LOGIN"Bi, ada apa?" tulis Aluna di buku kecilnya, lalu menunjukkannya saat melihat Bi Ina berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah bingung.
Bi Ina tampak sangat gelisah. Ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar itu kepada Aluna. Beberapa detik ia hanya terdiam, membuat Aluna semakin penasaran. "A-anu… Aluna," ucap Bi Ina dengan suara pelan, terlihat ragu. "Ada sesuatu yang harus Bi sampaikan." Aluna menatapnya dengan penuh perhatian. Ia lalu menulis sesuatu lagi di bukunya dan mengangkatnya. "Ada apa, Bi?" Bi Ina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Kamu… dipanggil Tuan Arsen," ucapnya hati-hati, matanya tidak lepas dari wajah Aluna. Aluna terlihat sedikit terkejut. Alisnya mengerut kecil. Ia segera menulis lagi. "Sekarang?" Bi Ina menggeleng pelan. "Bukan sekarang," jawabnya dengan suara lembut. "Mulai besok." Aluna tampak semakin bingung. Bi Ina kembali menarik napas sebelum akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya. "Mulai besok… kamu akan menjadi pelayan pribadi Tuan Arsen," ucapnya dengan nada pelan namun jelas. Mata Aluna langsung melebar. Ia terlihat terkejut sekaligus tidak percaya. Tangannya sedikit gemetar saat memegang buku kecilnya. Ia menunduk, lalu menulis dengan cepat. "Kenapa saya, Bi?" Bi Ina menatap tulisan itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. "Itu perintah langsung dari Tuan," jawabnya dengan nada serius. "Bi juga tidak bisa menolaknya." Aluna terdiam. Ia menunduk, mencoba mencerna semua itu. Di satu sisi, ia merasa takut. Namun di sisi lain, ia tidak punya pilihan selain menuruti perintah majikannya. Bi Ina melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Aluna dengan lembut. "Tenang saja," ucapnya dengan suara menenangkan. "Bi akan tetap di sini. Bi tidak akan membiarkan kamu sendirian." Aluna mengangkat wajahnya perlahan. Matanya terlihat ragu, tetapi juga sedikit lega. Ia lalu menulis lagi. "Baik, Bi." Bi Ina tersenyum tipis, meskipun di dalam hatinya masih dipenuhi rasa khawatir. Ia tahu, mulai besok— Kehidupan Aluna di rumah ini tidak akan pernah sama lagi. ** "Di mana Aluna?" tanya Arsen saat menuruni tangga, suaranya terdengar dingin namun tegas. Pagi itu, Aluna sengaja menghindari Arsen. Ia masih tidak mengerti mengapa dirinya dipilih menjadi pelayan pribadi. Rasa bingung bercampur takut membuatnya memilih menjauh. Tanpa sepengetahuan Bi Ina, Aluna berada di taman belakang, membersihkan dedaunan dengan hati-hati. Sementara itu, di dalam rumah, suasana mulai terasa tegang. "Sekali lagi, saya tanya. Di mana Aluna?" teriak Arsen dengan nada tinggi, membuat para pelayan yang ada di sana langsung menundukkan kepala ketakutan. Tak ada satu pun yang berani menjawab. Mendengar suara teriakan itu, Bi Ina segera datang dengan langkah tergesa-gesa. "A-ada apa, Tuan?" tanya Bi Ina dengan napas sedikit terengah, membuat Arsen langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam. Arsen langsung melangkah mendekat. Langkahnya tegas dan cepat, membuat Bi Ina refleks menegakkan tubuhnya. Meski rasa takut muncul, ia berusaha menahannya. Saat Arsen sudah berdiri tepat di depannya, suasana terasa menekan. "Di mana Aluna?" tanya Arsen dengan nada dingin, tatapannya tajam menatap Bi Ina. Bi Ina sedikit terkejut. Alisnya terangkat, jelas tidak menyangka Arsen akan menanyakan hal itu dengan nada seperti itu. Belum sempat ia menjawab, suara Arsen kembali terdengar. "Jawab!" bentaknya dengan emosi yang mulai terlihat. Bi Ina tersentak. Ia menelan ludah, mencoba menjawab secepat mungkin. "B-bukannya Aluna sudah pergi dari tadi, Tuan?" jawabnya dengan nada gugup, berusaha tetap terdengar tenang meski hatinya berdebar kencang. "Pergi ke mana?" tanya Arsen dengan emosi yang sudah memuncak, tatapannya semakin tajam. "Ke kamar Tuan, kan?" jawab Bi Ina dengan hati-hati, berusaha menebak sambil menahan rasa gugup. Arsen menatapnya dengan kesal. Rahangnya mengeras, jelas menahan emosi. "Kalau dia sudah ada di kamar saya, tidak mungkin saya bertanya kepada kalian!" teriak Arsen dengan nada tinggi, membuat suasana di ruangan itu semakin tegang. Para pelayan yang lain semakin menundukkan kepala, tidak berani menatap