بيت / Romansa / GODAAN SANG PROFESOR / 2. Terus Menjadi Bahan Bulian

مشاركة

2. Terus Menjadi Bahan Bulian

last update تاريخ النشر: 2026-07-24 14:04:17

Cassie membeku. Pipinya panas. Dia tidak bisa berkata-kata.

Profesor Charles mendekat selangkah. “Kalau Anda tidak bisa menunjukkan rasa hormat terhadap materi ini, maka Anda bisa pergi dari kelas saya! Tapi saya akan beri Anda pilihan lain. Anda tidak akan lulus dari kelas saya!”

Cassie menunduk. “Maaf, Prof. Saya .…”

“Saya tidak butuh maaf,” potong Prof. Charles.

“Besok pagi, pukul delapan tepat, saya ingin sebuah jurnal sepanjang dua ribu kata tentang bagaimana etika kerja mempengaruhi reputasi bisnis global. Letakkan di meja saya. Kalau Anda gagal, nilai Anda akan terpengaruh. Jelas?”

Cassie mengangguk cepat.

“Jelas, Prof.”

Profesor Charles mengangguk pendek, lalu berbalik ke papan tulis.

“Baik. Kembali ke topik.”

Cassie menunduk, wajahnya merah padam. Rasa malu menyesakkan dadanya. Di balik buku catatannya, dia berusaha mengatur napas. Lamunannya barusan membuatnya terlihat bodoh di depan seluruh kelas.

Sementara itu, Alan menoleh ke arah Cassie dengan senyum miring. Pria itu menyentuh lengannya perlahan.

“Berat ya, kalau sedang mimpi indah lalu tiba-tiba dibangunin?” bisiknya.

Cassie menjauh sedikit, merasa tidak nyaman. “Kamu tahu, Alan. Kalau kamu benar-benar mau bantu aku, kamu bisa berhenti sok akrab denganku!”

“He-he-he!”

Alan tertawa pelan, tapi matanya menyipit tajam.

“Aku cuma mau jadi teman kamu, Cassie. Tapi kalau kamu mau musuhin semua orang yang peduli sama kamu, silakan saja.”

Cassie tidak menjawab. Tapi hatinya sudah mulai sadar, Alan tidak seperti yang dia pikirkan. Ada sesuatu yang tersembunyi. Dia harus lebih waspada.

Setelah kelas usai, Cassie berjalan keluar sendirian, membawa tas dan beban pikirannya. Di tangga kampus, angin dingin kembali berhembus.

“Jurnal dua ribu kata,” gumamnya pada diri sendiri.

“Dan aku belum tidur cukup sejak tiga hari.”

Cassie menatap ke arah gedung dosen di kejauhan. Di sana, ruangan Profesor Charles berada. Dia tidak tahu apakah rasa kagum yang dirinya miliki tadi hanya pelarian dari kenyataan, atau mungkin, sesuatu yang lebih dalam.

Yang Cassie tahu sekarang, dia harus bertahan. Apapun caranya.

Beberapa saat kemudian,

Langkah Cassie terdengar cepat di koridor lantai dua kampus itu. Dia baru saja keluar dari perpustakaan, membawa beberapa buku referensi untuk jurnal yang harus gadis itu kumpulkan esok pagi. Jaket abu panjangnya melindunginya dari hembusan angin musim gugur yang menyelinap masuk lewat jendela tua kampus. Tapi rasa tenang itu segera sirna.

“Hey, anak beasiswa murahan!” Suara Melisa terdengar nyaring dari ujung koridor.

Cassie menghentikan langkahnya, tubuhnya kaku. Dari sisi kanan lorong, muncul tiga gadis Melisa, Judith, dan Amy, mahasiswi populer dari jurusan yang sama. Ketiganya berasal dari keluarga kaya dan sering kali mencibir latar belakang Cassie yang sederhana.

“Lagi ngapain? Mau pamer dapet nilai dari dosen karena kasihan?” sindir Judith sambil mendekat.

Cassie menunduk. “Tolong jangan ganggu aku. Aku cuma mau pergi ke kelas.”

Amy tertawa meremehkan.

“He-he-he. Ah, kasihan sekali. Tapi kita pengin ngobrol sama kamu, Cassie. Yuk, ke tempat yang lebih privat.”

Sebelum Cassie bisa menolak, tangan Judith mencengkeram lengannya kuat. Melisa menarik bukunya, dan bersama-sama, mereka menyeret Cassie menuju toilet wanita yang sepi di ujung koridor. Cassie mencoba meronta, tapi mereka lebih kuat. Tak ada orang di sekitar tempat itu jam kuliah kedua belum juga dimulai.

