Home / Romansa / GODAAN SANG PROFESOR / 6. Hasrat Tertahan

Share

6. Hasrat Tertahan

last update publish date: 2026-07-24 14:06:15

Di sebuah ruang kerja mewah bertingkat di jantung Kota London, Prof. Charles duduk bersandar di kursi kulitnya. Langit malam terlihat melalui jendela besar di belakangnya, lampu-lampu kota berkerlap-kerlip. Dia pun menatap layar ponselnya, membaca pesan terakhir dari Blake.

“Nona Cassie selamat. Alan berhasil dihalau. Dia sedang dirawat. Saya akan tetap berjaga di sekeliling rumah sakit secara diam-diam.”

Charles mengembuskan napas lega, kemudian meletakkan ponsel itu di meja. Tangannya yang sempat mengepal kini perlahan mengendur.

“Untunglah …” gumamnya lirih.

Tak lama, suara ketukan pelan terdengar di pintu. Seorang pria gagah dengan jas hitam masuk, Blake, bodyguard pribadi sekaligus orang kepercayaannya.

“Tuan, saya datang seperti yang Anda minta,” ujar Blake dengan sopan.

Charles berdiri dan menatapnya dalam-dalam.

“Kamu sudah melakukan pekerjaan luar biasa, Blake. Jika kamu tidak datang secepat itu, entah apa yang terjadi pada Cassie malam itu.”

“Saya hanya menjalankan perintah, Tuan.”

Charles menatap ke jendela, kedua tangannya bersedekap.

“Aku tidak bisa membayangkan jika gadis itu terluka, dia terlalu berharga,” ucapnya pelan, seolah-olah pada dirinya sendiri.

“Dan Cassie tidak tahu siapa yang menjaganya?”

Blake mengangguk.

“Ya, Tuan. Saya menjaga kerahasiaannya, seperti perintah Anda.”

Charles menoleh tajam. “Teruskan. Jangan sampai Cassie tahu siapa aku sebenarnya. Aku ingin dia tetap mengenalku sebagai dosen biasa. Bukan seorang pewaris kerajaan bisnis properti Kota London.”

Blake tampak ragu. “Tapi, Tuan. Suatu saat Nona Cassie mungkin layak tahu siapa yang menyelamatkannya.”

Charles menarik napas. “Belum sekarang. Aku ingin dia percaya jika dunia ini masih punya kebaikan, bahkan tanpa nama besar.”

Sementara itu, di sisi lain kota, di sebuah rumah mewah bertembok tinggi, Alan berdiri di depan jendela kamarnya, menatap kosong ke arah halaman. Wajahnya muram, penuh luka ringan akibat perkelahian dengan Blake malam itu. Tangannya menggenggam surat keputusan pengadilan, bebas tanpa tuntutan, karena kurangnya bukti video dan Cassie yang belum sadar untuk bersaksi langsung.

Namun sayangnya pihak kampus telah mengeluarkan surat skorsing untuknya dalam beberapa waktu kedepan, Alan tidak diperkenankan masuk ke area kampus.

Alan mencibir.

“Hanya karena tidak ada kamera di dalam ruang VIP, mereka tidak bisa menyentuhku,” katanya pelan, penuh amarah.

“Tapi aku ingin lihat sendiri seperti apa kondisi Cassie sekarang.”

Alan lalu membuka laci mejanya, mengambil topi hitam dan masker. Malam itu, dia bertekad akan menyelinap ke rumah sakit tempat Cassie dirawat.

Di Rumah Sakit St. Mary’s London.

Cassie tertidur lemah di ranjang ruang perawatan VIP. Jendela tertutup, lampu remang menyinari wajah pucatnya. Di pojok ruangan, Blake berdiri tenang di balik pintu, menyamar sebagai satpam rumah sakit, namun siap siaga.

Di luar, malam kian larut. Seorang pria bertopi hitam berjalan perlahan menyusuri lorong rumah sakit. Dia berusaha tak mencolok, menunduk, dan menghindari CCTV. Sesekali, pria itu mengamati nomor kamar.

“Ruang tiga ratus lima, tempat Cassie dirawat,” bisiknya.

Sang pria mulai mendekat ke pintu dengan sangat hati-hati. Namun sebelum dia berhasil menyentuh gagang pintu, tiba-tiba ada suara menggelegar.

“Berhenti di situ!”

Suara tegas terdengar. Blake muncul dari bayangan, menodongkan pisau lipat tak terlihat dari balik sabuknya.

Alan membeku, mengenali suara itu. “Kamu! Si pengawal sialan itu?”

