LOGINMasih di dalam ruangan Profesor Charles.
Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara lembut pendingin ruangan dan detak jarum jam di dinding. Sebuah jendela tinggi membiarkan cahaya senja menyusup masuk, menciptakan bayangan hangat di seluruh sudut ruang kantor dosen yang penuh rak buku, map, dan setumpuk kertas. Profesor Charles duduk bersandar di sofa, dasi longgar menggantung di lehernya. Di depannya, Cassie, mahasiswi bimbingannya, tersenyum simpul sambil menyentuh tangan sang profesor. Rambut panjang Cassie tergerai, pipinya merah merona, entah karena tersenyum atau karena hal lain. “Anda tahu, Prof, saya tidak pernah membayangkan seorang profesor bisa sesantai ini,” ujar Cassie sambil memiringkan kepalanya manja. Prof. Charles terkekeh pelan. “He-he-he. Dan saya tidak pernah membayangkan seorang mahasiswi secerdas kamu bisa begitu … persuasif.” Cassie mendekat, nyaris menyentuhkan hidungnya ke wajah pria paruh dewasa itu. “Kalau begitu, anggap saja kita sedang eksplorasi akademik dalam bentuk lain.” Suasana mulai memanas, ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan keras di pintu. Disusul suara yang sangat dikenali oleh Charles. “Profesor Charles? Ini saya, Monica. Bisa saya masuk sebentar?” Cassie langsung membelalak. “Astaga! Itu Prof. Monica!” bisiknya panik. Charles spontan berdiri. “Cepat! Sembunyi!” Cassie tanpa pikir panjang melompat dan bergegas bersembunyi di bawah meja kayu besar yang ada di sudut ruangan. Napasnya tertahan, tubuhnya merapat ke kaki meja, berusaha tidak membuat suara sedikit pun. Rambutnya terjuntai ke lantai, tapi tertutupi bayangan meja. Sementara itu, Charles merapikan dasinya, menyisir rambutnya dengan tangan, dan menepuk-nepuk celana serta kemejanya yang kusut. Dia sekilas melirik ke arah meja tempat Cassie bersembunyi dan menarik napas panjang. Dengan langkah tenang, dia membuka pintu. “Silakan masuk, Profesor Monica.” Monica, seorang wanita berambut pendek dengan blazer merah marun dan map di tangan, masuk sambil tersenyum ramah. “Maaf mengganggu soremu, Charles. Tapi aku perlu menyerahkan laporan mahasiswa baru.” Begitu masuk, mata Monica menyapu ruangan. Dia melihat sofa yang sedikit berantakan, bantalan yang miring, dan dua cangkir yang masih hangat. “Hmm …” gumam Monica pelan, kemudian mengarahkan pandangan penuh arti kepada Charles. “Kamu terlihat sibuk barusan. Apakah aku datang di waktu yang salah?” Profesor Charles tersenyum kaku. “Tidak. Tadi aku hanya sedikit beristirahat.” Prof. Monica mendekat dan menyerahkan map laporan. “Ini daftar lengkap mahasiswa bimbingan untuk semester depan. Oh ya, dan aku menyelipkan CV seorang dosen tamu dari Jerman. Tapi kupikir, kamu lebih tertarik pada hal-hal yang lokal, ya?” Nada suara Prof Monica terdengar menggoda. Dia pun duduk di sofa, tepat di tempat Cassie sebelumnya duduk, dan menyilangkan kaki. Matanya tajam mengamati setiap reaksi Charles. “Aku rasa kamu bisa memilih bimbingan yang spesial, bukan?” Monica menambahkan, lalu menyentuhkan jarinya ke lengan Charles secara halus. Profesor Charles segera menegakkan tubuh, ekspresinya berubah tegang. “Monica, tolong. Bisa kita bicara secara profesional?” Monica mengangkat