MasukBab 4
Keesok paginya Celina segera pulang ke rumah dan langsung ke kampus sedangkan Riana menemani ibunya di rumah sakit. Ia izin tidak masuk sekolah. Semua kebutuhan selama di rumah sakit sudah ia belikan dari makanan sampai minuman. Riana tak akan mau meninggalkan ibunya sendirian. Kini Celina duduk di kursi kantin kampus menikmati sarapan sebelum dosen datang. Kantung mata menghitam dan tubuh lemas. Rambut hanya diikat asal. Pakai kaos biasa dan jeans biru navy. Begitu simple penampilan gadis itu, tapi tetap cantik. Ia butuh asupan agar otaknya dapat menerima pelajaran. Setelah percakapan dengan Riana semalam, semuanya aman. Celina harus berbohong lagi kalau di hotel ada pesta temannya. Riana percaya jika kakaknya tak melakukan hal macam-macam. Pemilik kantin mengantarkan pesanan Celina. Gadis itu adalah pelanggan pertamanya. "Makanlah Celina jangan tidur," tegur pemilik kantin melihat kepala Celina di atas meja. Gadis itu memang sering tertidur di atas meja kantin. Beberapa kali pemilik menegurnya. Celina mengusap netra pelan, "Maaf, Bu. Aku tertidur." "Masih untung kamu dapat beasiswa di sini," cibirnya tak suka. "Masih mending aku datang ke kantin Anda. Masakan kurang enak kadang asin dan kemanisan. Banyak mahasiswa komplain , tapi tetap saja tak berubah. Berubahlah atau kantin Anda akan bangkrut. Aku di sini karena kantin Anda sepi. Lihatlah kantin di sebelah ramai. Pemilik kantin terdiam. Memang banyak yang komplen dan kantinnya sepi. Lebih memilih warung kantin sebelah." "Hei! Kamu!" Netra wanita itu melirik ke kantin sebelah memang ramai oleh mahasiswa berbeda dengan miliknya. Celina tak menghiraukan ucapan wanita itu lagi. Ia mengambil cangkir kopi dan menyesap perlahan. Suara tak asing menyapa. "Cel, tumben sudah datang?" Vina sahabat Celina duduk di hadapannya. Di samping gadis itu Fionita juga ikut bergabung. Mereka berdua teman terbaik sejak SMA. Vina anak orang kaya begitu juga Fionita. Mereka masih mau berteman dengan Celina, gadis miskin yang selalu mengandalkan beasiswa saja. Biasanya Celina selalu telat apalagi malamnya ia bekerja sebagai pelayan di klub. Tidur hanya beberapa jam saja setelah itu kuliah pagi hingga siang. "Ibu aku masuk rumah sakit banyak luka memar di tubuhnya." Ucapan Celina mengejutkan, mereka langsung mendekati Celina dan memberikan support kepadanya. Mereka tahu kalau Celina sangat menyayangi ibunya. Berbeda dengan mereka. Orang tua selalu sibuk bekerja hingga jarang merasakan kasih sayang dan berkumpul keluarga. Mereka juga pernah melihat interaksi keluarga Celina, sangat mengharukan. Kasih sayang saling melengkapi. Sedangkan mereka tidak sehangat itu. Walau rumah sederhana, tapi semua terpenuhi dengan kasih sayang. "Maafkan aku. Aku sudah bilang ke Papi untuk meminjamkan uang 100 juta untuk menembus ibumu. Tapi dia banyak urusan. Nanti aku coba pinjam ke abangku. Semoga aja dia mau mambantu. Tapi abangku di luar negri. Seminggu lagi pulang. Papa juga sudah mencari pengacara yang bagus untukmu. Tapi mereka menolaknya karena banyak pekerjaan lain. " Vina selalu berusaha membantu Celina. Beberapa kali gadis itu memberikan bantuan secara cuma-cuma. "Tidak. Tidak perlu. Aku akan hadapi sendiri. Semua beres. Kalian tenang saja " Kali ini Celina tak akan bercerita tentang malam panjang yang ia lakukan dengan pria asing hanya demi uang menebus ibunya. "Kamu serius sudah dapat? Uang 100 juta itu sangat banyak. Bagaimana kamu bisa?" tanya Fionita menatap curiga. Pikirannya berkelana jauh. Apalagi ia pernah tak sengaja melihat Celina melihat sebuah situs online satu malam. "Aku meminjam kepada keluarga jauh. Kalian jangan khawatir." Celina terpaksa tersenyum ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Jangan sampai mereka tahu kebohongannya hanya melihat mimik wajah. Apalagi Fionita jurusan kriminologi. "Cel, kamu tak apa?" Fionita menyentuh lengannya lembut. Tatapan mata Celina tak berani memandangnya. "Aku