Blake melangkah maju, matanya tajam.

“Apa yang sedang kamu pikirkan, Alan? Datang ke rumah sakit, menjenguk wanita yang hampir kamu celakai?”

Alan tertawa sinis.

“Ha-ha-ha. Aku hanya ingin memastikan dia hidup. Bukankah itu wajar? Aku ... pernah mencintainya.”

Blake mendesis,

“Cinta? Apa itu namanya cinta? Kamu memanipulasi, mengurung, dan hampir mencelakai Nona Cassie dengan cara paling menjijikkan!”

Alan mengangkat tangan.

“Tenang. Aku tidak membawa apapun. Aku hanya ingin melihat wajahnya ... sekali lagi.”

Blake tak menurunkan kewaspadaannya.

“Kamu kira karena kamu anak pengusaha ternama di kota ini, kamu bisa seenaknya? Kali ini, aku tak akan membiarkanmu lolos!”

Alan menyeringai. “Sayangnya ... pengadilan sudah mengambil keputusan. Dan selama Cassie belum bisa bersaksi, aku bebas.”

Tepat saat itu, suara pelan dari balik pintu terdengar. Cassie menggeliat.

“Blake?”

Alan kaget.

“Dia bangun?”

Blake segera menghalau Alan untuk menjauh.

“Satu langkah lagi kamu maju, dan aku pastikan kamu tidak keluar dari sini dalam keadaan berdiri!”

Alan menggertakkan gigi, namun akhirnya mundur.

“Ini belum selesai, Blake!” seru Alan sebelum membalik tubuh dan pergi dengan cepat, menghilang ke lorong gelap rumah sakit.

Blake memandang ke arah Alan menghilang, kemudian masuk kembali ke kamar Cassie. Dia melihat gadis itu membuka matanya perlahan.

“Nona Cassie. .. kamu sadar,” ujarnya pelan, penuh kelegaan.

Cassie mengerjap, wajahnya pucat.

“Alan, apakah dia ada di sini?”

Blake mengangguk.

“Ya. Tapi kamu aman sekarang, Nona. Aku sudah mengusirnya. Dia tidak akan menyentuhmu.”

Cassie terdiam sesaat. “Terima kasih ... Blake. Kamu selalu ada saat aku butuh.”

Blake tersenyum tipis. “Itu memang tugasku, Nona.”

Cassie menggenggam selimutnya.

“Tapi, siapa yang menyuruhmu? Aku ingin tahu siapa yang begitu peduli padaku sampai mengirim pengawal pribadi sepertimu?”

Blake terdiam. Dia menunduk, menimbang-nimbang jawabannya.

Namun akhirnya pengawal itu berkata pelan,

“Seseorang yang percaya kamu pantas dilindungi, Nona. Dan Beliau akan terus melindungimu, meski kamu tak pernah tahu namanya.”

Cassie memejamkan mata. Air mata menetes di sudut matanya, entah karena rasa haru atau ketakutan yang masih tersisa.

Di luar, angin malam berhembus pelan.

Dan di kejauhan, Prof. Charles, yang duduk sendiri di ruang kerja rumah sakit lantai atas, memandang ke arah lampu kamar rawat Cassie yang masih menyala.

Dalam hatinya, dia tahu ini belum berakhir. Jika Alan bisa bebas sekali, maka pria itu bisa mencoba lagi mencelakakan Cassie.

Dan Charles bersumpah dia tidak akan membiarkan itu terjadi.

Keesokan harinya.

Langit London siang itu tertutup awan kelabu, namun udara di ruang rawat Cassie terasa hangat. Jendela terbuka sedikit, membiarkan angin sepoi-sepoi menyelinap ke dalam, menggerakkan tirai putih yang menggantung tenang. Cassie duduk bersandar di tempat tidur, mengenakan piyama rumah sakit berwarna biru muda. Pucat di wajahnya mulai memudar.

Ketika pintu diketuk pelan, Cassie mengangkat wajah.

“Masuk,” ujarnya pelan.

Pintu terbuka, dan muncullah Prof. Charles, mengenakan mantel panjang abu-abu dan syal gelap. Di tangan kirinya, dia membawa sekotak pizza hangat, dan di tangan kanannya dua cup minuman cokelat panas dalam kantong kertas.

“Selamat siang, Cassie,” sapa Charles dengan senyum hangat.

Cassie langsung terkejut, tapi senyumnya mengembang.

“Prof Charles? Saya tidak menyangka Anda datang.”

Charles mendekat, meletakkan pizza dan minuman di meja kecil samping tempat tidur. “Tentu saja saya datang. Saya dengar dari pihak kampus bahwa kamu dirawat. Kamu mahasiswa saya, Cassie. Saya tentunya sangat peduli.”