alis. “Profesional? Ayolah, Charles. Sudah berapa lama kita saling kenal? Aku tahu kamu bukan tipe pria yang hanya duduk dan membaca jurnal sepanjang malam.” Profesor Charles menepis tangannya perlahan tapi tegas. “Kamu kelewatan, Prof. Monica. Aku tidak nyaman dengan cara bicaramu.” Dari balik meja, Cassie menahan napas, wajahnya memerah karena takut ketahuan sekaligus tak percaya mendengar nada bicara Profesor Charles yang dingin terhadap wanita yang jelas-jelas menyukainya. Monica menatap Charles dengan kesal. “Kamu tahu aku menyukaimu sejak dulu, Charles. Tapi kamu selalu menjauh. Sekarang aku mengerti, mungkin karena ada orang lain, ya?” Profesor Charles menoleh, kali ini dengan mata menyipit. “Jangan membuat asumsi, Monica. Dan tolong, aku minta kamu menjaga sikap di ruang kerjaku!” Profesor Monica berdiri, raut wajahnya berubah kecewa. “Baiklah. Kalau itu yang kamu inginkan. Tapi ingat Charles, tidak semua kesempatan akan datang dua kali.” Profesor Monica melangkah menuju pintu, tapi sebelum keluar, dia melirik ke sekitar ruangan lagi, lalu tersenyum sinis. “Dan lain kali, pastikan kamu membereskan sofamu dengan lebih rapi!” Pintu pun tertutup. Profesor Charles menghela napas berat, lalu segera mengunci pintu. Dia berbalik dan berjalan ke arah meja, lalu menunduk. “Cassie. Kamu bisa keluar sekarang.” Cassie perlahan merangkak keluar, rambutnya acak-acakan, lututnya pegal karena terlalu lama menunduk. “Demi Tuhan, aku hampir mati ketakutan!” ujarnya sambil berdiri dan mengibaskan rok pendeknya. Profesor Charles tersenyum kecut. “Kamu seharusnya tidak di sini sejak awal.” Cassie mendongak, matanya berkilat. “Tapi kamu juga tidak menolak kehadiranku, kan, Prof?” “Tidak sama sekali!” Setelah berkata begitu, Charles kembali mengecup bibir Cassie dengan sangat rakus. Demikian halnya dengan gadis itu juga ikut terhanyut dalam permainan sang dosen yang begitu menggodanya. Kemudian keduanya saling tersenyum. Profesor Charles menghela napas, lalu meraih gelas kopinya dan menyeruput. “Cassie, semua ini terlalu rumit.” Cassie mendekat, berdiri di depan dosennya. “Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku tahu ini hanya, momen sesaat.” “Hei, jangan berpikir begitu. Cassie, mungkin ini salah. Tapi jujur aku sangat tertarik kepadamu. Entah kenapa,” seru Charles berani. “Aku juga merasakan hal yang sama Prof. Ini terkesan gila. Kamu adalah dosenku. Tapi aku menyukaimu!” Cassie ikut mengungkapkan isi hatinya. Charles menatap mahasiswinya. “Tapi kita tetap harus berhati-hati. Jika orang lain tahu, terutama Monica, itu bisa menghancurkan karier kita berdua.” Cassie tersenyum miring. “Tenang saja, Prof. Rahasia ini aman bersamaku.” Mereka saling bertatapan beberapa detik, lalu Cassie mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. Sebelum membuka kunci, dia menoleh dan berkata pelan, “Aku tidak menyesal, dengan semua yang telah kita lakukan, Prof.” Charles tak menjawab, hanya memandang punggung Cassie hingga gadis itu menghilang di balik pintu. Dia lalu kembali duduk di sofanya, kali ini sendiri, dan meraba rambutnya yang terlihat berantakan. “Dunia akademik memang penuh teka-teki,” gumamnya lirih. Langit sore mulai