Home / Romansa / GODAAN SANG PROFESOR / 5. Rencana Jahat Alan

Share

5. Rencana Jahat Alan

last update publish date: 2026-07-24 14:05:42

Sementara itu, Cassie baru saja tiba di halte bus, menunggu kendaraan menuju apartemennya. Dia tidak tahu bahwa seorang pria bertubuh tegap dalam setelan hitam sedang mengamatinya dari kejauhan. Dialah Blake, orang suruhan Profesor Charles.

Melalui alat komunikasi kecil di telinganya, Blake berbicara pelan.

“Target terlihat aman. Bergerak menuju jalur bus. Dengan jarak sekitar sepuluh meter.”

Blake berjalan santai, seolah-olah hanya seorang pejalan kaki biasa. Tapi matanya awas, memperhatikan setiap orang yang melintasi Cassie.

Dia bahkan melihat Alan sempat muncul di sudut jalan, namun segera menghilang saat melihat Blake mendekat.

“Ancaman menjauh. Akan terus dipantau,” gumam Blake sambil mengikuti dari kejauhan.

Malam pun tiba. Di apartemennya, Cassie merebahkan diri di tempat tidur, masih berpikir tentang Charles. Matanya menatap langit-langit.

"Aku tahu ada yang aneh tentang Prof. Charles," bisiknya.

"Tapi kenapa aku tak bisa berhenti memikirkannya?"

Cassie menatap ponselnya, membuka pesan singkat dari Charles yang baru masuk.

“Sudah sampai rumah? Hati-hati dan jangan lupa makan malam. Charles.”

Cassie tersenyum tipis. “Manis banget sih dia!”

Namun gadis itu tak tahu, di luar jendela apartemennya, Blake masih berjaga. Menyamar sebagai pria yang sedang duduk di bangku taman seberang gedung.

Di sisi lain kota, Alan membanting kursinya ke lantai. Dia tahu dirinya diikuti.

“Jadi, kamu benar-benar mengerahkan pengawal, Charles?” desisnya.

“Kalau itu perang yang kamu mau, aku siap!”

Alan membuka laptop dan memunculkan rekaman-rekaman Cassie dan Charles yang sepertinya memiliki kesempatan emosional yang berbeda antara dosen dan mahasiswi. Ternyata Alan diam-diam mengamati gerak-gerik keduanya selama ini.

“Satu kesalahan saja darimu, Charles, dan semuanya akan ku ungkap! Ha-ha-ha!” serunya sambil tertawa sinis.

Di kediamannya, Charles berdiri di balkon sambil menatap bintang-bintang yang mulai bermunculan. Tangannya menggenggam segelas wine merah, namun pikirannya jauh dari kenikmatan.

“Cassie ...” gumamnya.

“Aku akan melindungimu, apapun yang terjadi.”

Di belakangnya, Oma Evelyn mendekat dan berkata lembut, “Charles, kamu bisa menyembunyikan siapa dirimu pada dunia. Tapi jangan pernah sembunyikan siapa dirimu pada orang yang kamu cintai.”

Charles memejamkan mata. Dia tahu, cepat atau lambat, rahasianya harus terungkap. Dan ketika itu tiba, pria dewasa itu hanya berharap Cassie bisa menerima semua kebenaran.

Lalu sang Oma berkata lagi.

“Jika ada waktu, bawalah gadis itu berkunjung ke rumah kita. Oma ingin mengenalnya lebih jauh.”

“Belum saatnya, Oma,” ucap Charles dingin.

“Charles umurmu semakin tua. Kamu sudah menemukan perempuan yang kamu sangat cintai. Kamu tunggu apalagi? Pikirkan yang Oma katakan,” seru sang nenek lalu meninggalkan cucunya sendiri.

