Share

2. Tak Terlupakan

Penulis: Nannys0903
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-22 16:50:58

Celina menatap jalan raya, langit mengeluarkan rintik hujan. Udara semakin dingin. Celine memeluk tubuhnya sendiri. Tubuhnya bersandar di jok mobil penumpang. Beberapa kali supir taksi melirik ke arahnya.

"Kenapa Anda melihat saya seperti itu Pak?" tanya Celina. Ia risih dengan tatapan supir tersebut. Apalagi ia pulang di jam rawan kejahatan.

"Saya merasa tak asing dengan Anda Nona, maaf kalau membuat Anda takut," ungkap supir itu ragu. Ia masih menatap Celina dari kaca spion depan. "Apakah Anda putri sulung Alvin dan ibu Anda Denada?" Netra supir itu penuh harap. Ia sudah lama tak mendengar kabar istri dari Alvin.

Alvin adalah ayah kandung Celina. Dulu ia juga supir taksi karena kecelakaan ayahnya

meninggal dunia setelah dirawat tiga hari di rumah sakit. Sejak itu hidup mereka berubah drastis. Kehidupan semakin miskin dan sengsara. Ibunya harus banting tulang untuk membiayai kedua putrinya.

Celina mendapatkan beasiswa Universitas Herd yang terkenal dengan murid berprestasi. Banyak para jenius lahir dari universitas tersebut begitu juga Celina anak yang pintar dan berprestasi.

"Iya betul. Apa Anda teman ayahku?"

"Iya. Saya teman ayahmu. Nama saya Dion kamu bisa panggil Paman Dion. Kamu Celina, kan? Kenapa kamu berada di hotel itu?" tanyanya menatap dari kaca depan. Senyum terukir jelas di bibir supir itu. Bertemu anak teman deketnya membuat dirinya terharu. Senyum di bibir berubah sendu apalagi melihat penampilan Celina.

Gadis berpakaian dress terbuka pulang malam dan wajah menyedihkan membuat pria itu berpikir yang tidak-tidak tentu saja Celina mengetahui pikiran itu.

"Iya aku Celina. Senang bertemu Anda . Di hotel tadi ada pesta. Teman saya mengadakan pesta di sana." Alasan yang masuk akal. Memang hotel yang dikunjungi Celina bukan hotel kaleng-kaleng justru hotel bintang lima

Pria itu hanya mengangguk saja. Ia percaya kalau putri almarhum temannya tak akan berbuat macam-macam. Apalagi ayahnya Celina adalah pria baik dan bertanggung jawab.

Celine mengeluarkan uang selembar setelah ia sampai di depan rumah.

"Tidak usah. Buat kamu saja. Jagalah diri kalian. Jaga ibu kalian ia wanita sangat baik dan lembut." Pria itu melambaikan tangan setelah Celina berjalan menuju pintu rumahnya.

Pintu terbuka kasar, wajah Riana muncul dengan wajah bantalnya. Gadis 17 tahun dengan rambut acak-acakan mencerca Celina. Ia tak bisa tidur di kamar jadi memutuskan tidur di sofa hingga kakaknya pulang.

"Kakak itu kebiasaan. Kenapa kunci duplikatnya ditinggal di kamar. Aku menunggumu sejak tadi di sofa. Ponselku masih rusak."

Celina terkekeh. Ia bersyukur masih memiliki adik yang sangat perhatian kepadanya.

"Kakak ada kerjaan baru. Terburu-buru tadi. Nanti kita perbaiki ponselmu." Celina mengusap kepala adiknya dan duduk di kursi dapur. Ia berniat membelikan ponsel baru untuk adiknya setelah urusan ibunya selesai.

Celina berjalan melewati adiknya.

Riana memerhatikan cara berjalan Celina. "Kamu kenapa, Kak? Jalannya ngangkang gitu. Apa ada yang sakit?"

"Aku tak kenapa-kenapa?" Celina mencari luka atau memar di tubuh yang terlihat. Bisa jadi Luis meninggalkan jejak mencurigakan. Tapi tadi Luis tidak melakukan kekerasan.

"Apa Kakak mengalami sesuatu?" Riana menatap kakaknya lebih detail. "Kamu sakit, Kak?" Wajah Riana khawatir. Ia menyentuh lengan kakaknya.

Celina memang merasa sesuatu mengganjal di bagian bawah tubuhnya, sangat tidak nyaman. Apalagi ia baru melakukan hubungan intim pertama kali. Mungkin itu yang membuat dirinya aneh.

"Oh, aku sedang datang bulan agak sedikit tak nyaman.Ehm, sedikit nyeri saja. Tak apa. Sudah biasa begini." Celina memaksa diri untuk tersenyum. Adiknya begitu perhatian hingga semua yang ia lakukan hapal.

