Início / Romansa / GODAAN SANG PROFESOR / 3. Pesona Profesor Charles

Compartilhar

3. Pesona Profesor Charles

last update Data de publicação: 2026-07-24 14:04:43

Masih di dalam ruangan Profesor Charles.

Hening menyelimuti ruangan berpanel kayu itu. Ruang kerja Profesor Charles dipenuhi tumpukan buku, jurnal akademik, dan aroma kopi yang belum sempat disentuh. Di kursi tamu, duduk seorang gadis muda dengan wajah penuh coretan lipstik dan rambut berantakan. Tangannya bergetar, matanya merah karena menangis. Dialah, Cassie.

Profesor Charles duduk di kursi di depannya, menatap gadis itu dengan penuh kekhawatiran. Dia menghela napas panjang, lalu mengambil kotak tisu dan duduk di samping Cassie.

"Biarkan saya bantu," katanya dengan suara rendah, penuh empati.

Cassie hanya bisa mengangguk pelan. Dia belum bisa berkata apapun. Air mata kembali jatuh membasahi pipinya yang masih terlihat noda merah lipstik kasar. Profesor Charles dengan hati-hati mengambil tisu basah dan masih membersihkan wajah gadis itu.

"Apa mereka sering melakukan ini padamu?" tanya Profesor Charles sambil menyeka pipi Cassie dengan lembut.

Cassie ragu. Tapi akhirnya dia menjawab lirih,

"Melisa dan yang lainnya benci aku, karena aku miskin dan aku dapat beasiswa di kampus ini."

Profesor Charles menghentikan gerakannya sejenak, menatap wajah Cassie yang kini terlihat lebih bersih. Mata gadis itu menyimpan luka yang dalam. Sebuah luka yang sudah terlalu lama dipendam.

"Mereka tidak punya hak untuk memperlakukanmu seperti itu. Dan Alan sungguh tidak bisa dibiarkan," ucap Profesor Charles dengan rahang mengeras.

Pria itu benar-benar marah, tapi mencoba tetap tenang di hadapan Cassie.

Gadis itu menunduk. "Aku … aku tak bisa melawan mereka, Pfof. Aku hanya ingin lulus. Aku ingin membuktikan, bahwa aku pantas berada di sini."

Kalimat itu membuat dada Charles terasa sesak. Dia memalingkan wajah sebentar, mencoba menyembunyikan emosi yang mulai menggelora. Lalu dia kembali menatap Cassie.

"Kamu memang pantas berada di sini, Cassie. Kamu diterima bukan karena belas kasihan. Tapi karena kerja keras dan kemampuanmu," ucapnya tegas.

Cassie mengangkat kepalanya, menatap Charles dengan mata basah. Untuk pertama kalinya hari itu, ada sinar harapan di matanya. Profesor Charles tersenyum tipis dan berdiri.

"Tunggu di sini sebentar," katanya.

Sang profesor berjalan ke lemari kecil di sudut ruangan, membuka laci, dan mengambil jaket hangat miliknya. Jaket berwarna abu-abu itu kemudian disampirkan di bahu Cassie.

"Kamu butuh sesuatu yang bisa membuatmu merasa aman," katanya.

Cassie menggenggam ujung jaket itu. Hangat. Tidak hanya karena bahannya, tapi karena perhatian tulus yang dia rasakan dari pria di hadapannya.

"Terima kasih, Prof," ucapnya lirih.

Charles duduk kembali. Dia memperhatikan bagaimana tangan Cassie masih sedikit gemetar.

"Aku akan melaporkan kejadian ini pada dekanat. Tapi itu tergantung padamu. Jika kamu merasa siap untuk bersuara, aku akan mendukungmu sepenuhnya."

Cassie menggigit bibir. Dia sangat bingung. Takut. Tapi juga merasa ada seseorang yang benar-benar berdiri di pihaknya.

"Aku akan pikirkan dulu, Prof. Tapi aku berterima kasih karena Anda telah peduli dengan saya," ujarnya pelan.

Profesor Charles mengangguk.

"Kapanpun kamu ingin bicara, ruangan ini selalu terbuka untukmu."

Hening kembali mengisi ruangan. Cassie menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba menarik napas panjang. Dia menatap ke luar jendela, ke langit London yang mendung.

