แชร์

Kesalahan Yang Terjadi

ผู้เขียน: NisfiDA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-10 12:48:56

"Mulai makanannya," ucap Arsen singkat.

Seketika para pelayan bergerak. Salah satu dari mereka mulai menyajikan hidangan di depan Tuan rumah itu dengan hati-hati.

Aluna berdiri tidak jauh dari meja makan. Matanya memperhatikan setiap gerakan para pelayan lain, berusaha mengingat apa saja yang harus dilakukan.

Ini adalah pertama kalinya dia ikut melayani makan malam di rumah sebesar ini.

Bi Ina yang berdiri di dekatnya berbisik pelan, "Perhatikan saja dulu."

Aluna menganggukkan kepalanya pelan.

Namun, beberapa saat kemudian Bi Ina tiba-tiba menarik tangan Aluna dengan cepat.

"Ayo, kamu juga harus belajar," bisik Bi Ina pelan.

Aluna sedikit terkejut, tetapi dia tetap mengikuti langkah Bi Ina. Tangannya terasa sedikit gemetar saat mengambil nampan yang berisi segelas air.

Dia berjalan perlahan mendekati meja makan tempat Arsen duduk.

Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Dia takut melakukan kesalahan.

Saat hendak meletakkan gelas itu di atas meja, tangannya tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

Tanpa sengaja, gelas itu miring.

Air di dalamnya tumpah.

Sebagian air itu mengenai tangan dan pakaian Arsen.

Seketika suasana ruang makan menjadi hening.

Semua pelayan langsung menahan napas mereka.

Aluna membeku di tempatnya. Matanya membesar karena terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

Bi Ina pun tampak kaget.

"Aluna!" bisiknya pelan dengan nada panik.

Namun, yang paling menegangkan adalah reaksi Arsen.

Perlahan, pria itu menatap ke arah Aluna.

Aluna dengan cepat mengambil lap yang ada di atas nampan.

Bi Ina yang melihatnya langsung terkejut. "Aluna… tunggu!"

Namun, Aluna tidak mendengar. Dengan wajah panik, dia segera mengusap air yang tumpah di pakaian Arsen.

"Astaga…" bisik salah satu pelayan.

"Dia menyentuh Tuan…" bisik pelayan lain dengan wajah pucat.

"Dia tidak tahu aturan itu," sahut yang lain dengan suara sangat pelan.

Sementara itu, Aluna masih fokus membersihkan kemeja Arsen yang basah. Tangannya bergerak cepat karena merasa sangat bersalah.

Arsen yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Berhenti."

Suaranya rendah, tetapi cukup membuat suasana ruang makan semakin tegang.

Namun, Aluna masih belum menyadarinya. Dia masih berusaha membersihkan sisa air yang menetes.

Arsen menatapnya dengan tajam.

"Aku bilang, berhenti."

Kali ini suaranya lebih tegas.

Aluna tersentak. Tangannya langsung berhenti bergerak. Dia menatap Arsen dengan wajah bingung.

Bi Ina segera melangkah maju.

"Maafkan dia, Tuan!" ucap Bi Ina cepat. "Dia baru bekerja di sini."

Salah satu pelayan lain ikut menundukkan kepalanya. "Dia tidak tahu aturan itu, Tuan."

Arsen tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap Aluna yang masih berdiri sangat dekat dengannya.

"Dia menyentuhku," ucap Arsen pelan.

Semua pelayan langsung menundukkan kepala mereka lebih dalam.

Bi Ina terlihat semakin panik. "Tuan, dia benar-benar tidak tahu."

Aluna memandang wajah Bi Ina, lalu kembali menatap Arsen.

Dengan cepat dia mengambil buku kecilnya dan menulis sesuatu dengan tangan gemetar.

Beberapa detik kemudian, dia mengangkat buku itu.

"Maaf."

Arsen membaca tulisan itu tanpa berkata apa-apa.

Suasana ruang makan masih dipenuhi ketegangan.

Tak ada satu pun orang yang berani bergerak.

Semua orang menunggu reaksi Arsen selanjutnya.

Dret!

Suara decitan kursi terdengar keras saat Arsen tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.

Semua pelayan langsung menundukkan kepala mereka lebih dalam.

