LOGINCassie membeku. Pipinya panas. Dia tidak bisa berkata-kata.
Profesor Charles mendekat selangkah. “Kalau Anda tidak bisa menunjukkan rasa hormat terhadap materi ini, maka Anda bisa pergi dari kelas saya! Tapi saya akan beri Anda pilihan lain. Anda tidak akan lulus dari kelas saya!” Cassie menunduk. “Maaf, Prof. Saya .…” “Saya tidak butuh maaf,” potong Prof. Charles. “Besok pagi, pukul delapan tepat, saya ingin sebuah jurnal sepanjang dua ribu kata tentang bagaimana etika kerja mempengaruhi reputasi bisnis global. Letakkan di meja saya. Kalau Anda gagal, nilai Anda akan terpengaruh. Jelas?” Cassie mengangguk cepat. “Jelas, Prof.” Profesor Charles mengangguk pendek, lalu berbalik ke papan tulis. “Baik. Kembali ke topik.” Cassie menunduk, wajahnya merah padam. Rasa malu menyesakkan dadanya. Di balik buku catatannya, dia berusaha mengatur napas. Lamunannya barusan membuatnya terlihat bodoh di depan seluruh kelas. Sementara itu, Alan menoleh ke arah Cassie dengan senyum miring. Pria itu menyentuh lengannya perlahan. “Berat ya, kalau sedang mimpi indah lalu tiba-tiba dibangunin?” bisiknya. Cassie menjauh sedikit, merasa tidak nyaman. “Kamu tahu, Alan. Kalau kamu benar-benar mau bantu aku, kamu bisa berhenti sok akrab denganku!” “He-he-he!” Alan tertawa pelan, tapi matanya menyipit tajam. “Aku cuma mau jadi teman kamu, Cassie. Tapi kalau kamu mau musuhin semua orang yang peduli sama kamu, silakan saja.” Cassie tidak menjawab. Tapi hatinya sudah mulai sadar, Alan tidak seperti yang dia pikirkan. Ada sesuatu yang tersembunyi. Dia harus lebih waspada. Setelah kelas usai, Cassie berjalan keluar sendirian, membawa tas dan beban pikirannya. Di tangga kampus, angin dingin kembali berhembus. “Jurnal dua ribu kata,” gumamnya pada diri sendiri. “Dan aku belum tidur cukup sejak tiga hari.” Cassie menatap ke arah gedung dosen di kejauhan. Di sana, ruangan Profesor Charles berada. Dia tidak tahu apakah rasa kagum yang dirinya miliki tadi hanya pelarian dari kenyataan, atau mungkin, sesuatu yang lebih dalam. Yang Cassie tahu sekarang, dia harus bertahan. Apapun caranya. Beberapa saat kemudian, Langkah Cassie terdengar cepat di koridor lantai dua kampus itu. Dia baru saja keluar dari perpustakaan, membawa beberapa buku referensi untuk jurnal yang harus gadis itu kumpulkan esok pagi. Jaket abu panjangnya melindunginya dari hembusan angin musim gugur yang menyelinap masuk lewat jendela tua kampus. Tapi rasa tenang itu segera sirna. “Hey, anak beasiswa murahan!” Suara Melisa terdengar nyaring dari ujung koridor. Cassie menghentikan langkahnya, tubuhnya kaku. Dari sisi kanan lorong, muncul tiga gadis Melisa, Judith, dan Amy, mahasiswi populer dari jurusan yang sama. Ketiganya berasal dari keluarga kaya dan sering kali mencibir latar belakang Cassie yang sederhana. “Lagi ngapain? Mau pamer dapet nilai dari dosen karena kasihan?” sindir Judith sambil mendekat. Cassie menunduk. “Tolong jangan ganggu aku. Aku cuma mau pergi ke kelas.” Amy tertawa meremehkan. “He-he-he. Ah, kasihan sekali. Tapi kita pengin ngobrol sama kamu, Cassie. Yuk, ke tempat yang lebih privat.” Sebelum Cassie bisa menolak, tangan Judith mencengkeram lengannya kuat. Melisa menarik bukunya, dan bersama-sama, mereka menyeret Cassie menuju toilet wanita yang sepi di ujung koridor. Cassie mencoba meronta, tapi mereka lebih kuat. Tak ada orang di sekitar tempat itu jam kuliah kedua belum juga dimulai. Begitu tiba di dalam toilet, pintu