Malam mulai menjelang di Kota London. Angin dingin meniup tirai tipis apartemen Cassie yang sedang rebahan di sofa, mengenakan piyama hangat sambil menonton film klasik favoritnya. Tubuhnya sedikit lelah setelah hari panjang di kampus, namun wajahnya terlihat tenang.

Tiba-tiba, ponselnya berdering.

“Suzy,” gumam Cassie melihat nama teman kerjanya di layar ponsel. Dia segera mengangkat panggilan telepon itu.

“Halo, Suzy?”

“Cass, maaf banget ganggu kamu malam-malam. Aku sakit perut parah. Kayaknya nggak bisa masuk kerja malam ini.” Suara Suzy terdengar lemah.

“Manajer lagi butuh satu orang buat jaga ruang VIP. Bisa nggak kamu gantikan aku?”

Cassie berpikir sejenak. Dia sebenarnya ingin istirahat, tapi Suzy adalah sahabat baiknya.

“Ya sudah, aku bantuin. Kamu istirahat aja ya, jangan dipaksain.”

Suzy terdengar lega. “Thanks, Cassie. Kamu emang penyelamatku!”

Setelah menutup telepon, Cassie berdiri, menuju kamar mandi untuk mandi cepat. Dia segera mengenakan pakaian kerja bar-nya, kemeja hitam pas badan, rok mini formal, dan apron kecil bertuliskan logo bar tempat dia bekerja paruh waktu.

Beberapa menit kemudian, Cassie berjalan cepat menembus dinginnya malam menuju bar. Dia tidak tahu jika Alan, pria yang pernah dirinya tolak mentah-mentah, mengikutinya diam-diam dari kejauhan. Mengenakan hoodie gelap dan topi, Alan tersenyum licik.

“Cassie ternyata ke bar, ya?” bisiknya.

“Bagus! malam ini aku akan punya waktu berdua denganmu!” seru Alan penuh kelicikan.

Sesampainya di bar, Cassie langsung menyapa rekan kerja dan menyampaikan bahwa dia menggantikan Suzy. Manajer bar, seorang pria paruh baya bernama Mr. Redford, menghampirinya.

“Cassie, bagus kamu datang. Ada pelanggan VIP yang ingin dilayani langsung malam ini. Ambil dua gelas wine merah terbaik, antar ke ruang VIP tiga,” katanya sambil menyodorkan beberapa lembar uang dollar sebagai tip untuknya.

Cassie mengernyit sedikit.

“Tamunya sangat istimewa ya, Bos, sampai aku dikasi uang duluan?”

Mr. Redford tertawa. “Ha-ha-ha. Ya, bisa dikatakan begitu. Orang itu pelanggan istimewa. Mereka suka dilayani oleh yang ramah sepertimu. Tenang aja, cuma temani minum.”

Cassie mengangguk, lalu mengambil nampan berisi dua gelas wine dan menuju tangga ke ruang VIP. Lampu agak redup dan suasana ruangan tampak mewah, berisi sofa kulit dan meja kaca. Cassie mengetuk pintu VIP tiga lalu membukanya perlahan.

Namun langkahnya langsung terhenti.

Wajahnya berubah pucat saat melihat siapa yang duduk di dalam ruangan.

“Alan?”

Pria itu menoleh, tersenyum penuh kemenangan.

“Cassie, akhirnya kita bisa mengobrol tanpa gangguan,” ucapnya tenang.

Cassie langsung mundur.

“Aku, aku rasa ini salah. Aku nggak tahu kamu yang ada di sini.”

Cassie berbalik hendak keluar, tapi gagangnya tak bergerak. Dia mencoba memutar lagi. Terkunci. Matanya menatap kaca pintu, Mr. Redford ada di luar dan sang bos pura-pura tak melihatnya.

Cassie mulai panik.

“Mr. Redford! Buka pintunya! Ini salah!”

Namun tidak ada respon.

Alan berdiri perlahan dan berkata dengan tenang,

“Tenang, Cassie. Aku cuma mau kamu duduk dan minum bersamaku. Itu saja. Aku janji, tak ada hal lain.”

