Masuk
Bab 1
"Berapa tarifmu?" Pria itu duduk di sofa kulit cream elegan di depannya tersaji wine dengan dua gelas cantik tertata rapi. Jas hitam menutupi tubuhnya yang atletis, tatapan mata tajam, mata bola coklat gelap yang dingin tanpa ekspresi. Alis tebal, rahang tegas dan keras. Wajahnya dihiasi jambang halus. Ruangan luas dengan pencahayaan hangat menampilkan ranjang king size berlapis seprai putih bersih di luar jendela memperlihatkan pemandangan kota yang berkilau. "100 Juta Om," ucap gadis dihadapannya, Celina. Wajah tertunduk tak berani melihat wajah pelanggan pertamanya. Kedua tangan meremas dress memperlihatkan kaki dan kulit tubuhnya. "Apa kamu yakin bersih?" tanya pria itu menatap ragu. Luis Suarez, pria yang baru datang dari luar negeri ingin melepaskan lelah dengan cara menjamah wanita. Ia bukan pemain hanya ingin bermain sekali-kali saja. Perjalanan 15 jam membuat dirinya ingin bercinta. Ia harus datang ke kota Barlian atas perintah orang tuanya. Dengan bantuan teman Luis menyewa wanita untuk memenuhi kebutuhan biologisnya dan mengantar ke hotel. Sudah dua tahun ia menduda tak pernah sekalipun menyentuh wanita lain kecuali mantan istrinya. Sang istri memilih bercerai dengan alasan Luis tak romantis dan bersikap dingin. Alasan tak masuk akal, tapi Luis menyetujui keinginan istrinya untuk bercerai. Pria itu tak mau ambil pusing, menandatangani surat cerai dan memberikan hak istri selama satu tahun mengabdi kepadanya. "Aku bersih Om." Suara gadis dihadapan Luis lirih. Tapi ia hanya bisa menyunggingkan senyum. Panggilan nama Om membuat Luis terkekeh pelan. Apakah ia setua itu dipanggil dengan sebutan Om. Wajahnya tak terlalu tua, umurnya baru 30 tahun. Sedangkan gadis berdrees merah dengan belahan dada rendah memperlihatkan tonjolan berukuran 38 cup A cukup besar bagi Luis. Celina berusia 24 tahun. Jarak tak begitu jauh. Rambut hitam panjang diikat kuda menambah kesan gadis pemberani dan tegas. Bentuk tubuhnya pas di pandang dan dipeluk oleh tangan kekar Luis. Membayangkan tubuh Celina pikiran Luis berkelana jauh. "Bagaimana aku tahu kamu bersih. Apalagi kamu menjual tubuhmu." Luis tersenyum miring. Harga 100 juta bukan harga yang murah justru sangat mahal. Tapi bagi Luis kalau pelayanan bagus kenapa tidak. Biasanya wanita penghibur memberikan tarif jutaan saja. Apalagi banyak yang mengunakan jasanya itu yang ia ketahui dari temannya. "Aku masih suci dan belum pernah tersentuh. Satu kali pun tak pernah berhubungan intim. Om bisa membuktikannya setelah melakukannya," ucapnya percaya diri, tapi hanya terdengar di awal saja sedangkan kata terakhir diragukan. "Om? Aku tak setua itu. Bisakah kamu memanggil sebutan yang lain?" Celina mengangkat kepala dan menatap lebih detail. Ternyata yang Luis ucapkan memang benar kalau pria itu tak pantas dipanggil Om. Celina terlalu gugup apalagi pertama kali ia satu kamar dengan pria asing. Selama berpacaran Celina hanya bergandengan tangan tanpa melakukan sentuhan lebih. Ia tak suka hal itu. Tapi kini ia terpaksa melakukannya demi membela ibunya yang berada di penjara. Sang Ibu dituduh korupsi di perusahaan dan harus membayar ganti rugi untuk mengeluarkannya. Celina tak tega jika ibunya berada di balik jeruji. Apalagi dengan keadaan saat ini. Ibunya Celina, Denada penyakit asma sering kambuh. Wanita itu tak bisa tinggal di tempat sempit dan gelap. Perusahaan tempat bekerja ibunya meminta uang 100 juta dan semua akan terselesaikan dengan cepat. Sebagai anak pertama Celina akan melakukan segala cara untuk mengeluarkan ibunya. Sedangkan adik Celina baru berusia 17 tahun, Riana. "Maaf, Tuan. Aku salah." Celina pikir pria hidung belang pasti tua dan buncit. Tapi nyatanya ia salah. Luis begitu tampan dan gagah. Padahal ia sudah cukup lama berdiri di hadapan Luis tak menyadari hal itu. "Aku akan menambahkan 50 