Begitu tiba di dalam toilet, pintu dikunci. Judith mendorong Cassie hingga membentur wastafel.

“Apa salahku pada kalian?” tanya Cassie pelan, matanya mulai berkaca-kaca.

“Salahmu? Kamu ada di kampus ini! Hal itu sudah menjadi masalah besar!” sahut Melisa dingin.

Tangan Amy menarik rambut Cassie, menjambaknya ke belakang. Judith mengeluarkan lipstik dari tasnya, dan tanpa ampun mencoret wajah Cassie.

“Lihat, kamu cocok banget pakai warna norak begini,” ucap Amy sambil tertawa.

Cassie meringis, mencoba menepis, tapi perlawanan itu sia-sia. Matanya perih oleh sisa-sisa lipstik yang masuk ke sudut matanya.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah dari arah pintu toilet.

Alan masuk sambil tersenyum miring. “Akhirnya kalian berhasil bawa dia ke sini.”

Cassie memalingkan wajah.

“Alan? Kamu, ikut mereka?”

Alan mendekat perlahan.

“Aku cuma mau bicara empat mata denganmu. Kamu selalu nolak aku. Sekarang, kita bisa ngobrol dengan tenang.”

Tangan Alan mencoba menyentuh pipi Cassie. Cassie menepis kasar. “Jangan sentuh aku!”

Alan cemberut, lalu meraih bahu Cassie lebih paksa.

“Berhenti jadi cewek sok suci! Kamu kan bekerja di bar! Ayo sekarang layani aku!”

Cassie berteriak, keras.

“Tolong!”

Di luar toilet, Charles Bliss, sang profesor baru saja melintasi koridor. Dia berhenti mendadak. Suara itu, bukan suara biasa. Instingnya sebagai pria dan pendidik membuatnya segera bergerak menuju pintu toilet.

“Hei, siapa di dalam toilet?”

Amy buru-buru keluar dari pintu, menyeringai gugup.

“Tidak apa-apa, Profesor. Cuma, Cassie lagi ngobrol sama Alan. Mereka … ya, pasangan baru mungkin.”

Namun Prof. Charles menyipitkan mata. “Kalian kira aku bodoh?”

Sang profesor lalu mendorong pintu toilet, membuat Judith dan Melisa terkejut. Di dalam, Prof. Charles melihat Cassie tersudut, wajahnya penuh coretan, rambutnya kusut, bajunya sedikit terbuka dan Alan berdiri terlalu dekat dengannya dan sedang membuka celananya.

“Alan! Apa yang kamu sedang lakukan!” bentak Prof. Charles keras.

Alan membalik badan, kaget.

“Prof, ini bukan urusan Anda!”

Namun Profesor Charles sudah sangat marah. Melihat kondisi Cassie yang ingin dilecehkan oleh Alan. Dia pun melangkah cepat, lalu mencengkeram kerah jas Alan dan menariknya mundur.

“Beraninya kamu melakukan ini di bawah institusi resmi!” Profesor Charles menghantam dada Alan dengan dorongan kuat hingga pemuda itu menabrak dinding toilet.

Amy, Judith, dan Melisa ketakutan, berusaha kabur, namun Profesor Charles mengacungkan tangan.

“Kalian semua tetap di sini! Aku akan laporkan kalian ke dekan dan komite etik.”

Alan, masih terhuyung, mendesis,

“Ayahku donatur utama kampus ini, Prof. Anda pikir Anda bisa bertahan setelah menghajar aku?”

Profesor Charles membalas dengan tenang tapi tegas,

“Kamu boleh bilang pada ayahmu, apapun itu! aku akan tetap berdiri di sisi kebenaran!”

Cassie mulai menangis terisak-isak. Tubuhnya gemetar. Profesor Charles segera melepas jasnya, membungkus tubuh Cassie dengan penuh perlindungan. “Sudah, jangan menangis. Kamu aman sekarang.”

“Profesor ….” Cassie berbisik, matanya penuh ketakutan.

“Kenapa mereka begitu kejam padaku? Hanya karena aku seorang gadis miskin yang ingin mengubah masa depan dengan berkuliah di kampus ini?”

Profesor Charles menatapnya dengan lembut.

“Kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Mari ikut aku.”

