya. 

"Ayah! Lho kok bisa Ayah menyetir mobil ini?" tanyaku lagi yang mungkin membuat Mas Wawan bosan mendengar pertanyaanku. 

"Ayo buruan masuk," ajak Mas Wawan lagi. Ia memasukkan tas kami di bagasi mobil. Aku dan Mas Wawan duduk di bagian tengah mobil. 

Sementara itu Ibu-ibu kampung melongo melihat kami menaiki mobil mewah. Sayup-sayup kudengar pembicaraan mereka. 

"Apa enggak salah tuh si Arini dan suaminya naik mobil mewah?" celetuk Bu Indah dengan penuh keheranan. 

"Halah, paling si Wawan itu jongos. Terus di jemput majikannya deh dengan mobil mewah," jawab Bu Sinta dan di iyakan oleh Ibu-ibu yang lain.

Hmmm, benar juga ya yang di katakan Ibu-ibu itu kalau Mas Wawan adalah Asisten Rumah Tangga dan Ayahnya adalah supir pribadi si majikan. 

* * 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Perjuangan Terus Berlanjut

    Arini bab 22Beberapa bulan telah berlalu sejak Arumi resmi menjadi staf administrasi di kantor tempat Irgi bekerja. Dirinya yang dulu hanya membersihkan kaca, menyapu, dan mengepel lantai setiap pagi. Kini duduk di balik meja-- mengoperasikan komputer, mengurus laporan, dan melayani klien dengan senyum ramah.Arumi tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah seperti ini. Dulu, ia hanya seorang cleaning service yang dianggap sebelah mata oleh banyak pegawai. Tetapi karena sikapnya yang sopan, rajin, dan tidak pernah mengeluh. Pihak manajemen kantor perlahan mempercayainya.Penampilan Arumi berubah. Wanita mengenakan seragam kantor resmi, blouse krem dan rok panjang hitam. Meski wanita itu belum tergerak hatinya untuk mengenakan hijab. ID card tergantung di lehernya. Setiap pagi, ia datang bersama suaminya-- Irgi, yang masih bekerja sebagai OB di gedung yang sama.“Bu Arumi, ini dokumen keuangan untuk bulan lalu sudah saya taruh di meja ya,” ujar seorang rekan kerja dengan ramah.Aru

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Tindakan Tegas Arini

    Beberapa minggu kemudian...Bu Risna mulai berubah. Sejak kejadian di hotel itu, ia sempat bungkam. Tetapi Serly tak tinggal diam. Ia datang ke rumah Bu Risna membawa beberapa lembar foto hasil jebakannya.“Tante, ini buktinya. Lihat aja sendiri. Mas Wawan dan aku di kamar hotel,” ucap Serly dengan nada licik.Bu Risna menatap foto-foto itu, keningnya mengerut. Wanita paruh baya itu terheran-heran dengan aksi Serly. “Tante yakin Arini pantas jadi istri Mas Wawan? Dia itu bukan siapa-siapa. Cuma anak angkat. Dia numpang nama keluarga Tante aja selama ini,” tambah Serly.Kata-kata itu menggoyahkan hati Bu Risna. Diam-diam, ia mulai ragu lagi. Wanita paruh baya merasa Wawan memang pantas mendapatkan pasangan dari keluarga 'baik-baik' seperti Serly."Sementara itu, di sudut kota yang lain, Arumi sedang menyapu lorong kost tempat ia tinggal. Peluh menetes di dahinya, tapi ia tetap tersenyum. Di tengah perjuangannya, sebuah kabar mengejutkan datang.HRD perusahaan tempat mereka bekerja me

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Wawan Dijebak

    Beberapa bulan kemudian...Toko pertanian milik Arini makin ramai. Ia kini tak hanya menjual pupuk dan alat pertanian, tapi juga menjadi tempat konsultasi petani kecil di sekitar kota. Bahkan, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi menunjuk toko tersebut sebagai salah satu UMKM binaan unggulan.Karena kegigihannya, Arini diundang sebagai pembicara dalam seminar perempuan wirausaha tingkat provinsi. Undangan itu membuatnya gugup sekaligus bangga. Siapa sangka, perempuan yang dulu dianggap hanya 'anak angkat', kini berdiri sejajar dengan para pengusaha tangguh?Di sisi lain, Wawan pun tak kalah bersinar. Setelah bekerja sebagai penyuluh pertanian honorer, ia akhirnya lolos tes PPPK di Dinas Pertanian. Nilainya nyaris sempurna, tak heran, Wawan memang lulusan cumlaude jurusan pertanian. Dedikasi dan kerja kerasnya yang luar biasa kini membuahkan hasil yang begitu manis.Di hari seminar itu, Arini tampil anggun mengenakan gamis berwarna pastel dan hijab segiempat bermotif polkadot. Wanita ayu it