tak apa. Ayo sarapan. Lapar sekali." Celina melahap sandwich ayam dan kopi di hadapannya. Mereka juga memesan sarapan untuk menemani Celina. Kampus mulai ramai, mahasiswa dari berbagai jurusan berbodong-bodong masuk ke gerbang membawa semangat baru untuk belajar. Celina dan Vina memasuki kelas Matematika dan Fisika. Mereka lebih suka pelajaran yang menantang. Sedangkan Fionita berada di jurusan yang lain. "Eh, katanya ada dosen baru gantiin Pak Herman. Beliau pindah ke luar negeri." Vina meletakkan bukunya di atas meja, gadis itu mengeluarkan kaca kecil dari tasnya merapikan rambut dan make up. Celina bernapas lega Pak Herman, dosen itu cukup menyebalkan. Ia sering dihukum karena datang terlambat. Berdiri di depan sampai jam pelajaran habis terkadang Celina harus membersihkan toilet murid setelah jam pelajaran selesai masih dengan alasan yang sama terlambat datang. "Semoga aja kali ini dosennya tak seperti Pak Herman. Aku sering mengantuk jika dia yang ngajar dan ia pelit sekali sama nilai. Bagaimana bisa dapat nilai yang bagus?" keluh Vina sering mendapatkan nilai B berbeda dengan Celina yang selalu dapat nilai A atau B plus. "Itu semua tergantung kamu bukan Pak Herman. Lagian kamu juga sering main game dan lupa waktu. Salah kamu bukan dia. Belajar dan berusaha." Vina merenggut mendengar ledekkan Celina dan ia hanya menertawakan wajah lucu Vina. "Ini catatanmu." Vina menjulurkan buku merah muda. "Astaga ternyata buku ini ada di kamu. Syukurlah." Celina baru saja menjejalkan buku ke dalam tas saat pintu ruang kuliah terbuka. Mahasiswa-mahasiswa langsung berdiri menyambut dosen baru. Begitu langkah sepatu kulit itu terdengar, jantung Celina berhenti berdetak sepersekian detik. Dan ketika pria itu mengangkat wajahnya ke arah kelas. Jantung Celina berhenti sejenak dan tatapan mereka bertemu. Rahang itu. Mata itu. Suara itu. Dia ...Bab 84 Celina memutuskan untuk pergi dari kantor polisi, membatalkan laporannya apalagi tak punya bukti yang kuat. "Aku akan membalasnya nanti. Tunggu saja," ucap Celina. Saat ini Celina harus beberes dan pergi dari kota ini. Apalagi ibunya tak tahu yang dialami Celina. Ia harus membawa keduanya. Sesampai di rumah, Riana menunggunya di teras. Denada meminta Riana untuk mengantar ke pasar. "Bu, tidak perlu belanja lagi." Celina menahan tangan ibunya yang hendak pergi. Riana sudah berada di atas motor. "Barang di toko habis. Ibu harus beli." "Aku ingin bicara dengan kalian. Ada hal yang penting." Wajah Celina serius. Denada melihat mata anaknya sembab. Ia menarik Riana dan menyuruh karyawannya menjaga toko. Celina meminta ibu dan Riana berkumpul di ruang tamu. Ia harus melakukannya dan tak ingin meninggalkan mereka apalagi Riana jug sudah selesai ujian. Adiknya tinggal menunggu hasil kelulusan saja. "Ada apa Cel? Apa ada hal yang penting?" Denada duduk di samping Riana. Mere
Bab 83 "Celina, aku ...." Celina mengangkat salah satu tangannya. Ia menatap Fio kecewa. Tubuh Fio reflek berdiri. Kenapa Celina datang dan tak memberitahu dulu biasanya ia akan mengabari kalau dirinya akan datang. "Aku sudah mendengar semuanya. Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku, Fio? Kenapa? Apa salahku kepadamu? Apa selama ini aku pernah menyakitimu?" Berbagai pertanyaan dilontarkan. Celina tak bisa menahan air mata. Sahabatnya yang sudah dianggap saudara ternyata menusuk dari belakang dan memberikan tubuhnya kepada penjahat. "JAWAB FIO!" Tubuh Fio membeku. Ia tak bisa menjawab itu semua hanya saja Sofia adalah sepupunya. Selama ini tak ada saudara yang menganggapnya keluarga. Tapi kali ini Sofia mau pergi jalan-jalan, main dan curhat dengannya. Sofia juga sering membawa ke acara mewah bersama Sofia dari sana ia mendapatkan pria tampan dan idamannya. Beberapa bulan ini ia menghindari berkumpul dengan Vina dan Celina. Tapi mereka tak menyadari kejauhan Fio. Mereka mengang
