Share

5. Tawaran

Author: Nannys0903
last update publish date: 2025-10-22 16:53:30

Bab 5

Setelah kelas usai Celina menunduk sepanjang jalan. Setiap kali nama Luis disebut teman-temannya jantung Celina semakin berdetak kencang. Dosen baru itu adalah Luis, teman kencan Celina.

Kenapa harus dia yang menjadi dosennya. Apakah takdir memang sudah mengaturnya. Celina membuang napas panjang.

"Benar-benar gak aku duga. Ganteng banget Pak Luis. Kalau begini aku betah dan gak mau bolos," ucap Vina sepanjang jalan membicarakan pria itu. Begitu juga yang lainnya.

"Aku harus mendapatkan nilai bagus untuk mendapatkan perhatiannya. Cel, bantu aku belajar. Aku ingin mendapatkan nilai yang bagus."

Celina tak menanggapi ucapannya.

Vina baru menyadari sesuatu yang aneh dari Celina. Ia menahan lengan Celina agar berhenti berjalan.

"Cel, muka kamu pucat banget. Kamu kenapa?" Vina menyentuh dagu Celina.

"Gak apa. Aku pengen buru-buru pulang, aja. Malam ini harus kerja sebelumnya aku mau jenguk Ibu." Suara Celina lesu dan lemah.

"Tapi ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku. Ada apa?" tanya Vina mulia cemas. "Apa jangan-jangan kamu terkejut dengan ketampanan Pak Luis? Dari tadi dia lirik kamu, loh. Apa jangan-jangan kalian sudah kenal lama?"

"Ah, apaan sih. Kamu salah lihat. Mana mungkin dia lihatin aku. Ngaco kamu." Celina menyelipkan rambut ke telinga. Jangan sampai hubungan one night mereka ketahuan.

Vina tertawa. Ia hanya mengoda Celina saja. Tapi gadis itu terlihat sangat gugup membuat dirinya aneh. Mereka pun pergi mencari Fionita.

Setelah menjenguk ibunya di rumah sakit, sorenya Celina bergegas untuk bekerja di sebuah klub malam. Di sana gajinya lumayan besar.

Sebuah mobil BMW hitam berhenti di depan rumah sakit. Jendela mobil terbuka memperlihatkan pemilik kendaraan tersebut.

"Naik."

Celina terdiam, ia tak menyangka kalau bertemu dosennya di tempat ini.

"Kamu mengikutiku?"

"Naiklah!"

"Aku ...."

"Naik atau aku sebarkan tentang kita." Ancam Luis tak main-main. Ia tahu ketakutan di mata Celina ketika melihat Luis di kampus. Pria itu juga mencari informasi lebih akurat tentangnya.

Celina membuka pintu mobil penumpang, tapi Luis menolaknya.

"Aku bukan supir. Duduklah di sampingku."

Celina mendengkus kesal. Nada suara Lusi memerintahkan tanpa bernada sopan. Apakah ia tak bisa berbicara baik-baik.

"Ada apa?" tanya Celina tanpa basa basi."Katakan. Aku harus kerja malam ini, Tuan."

Luis terkekeh. Malah ia membawa Celina ke restoran terkenal dan mewah tanpa meminta persetujuan darinya.

"Aku tak lapar Tuan. Anda bisa katakan apa mau Anda."

"Aku lapar dan butuh makan. Kamu ikut aku." Luis membuka pintu mobil dan menarik lengan Celina agar keluar.

"Ck, bisakah Anda lembut dan menghargai wanita? Suara Anda sangat kasar Tuan."

Luis terkekeh, ia tak menyangka kalau sikap Celina keras kepala dan menyebalkan. Baru diperlakukan seperti itu sudah marah-marah.

"Baiklah Nona Celina." Suara Luis melembut dan mengulurkan tangan, tapi Celina menolaknya membuat Luis semakin tertantang.

Luis memesan satu set makan malam dari menu pembuka hingga penutup dan yang menyebalkan Luis tampak tak berbicara. Pria itu tak suka ketika makan harus mengobrol.

