Share

4. Desahan Pria di Kamar

Author: Mas Author
last update Last Updated: 2025-11-23 18:38:40

"Mbak yakin? Apakah Mbak sudah cek semuanya dengan benar?" tanya Jasmine yang mulai panik, suaranya terdengar bergetar walau ia berusaha mati-matian untuk tetap terlihat tenang di hadapan resepsionis itu.

"Saya sudah cek dengan benar, Nona," angguk resepsionis tersebut, nadanya datar tanpa sedikit pun menyadari kepanikan Jasmine yang semakin menjadi-jadi.

Mendengar jawaban itu, tubuh Jasmine mendadak terasa lemah dan lunglai. Lututnya seakan kehilangan kekuatan, membuatnya hampir roboh jika saja ia tidak cepat-cepat berpegang pada meja resepsionis. Seketika hatinya berdesir hebat, dan napasnya terasa berat di balik cadar yang menutupi sebagian besar wajahnya.

"Astaghfirullahaladzim. Dimana kamu, Rosa?" lirih Jasmine, suaranya nyaris hilang. Genangan air mata terlihat berkumpul di pelupuk matanya, membuat dunia di depannya tampak kabur sejenak.

Kecemasannya telah memuncak. Jasmine sudah dikuasai rasa panik yang begitu mencekik, sampai-sampai ia nyaris saja putus asa. Ia tidak tahu harus melangkah kemana lagi untuk mencari adiknya. Semua petunjuk terasa buntu, membuat hatinya seakan diremas oleh tangan tak terlihat.

"Huhuhu. Ya Allah, dimana Rosa? Semoga dia baik-baik saja, Ya Robb." Tangis itu tak jatuh, tetapi suaranya terdengar lirih dan bergetar, menandakan betapa rapuh dirinya saat itu.

Karena tak menemukan keberadaan Rosa di hotel tersebut, Jasmine akhirnya memutuskan bahwa satu-satunya jalan yang mungkin ia tempuh adalah pulang. Lebih lama berada di hotel seperti itu justru membuat dadanya semakin sesak. Terlebih saat ia melihat dua remaja lelaki dan perempuan yang masuk sambil berangkulan mesra, membuat Jasmine spontan memalingkan wajah dengan gerakan cepat. Tubuhnya bergidik penuh ketidaknyamanan, seakan tempat itu begitu asing dan penuh dosa.

"Ya, memang sudah seharusnya aku pulang," gumamnya lirih, mengangguk pelan pada dirinya sendiri.

Ia pun berbalik dengan langkah terburu-buru. Namun, baru saja ia memutar tubuh, matanya menangkap sosok seorang gadis berhijab yang sekilas—hanya sekilas—sangat mirip dengan Rosa.

Jasmine tertegun. Ia mematung seperti patung marmer yang tak mampu bergerak barang sedetik pun. Tatapannya melebar, menatap intens ke arah gadis bergamis panjang itu.

"Itu Rosa. Ya, itu memang Rosa." Jasmine mengangguk spontan, suaranya dipenuhi harapan yang sempat hilang. Kegembiraan melesat masuk memenuhi hatinya, seperti cahaya terang yang memecah gelap.

Sosok gadis berhijab itu berjalan cepat menuju lift, seolah tidak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah mencarinya mati-matian.

"Masya Allah, Rosa!" seru Jasmine yang langsung berlari. Suaranya menggema di lobi hotel yang luas, namun ia tidak peduli.

Ia berusaha mengejar secepat mungkin, tetapi pintu lift keburu tertutup sebelum ia berhasil masuk. Jasmine menepuk-nepuk pintu lift itu dengan panik, seakan berharap lift tersebut akan terbuka kembali. Namun tentu saja itu percuma.

Jasmine lunglai, kembali kehilangan tumpuan harapan yang baru saja ia genggam. Nafasnya terengah, dadanya terasa semakin sesak, dan kecemasannya seperti gelombang besar yang menghantam dirinya berulang kali.

"Ya Allah, Rosa! Tunggu kakak!" serunya frustasi.

"Astaghfirullah, aku harus bagaimana lagi?" bisiknya, hampir menangis di tempat.

