Masuk“Perselisihan itu biasa, Melody. Yang penting jangan pernah pergi meninggalkan rumah apapun permasalahannya selesaikan berdua. Setan-setan banyak berkeliaran yang ingin membuat kita berpisah."Melody menunduk. "Iya, Kek.""Maaf, Sayang. Aku belum sempat menjelaskan semuanya. Semua terjadi begitu cepat di tengah kesibukanku. Maaf telah membuatmu kesal..." bisik Casey nyaris tak terdengar."Melody, kau terlalu polos untuk dunia yang kejam, jadi percayakan semuanya pada Casey."Kakek Whitney masih menggenggam erat jemari Melody, menyalurkan kehangatan seorang sesepuh yang telah makan asam garam kehidupan. Tawa renyahnya perlahan mereda, berganti dengan tatapan teduh yang menyapu wajah kedua cucunya secara bergantian."Melihat kalian duduk berdua seperti ini membuat Kakek teringat masa lalu," ucap Kakek Whitney dengan nada bernostalgia. Pria tua itu bersandar pada sandaran sofa, memandangi langit-langit ruang keluarga yang megah. "Dulu, saat ibu kamu masih ada, Melody... dia selalu bila
“Terimakasih, Kek. Aku sempat kawatir kakek akan murka jika aku mengabarkan pernikahan kami yang dadakan.” Ucap Casey menunduk.“Oh! Tentu tidak. Asalkan itu kau yang menjadi suami Melody, kakekk tidak akan marah bahkan sekarang merasa lega dan bebanku terasa berkurang. Aku sudah rela kalau harus mati sekarang…” Refleks Melody menggenggam lengan kakek. “Kakek, jangan bicara begitu. Kami ingin kakek berumur lebih panjang lagi.”“Beban kakek selama ini terasa berat, karena memang belum melihat dengan pasti pria yang benar-benar pantas untukmu. Tapi beruntungnya Casey lah orangnya. Sungguh, Kakek merasa sudah menepati janji kakek pada mendiang ibumu. Kakek merasa sangat lega sekarang…”“Casey juga lega akhirnya bertemu di saat yang tepat dengan Melody, Kek.” Tegas Casey sambil menggenggam dan mencium tangan istrinya, Melody sempat menahan tapi mata Casey tampak memberi kode, akhirnya Melody pasrah dan menikmati permainan suaminya yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.“Oh, ya, ngom
Suasana tegang yang mengendap di kediaman Whitney mendadak pecah tatkala sebuah iring-iringan mobil sedan klasik berwarna hitam melaju pelan memasuki pekarangan rumah. Dominic yang sedang berdiri di depan pintu utama langsung menegakkan tubuhnya, matanya membelalak kaget saat mengenali pelat nomor kendaraan tersebut."Tuan Casey!" panggil Dominic tergesa-gesa melalui intercom ke ruang kerja. "Kakek... Kakek Whitney tiba-tiba datang ke sini!"Casey yang sedang mengulas berkas langsung tersentak berdiri. Wajah tampannya menegang. Kedatangan sang kakek, kepala keluarga tertinggi Whitney, tanpa pemberitahuan sama sekali adalah hal yang sangat tak biasa. Pria tua itu biasanya menetap di kediaman peristirahatan di Bogor dan jarang mencampuri urusan rumah tangga cucu-cucunya kecuali untuk hal yang amat krusial.Belum sempat Casey melangkah turun ke lantai satu, pintu kamar utama lebih dulu terbuka. Melody keluar dengan balutan gaun hamil yang longgar, raut wajahnya tampak bingung melihat k
Tepat pukul tiga sore, sedan hitam mewah yang membawa Casey tiba di pelataran kediaman utama Whitney. Pria itu keluar dari mobil dengan langkah tergesa-gesa. Jas mewahnya sudah ia lepaskan, menyisakan kemeja putih dengan gulungan hingga ke siku dan kancing atas yang terbuka. Rasa lelah akibat jadwal rapat maraton di beberapa anak perusahaan sejak pagi menguap begitu saja, berganti dengan perasaan cemas yang membuncah."Bagaimana keadaan Melody?" tanya Casey cepat kepada Dominic yang berjalan sejajar dengannya di lorong utama."Mbok Salmah melaporkan bahwa Nyonya sudah makan siang dan meminum vitaminnya dengan teratur, Tuan. Sepanjang hari Nyonya hanya beristirahat di dalam kamar," jawab Dominic sopan.Casey menghembuskan napas lega. Ia menghentikan langkahnya sebentar di depan pintu kamar utama, mengusap wajahnya yang letih. Ada keinginan kuat untuk menerobos masuk dan merengkuh tubuh istrinya, namun ia menahan diri. Pria itu tidak ingin memicu emosi Melody yang masih rentan."Siapkan
Keheningan malam merayap masuk perlahan menyelimuti kamar utama. Casey mendorong pintu kayu tebal itu sangat pelan, memastikan tidak ada gesekan suara yang bisa mengusik lelapnya sang istri. Langkah kakinya yang beralas kaus kaki mengendap-endap mendekati sisi ranjang.Di bawah cahaya redup lampu tidur, wajah Melody tampak begitu damai walau jejak kelelahan masih terpancar di sana. Casey mendudukkan tubuhnya perlahan di tepi kasur. Dengan napas tertahan, tangan besarnya terulur mengusap lembut helai rambut Melody yang terurai, lalu mendaratkan kecupan hangat yang lama di keningnya.Jemari Casey bergerak turun, mengusap lembut perut datar istrinya yang terbalut selimut sutra. Senyum tawar terukir di bibirnya yang sedikit pucat."Maafin Papa belum bisa belai kamu," bisik Casey sangat lirih di dekat perut Melody. "Mamamu sedang murka. Papa takut kalau Papa tidak mengalah, bisa-bisa mamamu bahayain kamu..."Pria itu menahan kepedihan yang menekan dadanya, membiarkan jemarinya berlama-lama
Keesokan harinya, seberkas sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah gorden kamar utama yang tinggi. Melody terbangun dari tidur lelapnya yang rapuh. Tubuhnya masih terasa lemas, namun kepalanya tidak sesakit kemarin.Saat Melody mencoba menyangga tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang, suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu, disusul suara ramah seorang wanita paruh baya."Nyonya Melody... permisi," panggil suara itu dari balik pintu.Melody menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan yang lengang. Setelah memastikan Casey benar-benar tidak ada di dalam kamar, ia merapikan letak pakaiannya. "Masuklah."Pintu kayu jati itu terbuka perlahan. Dua orang pelayan wanita berseragam rapi melangkah masuk membawa nampan berisi bubur gandum hangat, buah-buahan segar, dan segelas susu khusus kehamilan. Wanita paruh baya di depan tersenyum hangat dan membungkuk hormat."Selamat pagi, Nyonya Muda. Perkenankan saya Mbok Salmah, kepala pelayan baru yang ditugaskan Tuan Casey untuk men