dikunci. Judith mendorong Cassie hingga membentur wastafel. “Apa salahku pada kalian?” tanya Cassie pelan, matanya mulai berkaca-kaca. “Salahmu? Kamu ada di kampus ini! Hal itu sudah menjadi masalah besar!” sahut Melisa dingin. Tangan Amy menarik rambut Cassie, menjambaknya ke belakang. Judith mengeluarkan lipstik dari tasnya, dan tanpa ampun mencoret wajah Cassie. “Lihat, kamu cocok banget pakai warna norak begini,” ucap Amy sambil tertawa. Cassie meringis, mencoba menepis, tapi perlawanan itu sia-sia. Matanya perih oleh sisa-sisa lipstik yang masuk ke sudut matanya. Tiba-tiba, terdengar suara langkah dari arah pintu toilet. Alan masuk sambil tersenyum miring. “Akhirnya kalian berhasil bawa dia ke sini.” Cassie memalingkan wajah. “Alan? Kamu, ikut mereka?” Alan mendekat perlahan. “Aku cuma mau bicara empat mata denganmu. Kamu selalu nolak aku. Sekarang, kita bisa ngobrol dengan tenang.” Tangan Alan mencoba menyentuh pipi Cassie. Cassie menepis kasar. “Jangan sentuh aku!” Alan cemberut, lalu meraih bahu Cassie lebih paksa. “Berhenti jadi cewek sok suci! Kamu kan bekerja di bar! Ayo sekarang layani aku!” Cassie berteriak, keras. “Tolong!” Di luar toilet, Charles Bliss, sang profesor baru saja melintasi koridor. Dia berhenti mendadak. Suara itu, bukan suara biasa. Instingnya sebagai pria dan pendidik membuatnya segera bergerak menuju pintu toilet. “Hei, siapa di dalam toilet?” Amy buru-buru keluar dari pintu, menyeringai gugup. “Tidak apa-apa, Profesor. Cuma, Cassie lagi ngobrol sama Alan. Mereka … ya, pasangan baru mungkin.” Namun Prof. Charles menyipitkan mata. “Kalian kira aku bodoh?” Sang profesor lalu mendorong pintu toilet, membuat Judith dan Melisa terkejut. Di dalam, Prof. Charles melihat Cassie tersudut, wajahnya penuh coretan, rambutnya kusut, bajunya sedikit terbuka dan Alan berdiri terlalu dekat dengannya dan sedang membuka celananya. “Alan! Apa yang kamu sedang lakukan!” bentak Prof. Charles keras. Alan membalik badan, kaget. “Prof, ini bukan urusan Anda!” Namun Profesor Charles sudah sangat marah. Melihat kondisi Cassie yang ingin dilecehkan oleh Alan. Dia pun melangkah cepat, lalu mencengkeram kerah jas Alan dan menariknya mundur. “Beraninya kamu melakukan ini di bawah institusi resmi!” Profesor Charles menghantam dada Alan dengan dorongan kuat hingga pemuda itu menabrak dinding toilet. Amy, Judith, dan Melisa ketakutan, berusaha kabur, namun Profesor Charles mengacungkan tangan. “Kalian semua tetap di sini! Aku akan laporkan kalian ke dekan dan komite etik.” Alan, masih terhuyung, mendesis, “Ayahku donatur utama kampus ini, Prof. Anda pikir Anda bisa bertahan setelah menghajar aku?” Profesor Charles membalas dengan tenang tapi tegas, “Kamu boleh bilang pada ayahmu, apapun itu! aku akan tetap berdiri di sisi kebenaran!” Cassie mulai menangis terisak-isak. Tubuhnya gemetar. Profesor Charles segera melepas jasnya, membungkus tubuh Cassie dengan penuh perlindungan. “Sudah, jangan menangis. Kamu aman sekarang.” “Profesor ….” Cassie berbisik, matanya penuh ketakutan. “Kenapa mereka begitu kejam padaku? Hanya karena aku seorang gadis miskin yang ingin mengubah masa depan dengan berkuliah di kampus ini?” Profesor Charles menatapnya dengan lembut. “Kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Mari ikut aku.” Dengan hati-hati, Profesor Charles menggandeng Cassie keluar dari toilet, meninggalkan keheningan yang mencekam di antara keempat pelaku. Dia