juta jika kamu benar-benar masih suci." Celina menelan salivanya. Uang 50 juta cukup banyak untuk kebutuhan hidupnya. Gadis itu langsung mengangguk. "Lakukan," pinta Luis siap mendapatkan pelayanan. Sejak tadi jangkungnya naik turun melihat tubuh dan wajah Celina yang begitu mengoda. Ia sudah lama lapar dan haus wanita. Kali ini akan mendapatkan berlian yang belum tersentuh. Celina mengerjapkan mata. Apa yang harus ia lakukan untuk melayani pelanggannya. "Kenapa diam saja? Ayo lakukan pekerjaanmu dan puaskan aku." Suara Luis tegas, wajahnya tak sabaran untuk menyantap tubuh Celina. Tangan Luis langsung menarik lengan Celina hingga terduduk di pangkuannya. Netra mereka bertemu. Luis mendekatkan wajahnya hingga mereka bersentuhan lebih dalam. Sentuhan Luis lembut dan memabukkan, Celina hanya bisa menikmati sentuhan Luis yang tak akan pernah ia lupakan selama hidupnya. "Tuan pelan-pelan," pinta Celina menatap netra Luis yang sudah berada di atas tubuhnya. Kamar itu menjadi saksi bahwa mereka melakukan hubungan satu malam yang tak akan pernah dilupakan Celina. Mahkota yang ia jaga selama 24 tahun sudah ternodai. Setetes air mengalir di ujung mata Celina. Kedua tangan gadis yang kini tanpa sehelai kain memeluk tubuh Luis erat. Jangan sampai pria itu tahu air mata yang mengalir di ujung netra. Suara gemericik air di kamar mandi terdengar jelas. Luis sedang mandi di balik pintu kaca buram, bayangan samar tubuhnya terlihat sekilas dari cahaya lampu yang tembus keluar. Sementara itu, Celina duduk di tepi ranjang, tubuhnya terbungkus selimut putih tebal. Tangannya mengambil pakaian yang tergeletak di atas lantai. Celina menatap noda merah di atas ranjang bercampur cairan putih. Ada rasa nyeri di dada. Seharusnya mahkota ini untuk suaminya bukan ia jual demi uang 100 juta. "Demi ibu," lirihnya menguatkan hati. Ia tak tega ketika melihat ibunya di jeruji penjara dan menangis karena takut berada di dalam sana. Jalan satu-satunya menjual diri. Luis keluar hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang. Ujung matanya ke arah Celina. Gadis itu membuktikan dirinya masih bersih dan Luis sangat puas. Celina berdiri dan menghampiri Luis. Ia menyodorkan ponselnya untuk transaksi pembayaran. Luis membayar sesuai janjinya. Celina melangkah tertatih-tatih setelah transaksi pembayaran lunas. Ia harus pulang menemani adiknya. "Ini sudah malam. Apa kamu tak menginap?" "Masih jam 11 malam. Masih ramai." "Aku akan segera pergi. Kamu bisa pakai kamar ini." "Tidak, terima kasih banyak Tuan." Tangan Celina menyentuh gagang pintu suara Luis menghentikan langkahnya. "Siapa namamu?" Celina tak menjawab gadis itu melangkah cepat ingin melupakan kejadian semalam. Tapi Luis masih penasaran dan menghubungi temannya. "Aku ingin tahu siapa gadis yang menemaniku tadi? Carikan informasi yang lain tentang dia."Bab 124 Dari balik batang pohon kamboja yang besar dan rindang, Luis berdiri mematung. Jemari kekarnya meremas kuat sebuah dompet kain kecil bergambar kartun milik Aldo yang tertinggal di jok belakang mobilnya. Uang recehan di dalamnya berdenting pelan, menjadi satu-satunya saksi bisu detak jantung Luis yang berpacu liar.Niat awalnya hanya memutar balik mobil untuk mengembalikan dompet itu. Namun, instingnya menuntun kendaraan mewahnya mengikuti rombongan ambulans hingga sampai ke kompleks pemakaman umum ini. Dan sekarang, kenyataan menghantam dada Luis bagai hantaman badai.Di depan makam yang masih basah bertabur bunga mawar, Celina tengah berlutut. Matanya yang sembab meneteskan air mata duka, memeluk erat tubuh mungil Aldo yang terisak pelan."Mommy," bisik Aldo parau di sela tangisnya. "Nenek Lela sudah di surga, ya?"Celina mengusap lembut kepala putranya, membenamkan wajah anak itu di dada hangatnya. "Iya, Nak. Nenek sudah tenang. Aldo harus jadi anak pendoa buat Nenek, ya?"