"Suruh dia membawa makanan itu ke kamarku," ucap Arsen dingin.

Bi Ina sedikit terkejut. "T-Tuan?"

Namun, Arsen tidak menjawab lagi. Ia langsung berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan.

Langkahnya terdengar tegas hingga akhirnya menghilang di balik lorong rumah yang panjang.

Suasana ruang makan kembali hening.

Para pelayan saling berpandangan dengan wajah bingung.

"Sungguh?" bisik salah satu pelayan.

"Kenapa Tuan menyuruh dia?" sahut pelayan lain dengan nada tidak percaya.

Bi Ina menghela napas panjang, lalu menatap Aluna.

"Aluna," panggilnya pelan.

Aluna yang masih memegang buku kecilnya menoleh.

Bi Ina menunjuk nampan berisi makanan yang ada di atas meja.

"Kamu yang harus mengantarkan makanan itu ke kamar Tuan."

Mata Aluna langsung membesar. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan ragu.

Bi Ina mengangguk. "Iya, kamu."

Salah satu pelayan lain langsung berbisik, "Ini pertama kalinya Tuan menyuruh pelayan baru masuk ke kamarnya."

Pelayan lain ikut menimpali, "Biasanya hanya Bi Ina yang boleh masuk."

Aluna menatap nampan makanan itu dengan gugup.

Tangannya terasa sedikit gemetar.

Namun perlahan, dia tetap mengambil nampan itu.

Aluna berhenti sejenak. Dengan tangan gemetar, ia menaruh kembali nampan itu di atas meja dan mulai menulis di buku kecilnya.

Beberapa detik kemudian, ia mengangkat buku itu dan menunjukkan tulisannya kepada Bi Ina.

"Apa yang akan terjadi kepadaku? A-aku benar-benar tidak sengaja menumpahkan air itu…" tulisnya dengan wajah pucat.

Bi Ina membaca tulisan itu, lalu menghela napas panjang. Ia menatap Aluna dengan lembut.

"Aluna, tenang. Bi Ina akan menemanimu," bisik Bi Ina. "Jangan terlalu khawatir."

Aluna menatap Bi Ina dengan mata besar, ragu dan cemas. Tangannya masih menggenggam buku kecil itu erat-erat.

"Jangan… jangan sampai Tuan marah," tulisnya lagi, suaranya hampir tidak terdengar.

Bi Ina mengangguk pelan. "Bi Ina tahu, Aluna. Tapi kamu harus tetap melakukannya. Jangan lari, ya. Bi Ina akan membantumu."

Aluna menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan mulai mengangkat nampan itu lagi, siap mengikuti Bi Ina menuju kamar Arsen.

Rasa takutnya bercampur penasaran—ia benar-benar belum tahu apa yang akan menunggu di sana.

Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba di depan kamar Arsen. Dengan tangan yang gugup, Aluna mencoba mengetuk pintunya.

Tok… tok…

"Masuk," terdengar jawaban dari arah dalam.

Aluna menoleh ke arah Bi Ina. Bi Ina mengangguk, lalu memegang knop pintu dan membukanya perlahan.

"Permisi, Tuan," ucap Bi Ina sambil mempersilakan Aluna masuk.

Aluna melangkah masuk dengan hati-hati, membawa nampan di tangannya. Bi Ina mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

Namun, begitu Bi Ina masuk sepenuhnya, Arsen berbicara dengan suara dingin dan tegas.

"Bi Ina, tunggu di luar. Biarkan aku bersama pelayan baru itu," ucapnya tanpa menoleh.

Bi Ina terkejut sejenak, tetapi segera menundukkan kepala. "Baik, Tuan," jawabnya pelan.

Ia lalu mundur perlahan dan menutup pintu, meninggalkan Aluna sendirian di dalam kamar bersama Arsen.

Aluna menatap pria itu dengan gugup. Jantungnya berdetak kencang.

Arsen duduk di kursi, matanya tetap memandang Aluna tanpa berkata apa-apa.