Bab 82 Hati Celina sedikit tenang setelah mengambil keputusan demikian. Ia akan pergi, tapi sebelum itu ingin pamit dengan sahabatnya, Vina dan Fionita. Kali ini Celina ingin bawa motor sendiri. Cuaca tak begitu panas. Ia mengambil ponsel di tas sebelum berangkat. "Vin, kamu di rumah tidak?" Celina membawa dua bingkisan kenang-kenangan untuk mereka disimpan di dalam jok motor. "Ada. Tapi aku mau pergi sama Mama nanti siang." Vina melirik jam dinding masih ada dua jam lagi. "Aku mau ke rumah kamu. Ini lagi mau jalan. Sebentar doang mau ngasih sesuatu. Kamu di rumah siapa?" Vina selalu berpindah-pindah tempat kadang di rumah ibunya, nenek kadang tantenya."Rumah Mama. Dia juga pulang satu jam lagi. Datanglah ke sini." Vina tahu tentang proposal Celina. Ia sangat sedih melihat sahabatnya terpukul. Ia tak mudah percaya tentang gosip yang beredar. Berkali-kali berdebat dengan teman kampus di grup. Vina kekeh kalau itu semua hanya Fitnah. Celina pun belum membuka suara tentang hal it
Bab 81 “Aku tidak akan mengancammu hari ini,” ujar Riana sambil menyilangkan kaki. Suaranya datar, profesional. “Aku datang membawa pilihan untukmu. Semua yang aku berikan sangat menguntungkan." Padahal barusan saja ia mengeluarkan data keluarga Celina walau halus Celina paham kalau Riana Dewi mengancam cara yang tak terlihat dan elegan. Celina menelan ludah. “Pilihan apa?”“Aku tidak menawarkan uang,” lanjut Riana. “Aku tahu kamu akan menolaknya.” Riana Dewi melirik Celina dan tersenyum meremehkan. Tabungan Celina cukup banyak tentu saja uang itu dari Luis. "Tenang Celina. Aku tak akan menyentuh keluargamu. Meraka aman asal kamu mengikuti apa yang kuinginkan. Aku menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga dan penting dari hidupmu.”Riana menekan kata paling akhir. Napas Celina tercekat. Kedua kaki bergetar. Riana memperhatikan itu. "Pelayan berikan tempat duduk kepadanya." Riana tak memberikan kursi di sampingnya justru pelayan memberikan kursi lainnya."Silakan duduk Nona." C
Bab 80Ponsel Celina bergetar di atas meja belajar.Satu getaran pendek, lalu hening.Nomor itu tidak ia simpan. Namun deretan tiga angka terakhir ia ingat. Tiga dua lima dan nomor cantik di depannya. Hanya satu pesan singkat.[Kita perlu bicara. Supir akan menjemputmu di depan kampus. Besok, jam 9 pagi ] Celina menatap layar cukup lama dan mengetik balasan [Baiklah Nyonya]Tak ada kata lain selain persetujuan saja. Celina merebahkan tubuhnya dan segera memejamkan mata entah ada apa besok ia harus menyiapkan mental. Malam itu Celina tak bisa tidur ia bermimpi sangat buruk, tubuhnya penuh dengan ular. Celina berusaha lepas dari ular kecil itu. Setelah itu ada ular sangat besar membantu Celina lari dari mereka. Ular putih dan bersih. Ia tak berbelit-belit, tapi pergi meninggalkan Celina sendiri di tempat yang aman. Celina bangun setelah jam alarm berbunyi. "Hanya mimpi." Celina mengusap wajahnya penuh dengan peluh. Malam itu kipas tak dinyalakan karena tubuh Celina panas dingin. Ta
Bab 79 Kepala Luis berdenyut nyeri. Ia memijat pangkal hidungnya. Celina berkata demikian membuat hatinya ikut sakit. "Celina pasti terpukul," ucapnya menatap ke atas langit ruang kerjanya. Saat ini ia masih berada di Paris mengurus permasalahan kantor Paris. Tak mungkin menemui kekasih gelapnya itu apalagi jarak sangat jauh butuh beberapa hari. Luis mengangkat cangkirnya. Ia meneguk perlahan kopi yang sudah dingin. Pikirannya masih kusut. Tangannya menghubungin sekretaris yang berjaga di depan untuk membuatkan kopi. "Anda belum makan sejak pagi. Apakah aman untuk lambung Anda. Lebih baik makan dulu. Nanti saya akan buatkan kopi lagi." Lambung Luis sedikit perih, tapi ia butuh kopi. Pria itu meyakinkan sekretarisnya kalau ia akan makan setelah minum kopi walau sebenernya ia enggan makan. "Tapi kalau Anda sakit lagi bagaimana?"Kemarin Luis mengeluh nyeri ulu hati dan lambung sedikit perih. Ia meringis menahan rasa sakit dan sembuh setelah minum obat lambung. Karena sibuk dengan