Selama makan, Celina melihat jam di tangannya. Ia harus segera pergi dari restoran ini. Tapi Luis masih menikmati makanannya dengan santai.

"Maaf, Tuan. Aku harus pergi bekerja. Anda bisa melanjutkannya sendirian." Celina bangkit dari duduknya. Tapi tubuhnya tertahan oleh tangan kekar Luis.

"Libur saja atau tidak perlu kerja lagi di tempat itu."

Celina membuang napas kasar dan melipat tangan di dada. Ia menatap Luis dan berkata, "Memangnya Anda siapa. Saya butuh uang melanjutkan hidup."

"Duduklah. Aku sudah selesai makan." Luis memannggil pelayan untuk merapikan meja mereka. Celina tak menyentuh makan penutup.

"Jangan buang waktuku Tuan Luis. Saya harus pergi." Kali ini suara Celina lebih tegas dan lantang. Waktunya tak banyak lagi apalagi lokasi tempat kerja cukup jauh.

"Nona keras kepala. Apa Anda tak bisa duduk dengan damai dan tenang."

Celina membuang muka. Ia sudah gelisah karena jam menujukkan waktu yang mepet. Ia pasti telat.

"Aku akan memberikannya. Kamu tak perlu bekerja keras seperti dulu. Cukup diam dan ikuti perintahku saja. Uang akan mengalir dengan deras. Semua kebutuhanmu dan keluargamu akan terpenuhi." Luis mengangkat gelas wine dan menyodorkan ke Celina.

Wajah Celina merah padam. Kali ini ia tak bisa menahan emosinya. Apa yang dikatakan Luis ia paham kalau dirinya akan menjadi mainan di ranjang pria itu. Tidak, ia bukan wanita seperti itu.

Tangan Celina mengangkat wine dan hampir saja melempar air ke wajah pria di hadapannya. Tapi ia tahan apalagi ini tempat umum. Pertemuan kedua memang menyebalkan.

"Semua akan terpenuhi itu janjiku. Kamu jangan khawatir begitu juga biaya kuliahmu dan adikmu. Bukankah dia akan lulus tahun ini?"

"Oh, Anda mencari informasi tentangku. Begitu menarik sekali sampai mengorek identitasku, Tuan."

Luis menatap netra cantik Celina. Waktu di ranjang gadis itu begitu murah dan jinak. Tapi setelahnya justru sulit untuk ditebak. Luis mengira akan mudah mendapatkannya.

"Maaf, saya tak tertarik dengan tawaran Anda. Lebih baik cari saja wanita lain, Tuan. Malam itu satu kesalahan dan hanya terjadi satu kali saja. Aku tak akan mengulangi lagi."

Luis tersenyum tipis. Ia meletakan gelas wine tanpa menimbulkan suara.

"Terima kasih makan mewah ini." Celina berdiri, tapi Luis memanggilnya.

"Kalau butuh bantuan. Carilah aku. Kamu tahu di mana harus mencariku."

Celina melangkah tanpa menoleh lagi. Ia tak ingin masuk ke jurang yang lebih dalam. Tidak, Celina wanita baik-baik tak akan menjual diri lagi.

Luis mengambil ponsel dalam sakunya ia menghubungi seseorang untuk menjalankan perintahnya.

"Kupastikan kamu akan mencariku, Celina Win," ucapnya dalam hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    Bab 124

    Bab 124 Dari balik batang pohon kamboja yang besar dan rindang, Luis berdiri mematung. Jemari kekarnya meremas kuat sebuah dompet kain kecil bergambar kartun milik Aldo yang tertinggal di jok belakang mobilnya. Uang recehan di dalamnya berdenting pelan, menjadi satu-satunya saksi bisu detak jantung Luis yang berpacu liar.Niat awalnya hanya memutar balik mobil untuk mengembalikan dompet itu. Namun, instingnya menuntun kendaraan mewahnya mengikuti rombongan ambulans hingga sampai ke kompleks pemakaman umum ini. Dan sekarang, kenyataan menghantam dada Luis bagai hantaman badai.Di depan makam yang masih basah bertabur bunga mawar, Celina tengah berlutut. Matanya yang sembab meneteskan air mata duka, memeluk erat tubuh mungil Aldo yang terisak pelan."Mommy," bisik Aldo parau di sela tangisnya. "Nenek Lela sudah di surga, ya?"Celina mengusap lembut kepala putranya, membenamkan wajah anak itu di dada hangatnya. "Iya, Nak. Nenek sudah tenang. Aldo harus jadi anak pendoa buat Nenek, ya?"