Cassie tersenyum lembut.

“Terima kasih, Prof. Anda jauh-jauh datang hanya untuk menjenguk saya?”

Charles duduk di kursi di sisi tempat tidur, melepas syalnya dan meletakkannya di pangkuannya.

Dia pun menunjuk kotak pizza.

“Bukan hanya menjenguk. Saya tahu makanan rumah sakit tidak enak. Jadi saya pikir, kamu tidak akan menolak pepperoni ekstra keju dan cokelat panas favorit mahasiswi cantik.”

Cassie terkekeh kecil. “He-he-he. Wah, Anda tahu saya suka cokelat panas?”

“Dosen harus peka pada mahasiswinya, bukan?” ujar Charles sambil mengedip singkat, membuat Cassie tertawa pelan.

“He-he-he! Anda selalu so sweet, Prof.”

Cassie lalu membuka kotak pizza dan memotong satu bagian. Aromanya langsung menyebar ke seluruh ruangan.

“Saya sangat menghargai ini, Prof. Tapi, saya sungguh minta maaf kalau kehadiran saya di bar malam itu membuat kampus malu.”

Charles mengangkat alis.

“Jangan berpikir seperti itu, Cassie. Kamu bekerja part-time untuk kebutuhanmu, dan kamu tidak melanggar hukum. Kamu mahasiswi yang rajin dan cerdas. Bahkan kamu adalah salah satu penerima beasiswa terbaik.”

Cassie menunduk, wajahnya sedikit tersipu. “Saya beruntung mendapat beasiswa itu, Prof. Tanpa itu, saya mungkin tak bisa lanjut kuliah di kota ini.”

Charles menatapnya lama, namun dia menahan diri.

Beasiswa itu adalah dari tangannya sendiri. Charles yang diam-diam mencantumkan nama Cassie sebagai prioritas utama di yayasan fiktif yang dirinya dirikan. Tapi tak satupun orang, termasuk Cassie, tahu akan hal itu.

“Keberuntungan berpihak pada orang yang pantas,” ucap Charles tenang.

“Kamu berhak mendapat semua itu, Cassie. Bahkan lebih.”

Cassie mengangkat pandangan, matanya berbinar.

“Prof Charles, Anda selalu begitu mendukung pendidikan saya.

Saya berterima kasih sungguh-sungguh kepada Anda.”

Profesor Charles tersenyum, kemudian mengambil satu gelas cokelat panas dan memberikannya kepada Cassie.

“Minumlah, masih hangat.”

Cassie menerimanya. Uap dari cokelat panas itu menyentuh wajahnya. Dia memejamkan mata sejenak dan menghirup aromanya.

“Ini terasa seperti pelukan,” ujarnya sambil tersenyum.

“Rasa manisnya sungguh menenangkan.”

“He-he-he.”

Charles tertawa pelan.

“Itu memang tujuannya, Cassie.”

Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman. Sesekali, Cassie menggigit pizzanya, sementara Charles meminum cokelat panasnya. Suasana ruangan jadi hangat oleh percakapan ringan.

“Prof,” ucap Cassie tiba-tiba.

“Anda yakin saya bisa lulus tepat waktu? Setelah kejadian ini, saya merasa waktu saya akan tersita oleh pemulihan.”

Charles menatapnya serius.

“Cassie, kamu sudah sangat jauh melangkah. Aku yakin kamu akan mengejar semua yang tertinggal. Jika kamu butuh bimbingan tambahan, aku bersedia membantumu.”

Cassie terdiam, hatinya hangat.

“Anda seperti malaikat pelindung bagiku, Prof.”

Charles tertawa.

“Ha-ha-ha. Itu terlalu berlebihan. Aku hanya seorang dosen yang ingin melihat mahasiswinya berhasil.”

“Prof, aku merindukanmu. Sungguh aku tak bisa menahan perasaan ini!” ujar Cassie tiba-tiba.

Gadis itu dengan berani menarik Charles lebih dekat kepadanya dia atas ranjang.

“Aku juga Cassie!” Lalu tanpa Aba-aba. Keduanya terlibat ciuman bibir yang sangat panas.

Lalu dengan beraninya, Charles membuka kancing piyama Cassie, dan tangannya mulai menyelinap masuk ke dalam baju gadis itu dan meremas kedua bukit kembarnya dan memainkan pucuk pink kecoklatan itu.

“Ah, ssshh, Prof! Aku sungguh tak tahan!” desah Cassie.