Bab 123Di lorong depan ruang perawatan intensif, suasana duka terasa begitu pekat. Celina duduk di kursi besi dengan kepala tertunduk, pakaian kerja sederhananya tampak kusut, dan wajahnya pucat pasi. Di sampingnya, Denada terus mengelus punggung putrinya sembari mengusap air mata.Namun, ketenangan penuh duka itu terganggu oleh perdebatan sengit di sudut lorong.Mereka masih mengurus jenazah dan belum dibawa pulang. Sedangkan di rumah Celina sudah ramai para tetangga berdatangan untuk membantu pemakaman."Brian! Kamu tidak bisa membiarkan janji konyol itu mengikatmu!" cecar Elisabeth dengan suara tertahan penuh penekanan. Wajah cantiknya yang biasa terpoles sempurna kini tampak bengis oleh amarah. "Ibumu sudah meninggal! Janji pada orang mati tidak ada artinya jika itu merusak masa depan kita! Aku tidak setuju jika kamu kembali bersama Celina. Kita sudah berjanji akan hidup dan menua bersama. Aku mencintaimu Brian. Jangan ikuti ucapan ibumu." "Cukup, Elisabeth!" bentak Brian rend
"Aldo sayang Papa Luis," balas Aldo, memeluk leher Luis erat-erat, menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu. Ia belum pernah merasakan kebahagiaan memiliki seorang Papa yang sesungguhnya. Di depan pintu netra seseorang membulat ketika melihat keduanya di atas panggung."Tuan Luis ....." Wajah pucat seperti kapas. Ia mengusap netranya memastikan tak ada air mata atau kotoran. Apa yang dilihatnya nyata dan benar. Pria paruh baya berjas abu-abu yang berdiri di ambang pintu aula sekolah matanya melebar ketidakpercayaan. Sebagai salah satu jajaran direksi di konsorsium bisnis terkemuka, ia mengenali wajah itu dengan sangat jelas Luis Suarez. Pria dingin berdingin dingin yang mendominasi panggung bisnis internasional, sosok berpengaruh yang tak tersentuh, kini berdiri di panggung TK dengan mata berembun sambil memeluk erat seorang anak kecil."Tuan Luis?" gumam pria itu lirih, tertegun melihat bagaimana Luis mengelus punggung anak laki-laki itu dengan kelembutan yang tak pernah diperliha
Bab 121 Celina terjebak macet. Ia hendak ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari tetangganya. Ibunya, Denada meminta tetangga untuk menghubungi Celina karena keadaan Mama Lela memburuk dan ponsel Denada mati daya setelah menerima panggilan dari Brian.Celina meremas tangannya. Di kemudi supir perusahaan hanya menghela napas panjang."Pak, apa tidak ada jalan lain?""Ada Nona. Di depan ada gang kecil. Kita bisa lewat sana hanya saja macet."Celina menatap ponselnya sudah tiga puluh menit berlalu. Tapi perjalanan rumah sakit masih jauh. Hingga akhirnya ada pergerakan dari mobil setelah di kondisikan oleh keamanan.Langkah Celina semakin cepat. Tubuhnya gemetar setelah menerima kondisi terbaru Mama Lela. Ia mendorong pintu ruangan. Di sana Brain dan Elizabeth berdiri berdampingan dan Denada mengenggam tangan Mama Lela.Langkah Celina berdiri di samping tubuh mertuanya. Ia menatap wanita itu dengan iba. Baru beberapa hari saja tubuhnya semakin ringkih."Ma, ini Celina sudah datan