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Peluang untuk Arini

    Keesokan harinya...Pagi itu cuaca cerah. Matahari belum terlalu terik, angin berembus lembut menyapu halaman toko alat pertanian milik Arini. Di sudut halaman, seorang wanita paruh baya mengenakan kerudung ala Yenny Wahid dan daster batik lengan panjang. Wanita tua itu sedang menyapu dengan cekatan.Dialah Bi Sumi, yang kini tinggal bersama Arini dan Wawan. Meski sudah tidak bekerja pada Bu Risna, rasa tanggung jawab dan cintanya terhadap keluarga membuatnya tetap rajin membantu Termasuk merawat halaman toko tempat Arini merintis usahanya.Namun saat menyapu ke bagian depan, Bi Sumi tiba-tiba berhenti. Matanya membelalak, wanita tua itu terkejut melihat dua sosok yang begitu ia kenal. Tepat di seberang gang kecil ada dua orang yang duduk bersandar di tembok Mereka adalah Irgi, anak kandungnya, dan Arumi, menantunya. Mereka tampak kusut dan letih. Suara lirih keluhan pun terdengar dari bibir Arumi."Aku lapar banget, Mas. Kita cuma minum air dari galon warung tadi. Gimana ini? Kamu j

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Hijrah ke Kota

    Arini hanya bisa mematung, tubuhnya masih gemetar. Pecahan kaca berserakan di lantai ruang tengah, suara tangisannya menggema, namun ia berusaha menahannya agar tidak makin menambah kepanikan.Wawan kembali masuk ke dalam rumah setelah gagal mengejar pelaku. Napasnya memburu, pria itu berusaha menenangkan istrinya."Maaf, Dek. Mas nggak berhasil tangkap orangnya. Tapi Mas sudah lihat motornya, nanti kita lapor polisi," katanya sambil meraih tangan Arini dan membawanya menjauh dari pecahan kaca.Arini hanya mengangguk. Di dalam hatinya, ia tahu siapa yang kemungkinan besar berada di balik ini semua.Dan benar saja…Keesokan paginya, ketika Arini dan Wawan membersihkan pecahan kaca dan memperbaiki jendela, terdengar suara motor berhenti di depan rumah kontrakan mereka. Wawan menyipitkan mata, ia merasa mengenali suara itu.“Arumi,” bisik Arini pelan, ketika melihat Arumi turun dari motor bersama Irgi.Arumi melipat tangannya di dada, berdiri dengan kepala terangkat tinggi. “Wah, rumah or

  • GARA-GARA MAHAR LIMA JUTA    Kebenaran Mulai Terungkap

    Setelah semua masalah ini, aku merasa... seperti baru saja menikah denganmu lagi, Mas," ucap Arini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Wawan.Wawan tersenyum lembut. "Dan aku seperti baru menemukan makna sejati jadi suami."Mereka tertawa kecil. Tetapi keduanya tahu, ini bukan akhir dari segalanya, hanya awal dari kehidupan pernikahan mereka yang lebih dewasa.****Beberapa minggu setelah pindah ke kontrakan kecil di ujung desa, kehidupan Arini dan Wawan terasa lebih tenang. Walau rumahnya sederhana hanya terdiri dari dua kamar, namun mereka bahagia karena bisa saling mendukung dan hidup tanpa tekanan dari orangtua. Terutama kedua orangtua dari Wawan. Namun ketenangan itu nyatanya hanya bertahan sebentar. Suatu pagi, saat Arini sedang menggantung jemuran, ia mendengar suara gaduh di luar pagar kontrakan. Betapa kagetnya dia ketika melihat Arumi dan Irgi berdiri di sana sambil membawa koper!"Apa-apaan ini? Kalian ngapain di sini?" tanya Arini terkejut."Eh, bukan rumah ini punya ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status