"Bukankah kamu sudah datang bulan. Kenapa datang lagi?"

Riana ingat baru minggu kemarin membelikan kakaknya pembalut. Ia pun merasa aneh.

"Hormon. Kadang hormon berubah-ubah. Sudah malam. Tidurlah. Besok kamu sekolah." Celina bangkit dari duduk dan mendorong tubuh adiknya ke kamar dengan omelan dan nasihat yang tak disukai Riana.

"Ck, aku sudah besar Kak. Bukan anak kecil lagi. Istirahatlah, aku sisakan makanan malam untukmu. Sup ada di panci tinggal hangatin saja."

"Baiklah, terima kasih adikku. Tidurlah."

Celina kembali ke kursinya. Ia duduk di meja dapur menatap makanan di atas meja. Semua makanan adiknya yang memasak.

Ponsel Celina berdering ia mengambil dari tas kecilnya. Panggilan dari nomor asing yang tak dikenal. Celina abaikan panggilan itu. Tapi panggilan ke dua datang dari kantor polisi.

Celina langsung mengangkat panggilan tersebut apalagi panggilan malam-malam begini. Pasti ada hal penting tentang ibunya. Celina was-was apakah sesuatu terjadi dengan wanita itu. Terakhir kali Denada, ibunya Celina menangis meraung-raung minta dikeluarkan dari tempat terkutuk itu.

"Halo, Nona Celina sesuatu terjadi dengan ibu Anda. Segera datang ke rumah sakit kepolisian."

Jantung Celina berdetak kencang dan mendengar ucapan dari pria yang kini menceritakan kondisi ibunya, ia segera berlari ke arah pintu kamar adiknya dengan napas memburu mengabaikan rasa nyeri yang sejak tadi dirasakan.

"Riana, Ibu!" teriak Celina dan Riana terbangun menatap wajah kakaknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    84. Pindah

    Bab 84 Celina memutuskan untuk pergi dari kantor polisi, membatalkan laporannya apalagi tak punya bukti yang kuat. "Aku akan membalasnya nanti. Tunggu saja," ucap Celina. Saat ini Celina harus beberes dan pergi dari kota ini. Apalagi ibunya tak tahu yang dialami Celina. Ia harus membawa keduanya. Sesampai di rumah, Riana menunggunya di teras. Denada meminta Riana untuk mengantar ke pasar. "Bu, tidak perlu belanja lagi." Celina menahan tangan ibunya yang hendak pergi. Riana sudah berada di atas motor. "Barang di toko habis. Ibu harus beli." "Aku ingin bicara dengan kalian. Ada hal yang penting." Wajah Celina serius. Denada melihat mata anaknya sembab. Ia menarik Riana dan menyuruh karyawannya menjaga toko. Celina meminta ibu dan Riana berkumpul di ruang tamu. Ia harus melakukannya dan tak ingin meninggalkan mereka apalagi Riana jug sudah selesai ujian. Adiknya tinggal menunggu hasil kelulusan saja. "Ada apa Cel? Apa ada hal yang penting?" Denada duduk di samping Riana. Mere

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    Bab 83. Pengkhianat itu Adalah ....

    Bab 83 "Celina, aku ...." Celina mengangkat salah satu tangannya. Ia menatap Fio kecewa. Tubuh Fio reflek berdiri. Kenapa Celina datang dan tak memberitahu dulu biasanya ia akan mengabari kalau dirinya akan datang. "Aku sudah mendengar semuanya. Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku, Fio? Kenapa? Apa salahku kepadamu? Apa selama ini aku pernah menyakitimu?" Berbagai pertanyaan dilontarkan. Celina tak bisa menahan air mata. Sahabatnya yang sudah dianggap saudara ternyata menusuk dari belakang dan memberikan tubuhnya kepada penjahat. "JAWAB FIO!" Tubuh Fio membeku. Ia tak bisa menjawab itu semua hanya saja Sofia adalah sepupunya. Selama ini tak ada saudara yang menganggapnya keluarga. Tapi kali ini Sofia mau pergi jalan-jalan, main dan curhat dengannya. Sofia juga sering membawa ke acara mewah bersama Sofia dari sana ia mendapatkan pria tampan dan idamannya. Beberapa bulan ini ia menghindari berkumpul dengan Vina dan Celina. Tapi mereka tak menyadari kejauhan Fio. Mereka mengang

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    82. Pengkhianat Yang Lain

