LOGINTaksi biru yang ditumpangi Melody melaju kencang, meninggalkan hiruk-pikuk pusat kota Jakarta menuju ke arah utara. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, laju kendaraan itu akhirnya melambat dan berhenti di kawasan pesisir pantai Ancol yang luas. Angin laut berembus kencang, membawa aroma asin air laut yang langsung menyergap indra penciuman begitu Melody keluar dari dalam taksi.Ia membayar ongkos perjalanan tanpa banyak bicara, lalu melangkah gontai menuju area pasir putih di pinggir pantai. Tempat ini terasa begitu familier di ingatannya. Suasana lengang di bawah terik matahari pagi mengingatkannya pada hari kelam di masa lalu, ketika ia pertama kali menyaksikan pengkhianatan Arthur dengan mata kepalanya sendiri. Sejarah seakan berulang, menempatkannya kembali di tepi laut yang sama, membawa luka lama dan luka baru yang bercampur aduk menjadi satu.Melody berjalan sendirian menyusuri garis pantai, membiarkan buih-buih ombak kecil membasahi ujung sepatunya. Pikirannya kos
Pertanyaan dingin itu menciptakan keheningan yang berbeda dengan kebisingan lalu lintas pagi kota Jakarta di sekitar mereka.Casey terpaku di tempatnya. Kalimat yang meluncur dari bibir Melody, dipadukan dengan sorot mata yang kosong dan asing, menghantam dada pria itu bagaikan hantaman palu baja. Seluruh persiapan mental, latihan intonasi suara, hingga sisa-sisa kesabaran yang ia kumpulkan selama penerbangan belasan jam dari Canada seketika runtuh tak tersisa.Pria yang selama ini ditakuti di dunia bisnis dan dikenal sebagai penguasa mutlak Diamond Group itu mendadak kehilangan suaranya. Tenggorokannya terasa tercekat, seolah ada duri tajam yang menghalangi udara masuk ke paru-parunya."Melody..." panggil Casey tertahan, rahangnya mengeras hebat sementara jemarinya mengepal di sisi tubuhnya. "Jangan main-main, Sayang. Ini tidak lucu.""Aku tidak sedang bermain-main, Tuan," balas Melody dengan nada suara yang teramat tenang, menusuk tepat di jantung pertahanan Casey. "Dan berhenti mem
Ancaman nyata di layar ponsel itu sukses membuat darah Melody berdesir dingin. Pria bermata pekat itu tidak pernah menggertak, jika batas waktu tiga puluh menit dilewati, Casey benar-benar akan melangkah masuk ke apartemen Helena, menguak status pernikahan rahasia mereka, dan menghancurkan seluruh privasi yang setengah mati dijaga Melody.Kepasrahan seketika berubah menjadi gelombang amarah yang menguasai dadanya."Sialan..." maki Melody lirih, giginya bergemeretuk menahan geram.Helena, yang masih duduk di sampingnya sambil meresapi ucapan Melody tentang keluarga Whitney, mengernyit kebingungan melihat perubahan drastis pada gestur tubuh sahabatnya."Ada apa lagi, Mel? Kok muka kamu makin tegang begitu?" tanya Helena heran, matanya melirik sekilas ke arah ponsel Melody yang tergelatak di atas kasur. "Dari tadi ponselmu bergetar terus. Beneran bukan apa-apa?"Melody buru-buru menyambar ponselnya, mengalihkan pandangan agar Helena tidak menangkap kepanikan yang terpatri jelas di matany
Tangan Melody membeku di atas layar ponsel. Nama Casey tertera begitu jelas di balik pesan singkat yang terasa dingin dan memerintah itu. Rasa mual dan sesak mendadak membuncah di ulu hatinya. Pria itu baru saja menempuh belasan jam penerbangan dari Canada, tetapi bukannya memberikan penjelasan atau ucapan yang lebih lembut, ia justru langsung menunjukkan dominasinya seolah Melody hanyalah kepemilikan yang bisa diatur sesuka hati.Dengan perasaan campur aduk antara marah, kecewa, dan muak, Melody mengetik balasan dengan santai tanpa beban."Maaf ini siapa ya? Nomor anda tidak terdaftar. Anda salah sambung."Di pelataran parkir bawah gedung apartemen yang megah dan eksklusif, sebuah sedan hitam berukuran besar terparkir persis di dekat akses lift utama. Di dalam kabin penumpang belakang, Casey Whitney duduk bersandar dengan wajah yang memancarkan rasa lelah luar biasa setelah menembus batas zona waktu. Kemeja putih yang dikenakannya tampak sedikit kusut di bagian lengan, mencerminkan k
Matahari pagi baru saja menyingsing di atas cakrawala Jakarta, membiaskan sinar keemasan yang menembus jendela kamar apartemen Helena. Suasana di dalam kamar bernuansa krem itu masih begitu tenang dan hangat, sangat kontras dengan badai yang siap meledak di luar sana.Melody dan Helena masih berbaring berdua di atas tempat tidur empuk, menatap langit-langit kamar sambil memeluk bantal masing-masing. Melody meletakkan satu tangannya di atas perutnya yang masih datar, merenungi nasibnya sendiri yang terasa kian rumit. Rasa sesak dan bingung yang menghimpit dada membuat Melody ingin menumpahkan segalanya, tetapi rasa malu dan rasa takut membongkar rahasia pernikahannya menahan lidahnya rapat-rapat."Len..." panggil Melody lirih, memecah keheningan di antara mereka."Hmm?" sahut Helena tanpa menoleh, matanya masih setengah terpejam."Aku kan punya temen, dia tuh lagi pusing banget. Kebayangkan aku lagi pusing begini, terus punya temen cerita tentang masalahnya sama aku..." gumam Melody pe
Suasana meja makan yang semi-terbuka itu mendadak dipenuhi oleh dinamika yang begitu kontras. Di satu sisi, pancaran mata Harvey menyiratkan ketulusan dan kekaguman yang begitu besar pada Melody, seolah pria itu ingin menggantikan seluruh rasa sakit dan kekecewaan yang sedang disembunyikan oleh wanita di hadapannya. Di sisi lain, ketegangan canggung antara Helena dan Adrian justru menciptakan bumbu tersendiri yang mengundang senyum tipis di bibir Melody."Sudahlah, Vey. Jangan protes begitu," bela Melody sambil menyesap lemon tea miliknya guna meredakan tenggorokan yang mendadak kering. "Kamu sendiri kan yang tiba-tiba muncul tanpa diundang, bikin kaget orang aja."Harvey terkekeh pelan, dagunya bertumpu pada sebelah tangan yang menopang di atas meja. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Melody. "Mana bisa aku tenang, Mel? Semalaman aku kepikiran berita simpang siur soal keluargamu di Jakarta. Ditambah lagi waktu ditelepon suaramu terdengar aneh. Aku langsung ambil penerbangan pal







