Se connecterCassie memeluk suaminya. “Aku bahagia hari ini. Ferrari, balsamic vinegar, dan kamu.”Charles mengecup kening istrinya. “Aku juga bahagia. Asalkan akhirnya kita pulang ke hotel dan berduaan denganmu.”“Ha-ha-ha.Cassie tertawa. “Kamu tak pernah bosan, ya?”Charles membisik di telinganya. “Bosanku hanya kalau kamu tidak di sampingku.”Cassie tersipu, menatap suaminya lama. “Aku juga. Tidak ada tempat yang indah tanpa kamu.”Malam pun menuruni kota Modena. Cassie dan Charles berjalan bergandengan, botol balsamic vinegar di tangan Cassie, sementara Charles menatap istrinya dengan penuh cinta. Modena menambah satu bab lagi dalam kisah bulan madu keduanya, sebuah kota yang harum dengan kecepatan Ferrari dan rasa manis asam balsamic, sama persis seperti cinta mereka yang kadang mengila, lembut, namun selalu berkesan.Malam sudah turun sempurna ketika Cassie dan Charles kembali ke hotel. Udara di luar sejuk, beraroma manis balsamic vinegar yang masih melekat di indera mereka. Begitu ti
Cahaya matahari lembut menembus tirai tipis kamar hotel mereka di Parma. Cassie terbangun lebih dulu, masih mengenakan kaus longgar milik Charles. Dia menoleh, mendapati suaminya terlelap, rambut sedikit acak, bibir sedikit terbuka. Cassie pun tersenyum.“Bagaimana mungkin tidak aku jatuh cinta terus denganmu, Darling?” gumamnya pelan sambil mengusap rambut suaminya.Charles bergumam dalam tidur.“Cassie, keju .…”Cassie menahan tawa. “Bahkan dalam tidurmu, kamu masih memikirkan keju.”Charles membuka mata perlahan.“Hmm, keju dan kamu.”Cassie mencubit hidung Charles.“Bangun, sleepyhead. Hari ini kita akan ke Modena!”Charles memeluk Cassie. “Bolehkah kita bolos sehari untuk jalan-jalan? Tidur di hotel saja.”Cassie menepuk dada suaminya pelan. “Tidak boleh. Modena itu rumah mewah Ferrari dan balsamic vinegar asli. Aku nggak akan melewatkan itu!”Charles menghela napas panjang. “Baiklah. Aku pasrah padamu, tour guide-ku.”Mereka pun mandi, berkemas, lalu turun untuk sarapan. Cassi
Mentari pagi di Pisa perlahan muncul dari balik atap-atap bata merah. Udara masih sejuk ketika Cassie membuka mata. Charles masih terlelap di sebelahnya, tangannya melingkari pinggang istrinya. Cassie menatap wajah suaminya lama, lalu tersenyum tipis sambil membelai rambut Charles. “Sayang, bangun. Hari ini kita harus berangkat lagi,” bisik Cassie lembut. Charles hanya menggumam. “Nggak mau. Aku masih mau tidur.” “He-he-he.” Cassie tertawa pelan. “Kalau kamu tidur terus, kita nggak jadi ke Parma.” Charles membuka sebelah mata, mendesah. “Parma? Yang terkenal dengan keju itu?” Cassie mengangguk. “Keju premium tentunya. Aku sudah lama sekali mau ke sana.” Charles memeluk Cassie lebih erat. “Aku lebih suka makan kamu saja.” Cassie memukul dadanya pelan. “Nakal! Ayo bangun.” Setelah mandi dan berkemas, mereka check-out dari hotel. Kereta menuju Parma berangkat pukul sepuluh pagi. Sambil berjalan ke stasiun, Cassie terus memeriksa ponselnya. “Charles, tahu ngg
Mentari pagi menembus tirai hotel di Como, membangunkan Cassie lebih dulu. Dia mengerjapkan mata, lalu menoleh ke sisi ranjang. Charles masih terlelap, napasnya teratur, satu lengan tergeletak di perut istrinya. Cassie tersenyum, membelai rambut suaminya perlahan.“Bangun, sleepyhead,” bisik Cassie.Charles mengerang pelan, menutup wajah dengan bantal. “Masih gelap.”“Hi-hi-hi.”Cassie terkikik. “Sudah terang. Hari ini kita harus berangkat pagi.”Charles mengintip Cassie dari balik bantal. “Hari ini kita ke mana, Darling?”Cassie meraih ponsel, menunjukkannya ke wajah Charles. “Pisa.”Charles mengangkat sebelah alis. “Menara miring, huh?”Cassie menepuk dadanya. “Itu lebih dari sekadar menara miring. Itu ikon dunia.”Charles menghela napas. “Baiklah. Pisa, here we come.”Setelah mandi dan sarapan, mereka check-out dari hotel dan naik kereta menuju Pisa. Sepanjang perjalanan, Cassie terus bersandar di bahu Charles sambil membaca informasi tentang kota itu.“Charles, kamu tahu ngg
Udara pagi Bologna masih dingin ketika Cassie terbangun. Cahaya mentari menembus tirai tipis, jatuh lembut di pipi Charles yang masih tertidur di sampingnya. Cassie menatap wajah suaminya lama, merasakan rasa syukur yang hangat menjalar di dada. Perlahan ia menyelipkan jarinya di antara rambut Charles, membelainya pelan.Charles mengerang kecil, membuka matanya. “Selamat pagi, Istriku,” gumamnya dengan suara parau khas orang baru bangun.Cassie terkikik. “Selamat pagi, Suamiku. Siap melanjutkan petualangan?”Charles menarik Cassie mendekat, mencium keningnya. “Selalu. Hari ini kita ke mana?”Cassie menepuk dadanya dengan antusias. “Ke utara. Danau Como.”Charles mengangkat alis. “Wow. Dari kota sejarah ke danau penuh selebriti.”Cassie tertawa. “Aku bukan mau ketemu selebriti. Aku mau lihat pemandangan yang katanya luar biasa indah. Katanya airnya berkilau kayak kaca.”Charles mengangguk. “Danau Como it is.”Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di kereta cepat menuju Milan, lalu
Makanan tiba. Cassie menghirup aroma ragu yang harum, dagingnya tampak kaya saus tomat yang dimasak lama. Charles memotong lasagna hijau, terlihat lapisan pasta bayam, ragu, dan saus bechamel.Cassie mencicip tagliatelle. Matanya melebar. “Charles! Ini luar biasa. Ragu-nya lembut, kaya rasa, beda sekali sama yang kita makan di rumah.”Charles mengangguk sambil mengunyah. “Lasagna mereka juga. Rasa dagingnya lebih dalam. Ada sedikit rasa manis, gurih sempurna.”Mereka makan perlahan, menikmati setiap suapan. Di sela-sela obrolan ringan, Cassie berkata, “Aku senang kita datang ke Bologna. Nggak cuma soal makanan. Aku suka rasanya berada di kota yang kelihatannya sederhana, tapi punya lapisan sejarah begitu banyak.”Charles tersenyum lembut. “Aku juga. Kita bisa jadi pasangan yang keliling Italia, kota demi kota. Aku bahagia kamu selalu bersemangat.”Setelah makan, mereka berjalan menuju Archiginnasio, bekas gedung utama Universitas Bologna. Lorong-lorongnya penuh lambang keluarga ban







