共有

Bab 69 Rey Kembali

作者: Alya Tan
last update 公開日: 2026-04-11 23:55:45

Baru dua hari sejak pertemuan canggung itu, aku mulai merasa ritme kerjaku di kios Yura kembali stabil. Aku sudah lebih mahir menangani floral foam dan mulai paham cara mengombinasikan tekstur daun agar rangkaian tidak terlihat membosankan. Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah mobil yang sangat kukenali—mobil yang sama dengan yang dibawa pria itu tempo hari—kembali terparkir tepat di depan kios.

Jantungku berdegup kencang. Jangan Rey lagi, tolong, bisikku dalam hati.

Namun, pintu mobil t
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 94 Hampir Khilaf

    Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse, menyapu lantai marmer dengan warna keemasan yang hangat. Aku mengerjapkan mata, merasakan beban berat namun nyaman di lenganku. Saat kesadaranku pulih sepenuhnya, aku menyadari bahwa aku masih berada dalam dekapan Arion. Aku melirik jam digital di nakas. Pukul delapan pagi. Aku tersentak kecil—aku bangun kesiangan. Biasanya, jam segini aku sudah sibuk membongkar stok bunga mawar di toko bersama Audrey. Namun, rasa panikku bukan karena pekerjaan, melainkan karena satu nama: Bik Mina. Pikiran itu menghantamku seketika. Bagaimana kalau Bik Mina sudah ada di dapur? Bagaimana kalau beliau melihatku keluar dari kamar utama ini bersama Arion? Meskipun Arion sudah bebas secara hukum, sisa-sisa rasa maluku sebagai mantan sekretaris sekaligus kekasih rahasia masih menghantui. Aku menoleh ke samping, menatap wajah Arion yang masih terlelap. Dia tidur dengan posisi yang sangat posesif—kepalanya bersandar di dadaku, tangannya

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 93 Kembali ke Pelukannya

    Malam semakin larut di penthouse, menyisakan sunyi yang hanya dipecah oleh dengung halus pendingin ruangan. Setelah percakapan panjang yang membongkar semua rahasia dua tahun terakhir, Arion bangkit dari sofa. Ia mengulurkan tangannya, membantuku berdiri dengan sangat hati-hati agar tidak membebani pergelangan kakiku yang masih dibalut perban. "Canna, tidurlah. Ini sudah hampir tengah malam," ucapnya lembut. Ia menuntunku menuju kamar utama, kamar yang dulu menjadi tempatku beristirahat saat masih bekerja di sini. "Semuanya masih sama, tidak ada yang aku ubah. Pakaianmu yang dulu kamu tinggalkan, semuanya masih tertata rapi di lemari." Aku berdiri di ambang pintu kamar, menatap ruangan yang terasa asing namun sangat familiar. Aroma room spray lavender yang kusukai masih tercium di sana. "Aku akan tidur di kamar sebelah," lanjut Arion. Ia mengusap kepalaku sebentar, memberikan tatapan yang menenangkan. "Istirahatlah dengan tenang. Tidak ada yang akan mengganggumu." Aku menganggu

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 92 Soal Perceraian

    Lampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela penthouse seolah menjadi saksi bisu atas kebenaran yang baru saja tumpah. Aku menyandarkan punggungku di sofa, membiarkan uap dari teh hangat yang baru saja Arion siapkan membelai wajahku. Pergelangan kakiku sudah tidak terlalu nyeri, namun hatiku justru terasa semakin berat setelah mendengar cerita perjuangannya selama aku menghilang. Arion menatapku dalam-dalam, tangannya masih setia berada di dekat kakiku, seolah memastikan aku tidak akan tiba-tiba menghilang kembali menjadi asap. "Kenapa harus dua tahun, Arion?" bisikku. "Kenapa prosesnya begitu lama dan berdarah?" Arion menghela napas panjang, gurat kelelahan yang selama ini ia sembunyikan kini terpampang nyata. "Wichita tidak semudah itu melepaskan statusnya sebagai menantu keluarga Richie, Canna. Dia tidak peduli padaku, tapi dia sangat peduli pada kekuasaan. Dan yang paling menyakitkan adalah... dia menggunakan Kimi sebagai senjata." Aku tersentak. "Kimi?" "Dia menunt