Saat ia menunduk, berusaha mengatur napas, pandangannya menangkap sebuah tangga darurat yang berada tidak jauh dari lift. Di sana, entah bagaimana, muncul seberkas harapan baru. Senyumnya muncul perlahan, sangat tipis, namun begitu tulus.

"Iya, aku bisa melewati tangga itu untuk mengejar Rosa," tekadnya dengan penuh semangat yang kembali pulih.

Tanpa ragu, Jasmine segera mengambil langkah panjang dan berlari menaiki tangga tersebut. Ia menelusuri lantai demi lantai, menahan napas, menahan letih, demi satu tujuan: menemukan Rosa.

Setibanya di lantai lima, lutut Jasmine terasa seperti hendak copot. Nafasnya tersengal-sengal, dan peluh membasahi dahinya hingga terasa pedih saat menyentuh kulit.

"Masya Allah, capek banget," keluhnya. Meski begitu, ia langsung menyeka keringatnya dengan ujung gamis, bersiap melanjutkan pencarian.

Saat ia mengangkat wajah, mendadak matanya kembali menangkap sosok gadis yang mirip Rosa tadi. Senyum lega terapung di matanya yang kembali berair.

"Rosa. Itu dia," gumamnya dengan suara lega yang tak bisa disembunyikan.

Jasmine segera berlari lagi, mengikuti adiknya dari kejauhan. Ia melihat dengan jelas bagaimana gadis itu berdiri di depan salah satu pintu kamar hotel, lalu masuk.

"Ya Allah, apa yang Rosa lakukan kesana? Kenapa dia masuk ke kamar itu?" kecemasannya menggulung kembali, jauh lebih besar dari sebelumnya.

Ia menghampiri kamar tersebut dengan hati-hati namun tergesa-gesa. Sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan pintu.

"Aku yakin kalau tadi Rosa masuk ke kamar ini. Aku akan segera mencarinya ke dalam. Bismillah."

Jasmine menarik napas panjang, meneguhkan hati, lalu perlahan memutar gagang pintu dan masuk ke dalam.

Begitu masuk, ia tertegun. Kamar itu gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu pojok. Suasananya tampak tidak berpenghuni, namun aneh… ada aroma tidak sedap yang menyelinap masuk ke balik cadarnya, membuat perutnya bergejolak.

"Bau apa ini?" desis Jasmine pelan, berusaha tetap tenang.

"Aaahhhh."

Jasmine langsung tersentak. Suaranya hampir tidak keluar karena kaget. Suara itu… suara seorang pria. Suara desahan yang jelas tidak seharusnya ada dalam ruangan suram seperti ini.

"Astaghfirullahaladzim." Jasmine mengusap dadanya, berusaha mengusir rasa pusing yang tiba-tiba menyerang.

"Suara siapa itu? Apa jangan-jangan? Rosa?" pikiran buruk kembali menyeretnya ke jurang cemas.

Dengan tangan gemetar, Jasmine menelusuri dinding, mencari tombol lampu. Begitu menemukannya, ia langsung menyalakannya tanpa pikir panjang.

Pyarr!

Dalam sekejap, seluruh ruangan terlihat jelas. Kamar itu berantakan: botol kaca, tas terbuka, seprai kusut. Namun semua itu bukan fokus Jasmine. Tatapannya langsung tersedot ke arah ranjang, dimana terlihat jelas ada seseorang bergumul di balik selimut tebal.

"Ahh! Ohh!" suara desahan pria terdengar samar, membuat Jasmine bergidik ketakutan.

"Rosa, awas kamu," geramnya, setengah marah, setengah takut.

Dengan langkah terburu, ia mendekati ranjang itu. Jantungnya berdetak sangat keras, seakan hendak meledak. Tangan Jasmine langsung mencengkeram ujung selimut, menariknya dengan hentakan kuat.

"Rosa!"

Namun apa yang terlihat justru membuat Jasmine membelalak lebih besar dari sebelumnya. Napasnya terhenti, dan tubuhnya seketika gemetar hebat.

"Aaaaaaaa!"