Cassie menatapnya tajam.

“Kenapa kamu melakukan ini, Alan?”

“Karena kamu selalu menghindariku,” jawab Alan, mendekat.

“Kamu pikir kamu terlalu baik untukku?”

Cassie melangkah mundur. Sang gadis pun sadar ini perangkap. Tapi dia harus tetap tenang.

“Kalau benar hanya mau bicara, aku duduk. Tapi hanya satu gelas saja. Setelah itu aku pergi.”

Alan tersenyum lebar. “Itu sudah lebih dari cukup.”

Cassie duduk, mengambil gelas wine. Alan pun bersulang. Mereka saling menyentuhkan gelas.

“Untuk pertemuan yang tidak disengaja.”

Cassie hanya mengangkat sedikit gelasnya dan meminum seteguk. Tapi segera, dia merasa aneh. Pusing. Kepalanya berat. Napasnya mulai tak beraturan.

Alan menatapnya puas. “Kamu cantik sekali malam ini, Sayang.”

Cassie mengerjapkan mata. Dunia di sekitarnya mulai buram. Tapi di sela-sela kesadarannya yang menurun, dia dapat mendengar bunyi dentingan kecil dari alat komunikasi di telinga seseorang di luar pintu.

Tak lama kemudian, pintu VIP tiga dibuka dengan paksa.

Seorang pria tinggi berbadan tegap menerobos masuk.

“Cassie!” serunya.

Itu Blake.

Alan terkejut,

“Siapa kamu?”

Blake tak menjawab. Dia segera menarik Cassie dari sofa dan memapahnya keluar ruangan.

“Jangan sentuh dia!” Alan marah dan mencoba menahan Blake, namun dengan satu gerakan cepat, Blake menjatuhkannya ke lantai.

“Diam di situ kalau tidak mau ditangkap,” ucap Blake dengan mata tajam.

Di luar, beberapa petugas keamanan menyusul. Blake memberi isyarat kepada salah satunya.

“Hubungi polisi. Siapkan ambulans juga. Wanita ini diberi zat berbahaya.”

Alan berteriak,

“Kalian tak punya bukti!”

Blake menoleh tajam. “Kamera bar ini aktif semua. Dan saya yakin zat yang kamu masukkan ke minuman Cassie bisa diuji.”

Seketika ada raut ketakutan di wajah Alan. Dia pun segera menelepon seseorang.

Cassie dibawa ke rumah sakit malam itu. Setelah diperiksa, dokter menyatakan kondisinya stabil, hanya butuh istirahat. Blake duduk di ruang tunggu rumah sakit, lalu menelpon seseorang.

“Tuan Charles, Nona Cassie aman. Saya datang tepat waktu.”

Di ujung sana, suara Charles terdengar lega. “Terima kasih, Blake. Jangan biarkan dia sendirian malam ini.”

Keesokan harinya, Cassie terbangun di rumah sakit. Di samping tempat tidurnya, ada sepucuk surat dari Blake.

"Nona Cassie, maaf karena harus merahasiakan ini. Aku ditugaskan oleh seseorang yang sangat peduli padamu. Seseorang yang tidak ingin kamu tahu dia siapa setidaknya belum sekarang. Tapi percayalah, kamu sangat berarti bagi dirinya."