menggelap ketika Cassie melangkah keluar dari gerbang kampus. Udara Kota London yang dingin menerpa wajahnya, namun dia tetap berjalan tenang sambil merapatkan jaket panjangnya. Senyum kecil tersungging di bibirnya, masih teringat percakapannya yang panas sekaligus penuh misteri dengan Profesor Charles di dalam ruang dosen. Namun dari kejauhan, seseorang memperhatikan setiap langkah Cassie dengan penuh amarah. Alan. Pria bertubuh tinggi dengan jaket kulit gelap itu berdiri di sudut jalan, menyandarkan punggungnya pada tiang lampu. Matanya menyipit, rahangnya mengeras. Pria itu melihat Cassie melewati gerbang kampus tanpa tahu sedang diawasi. "Berani-beraninya kamu menolak aku! Padahal jelas-jelas aku sangat mencintaimu, Cassie!" geram Alan lirih sambil mengepalkan tangannya. Pikirannya dipenuhi dengan dendam. Alan merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Cassie, gadis yang dulu dia kira akan mudah didapatkan olehnya. Tapi sepertinya, Alan punya rencana jitu saat ini. “Kalau Cassie pikir bisa main-main, aku akan ajarkan pelajaran yang takkan dilupakannya!” ucapnya sambil menyeringai dingin. Di sebuah penthouse mewah di pusat Kota London, Profesor Charles tengah berbicara serius melalui telepon sambil berdiri di balkon, memandangi kota dari ketinggian. “Blake, mulai hari ini, awasi Cassie. Pastikan dia aman, tanpa membuatnya merasa diawasi,” ucap Charles dengan nada tegas. Di ujung sana, suara laki-laki berat menjawab, “Siap, Tuan Charles. Saya sudah berada di lokasi. Akan saya pastikan tak ada satupun ancaman mendekatinya.” Charles mengangguk walaupun Blake tak bisa melihatnya. “Alan sedang bergerak. Aku tak ingin Cassie celaka karena kesalahan sedikitpun.” “Dimengerti, Tuan.” Charles menutup telepon, lalu memijat pelipisnya. Di balik statusnya sebagai dosen yang rendah hati di kampus terkenal itu, tidak banyak yang tahu bahwa dialah pemilik sebenarnya dari universitas tersebut. Dan lebih dari itu, Charles adalah seorang pengusaha sukses yang masuk daftar seratus tokoh bisnis paling berpengaruh di Inggris. Tapi baginya, dunia pendidikan adalah panggilan jiwa. Charles memilih menyamar menjadi dosen biasa demi bisa menyentuh kehidupan anak muda dari dekat, tanpa diselimuti citra kemewahan dan kekuasaan. Di dalam ruang tengah, seorang wanita tua duduk di kursi goyang, menganyam benang wol. Rambutnya sudah sepenuhnya putih, dan matanya hangat. Dialah Oma Evelyn, nenek Charles, satu-satunya keluarganya yang masih hidup. Melihat cucunya kembali masuk ke ruang tamu, Oma Evelyn tersenyum lembut. “Kamu tampak tegang, Charles. Ada apa?” Charles duduk di hadapannya, menatap neneknya dengan penuh hormat. “Aku hanya sedang berpikir tentang seseorang, Oma. Seorang mahasiswi. Dia sangat berbeda.” Oma Evelyn mengangkat alisnya, tertarik. “Berbeda bagaimana? Kamu jatuh cinta padanya?” Charles terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, “Mungkin. Tapi ini terkesan sangat rumit, Oma. Aku dosennya. Dan aku menyimpan terlalu banyak rahasia.” Oma Evelyn menghela napas panjang dan menggenggam tangan cucunya. “Sayangku, hidup ini selalu penuh rahasia. Tapi cinta yang tulus tidak bisa disembunyikan selamanya. Jika kamu merasa dia