Saat lidah sang profesor menjilat pucuk bukit kembarnya dan menyedotnya dalam-dalam. Kedua jari Charles juga ikut keluar masuk ke dalam gua sempit milik Cassie. Yang ritmenya semakin lama menjadi sangat cepat.

“Akh!” Cassie mendapatkan pelepasannya.

Lalu dengan semakin berani. Wajah Profesor Charles berada di antara paha Cassie dan melakukan permainan lidah yang begitu lihai.

Sementara kedua tangannya sibuk meremas dua aset kembar milik sang gadis yang menjulang tinggi.

“Akh.” Cassie kembali mendapatkan pelepasannya.

Lalu gadis itu pun memainkan alat tempur sang dosen dengan tangannya, sampai Profesor Charles juga mencapai puncak kenikmatan.

Padahal gadis itu ingin melakukan lebih. Tapi Profesor Charles melarangnya.

“Kamu masih belum sepenuhnya pulih, Cassie.”

Dia pun hanya bisa menuruti apa yang dikatakan sang dosen.

“Aku mencintaimu, Profesor Charles!” ujar Cassie tiba-tiba.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GODAAN SANG PROFESOR   32. Trento dan Pesonanya

    Pagi yang hangat.Cahaya matahari mulai menembus tirai tipis kamar mereka di Lecce. Cassie terbangun lebih dulu, menatap Charles yang masih tertidur pulas, bibir sedikit terbuka, rambutnya acak. Cassie terkikik kecil.“Charles bangun, Darling. Kita mau ke Trento hari ini,” bisik Cassie sambil mengusap pipi suaminya.Charles menggumam. “Trento … Alpen … pegunungan, dingin rasanya.”Cassie tertawa pelan. “Kamu pasti akan suka. Trento kota cantik, seperti di negeri dongeng. Ada kastil, Alpen, dan strudel.”Charles membuka sebelah matanya. “Ada strudel? Okay, aku ikut.”Cassie mengangguk. “Tentu saja ada strudel. Kita kan mau ke daerah yang dekat sama Austria.”Charles menguap panjang. “Baiklah. Demi strudel, aku bangun.”Cassie mencubit pinggang Charles. “Bukan cuma strudel, Sayang. Pegunungan Alpen itu luar biasa. Udara dingin, salju di puncak, dan Kota Tua Trento penuh warna pastel.”Charles mengusap wajahnya. “Baik, baik. Aku pasrah.”Mereka naik kereta pagi, menempuh perjalanan panja

  • GODAAN SANG PROFESOR   31. Perjalanan Ke Lecce

    Keesokan harinya.Mentari Modena mulai mengintip malu-malu di balik tirai jendela kamar hotel. Suasana kamar masih terasa hangat, sisa keakraban semalam. Cassie terbangun duluan, rambutnya sedikit acak, masih mengenakan tanktop tipis. Dia menatap Charles yang tertidur lelap, satu tangan masih melingkar di pinggangnya.Cassie tersenyum, lalu membelai rambut suaminya. “Hey, Baby bangun.”Charles menggumam, matanya setengah terbuka. “Cassie … apa masih gelap?”Cassie tertawa pelan. “Charles, sekarang sudah jam tujuh. Kita harus siap-siap ke Lecce.”Charles mengerang. “Lecce … Florence of the South, katanya.”Cassie menepuk dadanya pelan. “Betul. Aku tidak mau melewatkan kota itu. Baroque architecture, Baby!”Charles terkekeh, masih setengah ngantuk. “Aku butuh baroque coffee.”Cassie mendaratkan ciuman cepat di bibir Charles. “Nanti kita cari espresso. Cepat mandi.”Charles menatap Cassie. “Mandi bareng?” tanyanya dengan nada nakal.Cassie pura-pura melotot. “Charles! Kita bisa ketinggal

  • GODAAN SANG PROFESOR   30. Terbalut Kehangatan Malam

    Cassie memeluk suaminya. “Aku bahagia hari ini. Ferrari, balsamic vinegar, dan kamu.”Charles mengecup kening istrinya. “Aku juga bahagia. Asalkan akhirnya kita pulang ke hotel dan berduaan denganmu.”“Ha-ha-ha.Cassie tertawa. “Kamu tak pernah bosan, ya?”Charles membisik di telinganya. “Bosanku hanya kalau kamu tidak di sampingku.”Cassie tersipu, menatap suaminya lama. “Aku juga. Tidak ada tempat yang indah tanpa kamu.”Malam pun menuruni kota Modena. Cassie dan Charles berjalan bergandengan, botol balsamic vinegar di tangan Cassie, sementara Charles menatap istrinya dengan penuh cinta. Modena menambah satu bab lagi dalam kisah bulan madu keduanya, sebuah kota yang harum dengan kecepatan Ferrari dan rasa manis asam balsamic, sama persis seperti cinta mereka yang kadang mengila, lembut, namun selalu berkesan.Malam sudah turun sempurna ketika Cassie dan Charles kembali ke hotel. Udara di luar sejuk, beraroma manis balsamic vinegar yang masih melekat di indera mereka. Begitu ti

