LOGINBab 3
Suara langkah kaki terdengar di lorong rumah sakit. Keadaan lorong sangat sepi dan senyap. Celina dan Riana bergandengan tangan mencari kamar ibunya. "Kamar Rose nomor 18, Kak." Riana mengingat hal itu. Mereka bertanya kepada perawat yang melintas. Beruntung menemukan salah satu perawat jaga apalagi rumah sakit tampak tak ada penghuninya. "Di sana!" tunjuk Celina. Tangan mereka masih bertautan. Sejam lalu kabar itu diketahui mereka hanya saja ada kendala. Mereka sulit mendapatkan taksi karena malam semakin larut. Celina ingat teman ayahnya yang tadi mengantar pulang. Ia menghubungi pria itu, nomor yang sempat diberikannya tadi di dama mobil. Untung saja ia masih ada di sekitar tempat tinggal Celina dan menunggu penumpang baru. Hanya butuh dua puluh menit karena putaran jalan ke rumah Celina agak jauh. "Ibu Anda asmanya kambuh. Ia juga mengalami luka serius. Bagian perut tergores senjata tajam dan harus segera dioperasi." ucap penelepon yang mengaku sebagai polisi. Kalimat itu masih teringat jelas di kepala Celina. Rasa sakit yang dirasakan ibunya menusuk hati Celina juga. Air mata Riana tak tertahan lagi. Wajahnya sembab begitu juga Celina. Hanya saja ia lebih tabah daripada adiknya. Selama perjalanan menuju rumah sakit Riana tak berhenti menangis dan Celina yang menenangkan. Sebagai Kakak Celina harus kuat agar semua tetap tenang dan baik-baik saja. "Hapus air matamu jangan sampai ibu melihatnya." Mereka menemukan ruang yang dicari. Riana segera menghampus air matanya. Apa yang dikatakan Celina benar. Ibunya tak boleh melihat mereka menangis dan membuat sedih. "Pak. Saya anak dari Ibu Denada." Celina berdiri di depan petugas berseragam coklat menjaga pintu. Ia yakin kalau ibunya ada di dalam. Petugas itu membukakan pintu setelah memastikan identitas Celina. Mereka masuk dan berlari ke arah ibunya yang terbaring lemah di brankar rumah sakit. "Apa kalian keluarga pasien?" Perawat masuk ke ruang rawat dan membawa obat di tangannya. "Iya betul." Celina menyuruh adiknya menjaga di ruangan saja sedangkan ia ikut ke ruang dokter diantar perawat. Dokter memperlihatkan hasil pemeriksaan Denada. Celina terkejut ketika dokter bilang banyak luka memar di tubuhnya. Separah itukah tinggal di penjara hingga ibunya mengalami kekerasan seperti ini. "Luka gores sudah dijahit. Sesak juga masih ada. Hampir saja ibu Anda meninggal kalau telat datang. Saya harap ibu Anda mendapatkan pengobatan rutin. Jangan sampai penyakitnya kambuh lagi seperti ini." "Tapi saya selalu membawakan inhaler Dok. Kenapa bisa begini?" Alat itu selalu dibawa ibunya ke penjara. Apa mungkin alat itu rusak atau hilang? Banyak kemungkinan yang terjadi. "Ibu Anda tidak mengunakan alat itu. Jika ada pasti tak ada kejadian seperti ini." Dokter memberikan arahan kepada Celina, apa yang boleh dan tidak dilakukan. Celina mengangguk tanda mengerti. Setelah ia keluar hatinya masih penasaran. Celina tak mau diam saja. Ia segera ke kantor polisi yang tak jauh dari rumah sakit untuk meminta penjelasan tentang ibunya dan obat asma itu yang baru ia berikan kemarin. "Ibu saya hampir kehilangan nyawa. Ia juga selalu membawa alat penyakitnya. Apa kalian tak mengizinkannya? Bagaimana nyawa ibuku jika terlambat dibawa ke rumah sakit?" "Kami sedang selidiki. Sebelum kejadian itu. Ibu Anda bersama napi lainnya melakukan keributan. Soal alat itu." Petugas mengeluarkan alat yang dimaksud, hancur seperti diinjak-injak. Celina mengepalkan tangan mengutuk pelaku. "Saya sangat mengenal Ibu saya. Dia tak suka keributan. Apa yang menimpa sewaktu itu hanya fitnah saja dan saya belum menemukan bukti akurat. Saya minta penjelasan Anda, Pak Polisi." Celina geram dengan petugas di hadapannya. Ia meminta orang yang telah menyakiti ibunya segera diberikan hukuman yang setimpal. Petugas tersebut hanya manggut-manggut saja. Celina mengepalkan tangan ketika tahu ibunya di keroyok tiga lawan satu. Setiap hari selalu dibully. Padahal ia difitnah. Celina harus segera mengeluarkan ibunya dari neraka itu. "Kak. Ibu sudah sadar." Riana langsung menghampiri Celina ketika pintu terbuka. Celina berlari menghampiri sang ibu. "Celina ...," panggil Denada lirih. Netranya mengembun. "Ibu jangan banyak bicara. Istirahat saja. Luka jahitannya masih basah." Celina memaksa diri tersenyum. Ia mengecup kening ibunya. Denada mengeleng pelan. Ia menatap kedua putrinya dan memaksa diri untuk tersenyum. "Maafkan Ibu tak bisa membuat kalian bahagia dan selalu merepotkan kalian. Sejak ayah kalian tiada hidup kalian semakin menderita." Suara parau Denada memilukan hati. "Kami anak Ibu. Selama ini selalu bersama kami tak masalah tak ada Ayah. Semua sudah takdir. Asal Ibu masih tetap bersama kami." Celina menggenggam erat jemari ibunya. Denada tak berkata apa-apa. Ia bersyukur memiliki dua putri cantik dan sangat mencintainya. "Ibu mau makan apa. Celina akan membelinya?" Celina mengalihkan pembicaraan. Takdir suram biarlah berlalu. Saat ini fokus ke masa depan. "Ibu mau pulang ketemu Ayah kalian." Netra Denada ke arah langit rumah sakit. Wajah pria yang sangat ia cintai terlihat jelas. Lima tahun sudah ia menjanda. Ternyata hidup tanpa pria itu begitu sulit. Pria yang begitu ia cintai. "Setelah Ibu keluar kita ke makam Ayah." Celina berdiri di sisi kanan ibunya sedangkan Riana berdiri di samping kakaknya. Mereka menahan air mata agar ibunya tak bersedih. "Riana akan masak makanan kesukaan Ibu. Cepat sembuh, Bu." Suara Riana riang. "Celina sudah mendapatkan uangnya. Ibu pasti dibebaskan. Ibu harus tetap bersama kami." Riana mendengar hal itu menoleh ke arah kakaknya. Bagaimana uang itu bisa didapatkan atau Celina berbohong. "Dari mana kamu ...." Belum sempat melanjutkan kalimatnya Celina tahu apa yang dipikirkan ibunya. "Aku bekerja. Tenang saja Bu. Jangan pikirkan. Uang ini pasti kebayar." Celina bekerja siang malam dan pagi kuliah. Ia tak pernah libur kerja untuk bersenang-senang seperti temannya yang lain. Celina tak pernah mengeluh. Semua impiannya akan terwujud jadi ia harus rajin bekerja dan belajar. Riana menarik lengan kakaknya keluar ruangan setelah ibunya terlelap kembali. "Aku tak sengaja membaca pesan masuk dari laptop Kakak. Apa Kakak melakukan sesuatu yang tak aku ketahui?" Celina menoleh cepat, wajahnya berubah cemas. Apa adiknya tahu tentang dirinya menjual kehormatan kepada Tuan Luis? Kenapa ia lupa menghapus pesan itu. "Kak. Aku tahu kamu dari hotel. Apa uang itu hasil dari pekerjaanmu di hotel?" Riana mencerca banyak pertanyaan. Bagaimana menjawab pertanyaan adiknya?Bab 117 Aldo sedih karena neneknya belum pulang juga. Dia duduk di teras termenung menatap langit. Riana melihat keponakannya duduk di sampingnya dan memberikan permen lolipop rasa buah-buahan."Mau?" tanya Riana lembut. Biasanya ia tak mengizinkan keponakannya itu makan permen. Tapi kali ini berbeda. Suasana hati Aldo sedang tak baik. "Aunty. Bagaimana keadaan Nenek Lela?" Wajah Aldo masih menyiratkan kecemasan. "Nenek gak apa. Dia hanya butuh istirahat saja. Jangan cemas." Riana paham dengan pikiran Aldo. Anak itu jadi tak nafsu makan. Makan siang hari ini masih utuh. "Aldo takut, Aunty." Netra Aldo mengembun tak bisa menahan kesedihan. Petugas rumah sakit tidak mengizinkan anak kecil untuk menjenguk kecuali usianya sudah 10 tahun. "Takut kenapa?" tanya Riana ikut duduk di sampingnya. Angin hari ini begitu sejuk dan hangat. Cuaca tak terlalu panas. Hari ini Aldo tak semangat. Biasanya ia sudah bermain sepeda keliling komplek. Tapi kali ini seperti hilang moodnya "Takut Nenek
Bab 116 Celina berdiri di samping Mama Lela. Ia menggenggam jemari wanita itu. Semalam Celina tak tidur karena Mama Lela merintih kesakitan. "Ma, apa masih sakit?" tanya Celina takut mertuanya kambuh lagi. Beberapa bulan ini Mama Lela sering merasakan nyeri di dadanya. Ia tak pernah memberitahu Celina. Memendam rasa sakitnya sendirian. "Tidak. Mama tak apa. Kamu belum tidur, ya?" "Aku sudah tidur sebentar. Hari ini aku akan temenin Mama." "Cel, lebih baik kamu istirahat saja Mama bisa mengurus sendiri." "Mama mau urus sendiri, sejak kemarin saja Mama pingsan. Aku libur kerja." Mama Lela merasa bersalah. Apalagi selalu merepotkan Celina. Ia hanya bisa tersenyum saja. Sebenarnya ia tak ingin Celina dan putranya bercerai. Tapi anaknya itu sangat mencintai kekasihnya. Celina merawat Mama Lela dengan baik. Ia mengurus penuh senyum dan tak ada gurat kekesalan di wajah ketika harus mengantikan pampersnya. Tak ada rasa canggung bagi Celina. "Mama kangen Aldo sedang apa dia?" tanya M