"Aku lelah, Prof. Semalam aku kerja sampai pagi. Lalu di kampus, aku diperlakukan seperti ini. Rasanya aku ingin menyerah saja."

Profesor Charles menatapnya lama, lalu menjawab dengan suara tenang,

"Kamu boleh merasa lelah. Itu manusiawi. Tapi jangan pernah menyerah, Cassie. Dunia ini keras, tapi jangan biarkan itu mematahkanmu. Kamu lebih kuat daripada yang kamu kira. Jadi semangatlah selalu."

Cassie terdiam. Kata-kata itu menghujam langsung ke hatinya. Tidak ada yang pernah mengatakan itu padanya sebelumnya. Tak ada yang pernah memandangnya lebih dari sekadar gadis miskin penerima beasiswa. Tapi hari ini, seseorang melihat dirinya.

"Prof, Anda kenapa begitu baik padaku?" tanya Cassie dengan nada lirih.

Profesor Charles menatap matanya, dan menjawab dengan jujur, "Karena aku tahu rasanya jadi orang yang diremehkan. Aku pun dulu bukan siapa-siapa. Tapi seseorang pernah mempercayaiku, dan itu mengubah segalanya. Sekarang, giliranku untuk melakukan hal yang sama."

Cassie hanya bisa menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Dia ingin menangis lagi, tapi kali ini bukan karena takut. Tapi karena rasa hangat yang baru pertama kali dirinya rasakan selama berada di kampus itu.

"Terima kasih, Profesor." gumamnya, nyaris tak terdengar.

Lalu keduanya pun saling bertatapan dalam diam. Tiba-tiba saja Profesor Charles merasakan dadanya bergemuruh tak karuan saat menatap wajah Cassie. Demikian halnya dengan gadis itu. Dia bisa merasakan kedamaian saat berada di dekat sang profesor.

Sementara Profesor Charles semakin tergoda dengan bibir Cassie yang merah merona, sedikit terbuka dan lembab. Sesuatu dalam dirinya sudah tak dapat dikendalikan lagi olehnya.

Sepertinya Cassie juga mulai terbawa suasana. Dia menjadi ingat lamunannya tadi di dalam kelas. Namun saat ini semuanya telah menjadi kenyataan.

“Cassie! Aku sungguh tak tahan lagi! Kamu sungguh menggodaku!” ujar profesor Charles.

Lalu tanpa basa-basi lagi. Sang profesor mulai meraup bibir Cassie dan menciumnya dengan sangat ganas. Sementara gadis itu hanya bisa pasrah membiarkan Charles mengeksplorasi bibir dan rongga mulutnya.

Apalagi ini kali pertama Cassie berciuman. Dan pria beruntung itu adalah Profesor Charles. Pria matang yang selama ini menjadi idolanya.

Seakan sadar dengan kelakuannya yang kelewat batas. Profesor Charles lalu menghentikan semuanya yang membuat Cassie menjadi kaget. Padahal gadis itu juga menginginkan lebih.

“Prof! Kamu kok berhenti?” seru Cassie kecewa.

Lalu dengan cepat Profesor Charles berkata,

“Maaf, Cassie. Aku sudah terlalu maju. Tolong maafkan aku. Jujur aku memang menginginkanmu saat ini. Tapi sepertinya aku telah melewati batasanku.”

Namun tanpa sadar, Cassie malah naik di atas pangkuan sang profesor.

“Aku juga menginginkanmu, Prof! Kamu memang dosenku. Tapi kita sama-sama telah dewasa! Apakah ada yang salah dengan itu?” ujar Cassie sambil memainkan jari-jarinya di dada Charles.

Melihat ada lampu hijau dari Cassie. Pria dewasa itu mulai membuka paksa baju dan penutup kedua bukit kembar sang gadis dan mulai membenamkan wajahnya di sana.

“Ah! Profesor Charles! Oh!” desah Cassie tak tertahankan.

Bagaimana tidak, sang dosen saat ini sedang menyedot dalam-dalam pucuk pink kecoklatan miliknya secara bergantian. Sedangkan tangan Profesor Charles mulai menyelinap masuk ke dalam area lembah indah miliknya dan melakukan gaya gesekan di sana.