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 91 Pengakuan

    Suasana di penthouse itu terasa seperti waktu yang membeku. Setelah mangkuk ramen yang kosong disingkirkan, Arion masih duduk di lantai, bersandar pada sofa tepat di dekat kakiku yang sudah dibalut perban tipis. Keheningan ini tidak lagi mencekam, melainkan penuh dengan tanya yang menumpuk selama hampir dua tahun.Aku menarik napas panjang, menatap pantulan lampu kota dari jendela besar yang menghadap ke jalanan Sudirman. "Bagaimana kamu bisa menemukanku, Arion? Aku sudah melakukan segalanya. Aku mengganti namaku, aku pindah ke Bogor, lalu ke Bandung, dan saat kembali ke Jakarta pun, aku sangat berhati-hati. Bagaimana bisa kamu tahu soal Marigold Florist?"Arion terdiam sejenak. Ia mengambil ponselnya dari saku jas, lalu menunjukkan sebuah foto lama. Itu adalah foto manifes penerbangan palsu yang kubuat saat aku melarikan diri dulu."Awalnya, aku benar-benar kehilangan jejakmu, Canna," Arion memulai dengan suara rendah, seolah mengenang masa-masa tergelapnya. "Aku percaya pada tiket p

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 90 Kembali ke Penthouse

    Seluruh tenagaku seolah tersedot habis oleh pengakuan Arion. Tubuhku lemas, pikiranku buntu, dan pergelangan kakiku yang berdenyut nyeri membuatku tak punya daya untuk melawan saat Arion tiba-tiba mengangkat tubuhku. Ia menggendongku dengan protektif, seolah-olah aku adalah porselen yang nyaris hancur.Mobil Audi hitam itu mendadak sudah berada di sisi kami, seakan sang sopir memang selalu siap siaga dalam bayang-bayang. Begitu pintu terbuka, Arion membawaku masuk ke kursi belakang yang luas. Namun, ia tidak mendudukkanku di kursi sebelah. Ia justru mendudukkanku di pangkuannya, merangkul pinggangku dengan tangan yang gemetar halus, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku sejenak. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu dan detak jantungnya yang berpacu liar di dadaku."Arion, turunkan aku... aku bisa duduk sendiri," bisikku, mencoba mendorong bahunya yang kokoh."Diamlah, Canna. Sebentar saja. Biarkan aku memastikan kamu benar-benar di sini," suaranya serak, penuh dengan ketakutan

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 89 Pria yang Tak Ingin Dilupakan (Masa Kini)

    Satu setengah tahun menjalankan Marigold Florist telah mengubahku menjadi wanita yang tangguh. Aku sudah terbiasa dengan ritme Jakarta, bau tanah basah di pagi hari, dan peluh yang bercucuran saat merangkai dekorasi besar. Bagiku, toko ini adalah benteng pertahanan yang suci, tempat di mana nama "Canna Jolene" yang terluka telah terkubur dan digantikan oleh "Nara", sang perangkai bunga.Pagi itu, seorang pria dengan kemeja rapi masuk ke toko. Wajahnya asing, namun sikapnya sangat sopan. Ia memesan sebuah buket sebagai ungkapan permintaan maaf."Pria ini lagi, Kak," bisik Audrey saat aku mulai mengambil beberapa tangkai Tulip putih. "Dia datang setiap bulan, lho. Tapi biasanya Kakak lagi di gudang atau kirim pesanan, jadi aku yang terima."Aku tidak terlalu memikirkannya. Bagiku, dia hanyalah pelanggan setia lainnya. Aku merangkai buket itu dengan penuh perasaan—Tulip putih yang melambangkan kerendahan hati, baby's breath untuk ketulusan, dan dedaunan ruscus agar terlihat segar. Aku me

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 70 Menata Ulang

    Sejak kepulangan Rey dengan rangkaian Hydrangea biru itu, suasana di kios bunga Yura mendadak berubah. Aroma lili dan mawar yang biasanya menenangkan, kini seolah bercampur dengan aura konspirasi yang digerakkan oleh sahabatku sendiri. Yura, yang biasanya fokus pada stok bunga dan laporan keuangan,

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 68 Interogasi Yura

    Setelah Rey pergi dengan langkah yang sedikit lesu, aku mencoba kembali fokus pada tumpukan bunga mawar yang belum selesai kubersihkan durinya. Namun, jantungku masih berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Pertemuan tadi benar-benar di luar dugaanku. Bogorku yang tenang tiba-tiba terasa sepe

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 67 Pria dari Masa Lalu

    Setelah selesai merangkai buket mawar merah muda dan krisan putih yang menurutku adalah pencapaian terbesar minggu ini, aku mengambil ponsel. Aku mencari sudut cahaya yang pas di antara sela-sela atap kios Yura, lalu cekrek. Foto itu terlihat cantik. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, aku me

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab 66 Pelajaran Pertama

    Hari ini, tanganku yang biasanya luwes memegang pena dan mengetik dokumen resmi, terasa begitu kikuk. Di depanku, Yura sudah menyiapkan beberapa batang mawar merah muda, ranting eucalyptus, dan hamparan bunga krisan putih. Hari pertama magangku di kios Yura dimulai bukan dengan teori, melainkan lan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status