    Bab 82 Hati Celina sedikit tenang setelah mengambil keputusan demikian. Ia akan pergi, tapi sebelum itu ingin pamit dengan sahabatnya, Vina dan Fionita. Kali ini Celina ingin bawa motor sendiri. Cuaca tak begitu panas. Ia mengambil ponsel di tas sebelum berangkat. "Vin, kamu di rumah tidak?" Celina membawa dua bingkisan kenang-kenangan untuk mereka disimpan di dalam jok motor. "Ada. Tapi aku mau pergi sama Mama nanti siang." Vina melirik jam dinding masih ada dua jam lagi. "Aku mau ke rumah kamu. Ini lagi mau jalan. Sebentar doang mau ngasih sesuatu. Kamu di rumah siapa?" Vina selalu berpindah-pindah tempat kadang di rumah ibunya, nenek kadang tantenya."Rumah Mama. Dia juga pulang satu jam lagi. Datanglah ke sini." Vina tahu tentang proposal Celina. Ia sangat sedih melihat sahabatnya terpukul. Ia tak mudah percaya tentang gosip yang beredar. Berkali-kali berdebat dengan teman kampus di grup. Vina kekeh kalau itu semua hanya Fitnah. Celina pun belum membuka suara tentang hal it

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    81. Cinta atau Keluarga

    Bab 81 “Aku tidak akan mengancammu hari ini,” ujar Riana sambil menyilangkan kaki. Suaranya datar, profesional. “Aku datang membawa pilihan untukmu. Semua yang aku berikan sangat menguntungkan." Padahal barusan saja ia mengeluarkan data keluarga Celina walau halus Celina paham kalau Riana Dewi mengancam cara yang tak terlihat dan elegan. Celina menelan ludah. “Pilihan apa?”“Aku tidak menawarkan uang,” lanjut Riana. “Aku tahu kamu akan menolaknya.” Riana Dewi melirik Celina dan tersenyum meremehkan. Tabungan Celina cukup banyak tentu saja uang itu dari Luis. "Tenang Celina. Aku tak akan menyentuh keluargamu. Meraka aman asal kamu mengikuti apa yang kuinginkan. Aku menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga dan penting dari hidupmu.”Riana menekan kata paling akhir. Napas Celina tercekat. Kedua kaki bergetar. Riana memperhatikan itu. "Pelayan berikan tempat duduk kepadanya." Riana tak memberikan kursi di sampingnya justru pelayan memberikan kursi lainnya."Silakan duduk Nona." C

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    80. Kediaman Suarez

    Bab 80Ponsel Celina bergetar di atas meja belajar.Satu getaran pendek, lalu hening.Nomor itu tidak ia simpan. Namun deretan tiga angka terakhir ia ingat. Tiga dua lima dan nomor cantik di depannya. Hanya satu pesan singkat.[Kita perlu bicara. Supir akan menjemputmu di depan kampus. Besok, jam 9 pagi ] Celina menatap layar cukup lama dan mengetik balasan [Baiklah Nyonya]Tak ada kata lain selain persetujuan saja. Celina merebahkan tubuhnya dan segera memejamkan mata entah ada apa besok ia harus menyiapkan mental. Malam itu Celina tak bisa tidur ia bermimpi sangat buruk, tubuhnya penuh dengan ular. Celina berusaha lepas dari ular kecil itu. Setelah itu ada ular sangat besar membantu Celina lari dari mereka. Ular putih dan bersih. Ia tak berbelit-belit, tapi pergi meninggalkan Celina sendiri di tempat yang aman. Celina bangun setelah jam alarm berbunyi. "Hanya mimpi." Celina mengusap wajahnya penuh dengan peluh. Malam itu kipas tak dinyalakan karena tubuh Celina panas dingin. Ta

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    79. Benarkah?

    Bab 79 Kepala Luis berdenyut nyeri. Ia memijat pangkal hidungnya. Celina berkata demikian membuat hatinya ikut sakit. "Celina pasti terpukul," ucapnya menatap ke atas langit ruang kerjanya. Saat ini ia masih berada di Paris mengurus permasalahan kantor Paris. Tak mungkin menemui kekasih gelapnya itu apalagi jarak sangat jauh butuh beberapa hari. Luis mengangkat cangkirnya. Ia meneguk perlahan kopi yang sudah dingin. Pikirannya masih kusut. Tangannya menghubungin sekretaris yang berjaga di depan untuk membuatkan kopi. "Anda belum makan sejak pagi. Apakah aman untuk lambung Anda. Lebih baik makan dulu. Nanti saya akan buatkan kopi lagi." Lambung Luis sedikit perih, tapi ia butuh kopi. Pria itu meyakinkan sekretarisnya kalau ia akan makan setelah minum kopi walau sebenernya ia enggan makan. "Tapi kalau Anda sakit lagi bagaimana?"Kemarin Luis mengeluh nyeri ulu hati dan lambung sedikit perih. Ia meringis menahan rasa sakit dan sembuh setelah minum obat lambung. Karena sibuk dengan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status