“Prof! Oh! Aku … aku! Sudah tak tahan!

Aku …!”

Charles membungkam bibir Cassie dengan melumat tanpa ampun. Sambil mulai mempercepat gaya gesekan di dalam liang indah milik Cassie.

Hingga di suatu ketika,

“Akh!” Cassie mendapatkan pelepasannya.

Tubuh bagian bawahnya bergetar hebat. Seolah-olah mengisyaratkan betapa dahsyatnya permainan Profesor Charles.

Lalu tiba-tiba, pintu ruangan itu diketuk dari luar.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • GODAAN SANG PROFESOR   9. Ultimatum Oma Evelyn

    Langit London mulai diliputi kabut kelabu saat Oma Evelyn menuruni taksi hitam yang membawanya pulang dari rumah sahabat lamanya. Angin malam menusuk tulang, dan lampu jalan mulai menyala satu per satu. Rumah megah di sudut Jalan Kensington itu berdiri dengan anggun, seolah-olah menyambut kembalinya sang nyonya rumah.Dengan langkah perlahan, Oma Evelyn membuka pintu utama, menggantung mantel bulu tuanya di gantungan, lalu menepuk-nepuk rambut peraknya yang disanggul rapi. Dia mendesah lega, lalu berseru sambil melangkah ke dalam.“Charles? Oma pulang!”Namun tak ada jawaban. Rumah itu hening. Terlalu hening.Wanita itu lalu meletakkan tas kecilnya di meja foyer, hendak menuju dapur untuk membuat teh hangat, namun pandangannya terhenti pada sesuatu yang tampak tidak biasa.Sepasang sepatu wanita, berwarna krem, tergeletak di lantai marmer dekat tangga. Tidak rapi. Seolah dilemparkan tergesa-gesa.Kening Oma Evelyn berkerut. “Apa ini?” bisiknya.Dengan firasat yang tak enak, Oma Evely

  • GODAAN SANG PROFESOR   8. Malam Panas Yang Tak Terduga

    Pada suatu siang.Langit kampus sangat cerah, tapi langkah Cassie terasa berat. Sejak insiden di bar tempat dia bekerja sebagai pelayan, bisik-bisik tak mengenakkan terus mengikutinya ke manapun gadis itu pergi. Suara tawa mencemooh terdengar jelas ketika dirinya melewati lorong menuju ruang kuliah.“Hei, lihat deh Si Cassie. Pelayan malam yang berubah jadi mahasiswi teladan sekarang,” sindir Melisa dengan suara keras, namun cukup untuk didengar semua orang.“Cih! Benar-benar tak tahu malu!” sindir Amy.“Dasar perempuan murahan!” Judith tak mau kalah ikut mengolok-olok Cassie.Cassie menggertakkan gigi. Sang gadis sudah mencoba bersabar. Dia sama sekali tidak melakukan hal memalukan seperti yang dituduhkan. Pekerjaannya di bar hanyalah untuk membayar biaya hidupnya, bukan seperti yang orang-orang katakan.“Pakai baju itu ke kampus? Lagi-lagi lupa ganti kostum, ya?” celetuk Amy, sahabat Melisa, menambahkan ejekan.Cassie menunduk dan bergegas masuk ke ruang kelas, menahan air matanya.

  • GODAAN SANG PROFESOR   7. Perasaan Yang Tertahan

    Dalam hati, Charles menahan sesuatu yang tidak bisa dirinya ungkapkan.“Aku ingin lebih dari itu, Cassie. Tapi belum sekarang.”Sang profesor sudah bertekad. Cassie harus lulus terlebih dahulu. Mimpi-mimpinya harus tercapai. Baru setelah itu, jika waktunya tepat, dia akan mengungkap siapa dirinya sebenarnya. Bukan hanya seorang dosen, tapi pria yang selama ini mendukung dan menjaganya dari jauh.Cassie menguap kecil.“Kamu lelah,” ucap Charles sambil berdiri. “Aku tak akan lama di sini. Istirahatlah.”Cassie menatapnya, masih memegang cup cokelat panas.“Prof, saya boleh jujur?”“Tentu.”“Saya senang Anda datang. Rasanya, seperti kedamaian yang abadi.”Kata-kata itu menghantam hati Charles seperti badai lembut. Dia tersenyum, menyembunyikan gejolak emosinya.“Aku akan selalu ada saat kamu butuh,” ucap Charles. “Jadi ... jangan pernah takut.”Cassie mengangguk. “Terima kasih, Prof Charles. Saya benar-benar beruntung punya dosen seperti Anda.”Charles melangkah mundur, mengangkat tang