ataupun berbicara. Sementara itu, Bi Ina hanya bisa diam, jantungnya berdebar kencang, menyadari bahwa keadaan sudah mulai tidak terkendali. "Apa kamu tidak memberitahunya tentang apa yang saya katakan tadi malam, ha?" tanya Arsen dengan nada tajam, tatapannya menekan ke arah Bi Ina. Bi Ina langsung menegang. Wajahnya pucat, napasnya tertahan sesaat. "S-sudah, Tuan," jawabnya cepat dengan suara gugup, berusaha tetap tenang. "Saya sudah menyampaikan semuanya kepada Aluna." Arsen menyipitkan matanya, jelas tidak sepenuhnya percaya. "Lalu kenapa dia tidak ada di sini?" tanyanya lagi dengan nada dingin, namun penuh tekanan. Bi Ina menundukkan kepalanya, pikirannya mulai panik mencari jawaban. "S-saya juga tidak tahu, Tuan," ucapnya pelan, suaranya hampir bergetar. Suasana menjadi semakin mencekam. Tatapan Arsen semakin tajam, seolah tidak menerima jawaban tersebut. "Argh!" teriak Arsen dengan penuh emosi, tangannya mengepal kuat. Tanpa bisa menahan amarahnya, ia menyapu sebuah vas bunga di meja hingga jatuh ke lantai. Prang! Suara pecahan kaca menggema di ruangan, membuat semua pelayan tersentak ketakutan. Tak ada satu pun yang berani bergerak. Arsen menarik napas kasar, dadanya naik turun menahan amarah yang masih memuncak. "Cari Aluna sekarang juga!" teriaknya dengan suara keras dan penuh tekanan. Para pelayan langsung tersentak. "Baik, Tuan!" jawab mereka hampir bersamaan dengan nada panik, lalu segera berpencar untuk mencari Aluna di seluruh penjuru rumah. Sementara itu, Bi Ina masih berdiri di tempatnya dengan wajah tegang. Ia tahu, jika Aluna tidak segera ditemukan— Masalah ini akan menjadi jauh lebih besar. Tatapan Arsen perlahan beralih ke arah Bi Ina. Sorot matanya masih tajam, penuh tekanan yang membuat suasana semakin mencekam. "Jika sudah ketemu, bawa dia ke kamar saya. Paham?" ucap Arsen dengan nada dingin, namun tegas dan tidak memberi ruang untuk penolakan. Bi Ina langsung menundukkan kepalanya. "Paham, Tuan," jawabnya dengan suara pelan, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Arsen tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menatap Bi Ina beberapa detik, seolah memastikan perintahnya benar-benar dipahami. Sementara itu, di dalam hati Bi Ina, rasa cemas semakin membesar. Ia tahu, saat Aluna nanti bertemu dengan Tuan Arsen— Sesuatu yang besar akan terjadi."Di mana mereka?" tanya Arsen begitu tiba di apartemen Bella. Wajahnya terlihat dingin. Tatapannya tajam. Sementara Jack yang berdiri di depan pintu apartemen hanya mengusap wajahnya lelah sebelum menjawab, "Mereka ada di kamar Bella." Suara Jack terdengar lirih. Benar-benar menunjukkan betapa lelahnya dirinya menghadapi semua ini. "Bawa aku ke sana." Jack langsung menatap Arsen serius. "Arsen…" "Apa?" "Kamu tidak akan macam-macam, kan?" Arsen menatap balik sahabatnya itu. Rahangnya perlahan menegang. "Aku mendapatkan informasi dan bukti." "Bukti apa?" tanya Jack mengernyit. "Bahwa Roy memang pria brengsek." Seketika Jack langsung terdiam. Tatapannya berubah serius. "Maksudmu?" Arsen mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan beberapa foto dan data yang tadi dikirim asistennya. "Pria itu bukan hanya meninggalkan Bella." "Dia juga beberapa kali terlihat bersama wanita lain." Jack langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosinya perlahan mulai naik. Namun Arse
"Bagaimana? Apa perasaanmu sudah benar-benar membaik?" tanya Arsen pelan kepada Aluna. Aluna yang sedang duduk bersandar di ranjang langsung menganggukkan kepalanya kecil. Wajahnya terlihat sedikit lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya. Bahkan senyum kecil kini mulai sering terlihat di wajah pucatnya. Melihat itu, Arsen akhirnya bisa sedikit bernapas lega. "Syukurlah." Tangannya perlahan merapikan selimut Aluna yang sedikit berantakan. "Sekarang kamu harus banyak makan." "Supaya cepat sembuh dan bisa pulang dari sini." Aluna kembali mengangguk kecil sambil tersenyum. Namun beberapa detik kemudian— Tatapannya justru terus tertuju pada Arsen. Membuat pria itu mengernyit pelan. "Kenapa melihatku seperti itu?" tanyanya. Aluna hanya tersenyum kecil tanpa menjawab. Hal itu justru membuat Bi Ina yang sedang berada di sofa terkekeh pelan. "Nona Aluna sekarang lebih sering tersenyum kalau bersama Tuan." "Bi Ina," tegur Arsen pelan. Namun wajahnya justru terlihat sedi