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    Bab 123

    Bab 123Di lorong depan ruang perawatan intensif, suasana duka terasa begitu pekat. Celina duduk di kursi besi dengan kepala tertunduk, pakaian kerja sederhananya tampak kusut, dan wajahnya pucat pasi. Di sampingnya, Denada terus mengelus punggung putrinya sembari mengusap air mata.Namun, ketenangan penuh duka itu terganggu oleh perdebatan sengit di sudut lorong.Mereka masih mengurus jenazah dan belum dibawa pulang. Sedangkan di rumah Celina sudah ramai para tetangga berdatangan untuk membantu pemakaman."Brian! Kamu tidak bisa membiarkan janji konyol itu mengikatmu!" cecar Elisabeth dengan suara tertahan penuh penekanan. Wajah cantiknya yang biasa terpoles sempurna kini tampak bengis oleh amarah. "Ibumu sudah meninggal! Janji pada orang mati tidak ada artinya jika itu merusak masa depan kita! Aku tidak setuju jika kamu kembali bersama Celina. Kita sudah berjanji akan hidup dan menua bersama. Aku mencintaimu Brian. Jangan ikuti ucapan ibumu." "Cukup, Elisabeth!" bentak Brian rend

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    bab 122

    "Aldo sayang Papa Luis," balas Aldo, memeluk leher Luis erat-erat, menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu. Ia belum pernah merasakan kebahagiaan memiliki seorang Papa yang sesungguhnya. Di depan pintu netra seseorang membulat ketika melihat keduanya di atas panggung."Tuan Luis ....." Wajah pucat seperti kapas. Ia mengusap netranya memastikan tak ada air mata atau kotoran. Apa yang dilihatnya nyata dan benar. Pria paruh baya berjas abu-abu yang berdiri di ambang pintu aula sekolah matanya melebar ketidakpercayaan. Sebagai salah satu jajaran direksi di konsorsium bisnis terkemuka, ia mengenali wajah itu dengan sangat jelas Luis Suarez. Pria dingin berdingin dingin yang mendominasi panggung bisnis internasional, sosok berpengaruh yang tak tersentuh, kini berdiri di panggung TK dengan mata berembun sambil memeluk erat seorang anak kecil."Tuan Luis?" gumam pria itu lirih, tertegun melihat bagaimana Luis mengelus punggung anak laki-laki itu dengan kelembutan yang tak pernah diperliha

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    Bab 121

    Bab 121 Celina terjebak macet. Ia hendak ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari tetangganya. Ibunya, Denada meminta tetangga untuk menghubungi Celina karena keadaan Mama Lela memburuk dan ponsel Denada mati daya setelah menerima panggilan dari Brian.Celina meremas tangannya. Di kemudi supir perusahaan hanya menghela napas panjang."Pak, apa tidak ada jalan lain?""Ada Nona. Di depan ada gang kecil. Kita bisa lewat sana hanya saja macet."Celina menatap ponselnya sudah tiga puluh menit berlalu. Tapi perjalanan rumah sakit masih jauh. Hingga akhirnya ada pergerakan dari mobil setelah di kondisikan oleh keamanan.Langkah Celina semakin cepat. Tubuhnya gemetar setelah menerima kondisi terbaru Mama Lela. Ia mendorong pintu ruangan. Di sana Brain dan Elizabeth berdiri berdampingan dan Denada mengenggam tangan Mama Lela.Langkah Celina berdiri di samping tubuh mertuanya. Ia menatap wanita itu dengan iba. Baru beberapa hari saja tubuhnya semakin ringkih."Ma, ini Celina sudah datan