  • GODAAN SANG PROFESOR   6. Hasrat Tertahan

    Di sebuah ruang kerja mewah bertingkat di jantung Kota London, Prof. Charles duduk bersandar di kursi kulitnya. Langit malam terlihat melalui jendela besar di belakangnya, lampu-lampu kota berkerlap-kerlip. Dia pun menatap layar ponselnya, membaca pesan terakhir dari Blake.“Nona Cassie selamat. Alan berhasil dihalau. Dia sedang dirawat. Saya akan tetap berjaga di sekeliling rumah sakit secara diam-diam.”Charles mengembuskan napas lega, kemudian meletakkan ponsel itu di meja. Tangannya yang sempat mengepal kini perlahan mengendur.“Untunglah …” gumamnya lirih.Tak lama, suara ketukan pelan terdengar di pintu. Seorang pria gagah dengan jas hitam masuk, Blake, bodyguard pribadi sekaligus orang kepercayaannya.“Tuan, saya datang seperti yang Anda minta,” ujar Blake dengan sopan.Charles berdiri dan menatapnya dalam-dalam.“Kamu sudah melakukan pekerjaan luar biasa, Blake. Jika kamu tidak datang secepat itu, entah apa yang terjadi pada Cassie malam itu.”“Saya hanya menjalankan perintah,

  • GODAAN SANG PROFESOR   5. Rencana Jahat Alan

    Sementara itu, Cassie baru saja tiba di halte bus, menunggu kendaraan menuju apartemennya. Dia tidak tahu bahwa seorang pria bertubuh tegap dalam setelan hitam sedang mengamatinya dari kejauhan. Dialah Blake, orang suruhan Profesor Charles.Melalui alat komunikasi kecil di telinganya, Blake berbicara pelan. “Target terlihat aman. Bergerak menuju jalur bus. Dengan jarak sekitar sepuluh meter.”Blake berjalan santai, seolah-olah hanya seorang pejalan kaki biasa. Tapi matanya awas, memperhatikan setiap orang yang melintasi Cassie. Dia bahkan melihat Alan sempat muncul di sudut jalan, namun segera menghilang saat melihat Blake mendekat.“Ancaman menjauh. Akan terus dipantau,” gumam Blake sambil mengikuti dari kejauhan.Malam pun tiba. Di apartemennya, Cassie merebahkan diri di tempat tidur, masih berpikir tentang Charles. Matanya menatap langit-langit."Aku tahu ada yang aneh tentang Prof. Charles," bisiknya. "Tapi kenapa aku tak bisa berhenti memikirkannya?"Cassie menatap ponselnya,

  • GODAAN SANG PROFESOR   4. Obsesi Cinta

    Masih di dalam ruangan Profesor Charles.Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara lembut pendingin ruangan dan detak jarum jam di dinding. Sebuah jendela tinggi membiarkan cahaya senja menyusup masuk, menciptakan bayangan hangat di seluruh sudut ruang kantor dosen yang penuh rak buku, map, dan setumpuk kertas.Profesor Charles duduk bersandar di sofa, dasi longgar menggantung di lehernya. Di depannya, Cassie, mahasiswi bimbingannya, tersenyum simpul sambil menyentuh tangan sang profesor. Rambut panjang Cassie tergerai, pipinya merah merona, entah karena tersenyum atau karena hal lain.“Anda tahu, Prof, saya tidak pernah membayangkan seorang profesor bisa sesantai ini,” ujar Cassie sambil memiringkan kepalanya manja.Prof. Charles terkekeh pelan. “He-he-he. Dan saya tidak pernah membayangkan seorang mahasiswi secerdas kamu bisa begitu … persuasif.”Cassie mendekat, nyaris menyentuhkan hidungnya ke wajah pria paruh dewasa itu. “Kalau begitu, anggap saja kita sedang eksplorasi akademik

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status