MasukMaaf baru update lagi. Ehm…gak terasa udah lama perjalanan kita bersama Melody dan Casey Dan akan menuju ending. Terimakasih yang sudah mebaca dari awal sampai akhir Maaf kalau masih banyak kurang Untuk mengikuti ceritaku bisa lihat di profilku yak kaka bestie
Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang ditekan serapat mungkin di balik tembok kokoh kediaman utama Whitney. Casey dan Melody menghabiskan waktu dengan saling mempererat ikatan mereka, seolah bersiap menghadapi badai besar yang dijadwalkan tiba pada akhir pekan nanti. Namun, ketenangan itu mendadak diuji pada suatu siang menjelang sore. Suara derum mobil mewah yang berhenti tepat di depan teras utama memecah keheningan rumah. Mbok Salmah yang sedang membereskan meja makan tampak tergesa-gesa melapor kepada Melody yang sedang duduk santai menikmati teh hangat bersama suaminya di ruang keluarga. "Nyonya... ada tamu penting di depan. Nona Catherine dari Kanada," lapor Mbok Salmah dengan nada cemas. Casey langsung menegakkan duduknya. Wajah pria itu mengeras dalam sekejap, rahangnya terkatup rapat, dan sorot matanya memancarkan kemarahan dingin. Tanpa menunggu aba-aba, Casey hendak bangkit untuk menemui dan mengusir wanita itu pergi. Namun, sebuah tangan lembut menahan lengannya
Ancaman itu menggantung di udara, menciptakan jarak di antara mereka berdua. Melody berdiri dengan napas memburu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Rasa cemburu, kecewa, dan lelah bercampur aduk menjadi satu, menghantam pertahanan mentalnya yang sedang sensitif karena kehamilannya.Casey terpejam sejenak, mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dilema besar menghimpit dadanya. Di satu sisi, ia tidak sanggup melihat air mata sang istri atau membayangkan rumah tangga yang baru saja mereka bangun harus retak karena bayang-bayang masa lalu. Namun di sisi lain, mengabaikan Catherine secara total detik ini bisa memicu kecurigaan keluarga Sinclair dan bisa memecahkan konsentrasi dalam pengungkapan kasus sabotase kecelakaan kedua orang tuanya. Jika hubungan itu mendadak runtuh, seluruh bukti kejahatan Paman Richard yang sudah dikumpulkannya selama bertahun-tahun terancam menguap begitu saja."Sayang..." panggil Casey lirih, suaranya terdengar se
Pagi itu di kediaman yang ditinggali Casey dan Melody tampak suasana semakin hangat dengan interaksi sepasang suami-istri yang telah saling menerima itu."Jangan bergerak, atau aku akan menciummu sampai kehabisan napas..." bisik Casey serak, tepat di lekuk leher istrinya.Suara berat itu terdengar begitu dekat dan penuh gairah, membuat pertahanan Melody langsung runtuh seketika pagi itu. Berdiri di area minibar dapur rumah mereka, tubuh Melody sepenuhnya terperangkap dalam pelukan posesif suaminya. Casey mengurungnya dengan kedua tangan kokoh yang menumpu di meja, sementara napas hangat pria itu menggelitik kulit lehernya.Melody mendengus kecil, meski debaran jantungnya berkhianat memukul cepat di dalam dada. Ia mencoba mendorong pelan dada bidang suaminya yang memakai kemeja putih dengan kancing atas terbuka. "Casey, ini masih pagi... Kalau pelayan rumah lewat gimana?" protesnya setengah hati, sementara pipinya sudah merah padam menahan malu dan gejolak rasa yang dipicu sentuhan
“Mulai sekarang, ceritakan semuanya padaku. Kita hadapi sama-sama," ucap Melody tulus, matanya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Kau juga tahu bukan keluarga besar Whitney tidak benar-benar menerimaku dengan baik. Apalagi ibu Gwen sudah menghasut sedemikian rupa. Bahkan papaku sekalipun seperti sosok yang berbeda untukku. Jadi, ayolah. Berhenti menanggung semuanya sendiri, Casey..."Melody menyelesaikan kalimatnya sambil membelai wajah Casey dengan hangat, mengusap sisa ketegangan di rahang kokoh pria itu.Sentuhan lembut itu bekerja bagai penawar racun bagi jiwa Casey yang bertahun-tahun membeku. Perlahan, napas pria itu mulai teratur. Casey menegakkan tubuhnya, menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata dengan perasaan campur aduk, antara rasa bersalah, takjub, dan cinta yang begitu besar."Baiklah," bisik Casey akhirnya, menyerah pada ketulusan yang ditawarkan oleh wanita di hadapannya. "Aku akan menceritakan semuanya. Tapi tidak di sini, dan tidak sekarang. Tubuhm
Tatapan tajam Casey menembus pertahanan Melody, seolah pria itu ingin melihat seberapa jauh informasi gelap yang telah meresap ke dalam benak istrinya. Tidak ada sisa kehangatan dari candaan mereka sebelumnya yang tersisa di udara hanyalah ketegangan mencekam yang siap meledak kapan saja.Dominic yang berdiri tepat di belakang sang tuan besar menunduk dalam-dalam, gestur tubuhnya menyiratkan rasa bersalah yang teramat besar karena telah membiarkan rahasia inti perusahaan dan keluarga bocor ke telinga yang salah."Keluar, Dominic," perintah Casey datar tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah sang istri."Baik, Tuan," sahut Dominic cepat sebelum melangkah pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan pintu perpustakaan tertutup rapat kembali demi privasi nyaman di antara pasangan suami istri itu.Begitu deru langkah Dominic memudar, keheningan di dalam perpustakaan terasa semakin menyesakkan. Melody meremas ujung gaunnya erat-erat, jemarinya dingin dan gemetar. Ia membuka bibir
“Kalau kamu diam berarti boleh dong?” rengek Casey dengan senyum usil yang tersungging di bibir tegasnya.Melody spontan mendengus geli campur sebal. Ia mendorong pelan dada suaminya yang kian mendekat. “Modus saja kerjamu! Sana, katanya tadi ada urusan penting dengan jajaran direksi. Jangan buang-buang waktu di sini.”Casey terkekeh rendah. Sebelum benar-benar beranjak berdiri dari sofa ruang keluarga, ia menyempatkan diri mendaratkan satu kecupan singkat di Pipi Melody yang merona merah. “Iya, Sayang. Aku pergi sebentar ke ruang kerja. Jangan ke mana-mana, tunggu aku selesai.”“Aku mau kemana juga, udah jelas di rumah ini mana mungkin bisa kemana-mana.”Setelah bayangan Casey menghilang di balik pintu ruang kerjanya yang kokoh, Melody menghela napas panjang. Suasana rumah utama kembali tenang. Namun, sisa-sisa percakapan di makam tadi pagi dan rasa penasaran luar biasa mengenai bisikan Casey tentang “mengusut semuanya” mendesak-desak pikirannya.Rasa penasaran itu mengalahkan rasa