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    Bab 120

    Bab 120 Wajah Aldo begitu riang untuk pertama kalinya ia duduk bersama pria yang bisa dipanggil papa. Brian bukan tak bisa hadir. Aldo sudah berbicara semalam, tapi pertengkaran antara Brian dan Elizabeth membuat dirinya sadar diri kalau ia bukan siapa-siapa. Aldo tak menyalahkan mereka justru dirinya yang menyusahkan saja sejak dalam kandungan. Aldo memilih pergi tak ingin menganggu Brian dan kekasihnya. Untung saja bertemu Luis di jalan. Pria itu bisa diajak kerjasama. Lampu aula sekolah meredup. Hanya sorotan cahaya kuning hangat yang menerangi panggung kayu di depan. Di barisan kursi terdepan, Luis membetulkan posisi duduknya yang terasa kaku. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Di sebelahnya, beberapa ayah lain tampak bersenda gurau, bangga menunggu giliran anak mereka tampil dalam perayaan Hari Ayah pagi itu."Selanjutnya." Suara guru pembawa acara terdengar melalui pengeras suara, "kita sambut penampilan dari Aldo, kelas nol besar, yang akan mempersembah

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    Bab 119

    Bab 119Aldo duduk di teras sudah siang ia belum juga pergi ke sekolah. Hari ini hari perayaan ayah sedunia. Ia belum mendapatkan penganti ayahnya. Semalam ia mencoba beranikan diri untuk berbicara dengan Brian. Pria itu bisa menjadi ayahnya di panggung. Aldo menatap jemari mungilnya yang sejak tadi dimainkan. Kendaraan berlalu lalang menyapa anak itu. Tapi tak ada satupun ia jawab. Hanya menatap tanpa kehangatan. Semua orang menyadari hal itu. "Aldo. Kenapa kamu belum berangkat? Ke mana Aunty mu itu?" tanya salah satu orang tetangga. "Mereka pergi pagi-pagi ke rumah sakit. Nenek Lela kambuh dan Aunty Riana mengantar Nenek ke sana. Mami belum pulang." "Lalu kenapa kamu belum berangkat?" tanya wanita itu berusia lima puluh tahunan. Ia menatap iba Aldo. Biasanya wajah anak itu sangat ceria. Hari ini raut wajahnya berbeda. "Aku segera berangkat." Aldo beranjak bangkit. Ia menatap sepedanya yang sedang rusak. Bel

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    33. Tak Suka Berbaur

    Bab 33 Celina mengusap dada. Kenapa supir berkata langsung di depan Anabel. Tapi supir juga tidak tahu apa yang dipikirkan Celina. Jadi supir itu tak sepenuhnya bersalah, harap dimaklumi. Anabel masih meminta penjelasan terlihat dari netranya yang tak berpaling. Sedangkan Celina terlihat biasa a

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    26. panggilan darurat

    Bab 26"Cel lu naik motor siapa?" Vina yang baru sampai parkiran motor terkejut dengan kendaraan roda dua yang Celina bawa. Motor matic hitam, body sudah usang, jok motor saja sobek-sobek. Banyak mata yang melihatnya. Tapi Celina tetap asik membawa kendaraan itu. Tak peduli berapa ratus mata mempe

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    17. Celina dan Riana

    Bab 17Celina menatap telapak tangannya yang masih terasa panas, dada naik turun dihimpit penyesalan. Riana memegangi pipinya, mata bening itu membulat tak percaya kakaknya sendiri melakukan kekerasan padahal ia tak seperti itu. “Riana.” Tadi emosinya meledak begitu saja. Apalagi dalam keadaan sep

  • Gadis 100 Juta Tuan Luis    6. Ditolak

    Bab 6 Pagi-pagi sekali Celina sudah rapi dengan pakaian formal dan siap pergi ke perusahaan tempat bekerja ibunya. Denada hanya karyawan kantor biasa dengan pekerjaan serabutan. Perusahaan itu memang tak terlalu besar, tapi setidaknya bisa menghidupi anak-anak daripada harus berjualan keliling yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status