Dengan hati-hati, Profesor Charles menggandeng Cassie keluar dari toilet, meninggalkan keheningan yang mencekam di antara keempat pelaku. Dia membawa Cassie ke kantornya di lantai tiga. Sepanjang jalan, Cassie hanya bisa menunduk, wajahnya masih penuh coretan lipstik yang mulai luntur karena air mata.

Di kantornya, Profesor Charles menyuruh Cassie duduk di sofa empuk. Dia mengambil tisu basah dan air hangat, lalu membersihkan wajah gadis itu dengan hati-hati. Setiap usapan di wajah Cassie terasa seperti pelepasan luka batin yang selama ini dirinya pendam.

“Kenapa dunia begitu kejam pada orang yang cuma ingin belajar?” Cassie berbisik lirih.

Profesor Charles berhenti sejenak, menatap mata Cassie. “Karena dunia takut pada mereka yang berjuang dengan jujur. Tapi kamu tidak sendiri, Cassie. Aku akan pastikan mereka tidak akan menyakitimu lagi.”

Cassie tak mampu berkata-kata. Air matanya kembali jatuh. Tapi kali ini, dia tahu, ada seseorang yang percaya padanya. Yang akan membela tanpa pamrih.

Dan untuk pertama kalinya sejak dirinya datang ke kampus itu, Cassie merasa sedikit lebih kuat.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • GODAAN SANG PROFESOR   9. Ultimatum Oma Evelyn

    Langit London mulai diliputi kabut kelabu saat Oma Evelyn menuruni taksi hitam yang membawanya pulang dari rumah sahabat lamanya. Angin malam menusuk tulang, dan lampu jalan mulai menyala satu per satu. Rumah megah di sudut Jalan Kensington itu berdiri dengan anggun, seolah-olah menyambut kembalinya sang nyonya rumah.Dengan langkah perlahan, Oma Evelyn membuka pintu utama, menggantung mantel bulu tuanya di gantungan, lalu menepuk-nepuk rambut peraknya yang disanggul rapi. Dia mendesah lega, lalu berseru sambil melangkah ke dalam.“Charles? Oma pulang!”Namun tak ada jawaban. Rumah itu hening. Terlalu hening.Wanita itu lalu meletakkan tas kecilnya di meja foyer, hendak menuju dapur untuk membuat teh hangat, namun pandangannya terhenti pada sesuatu yang tampak tidak biasa.Sepasang sepatu wanita, berwarna krem, tergeletak di lantai marmer dekat tangga. Tidak rapi. Seolah dilemparkan tergesa-gesa.Kening Oma Evelyn berkerut. “Apa ini?” bisiknya.Dengan firasat yang tak enak, Oma Evely

  • GODAAN SANG PROFESOR   8. Malam Panas Yang Tak Terduga

    Pada suatu siang.Langit kampus sangat cerah, tapi langkah Cassie terasa berat. Sejak insiden di bar tempat dia bekerja sebagai pelayan, bisik-bisik tak mengenakkan terus mengikutinya ke manapun gadis itu pergi. Suara tawa mencemooh terdengar jelas ketika dirinya melewati lorong menuju ruang kuliah.“Hei, lihat deh Si Cassie. Pelayan malam yang berubah jadi mahasiswi teladan sekarang,” sindir Melisa dengan suara keras, namun cukup untuk didengar semua orang.“Cih! Benar-benar tak tahu malu!” sindir Amy.“Dasar perempuan murahan!” Judith tak mau kalah ikut mengolok-olok Cassie.Cassie menggertakkan gigi. Sang gadis sudah mencoba bersabar. Dia sama sekali tidak melakukan hal memalukan seperti yang dituduhkan. Pekerjaannya di bar hanyalah untuk membayar biaya hidupnya, bukan seperti yang orang-orang katakan.“Pakai baju itu ke kampus? Lagi-lagi lupa ganti kostum, ya?” celetuk Amy, sahabat Melisa, menambahkan ejekan.Cassie menunduk dan bergegas masuk ke ruang kelas, menahan air matanya.