Bab 120 Wajah Aldo begitu riang untuk pertama kalinya ia duduk bersama pria yang bisa dipanggil papa. Brian bukan tak bisa hadir. Aldo sudah berbicara semalam, tapi pertengkaran antara Brian dan Elizabeth membuat dirinya sadar diri kalau ia bukan siapa-siapa. Aldo tak menyalahkan mereka justru dirinya yang menyusahkan saja sejak dalam kandungan. Aldo memilih pergi tak ingin menganggu Brian dan kekasihnya. Untung saja bertemu Luis di jalan. Pria itu bisa diajak kerjasama. Lampu aula sekolah meredup. Hanya sorotan cahaya kuning hangat yang menerangi panggung kayu di depan. Di barisan kursi terdepan, Luis membetulkan posisi duduknya yang terasa kaku. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Di sebelahnya, beberapa ayah lain tampak bersenda gurau, bangga menunggu giliran anak mereka tampil dalam perayaan Hari Ayah pagi itu."Selanjutnya." Suara guru pembawa acara terdengar melalui pengeras suara, "kita sambut penampilan dari Aldo, kelas nol besar, yang akan mempersembah
Bab 119Aldo duduk di teras sudah siang ia belum juga pergi ke sekolah. Hari ini hari perayaan ayah sedunia. Ia belum mendapatkan penganti ayahnya. Semalam ia mencoba beranikan diri untuk berbicara dengan Brian. Pria itu bisa menjadi ayahnya di panggung. Aldo menatap jemari mungilnya yang sejak tadi dimainkan. Kendaraan berlalu lalang menyapa anak itu. Tapi tak ada satupun ia jawab. Hanya menatap tanpa kehangatan. Semua orang menyadari hal itu. "Aldo. Kenapa kamu belum berangkat? Ke mana Aunty mu itu?" tanya salah satu orang tetangga. "Mereka pergi pagi-pagi ke rumah sakit. Nenek Lela kambuh dan Aunty Riana mengantar Nenek ke sana. Mami belum pulang." "Lalu kenapa kamu belum berangkat?" tanya wanita itu berusia lima puluh tahunan. Ia menatap iba Aldo. Biasanya wajah anak itu sangat ceria. Hari ini raut wajahnya berbeda. "Aku segera berangkat." Aldo beranjak bangkit. Ia menatap sepedanya yang sedang rusak. Bel
Bab 33 Celina mengusap dada. Kenapa supir berkata langsung di depan Anabel. Tapi supir juga tidak tahu apa yang dipikirkan Celina. Jadi supir itu tak sepenuhnya bersalah, harap dimaklumi. Anabel masih meminta penjelasan terlihat dari netranya yang tak berpaling. Sedangkan Celina terlihat biasa a
Bab 26"Cel lu naik motor siapa?" Vina yang baru sampai parkiran motor terkejut dengan kendaraan roda dua yang Celina bawa. Motor matic hitam, body sudah usang, jok motor saja sobek-sobek. Banyak mata yang melihatnya. Tapi Celina tetap asik membawa kendaraan itu. Tak peduli berapa ratus mata mempe
Bab 17Celina menatap telapak tangannya yang masih terasa panas, dada naik turun dihimpit penyesalan. Riana memegangi pipinya, mata bening itu membulat tak percaya kakaknya sendiri melakukan kekerasan padahal ia tak seperti itu. “Riana.” Tadi emosinya meledak begitu saja. Apalagi dalam keadaan sep
Bab 6 Pagi-pagi sekali Celina sudah rapi dengan pakaian formal dan siap pergi ke perusahaan tempat bekerja ibunya. Denada hanya karyawan kantor biasa dengan pekerjaan serabutan. Perusahaan itu memang tak terlalu besar, tapi setidaknya bisa menghidupi anak-anak daripada harus berjualan keliling yan