"Aaaaaaaa!"

Ia dan pria itu menjerit bersamaan. Refleks, Jasmine menutup kedua matanya dengan tangan.

"Hey, apa yang kamu lakukan?" bentak pria itu, terkejut setengah mati sambil buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Pria itu tampak linglung, bertelanjang dada, dan hanya mengenakan boxer yang jelas memperlihatkan bentuk tubuh bagian bawahnya yang tampak menggembung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Bercadar Incaran Sang Casanova    52. Keputusan Juan

    Hari demi hari mulai silih berganti. Siang dan malam saling bertukar untuk memanjakan penduduk bumi. Tak terasa beberapa minggu pun berlalu dengan sangat cepat.Terik sang mentari terasa menyengat apapun yang berada di bawahnya. Hamparan langit biru nan bersih, membuat sinar sang surya semakin leluasa menerpa bumi.Kini Juan terlihat tengah berendam di dalam kolam renang apartemennya. Kedua mata pria itu nampak terpejam, tetapi berulang kali pula ia membuka kedua matanya, menatap birunya langit cerah di atas sana.Dada pria itu masih bergemuruh sangat kencang, mengingat kepingan kejadian yang beberapa minggu ini sudah menimpa kehidupannya, dan membuat setengah hidupnya terasa hancur."Jasmine," lirih Juan sembari menatap pada langit biru di atas sana.Kini rasa rindu terasa begitu menyerang perasaannya. Semenjak berita viral saat dirinya tengah berpelukan dengan Naomi, selama itu pula dia tak pernah mendengar kabar dari Jasmine lagi. Juan berulang kali mencoba untuk menghubunginya, te

  • Gadis Bercadar Incaran Sang Casanova    51. Dilema

    Jasmine terus memohon supaya abinya tidak mengusir Juan. Akan tetapi, kyai Maulana tampaknya tidak mengindahkan ucapan putrinya itu, dengan putrinya bersikap seperti itu, itu justru membuat kyai Maulana sangat membenci Juan dan tidak ingin Juan mendekati putrinya lagi, karena menurut kyai Maulana Juan membawa pengaruh buruk untuk Jasmine.Dan sebagai tokoh yang sangat disegani masyarakat kyai Maulana tidak mau Jasmine mencoreng nama baiknya. Jadi lebih baik kyai Maulana tidak mengizinkan lagi Jasmine untuk bertemu dengan Juan."Sudah saya bilang kan, saya gak mau lihat kamu lagi!" ujar Kyai Maulana murka terhadap Juan karena Juan tampaknya menghiraukan ucapan Kyai Maulana tempo hari.Padahal tempo hari kyai Maulana sudah benar-benar memberikan peringatan kepada Juan jika Juan tidak boleh datang lagi ke rumahnya dan bertemu dengan Jasmine."Maaf, Abi. Tapi say—""Saya gak mau dengar penjelasan kamu, sekarang kamu pergi dari sini!" perintah kyai Maulana kepada Juan, meminta Juan segera

  • Gadis Bercadar Incaran Sang Casanova    50. Diusir

    Dengan cepat Juan membalikkan tubuhnya dan menatap tajam kepada orang yang sudah menarik mundur dirinya.Tatapan tajamnya seketika berubah menjadi tatapan jengkel ketika dia melihat Ustad Rayyan adalah pelaku tersebut.“Mau apa kamu?” tanya Ustadz Rayyan kepada Juan.Juan mengernyit tidak suka dengan keberadaan Ustadz Rayyan di hadapannya itu. Dia merapikan sedikit bajunya yang agak kusut karena tarikan dari Ustadz Rayyan tadi.“Bukan urusanmu. Pergilah dan jangan ganggu aku,” ucap Juan berniat kembali melangkah mendekati pintu rumah Kyai Maulana. Dia masih harus menjelaskan apa yang terjadi kepada Jasmine karena itu jauh lebih penting dari pada berdebat dengan Ustadz Rayyan.Namun lagi-lagi tubuhnya dipaksa mundur oleh Ustadz Rayyan yang menariknya sekali lagi. Juan yang kesal kembali menatap ke arah Ustadz Rayyan. “Kamu mau apa sih?” tanya Juan dengan kesal.Ustadz Rayyan tidak suka melihat Juan yang segigih itu karena ingin bertemu dengan Jasmine. Dia sudah bertekad ingin menjaga J

  • Gadis Bercadar Incaran Sang Casanova    49. Cemburu ya?