Cassie menatap langit-langit, mencoba mencerna semuanya. Dalam hati kecilnya, dia mulai menebak-nebak, “Siapa sebenarnya sosok di balik perlindungan ini?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GODAAN SANG PROFESOR   32. Trento dan Pesonanya

    Pagi yang hangat.Cahaya matahari mulai menembus tirai tipis kamar mereka di Lecce. Cassie terbangun lebih dulu, menatap Charles yang masih tertidur pulas, bibir sedikit terbuka, rambutnya acak. Cassie terkikik kecil.“Charles bangun, Darling. Kita mau ke Trento hari ini,” bisik Cassie sambil mengusap pipi suaminya.Charles menggumam. “Trento … Alpen … pegunungan, dingin rasanya.”Cassie tertawa pelan. “Kamu pasti akan suka. Trento kota cantik, seperti di negeri dongeng. Ada kastil, Alpen, dan strudel.”Charles membuka sebelah matanya. “Ada strudel? Okay, aku ikut.”Cassie mengangguk. “Tentu saja ada strudel. Kita kan mau ke daerah yang dekat sama Austria.”Charles menguap panjang. “Baiklah. Demi strudel, aku bangun.”Cassie mencubit pinggang Charles. “Bukan cuma strudel, Sayang. Pegunungan Alpen itu luar biasa. Udara dingin, salju di puncak, dan Kota Tua Trento penuh warna pastel.”Charles mengusap wajahnya. “Baik, baik. Aku pasrah.”Mereka naik kereta pagi, menempuh perjalanan panja

  • GODAAN SANG PROFESOR   31. Perjalanan Ke Lecce

    Keesokan harinya.Mentari Modena mulai mengintip malu-malu di balik tirai jendela kamar hotel. Suasana kamar masih terasa hangat, sisa keakraban semalam. Cassie terbangun duluan, rambutnya sedikit acak, masih mengenakan tanktop tipis. Dia menatap Charles yang tertidur lelap, satu tangan masih melingkar di pinggangnya.Cassie tersenyum, lalu membelai rambut suaminya. “Hey, Baby bangun.”Charles menggumam, matanya setengah terbuka. “Cassie … apa masih gelap?”Cassie tertawa pelan. “Charles, sekarang sudah jam tujuh. Kita harus siap-siap ke Lecce.”Charles mengerang. “Lecce … Florence of the South, katanya.”Cassie menepuk dadanya pelan. “Betul. Aku tidak mau melewatkan kota itu. Baroque architecture, Baby!”Charles terkekeh, masih setengah ngantuk. “Aku butuh baroque coffee.”Cassie mendaratkan ciuman cepat di bibir Charles. “Nanti kita cari espresso. Cepat mandi.”Charles menatap Cassie. “Mandi bareng?” tanyanya dengan nada nakal.Cassie pura-pura melotot. “Charles! Kita bisa ketinggal

  • GODAAN SANG PROFESOR   30. Terbalut Kehangatan Malam

    Cassie memeluk suaminya. “Aku bahagia hari ini. Ferrari, balsamic vinegar, dan kamu.”Charles mengecup kening istrinya. “Aku juga bahagia. Asalkan akhirnya kita pulang ke hotel dan berduaan denganmu.”“Ha-ha-ha.Cassie tertawa. “Kamu tak pernah bosan, ya?”Charles membisik di telinganya. “Bosanku hanya kalau kamu tidak di sampingku.”Cassie tersipu, menatap suaminya lama. “Aku juga. Tidak ada tempat yang indah tanpa kamu.”Malam pun menuruni kota Modena. Cassie dan Charles berjalan bergandengan, botol balsamic vinegar di tangan Cassie, sementara Charles menatap istrinya dengan penuh cinta. Modena menambah satu bab lagi dalam kisah bulan madu keduanya, sebuah kota yang harum dengan kecepatan Ferrari dan rasa manis asam balsamic, sama persis seperti cinta mereka yang kadang mengila, lembut, namun selalu berkesan.Malam sudah turun sempurna ketika Cassie dan Charles kembali ke hotel. Udara di luar sejuk, beraroma manis balsamic vinegar yang masih melekat di indera mereka. Begitu ti