membawa Cassie ke kantornya di lantai tiga. Sepanjang jalan, Cassie hanya bisa menunduk, wajahnya masih penuh coretan lipstik yang mulai luntur karena air mata. Di kantornya, Profesor Charles menyuruh Cassie duduk di sofa empuk. Dia mengambil tisu basah dan air hangat, lalu membersihkan wajah gadis itu dengan hati-hati. Setiap usapan di wajah Cassie terasa seperti pelepasan luka batin yang selama ini dirinya pendam. “Kenapa dunia begitu kejam pada orang yang cuma ingin belajar?” Cassie berbisik lirih. Profesor Charles berhenti sejenak, menatap mata Cassie. “Karena dunia takut pada mereka yang berjuang dengan jujur. Tapi kamu tidak sendiri, Cassie. Aku akan pastikan mereka tidak akan menyakitimu lagi.” Cassie tak mampu berkata-kata. Air matanya kembali jatuh. Tapi kali ini, dia tahu, ada seseorang yang percaya padanya. Yang akan membela tanpa pamrih. Dan untuk pertama kalinya sejak dirinya datang ke kampus itu, Cassie merasa sedikit lebih kuat.Pagi yang hangat.Cahaya matahari mulai menembus tirai tipis kamar mereka di Lecce. Cassie terbangun lebih dulu, menatap Charles yang masih tertidur pulas, bibir sedikit terbuka, rambutnya acak. Cassie terkikik kecil.“Charles bangun, Darling. Kita mau ke Trento hari ini,” bisik Cassie sambil mengusap pipi suaminya.Charles menggumam. “Trento … Alpen … pegunungan, dingin rasanya.”Cassie tertawa pelan. “Kamu pasti akan suka. Trento kota cantik, seperti di negeri dongeng. Ada kastil, Alpen, dan strudel.”Charles membuka sebelah matanya. “Ada strudel? Okay, aku ikut.”Cassie mengangguk. “Tentu saja ada strudel. Kita kan mau ke daerah yang dekat sama Austria.”Charles menguap panjang. “Baiklah. Demi strudel, aku bangun.”Cassie mencubit pinggang Charles. “Bukan cuma strudel, Sayang. Pegunungan Alpen itu luar biasa. Udara dingin, salju di puncak, dan Kota Tua Trento penuh warna pastel.”Charles mengusap wajahnya. “Baik, baik. Aku pasrah.”Mereka naik kereta pagi, menempuh perjalanan panja
Keesokan harinya.Mentari Modena mulai mengintip malu-malu di balik tirai jendela kamar hotel. Suasana kamar masih terasa hangat, sisa keakraban semalam. Cassie terbangun duluan, rambutnya sedikit acak, masih mengenakan tanktop tipis. Dia menatap Charles yang tertidur lelap, satu tangan masih melingkar di pinggangnya.Cassie tersenyum, lalu membelai rambut suaminya. “Hey, Baby bangun.”Charles menggumam, matanya setengah terbuka. “Cassie … apa masih gelap?”Cassie tertawa pelan. “Charles, sekarang sudah jam tujuh. Kita harus siap-siap ke Lecce.”Charles mengerang. “Lecce … Florence of the South, katanya.”Cassie menepuk dadanya pelan. “Betul. Aku tidak mau melewatkan kota itu. Baroque architecture, Baby!”Charles terkekeh, masih setengah ngantuk. “Aku butuh baroque coffee.”Cassie mendaratkan ciuman cepat di bibir Charles. “Nanti kita cari espresso. Cepat mandi.”Charles menatap Cassie. “Mandi bareng?” tanyanya dengan nada nakal.Cassie pura-pura melotot. “Charles! Kita bisa ketinggal
Cassie memeluk suaminya. “Aku bahagia hari ini. Ferrari, balsamic vinegar, dan kamu.”Charles mengecup kening istrinya. “Aku juga bahagia. Asalkan akhirnya kita pulang ke hotel dan berduaan denganmu.”“Ha-ha-ha.Cassie tertawa. “Kamu tak pernah bosan, ya?”Charles membisik di telinganya. “Bosanku hanya kalau kamu tidak di sampingku.”Cassie tersipu, menatap suaminya lama. “Aku juga. Tidak ada tempat yang indah tanpa kamu.”Malam pun menuruni kota Modena. Cassie dan Charles berjalan bergandengan, botol balsamic vinegar di tangan Cassie, sementara Charles menatap istrinya dengan penuh cinta. Modena menambah satu bab lagi dalam kisah bulan madu keduanya, sebuah kota yang harum dengan kecepatan Ferrari dan rasa manis asam balsamic, sama persis seperti cinta mereka yang kadang mengila, lembut, namun selalu berkesan.Malam sudah turun sempurna ketika Cassie dan Charles kembali ke hotel. Udara di luar sejuk, beraroma manis balsamic vinegar yang masih melekat di indera mereka. Begitu ti
