Share

Bab 69 Rey Kembali

Author: Alya Tan
last update publish date: 2026-04-11 23:55:45

Baru dua hari sejak pertemuan canggung itu, aku mulai merasa ritme kerjaku di kios Yura kembali stabil. Aku sudah lebih mahir menangani floral foam dan mulai paham cara mengombinasikan tekstur daun agar rangkaian tidak terlihat membosankan. Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah mobil yang sangat kukenali—mobil yang sama dengan yang dibawa pria itu tempo hari—kembali terparkir tepat di depan kios.

Jantungku berdegup kencang. Jangan Rey lagi, tolong, bisikku dalam hati.

Namun, pintu mobil t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 74 Bandung, aku datang...

    Malam itu, kamar di Bogor terasa terlalu sunyi bagi pikiranku yang riuh. Setelah kejadian dengan Rey dan Widi yang menguras energi, aku merasa perlu mendengar suara yang bisa menarikku kembali ke realitas. Aku meraih ponsel, menekan ikon panggilan video, dan tak lama kemudian, wajah ceria Poppy muncul di layar. Ia tampak sedang berada di sebuah kafe di Jepang, dengan latar belakang salju tipis yang mulai turun di luar jendela."Canna! Kok matamu bengkak lagi?" tanya Poppy tanpa basa-basi.Aku menarik napas panjang dan mulai menumpahkan segalanya. Aku bercerita tentang magangku di kios Yura yang awalnya begitu damai, tentang kemunculan Rey yang membawa nostalgia SMA, hingga amukan Widi yang membawa-bawa nama tengahku. Aku menangis lagi saat menceritakan bagaimana nama "Jolene" dijadikan senjata untuk melabeliku sebagai pelakor di kotaku sendiri.Poppy mendengarkan tanpa menyela. Matanya yang biasanya penuh jenaka kini tampak serius, sesekali ia mengangguk seolah sedang memproses setiap

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 73 Permintaan Maaf

    Pagi itu, Bogor diselimuti kabut tipis yang dingin, seolah ikut merasakan suasana hatiku yang membeku. Aku duduk di meja makan, hanya mengaduk-aduk bubur ayam buatan Ibu tanpa minat, ketika suara ketukan di pintu depan memecah keheningan. Jantungku mencelos. Aku punya firasat buruk tentang siapa yang berdiri di balik pintu itu.Ibu bergegas membukanya, dan suaranya yang ramah terdengar menyapa tamu tersebut. Namun, suasana berubah kaku ketika tamu itu menyebutkan namanya. Aku melangkah pelan menuju ruang tamu dan menemukan Rey berdiri di sana. Wajahnya tampak kusut, matanya merah seolah tidak tidur semalam."Canna, Bu... Maaf saya lancang datang sepagi ini," suara Rey bergetar.Ibu mempersilakannya duduk dengan sopan, meski aku bisa melihat gurat kebingungan di wajah Ibu. Kami duduk melingkar di ruang tamu yang sempit itu. Keheningan yang tercipta terasa sangat mencekik sebelum akhirnya Rey mulai bicara, menumpahkan segala kejujurannya di hadapan kami berdua."Saya ke sini untuk minta

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 72 Jolene

    Hari itu, langit Bogor tidak lagi terasa menyejukkan. Aroma bunga di kios Yura yang biasanya menjadi terapi bagiku, mendadak berubah menjadi bau yang menyesakkan dada. Setelah Widi pergi meninggalkan serapah dan hinaan yang menguliti harga diriku, aku berdiri di tengah kios dengan tubuh gemetar.Aku menatap Yura yang masih berusaha menenangkan napasnya setelah mengusir Widi. Dengan tangan yang masih dingin, aku mulai melepas apron cokelat tanah yang sebulan ini menjadi kebanggaanku."Can, kamu mau ke mana?" tanya Yura cemas, langkahnya mendekat padaku."Aku berhenti, Yur," kataku lirih. Suaraku hampir tidak keluar. "Terima kasih banyak untuk satu bulan ini. Kamu sudah mengajariku banyak hal, memberi aku tempat untuk bernapas. Tapi aku tidak bisa lanjut. Aku tidak ingin terlibat konflik lagi dengan siapa pun, terutama soal pria. Aku lelah, Yur. Aku benar-benar lelah."Yura mencoba menahanku, memohon agar aku tidak mengambil keputusan saat sedang emosi. Namun, keputusanku sudah bulat. A