Bab 115Celina baru saja berdiri dari kursinya. Map proyek sudah berada di tangannya. Hari ini ia seharusnya turun langsung meninjau pembangunan proyek besar. Celina sudah bersiap untuk meninjau ke proyek. Semua yang diperlukan sudah dibawa bersama asistennya. “Mobil sudah siap, Bu,” ujar Julia dari ambang pintu.Celina mengangguk. “Kita berangkat sekarang. Mumpung masih pagi. Siang sedikit bisa macet." Julia masuk membawakan tas Celina. "Nona, ada beberapa yang harus di tanda tangani." Karyawan bagian keuangan masuk setelah mengucapkan salam. Celina menerima map itu dan mengecek isinya dengan teliti. "Apa ini tak salah? Coba kamu lihat lagi nominalnya." Celina menyerahkan map itu, ia tak akan memberikan tanda tangannya karena pertanggung jawabannya sangat besar. Jangan sampai kejadian ibunya akan menimpan dirinya. "Maaf, Nona. Saya akan mengecek lagi." Celina melanjutkan langkahnya. Tapi ponselnya berdering, panggilan dari ibunya. "Celina. Mertumu ...." Suara Denada tersedak
Bab 114 Luis menatap Celina dari kejauhan. Pria itu menghentikan langkahnya dan memastikan wanita yang ia lihat pagi-pagi keluar dari mobil di parkiran apakah benar Celina. Ia keluar dan mengikuti langkahnya. Hingga wajah Celina terlihat jelas ketika menyapa petugas keamanan. Senyum itu pernah ia lihat sewaktu di kampus. Diam-diam Luis memperhatikan cara Celina berinteraksi dengan lingkungannya. Wanita itu ramah dan tak sombong. Ia selalu rendah hati walau terkadang membuat Luis jengkel karena sifatnya yang keras. Luis segera memakai kacamata, usianya tidak lagi muda. Ia butuh pengelihatan yang jelas bukan PHP. Kedua kaki Luis mendadak lemas. Wanita yang selama ini ia cari ada di depan mata. Ia benar-benar yakin kalau itu Celjna Win kekasih kontraknya yang menghilang. Celina menghilang setelah masuk ke perusahaan itu. Ia melangkah pelan mendekati petugas yang baru saja bertegur sapa dengan Celina. "Maaf
Bab 113 — Investor Terakhir"Nona, apa Anda sudah siap? Sebentar lagi investor akan datang." "Oke, aku sudah siap. Ayo kita ke ruangan." Celina membawa berkas penting dan asistennya Julia menyusul dengan langkah sejajar. Celina menatap jam tangannya masih ada waktu sepuluh menit lagi. Ia bisa membaca ulang kembali agar pertemuan hari ini berjalan lancar..Ruang rapat utama Dinding kaca memantulkan cahaya pagi, meja panjang mengkilap, kursi-kursi kulit tertata rapi. Semua terlihat profesional. Tempat di mana pertemuan selalu berada di titik itu. Celina masuk setelan asistennya membuka pintu, ruangan masih kosong, tapi mereka sudah mempersiapkan semunya agar terasa nyaman. Celina duduk di kursi pimpinan rapat dengan punggung tegak. Map proyek sudah tersusun di meja. Ia merasakan hawa di ruangan kurang dingin "Tambahkan lagi suhu pendinginnya." "Baik Nona. Apa sudah pas? " tanya asistennya Julia memegang remote pendingin ruangan. "Sudah cukup. " Beberapa orang penting sudah dat
Bab 112 Celina bangun tidur dan menyiapkan sarapan seperti biasa, seolah hidupnya tak sedang berada di persimpangan paling rumit. Wajan dipanaskan, nasi dihangatkan, dan aroma masakan perlahan memenuhi dapur kecil itu.Sesekali pandangannya melayang ke arah kamar mertuanya.Semalam ia tak bisa tidur mengingat perkataan Mama Lela. Beberapa kali mengintip ke kamarnya takut sesuatu terjadi dengan wanita itu. Ia juga memasak untuk siang, hanya saja diletakkan di dalam lemari pendingin yang diberikan catatan kecil. Mama Lela terlihat kurang sehat. Jadi ia membuat ayam yang sudah dipanir dengan bumbu. Aldo bisa memasaknya sendiri dengan alat pemanggang listrik. Mama Lela masih terlelap di sana perempuan yang sejak awal tak pernah menginginkan perceraian ini. Bukan karena cinta yang besar antara Celina dan Brian, melainkan karena Mama Lela tak ingin kehilangan kekeluargaan bersamanya. Celina tak bisa menghalangi Brian memiliki pujaan hatinya. Ia juga berjanji jika Brian bertemu wanita l