  • GODAAN SANG PROFESOR   29. Lebih Sexy Dari Ferarri

    Cahaya matahari lembut menembus tirai tipis kamar hotel mereka di Parma. Cassie terbangun lebih dulu, masih mengenakan kaus longgar milik Charles. Dia menoleh, mendapati suaminya terlelap, rambut sedikit acak, bibir sedikit terbuka. Cassie pun tersenyum.“Bagaimana mungkin tidak aku jatuh cinta terus denganmu, Darling?” gumamnya pelan sambil mengusap rambut suaminya.Charles bergumam dalam tidur.“Cassie, keju .…”Cassie menahan tawa. “Bahkan dalam tidurmu, kamu masih memikirkan keju.”Charles membuka mata perlahan.“Hmm, keju dan kamu.”Cassie mencubit hidung Charles.“Bangun, sleepyhead. Hari ini kita akan ke Modena!”Charles memeluk Cassie. “Bolehkah kita bolos sehari untuk jalan-jalan? Tidur di hotel saja.”Cassie menepuk dada suaminya pelan. “Tidak boleh. Modena itu rumah mewah Ferrari dan balsamic vinegar asli. Aku nggak akan melewatkan itu!”Charles menghela napas panjang. “Baiklah. Aku pasrah padamu, tour guide-ku.”Mereka pun mandi, berkemas, lalu turun untuk sarapan. Cassi

  • GODAAN SANG PROFESOR   28. Romantisme Cassie Dan Charles Terus Berlanjut

    Mentari pagi di Pisa perlahan muncul dari balik atap-atap bata merah. Udara masih sejuk ketika Cassie membuka mata. Charles masih terlelap di sebelahnya, tangannya melingkari pinggang istrinya. Cassie menatap wajah suaminya lama, lalu tersenyum tipis sambil membelai rambut Charles. “Sayang, bangun. Hari ini kita harus berangkat lagi,” bisik Cassie lembut. Charles hanya menggumam. “Nggak mau. Aku masih mau tidur.” “He-he-he.” Cassie tertawa pelan. “Kalau kamu tidur terus, kita nggak jadi ke Parma.” Charles membuka sebelah mata, mendesah. “Parma? Yang terkenal dengan keju itu?” Cassie mengangguk. “Keju premium tentunya. Aku sudah lama sekali mau ke sana.” Charles memeluk Cassie lebih erat. “Aku lebih suka makan kamu saja.” Cassie memukul dadanya pelan. “Nakal! Ayo bangun.” Setelah mandi dan berkemas, mereka check-out dari hotel. Kereta menuju Parma berangkat pukul sepuluh pagi. Sambil berjalan ke stasiun, Cassie terus memeriksa ponselnya. “Charles, tahu ngg

  • GODAAN SANG PROFESOR   27. Menara Pisa Dengan Segala Pesonanya

    Mentari pagi menembus tirai hotel di Como, membangunkan Cassie lebih dulu. Dia mengerjapkan mata, lalu menoleh ke sisi ranjang. Charles masih terlelap, napasnya teratur, satu lengan tergeletak di perut istrinya. Cassie tersenyum, membelai rambut suaminya perlahan.“Bangun, sleepyhead,” bisik Cassie.Charles mengerang pelan, menutup wajah dengan bantal. “Masih gelap.”“Hi-hi-hi.”Cassie terkikik. “Sudah terang. Hari ini kita harus berangkat pagi.”Charles mengintip Cassie dari balik bantal. “Hari ini kita ke mana, Darling?”Cassie meraih ponsel, menunjukkannya ke wajah Charles. “Pisa.”Charles mengangkat sebelah alis. “Menara miring, huh?”Cassie menepuk dadanya. “Itu lebih dari sekadar menara miring. Itu ikon dunia.”Charles menghela napas. “Baiklah. Pisa, here we come.”Setelah mandi dan sarapan, mereka check-out dari hotel dan naik kereta menuju Pisa. Sepanjang perjalanan, Cassie terus bersandar di bahu Charles sambil membaca informasi tentang kota itu.“Charles, kamu tahu ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status