    "Jadi ternyata dia bertemu dengan wanita seksi ini?” gumam Jasmine pelan sembari terus menatap ke arah layar ponselnya yang masih memperlihatkan foto berserta video ketika Juan memeluk wanita dengan tubuh seksi itu.Jasmine memejamkan matanya sejenak. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya secara tidak langsung.“Aku nggak harus melihat ini terus,” ucap Jasmine lalu menutup layar ponselnya.Dia meletakkan ponselnya itu di atas nakas dan duduk di pinggir kasur dengan tatapan yang menatap lurus ke depan.Hatinya kembali merasa gelisah yang tidak karuan. Dia penasaran dan ingin tahu apakah video tadi benar adanya atau ada alasan di balik video itu.“Aku telepon aja kalau gitu.” Jasmine akhirnya kembali meraih ponselnya dan mencari nomor kontak milik Juan untuk dihubunginya.Setelah menemukan nomor Juan, tangannya masih mengambang di atas layar ponselnya. Dia masih ragu untuk menghubungi Juan atau tidak.Tapi karena rasa penasarannya jauh lebih besar, Jasmine tanpa berpi

  • Gadis Bercadar Incaran Sang Casanova    48. Naomi?

    Juan mengerutkan keningnya, mencoba berpikir siapa wanita yang dimaksud oleh kepala pelayan di restoran mamanya itu. "Wanita seksi?" gumam Juan.Karena merasa sangat penasaran Juan pun segera ke luar dan melihat siapa wanita seksi itu. Baru saja Juan keluar dia langsung dipeluk oleh wanita itu Juan yang lagi itu langsung mendorong wanita itu dengan kasar.Wanita itu kaget karena Juan langsung mendorongnya dengan begitu kasar tapi Juan jauh lebih kaget karena tiba-tiba dia dipeluk oleh wanita yang tidak ia kenali sebelumnya karena belum melihat wajahnya."Juan!" Tegur wanita itu saat Juan mendorongnya.Saat itu pula Juan bisa melihat wajah wanita itu yang ternyata adalah Naomi. Juan mengerutkan keningnya merasa bingung karena Naomi datang ke restoran mamanya dan mencari dirinya.Juan bisa melihat Naomi yang sangat cantik dan seksi, iya tertegun saat melihat Naomi di mana dulu Juan sangat menyukai wanita itu dan sangat terobsesi pada wanita itu.Tapi entah kenapa sekarang dia merasa tid

  • Gadis Bercadar Incaran Sang Casanova    47. Siapa Wanita Itu?

    "Mama, ada apa?" Juan cukup terkejut saat melihat Marina yang sedang menangis sesenggukan di sofa ruang tamu.Bergegas ia melangkah cepat, menghampiri sang mama yang tengah tertunduk, lalu ia pun segera duduk berlutut di hadapan mamanya."Mama, apa yang terjadi? Kenapa mama menangis?" tanya Juan dengan suara bergetar, karena sungguh ia tak pernah tega jika melihat wanita yang sangat dicintainya itu sampai menitikkan air matanya.Perlahan Marina mengangkat wajahnya, kemudian menatap pada Juan dengan mata yang masih terlihat memerah. Wajahnya terlihat basah, karena air mata yang terus mengalir di sana."Juan, papa kamu ….""Kenapa, Ma? Apa yang dilakukan sama papa?" tanya Juan kian tak sabarnya."Papa kamu marah-marah dan ngamuk sama mama. Lihat, dia melempar semua barang-barang ini. Mama benar-benar kecewa sama papa kamu," jawab Marina di sela isak tangisnya."Apa yang dilakukan papa, Ma? Kenapa papa melakukan semua ini?"Marina kembali terdiam, namun tak lama ia kembali menatap pada J

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status