"Tuan, dari tadi ponsel Anda berdering terus," ucap Sara sambil menyodorkan ponsel milik Arsen. Arsen yang sedang duduk di samping ranjang Aluna langsung menoleh. Ia mengambil ponselnya lalu melihat nama yang muncul di layar. Jack. Tanpa menunggu lama, Arsen langsung menjawab panggilan itu. "Katakan, Jack." Suara dari seberang telepon terdengar sangat kacau. "Aku benar-benar bingung harus bagaimana, Arsen." Arsen langsung mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?" Terdengar helaan napas panjang dari arah telepon. Lalu Jack kembali berbicara dengan nada frustrasi, "Orang tua Bella menyuruhku menikahinya." Seketika Arsen langsung terdiam. "Karena anak yang dikandungnya." Ucapan itu membuat suasana di sekitar Arsen langsung terasa berat. Ia berdiri perlahan lalu berjalan sedikit menjauh dari ranjang Aluna. "Apa Bella mengatakan semuanya kepada orang tuanya?" tanya Arsen serius. "Iya." "Dan sekarang mereka menganggap aku ayah dari anak itu." Arsen langsung memijat pelipisn
"Aluna, kamu sudah bangun?" tanya Bi Ina pelan saat melihat mata Aluna mulai terbuka. Aluna berkedip beberapa kali. Pandangan matanya masih terlihat sedikit buram. Tubuhnya terasa sangat berat. Bahkan untuk menggerakkan tangannya saja terasa sulit. Bi Ina langsung mendekat ke samping ranjang dengan wajah lega. "Syukurlah…" gumamnya lirih. Aluna perlahan menoleh. Ia melihat Bi Ina duduk di sampingnya sambil memegang tangannya dengan lembut. Tak lama kemudian, Sara yang baru masuk ke dalam ruangan langsung tersenyum lebar. "Aluna sudah sadar!" ucap Sara senang. Suara itu membuat Arsen yang sedang duduk di sofa langsung mengangkat kepalanya cepat. Ia segera berdiri lalu mendekat ke arah ranjang Aluna. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Arsen dengan nada penuh kekhawatiran. Aluna hanya menatapnya diam. Mungkin karena tubuhnya masih terlalu lemah untuk bergerak banyak. Dokter memang mengatakan bahwa efek operasi masih akan terasa cukup berat beberapa hari ke depan. Melihat Aluna
"Di mana Jack?" tanya Arsen saat keluar dari ruang rawat Aluna. Bi Ina yang sedang duduk langsung berdiri. "Oh, Tuan Jack baru saja pergi," jawab Bi Ina cepat. "Pergi?" ulang Arsen. Bi Ina mengangguk pelan. "Iya, Tuan." Arsen mengernyitkan dahinya. "Ke mana?" "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu." Bi Ina terlihat sedikit ragu sebelum melanjutkan, "Karena tadi Tuan Jack terlihat sangat buru-buru." Arsen langsung terdiam. Ia menoleh sekilas ke arah lorong rumah sakit. Biasanya Jack tidak akan pergi begitu saja dalam keadaan seperti ini. "Apa dia mengatakan sesuatu sebelum pergi?" tanya Arsen lagi. Bi Ina mencoba mengingat. "Tidak banyak, Tuan." "Beliau hanya meminta kami tetap menjaga Nona Aluna." Arsen menghela napas pelan. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Jack. Namun saat ini. Fokusnya tetap kepada Aluna. Pria itu kembali menoleh ke arah pintu ruang rawat VVIP milik Aluna. Tatapannya perlahan melembut. Setelah melihat sendiri bagaimana Aluna kesakita
"Aluna, ada apa?" tanya Arsen panik saat melihat mata Aluna mulai terbuka. Saat ini, Aluna sudah dipindahkan ke ruang VVIP. Namun dari raut wajahnya terlihat jelas. Ia sedang menahan rasa sakit. Keningnya berkerut. Napasnya tidak teratur. Dan sesekali terdengar suara erangan kecil dari bibirnya. Hal itu membuat Arsen semakin panik. Ia langsung berdiri di samping ranjang Aluna lalu mendekat. "Aluna, ada apa?" tanyanya lagi dengan nada penuh kekhawatiran. Aluna hanya kembali mengerang pelan. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Mungkin. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya sakit. Tetapi tubuhnya terlalu lemah. Melihat keadaan itu, Arsen langsung menoleh ke arah dokter yang berada di sampingnya. "Dok, apa yang terjadi?" tanya Arsen cepat. "Dia mengerang seperti itu… sepertinya dia kesakitan." Dokter itu memperhatikan kondisi Aluna beberapa detik sebelum menjawab, "Sepertinya efek obat biusnya sudah mulai habis." Seketika Arsen langsung menegang. "Jadi sekarang dia mulai merasaka