  • GODAAN SANG PROFESOR   7. Perasaan Yang Tertahan

    Dalam hati, Charles menahan sesuatu yang tidak bisa dirinya ungkapkan.“Aku ingin lebih dari itu, Cassie. Tapi belum sekarang.”Sang profesor sudah bertekad. Cassie harus lulus terlebih dahulu. Mimpi-mimpinya harus tercapai. Baru setelah itu, jika waktunya tepat, dia akan mengungkap siapa dirinya sebenarnya. Bukan hanya seorang dosen, tapi pria yang selama ini mendukung dan menjaganya dari jauh.Cassie menguap kecil.“Kamu lelah,” ucap Charles sambil berdiri. “Aku tak akan lama di sini. Istirahatlah.”Cassie menatapnya, masih memegang cup cokelat panas.“Prof, saya boleh jujur?”“Tentu.”“Saya senang Anda datang. Rasanya, seperti kedamaian yang abadi.”Kata-kata itu menghantam hati Charles seperti badai lembut. Dia tersenyum, menyembunyikan gejolak emosinya.“Aku akan selalu ada saat kamu butuh,” ucap Charles. “Jadi ... jangan pernah takut.”Cassie mengangguk. “Terima kasih, Prof Charles. Saya benar-benar beruntung punya dosen seperti Anda.”Charles melangkah mundur, mengangkat tang

  • GODAAN SANG PROFESOR   6. Hasrat Tertahan

    Di sebuah ruang kerja mewah bertingkat di jantung Kota London, Prof. Charles duduk bersandar di kursi kulitnya. Langit malam terlihat melalui jendela besar di belakangnya, lampu-lampu kota berkerlap-kerlip. Dia pun menatap layar ponselnya, membaca pesan terakhir dari Blake.“Nona Cassie selamat. Alan berhasil dihalau. Dia sedang dirawat. Saya akan tetap berjaga di sekeliling rumah sakit secara diam-diam.”Charles mengembuskan napas lega, kemudian meletakkan ponsel itu di meja. Tangannya yang sempat mengepal kini perlahan mengendur.“Untunglah …” gumamnya lirih.Tak lama, suara ketukan pelan terdengar di pintu. Seorang pria gagah dengan jas hitam masuk, Blake, bodyguard pribadi sekaligus orang kepercayaannya.“Tuan, saya datang seperti yang Anda minta,” ujar Blake dengan sopan.Charles berdiri dan menatapnya dalam-dalam.“Kamu sudah melakukan pekerjaan luar biasa, Blake. Jika kamu tidak datang secepat itu, entah apa yang terjadi pada Cassie malam itu.”“Saya hanya menjalankan perintah,

  • GODAAN SANG PROFESOR   5. Rencana Jahat Alan

    Sementara itu, Cassie baru saja tiba di halte bus, menunggu kendaraan menuju apartemennya. Dia tidak tahu bahwa seorang pria bertubuh tegap dalam setelan hitam sedang mengamatinya dari kejauhan. Dialah Blake, orang suruhan Profesor Charles.Melalui alat komunikasi kecil di telinganya, Blake berbicara pelan. “Target terlihat aman. Bergerak menuju jalur bus. Dengan jarak sekitar sepuluh meter.”Blake berjalan santai, seolah-olah hanya seorang pejalan kaki biasa. Tapi matanya awas, memperhatikan setiap orang yang melintasi Cassie. Dia bahkan melihat Alan sempat muncul di sudut jalan, namun segera menghilang saat melihat Blake mendekat.“Ancaman menjauh. Akan terus dipantau,” gumam Blake sambil mengikuti dari kejauhan.Malam pun tiba. Di apartemennya, Cassie merebahkan diri di tempat tidur, masih berpikir tentang Charles. Matanya menatap langit-langit."Aku tahu ada yang aneh tentang Prof. Charles," bisiknya. "Tapi kenapa aku tak bisa berhenti memikirkannya?"Cassie menatap ponselnya,

  • GODAAN SANG PROFESOR   4. Obsesi Cinta

    Masih di dalam ruangan Profesor Charles.Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara lembut pendingin ruangan dan detak jarum jam di dinding. Sebuah jendela tinggi membiarkan cahaya senja menyusup masuk, menciptakan bayangan hangat di seluruh sudut ruang kantor dosen yang penuh rak buku, map, dan setumpuk kertas.Profesor Charles duduk bersandar di sofa, dasi longgar menggantung di lehernya. Di depannya, Cassie, mahasiswi bimbingannya, tersenyum simpul sambil menyentuh tangan sang profesor. Rambut panjang Cassie tergerai, pipinya merah merona, entah karena tersenyum atau karena hal lain.“Anda tahu, Prof, saya tidak pernah membayangkan seorang profesor bisa sesantai ini,” ujar Cassie sambil memiringkan kepalanya manja.Prof. Charles terkekeh pelan. “He-he-he. Dan saya tidak pernah membayangkan seorang mahasiswi secerdas kamu bisa begitu … persuasif.”Cassie mendekat, nyaris menyentuhkan hidungnya ke wajah pria paruh dewasa itu. “Kalau begitu, anggap saja kita sedang eksplorasi akademik

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status