  • GODAAN SANG PROFESOR   29. Lebih Sexy Dari Ferarri

    Cahaya matahari lembut menembus tirai tipis kamar hotel mereka di Parma. Cassie terbangun lebih dulu, masih mengenakan kaus longgar milik Charles. Dia menoleh, mendapati suaminya terlelap, rambut sedikit acak, bibir sedikit terbuka. Cassie pun tersenyum.“Bagaimana mungkin tidak aku jatuh cinta terus denganmu, Darling?” gumamnya pelan sambil mengusap rambut suaminya.Charles bergumam dalam tidur.“Cassie, keju .…”Cassie menahan tawa. “Bahkan dalam tidurmu, kamu masih memikirkan keju.”Charles membuka mata perlahan.“Hmm, keju dan kamu.”Cassie mencubit hidung Charles.“Bangun, sleepyhead. Hari ini kita akan ke Modena!”Charles memeluk Cassie. “Bolehkah kita bolos sehari untuk jalan-jalan? Tidur di hotel saja.”Cassie menepuk dada suaminya pelan. “Tidak boleh. Modena itu rumah mewah Ferrari dan balsamic vinegar asli. Aku nggak akan melewatkan itu!”Charles menghela napas panjang. “Baiklah. Aku pasrah padamu, tour guide-ku.”Mereka pun mandi, berkemas, lalu turun untuk sarapan. Cassi

  • GODAAN SANG PROFESOR   28. Romantisme Cassie Dan Charles Terus Berlanjut

    Mentari pagi di Pisa perlahan muncul dari balik atap-atap bata merah. Udara masih sejuk ketika Cassie membuka mata. Charles masih terlelap di sebelahnya, tangannya melingkari pinggang istrinya. Cassie menatap wajah suaminya lama, lalu tersenyum tipis sambil membelai rambut Charles. “Sayang, bangun. Hari ini kita harus berangkat lagi,” bisik Cassie lembut. Charles hanya menggumam. “Nggak mau. Aku masih mau tidur.” “He-he-he.” Cassie tertawa pelan. “Kalau kamu tidur terus, kita nggak jadi ke Parma.” Charles membuka sebelah mata, mendesah. “Parma? Yang terkenal dengan keju itu?” Cassie mengangguk. “Keju premium tentunya. Aku sudah lama sekali mau ke sana.” Charles memeluk Cassie lebih erat. “Aku lebih suka makan kamu saja.” Cassie memukul dadanya pelan. “Nakal! Ayo bangun.” Setelah mandi dan berkemas, mereka check-out dari hotel. Kereta menuju Parma berangkat pukul sepuluh pagi. Sambil berjalan ke stasiun, Cassie terus memeriksa ponselnya. “Charles, tahu ngg

  • GODAAN SANG PROFESOR   27. Menara Pisa Dengan Segala Pesonanya

    Mentari pagi menembus tirai hotel di Como, membangunkan Cassie lebih dulu. Dia mengerjapkan mata, lalu menoleh ke sisi ranjang. Charles masih terlelap, napasnya teratur, satu lengan tergeletak di perut istrinya. Cassie tersenyum, membelai rambut suaminya perlahan.“Bangun, sleepyhead,” bisik Cassie.Charles mengerang pelan, menutup wajah dengan bantal. “Masih gelap.”“Hi-hi-hi.”Cassie terkikik. “Sudah terang. Hari ini kita harus berangkat pagi.”Charles mengintip Cassie dari balik bantal. “Hari ini kita ke mana, Darling?”Cassie meraih ponsel, menunjukkannya ke wajah Charles. “Pisa.”Charles mengangkat sebelah alis. “Menara miring, huh?”Cassie menepuk dadanya. “Itu lebih dari sekadar menara miring. Itu ikon dunia.”Charles menghela napas. “Baiklah. Pisa, here we come.”Setelah mandi dan sarapan, mereka check-out dari hotel dan naik kereta menuju Pisa. Sepanjang perjalanan, Cassie terus bersandar di bahu Charles sambil membaca informasi tentang kota itu.“Charles, kamu tahu ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status