layak, maka lindungilah dirinya. Bukan dengan kekuasaan atau uangmu, tapi dengan hatimu.” Charles menunduk. “Aku sudah menugaskan Blake untuk mengawasinya. Ada seseorang dari kampus bernama Alan. Dia sangat membahayakan.” Oma Evelyn mengangguk. “Kalau begitu, lakukanlah yang perlu. Tapi jangan abaikan suara hatimu. Dunia boleh mengenalmu sebagai pebisnis sukses, tapi Oma tahu jiwamu tetap seorang pendidik yang peduli.” Charles tersenyum tipis. “Terima kasih, Oma.”Pagi yang hangat.Cahaya matahari mulai menembus tirai tipis kamar mereka di Lecce. Cassie terbangun lebih dulu, menatap Charles yang masih tertidur pulas, bibir sedikit terbuka, rambutnya acak. Cassie terkikik kecil.“Charles bangun, Darling. Kita mau ke Trento hari ini,” bisik Cassie sambil mengusap pipi suaminya.Charles menggumam. “Trento … Alpen … pegunungan, dingin rasanya.”Cassie tertawa pelan. “Kamu pasti akan suka. Trento kota cantik, seperti di negeri dongeng. Ada kastil, Alpen, dan strudel.”Charles membuka sebelah matanya. “Ada strudel? Okay, aku ikut.”Cassie mengangguk. “Tentu saja ada strudel. Kita kan mau ke daerah yang dekat sama Austria.”Charles menguap panjang. “Baiklah. Demi strudel, aku bangun.”Cassie mencubit pinggang Charles. “Bukan cuma strudel, Sayang. Pegunungan Alpen itu luar biasa. Udara dingin, salju di puncak, dan Kota Tua Trento penuh warna pastel.”Charles mengusap wajahnya. “Baik, baik. Aku pasrah.”Mereka naik kereta pagi, menempuh perjalanan panja
Keesokan harinya.Mentari Modena mulai mengintip malu-malu di balik tirai jendela kamar hotel. Suasana kamar masih terasa hangat, sisa keakraban semalam. Cassie terbangun duluan, rambutnya sedikit acak, masih mengenakan tanktop tipis. Dia menatap Charles yang tertidur lelap, satu tangan masih melingkar di pinggangnya.Cassie tersenyum, lalu membelai rambut suaminya. “Hey, Baby bangun.”Charles menggumam, matanya setengah terbuka. “Cassie … apa masih gelap?”Cassie tertawa pelan. “Charles, sekarang sudah jam tujuh. Kita harus siap-siap ke Lecce.”Charles mengerang. “Lecce … Florence of the South, katanya.”Cassie menepuk dadanya pelan. “Betul. Aku tidak mau melewatkan kota itu. Baroque architecture, Baby!”Charles terkekeh, masih setengah ngantuk. “Aku butuh baroque coffee.”Cassie mendaratkan ciuman cepat di bibir Charles. “Nanti kita cari espresso. Cepat mandi.”Charles menatap Cassie. “Mandi bareng?” tanyanya dengan nada nakal.Cassie pura-pura melotot. “Charles! Kita bisa ketinggal
Cassie memeluk suaminya. “Aku bahagia hari ini. Ferrari, balsamic vinegar, dan kamu.”Charles mengecup kening istrinya. “Aku juga bahagia. Asalkan akhirnya kita pulang ke hotel dan berduaan denganmu.”“Ha-ha-ha.Cassie tertawa. “Kamu tak pernah bosan, ya?”Charles membisik di telinganya. “Bosanku hanya kalau kamu tidak di sampingku.”Cassie tersipu, menatap suaminya lama. “Aku juga. Tidak ada tempat yang indah tanpa kamu.”Malam pun menuruni kota Modena. Cassie dan Charles berjalan bergandengan, botol balsamic vinegar di tangan Cassie, sementara Charles menatap istrinya dengan penuh cinta. Modena menambah satu bab lagi dalam kisah bulan madu keduanya, sebuah kota yang harum dengan kecepatan Ferrari dan rasa manis asam balsamic, sama persis seperti cinta mereka yang kadang mengila, lembut, namun selalu berkesan.Malam sudah turun sempurna ketika Cassie dan Charles kembali ke hotel. Udara di luar sejuk, beraroma manis balsamic vinegar yang masih melekat di indera mereka. Begitu ti