Cahaya matahari lembut menembus tirai tipis kamar hotel mereka di Parma. Cassie terbangun lebih dulu, masih mengenakan kaus longgar milik Charles. Dia menoleh, mendapati suaminya terlelap, rambut sedikit acak, bibir sedikit terbuka. Cassie pun tersenyum.“Bagaimana mungkin tidak aku jatuh cinta terus denganmu, Darling?” gumamnya pelan sambil mengusap rambut suaminya.Charles bergumam dalam tidur.“Cassie, keju .…”Cassie menahan tawa. “Bahkan dalam tidurmu, kamu masih memikirkan keju.”Charles membuka mata perlahan.“Hmm, keju dan kamu.”Cassie mencubit hidung Charles.“Bangun, sleepyhead. Hari ini kita akan ke Modena!”Charles memeluk Cassie. “Bolehkah kita bolos sehari untuk jalan-jalan? Tidur di hotel saja.”Cassie menepuk dada suaminya pelan. “Tidak boleh. Modena itu rumah mewah Ferrari dan balsamic vinegar asli. Aku nggak akan melewatkan itu!”Charles menghela napas panjang. “Baiklah. Aku pasrah padamu, tour guide-ku.”Mereka pun mandi, berkemas, lalu turun untuk sarapan. Cassi
Mentari pagi di Pisa perlahan muncul dari balik atap-atap bata merah. Udara masih sejuk ketika Cassie membuka mata. Charles masih terlelap di sebelahnya, tangannya melingkari pinggang istrinya. Cassie menatap wajah suaminya lama, lalu tersenyum tipis sambil membelai rambut Charles. “Sayang, bangun. Hari ini kita harus berangkat lagi,” bisik Cassie lembut. Charles hanya menggumam. “Nggak mau. Aku masih mau tidur.” “He-he-he.” Cassie tertawa pelan. “Kalau kamu tidur terus, kita nggak jadi ke Parma.” Charles membuka sebelah mata, mendesah. “Parma? Yang terkenal dengan keju itu?” Cassie mengangguk. “Keju premium tentunya. Aku sudah lama sekali mau ke sana.” Charles memeluk Cassie lebih erat. “Aku lebih suka makan kamu saja.” Cassie memukul dadanya pelan. “Nakal! Ayo bangun.” Setelah mandi dan berkemas, mereka check-out dari hotel. Kereta menuju Parma berangkat pukul sepuluh pagi. Sambil berjalan ke stasiun, Cassie terus memeriksa ponselnya. “Charles, tahu ngg
Mentari pagi menembus tirai hotel di Como, membangunkan Cassie lebih dulu. Dia mengerjapkan mata, lalu menoleh ke sisi ranjang. Charles masih terlelap, napasnya teratur, satu lengan tergeletak di perut istrinya. Cassie tersenyum, membelai rambut suaminya perlahan.“Bangun, sleepyhead,” bisik Cassie.Charles mengerang pelan, menutup wajah dengan bantal. “Masih gelap.”“Hi-hi-hi.”Cassie terkikik. “Sudah terang. Hari ini kita harus berangkat pagi.”Charles mengintip Cassie dari balik bantal. “Hari ini kita ke mana, Darling?”Cassie meraih ponsel, menunjukkannya ke wajah Charles. “Pisa.”Charles mengangkat sebelah alis. “Menara miring, huh?”Cassie menepuk dadanya. “Itu lebih dari sekadar menara miring. Itu ikon dunia.”Charles menghela napas. “Baiklah. Pisa, here we come.”Setelah mandi dan sarapan, mereka check-out dari hotel dan naik kereta menuju Pisa. Sepanjang perjalanan, Cassie terus bersandar di bahu Charles sambil membaca informasi tentang kota itu.“Charles, kamu tahu ngg