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 71 Widi

    Ketenangan yang susah payah aku bangun di kios Yura hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Sore itu, udara Bogor yang biasanya sejuk mendadak terasa menyesakkan saat sebuah mobil merah menyala berhenti dengan kasar di depan kios. Seorang wanita turun dengan langkah menghentak, wajahnya penuh amarah yang disembunyikan di balik riasan tebal. Aku mengenali wajah itu. Widi. Kakak kelas yang enam tahun lalu memimpin perundungan terhadapku hanya karena Rey menyatakan perasaan padaku. Wajahnya tidak banyak berubah, masih menyimpan keangkuhan yang sama, namun kini guratan emosinya terlihat lebih meledak-ledak. "Jadi benar, si pemalu ini sudah kembali?" suara Widi melengking, memotong keheningan di antara aroma lili dan mawar. Yura yang sedang merangkai pesanan di sudut langsung berdiri tegak. "Widi? Ada apa ini? Datang-datang kok marah-marah?" Widi tidak memedulikan Yura. Matanya terkunci padaku, tajam seperti sembilu. "Kamu tahu tidak, Canna? Kamu baru saja menghancurkan hari u

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 70 Menata Ulang

    Sejak kepulangan Rey dengan rangkaian Hydrangea biru itu, suasana di kios bunga Yura mendadak berubah. Aroma lili dan mawar yang biasanya menenangkan, kini seolah bercampur dengan aura konspirasi yang digerakkan oleh sahabatku sendiri. Yura, yang biasanya fokus pada stok bunga dan laporan keuangan, kini punya hobi baru: menyelipkan nama Rey dalam setiap celah percakapan kami.Pagi itu, saat kami sedang memilah mawar putih untuk pesanan duka cita, Yura memulai "serangannya" dengan cara yang sangat halus."Can, kamu perhatikan tidak? Rey itu sejak ketemu kamu lagi, penampilannya jadi lebih rapi. Biasanya dia ke sini cuma pakai kaos oblong kumal kalau mau ambil pesanan Tante. Sekarang? Pakai polo, rambut disisir klimis, parfumnya saja sampai kecium dari ujung jalan," ujar Yura sambil memotong batang mawar dengan gerakan yang sengaja diperlambat.Aku hanya bergumam tidak jelas, pura-pura fokus membersihkan duri. "Mungkin dia memang lagi ada banyak pertemuan bisnis, Yur. Tidak ada hubungan

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 69 Rey Kembali

    Baru dua hari sejak pertemuan canggung itu, aku mulai merasa ritme kerjaku di kios Yura kembali stabil. Aku sudah lebih mahir menangani floral foam dan mulai paham cara mengombinasikan tekstur daun agar rangkaian tidak terlihat membosankan. Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah mobil yang sangat kukenali—mobil yang sama dengan yang dibawa pria itu tempo hari—kembali terparkir tepat di depan kios.Jantungku berdegup kencang. Jangan Rey lagi, tolong, bisikku dalam hati.Namun, pintu mobil terbuka dan sosok jangkung itu melangkah keluar. Kali ini ia tidak mengenakan kemeja flanel, melainkan kaus polo santai. Di tangannya, ia membawa buket wisuda yang aku rangkai dua hari lalu. Wajahnya tidak tampak marah, tapi terlihat... ragu."Yur? Canna?" Rey melangkah masuk, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.Yura, yang sedang sibuk memotong pita di pojok ruangan, mendongak. "Lho, Rey? Kok balik lagi? Ada yang salah sama bunganya?"Rey meletakkan buket itu di atas meja kayu. Aku bisa

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 57 Pelarian Terakhir

    Taksi yang membawaku meluncur membelah fajar Jakarta yang masih remang. Di luar, lampu-lampu jalanan mulai padam satu per satu, digantikan oleh semburat oranye di ufuk timur. Aku meminta sopir taksi untuk berhenti sejenak di sebuah kios pulsa yang baru saja buka di pinggir jalan raya. Dengan geraka

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 56 Kecurigaan

    Setiap detik yang berdetak di jam dinding kantorku terasa seperti hitungan mundur menuju ledakan yang akan menghancurkan duniaku. Aku duduk di balik meja kerja, menatap layar komputer yang buram oleh air mata yang kupaksa tidak jatuh. Di dalam laci terdalam tasku, amplop putih berisi tiket pesawat

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 48 Kecurigaan

    Setelah drama Minggu pagi di penthouse yang menguras emosi, Senin pagi di kantor PT Rich Karya Industri & Kontraktor terasa seperti pelarian yang dingin namun diperlukan. Aku sudah duduk di balik meja kerja kaku di depan ruangan Direktur Operasional sejak pukul 08.30. Sebagai sekretaris Arion, prof

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 47 Gencatan Senjata

    Cahaya matahari yang menyeruak masuk lewat celah gorden terasa seperti ejekan. Aku mengerang pelan, mencoba memalingkan wajah dari silau yang menusuk mata, namun gerakanku tertahan. Ada beban berat yang melingkar di pinggangku. Lengan kokoh, dengan urat-urat yang menonjol dan jam tangan mewah yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status