Cahaya matahari lembut menembus tirai tipis kamar hotel mereka di Parma. Cassie terbangun lebih dulu, masih mengenakan kaus longgar milik Charles. Dia menoleh, mendapati suaminya terlelap, rambut sedikit acak, bibir sedikit terbuka. Cassie pun tersenyum.“Bagaimana mungkin tidak aku jatuh cinta terus denganmu, Darling?” gumamnya pelan sambil mengusap rambut suaminya.Charles bergumam dalam tidur.“Cassie, keju .…”Cassie menahan tawa. “Bahkan dalam tidurmu, kamu masih memikirkan keju.”Charles membuka mata perlahan.“Hmm, keju dan kamu.”Cassie mencubit hidung Charles.“Bangun, sleepyhead. Hari ini kita akan ke Modena!”Charles memeluk Cassie. “Bolehkah kita bolos sehari untuk jalan-jalan? Tidur di hotel saja.”Cassie menepuk dada suaminya pelan. “Tidak boleh. Modena itu rumah mewah Ferrari dan balsamic vinegar asli. Aku nggak akan melewatkan itu!”Charles menghela napas panjang. “Baiklah. Aku pasrah padamu, tour guide-ku.”Mereka pun mandi, berkemas, lalu turun untuk sarapan. Cassi
Mentari pagi di Pisa perlahan muncul dari balik atap-atap bata merah. Udara masih sejuk ketika Cassie membuka mata. Charles masih terlelap di sebelahnya, tangannya melingkari pinggang istrinya. Cassie menatap wajah suaminya lama, lalu tersenyum tipis sambil membelai rambut Charles. “Sayang, bangun. Hari ini kita harus berangkat lagi,” bisik Cassie lembut. Charles hanya menggumam. “Nggak mau. Aku masih mau tidur.” “He-he-he.” Cassie tertawa pelan. “Kalau kamu tidur terus, kita nggak jadi ke Parma.” Charles membuka sebelah mata, mendesah. “Parma? Yang terkenal dengan keju itu?” Cassie mengangguk. “Keju premium tentunya. Aku sudah lama sekali mau ke sana.” Charles memeluk Cassie lebih erat. “Aku lebih suka makan kamu saja.” Cassie memukul dadanya pelan. “Nakal! Ayo bangun.” Setelah mandi dan berkemas, mereka check-out dari hotel. Kereta menuju Parma berangkat pukul sepuluh pagi. Sambil berjalan ke stasiun, Cassie terus memeriksa ponselnya. “Charles, tahu ngg
Mentari pagi menembus tirai hotel di Como, membangunkan Cassie lebih dulu. Dia mengerjapkan mata, lalu menoleh ke sisi ranjang. Charles masih terlelap, napasnya teratur, satu lengan tergeletak di perut istrinya. Cassie tersenyum, membelai rambut suaminya perlahan.“Bangun, sleepyhead,” bisik Cassie.Charles mengerang pelan, menutup wajah dengan bantal. “Masih gelap.”“Hi-hi-hi.”Cassie terkikik. “Sudah terang. Hari ini kita harus berangkat pagi.”Charles mengintip Cassie dari balik bantal. “Hari ini kita ke mana, Darling?”Cassie meraih ponsel, menunjukkannya ke wajah Charles. “Pisa.”Charles mengangkat sebelah alis. “Menara miring, huh?”Cassie menepuk dadanya. “Itu lebih dari sekadar menara miring. Itu ikon dunia.”Charles menghela napas. “Baiklah. Pisa, here we come.”Setelah mandi dan sarapan, mereka check-out dari hotel dan naik kereta menuju Pisa. Sepanjang perjalanan, Cassie terus bersandar di bahu Charles sambil membaca informasi tentang kota itu.“Charles, kamu tahu ngg