Suasana menjadi hening, hanya terdengar napas Aluna yang sedikit terburu-buru.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Sebuah Keinginan

    "Sayang."Aluna yang sedang duduk di sofa langsung membelalakkan matanya.Tatapannya beralih kepada Arsen.Panggilan itu begitu asing di telinganya.Arsen sendiri terlihat tenang, seolah tidak menyadari bahwa satu kata sederhana tadi berhasil membuat Aluna terkejut.Aluna perlahan mengangkat kedua tangannya."Kenapa?" tanyanya dengan bahasa isyarat.Arsen mengernyitkan dahi."Apa?"Aluna mengulangi gerakannya, lalu menunjuk dirinya sendiri."Sayang?"Arsen akhirnya memahami maksudnya."Oh… kamu mempertanyakan panggilanku tadi?"Aluna langsung mengangguk.Arsen tersenyum tipis."Memangnya kenapa?"Aluna kembali menggerakkan tangannya."Kamu tidak pernah memanggilku seperti itu.""Aku tahu.""Lalu kenapa sekarang?"Arsen mendekat beberapa langkah."Karena aku ingin mulai membiasakan diri."Aluna menatapnya bingung."Membiasakan diri dengan apa?" tanya Arsen sambil tersenyum kecil.Aluna menggelengkan kepalanya.Arsen terkekeh pelan."Baiklah, aku akan menjelaskannya."Ia kemudian duduk

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Perubahan Drastis

    "Kau berubah," ucap Jack sambil menatap Arsen yang sedang menyelesaikan beberapa berkas di ruang kerjanya. Arsen mengangkat kepalanya. "Apa maksudmu?" Jack menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kau bahkan bisa menahan dirimu." Arsen mengernyit. "Aku tidak mengerti." Jack terkekeh pelan. "Biasanya kalau sedang tertekan atau emosimu tidak stabil, kau selalu pergi ke bar." "Tapi sekarang tidak lagi." Arsen kembali menatap berkas di depannya. "Aku sudah berhenti." Jawaban singkat itu membuat Jack mengangkat sebelah alisnya. "Berhenti?" "Iya." Jack tersenyum tipis. "Kalau tidak salah, dulu kau bilang itu satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiranmu." Arsen menghela napas pelan. "Itu dulu." "Lalu sekarang?" Arsen terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Sekarang aku punya alasan untuk berhenti." Jack memperhatikan ekspresi sahabatnya itu. "Aluna?" Arsen tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. Jack terkekeh kecil. "Aku benar-benar tidak menyang

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Luka yang Tersisa

    "Bagaimana kabarnya Bella?" tanya Arsen saat mereka sedang duduk di ruang kerjanya. Jack yang berdiri di dekat jendela hanya terdiam beberapa saat. Tatapannya menerawang ke luar. "Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. Arsen langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa begitu?" Jack tertawa kecil. Namun tidak ada kebahagiaan dalam tawanya. Justru terdengar pahit. "Aku sudah tidak lagi ingin tahu tentang dia." Arsen menatap sahabatnya lekat. Sedangkan Jack mengembuskan napas panjang. "Karena aku begitu kecewa berat dengannya." Suasana ruangan mendadak menjadi hening. Arsen memahami perasaan itu. Bagaimanapun juga, Jack mencintai Bella selama bertahun-tahun. Bukan sebentar. Bukan satu atau dua bulan. Melainkan bertahun-tahun. Dan semua perasaan itu berakhir dengan cara yang sangat menyakitkan. "Aku tidak marah karena dia hamil," lanjut Jack dengan nada tenang. "Aku juga tidak marah karena anak itu bukan anakku." Arsen tetap diam mendengarkan. "Tapi aku kecewa karena dia m

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Hidup yang Berubah

    "Bagaimana keadaanmu?" tanya Jack kepada Aluna dengan bahasa isyarat. "Sudah sangat membaik," balas Aluna dengan bahasa isyarat. Senyuman kecil terukir di bibirnya. "Jangan tersenyum kepada Jack," tegur Arsen tiba-tiba. Seketika Jack mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?" tanyanya heran. Arsen yang sedang duduk di sofa hanya menatap Aluna dengan wajah datar. "Aku tidak suka." Jack langsung menatap sahabatnya itu beberapa saat. Lalu dia menunjuk dirinya sendiri. "Kamu sedang berbicara tentang aku?" "Iya." Jack langsung memegangi dahinya. "Arsen, kamu serius?" "Tentu saja." Jawaban cepat itu membuat Jack benar-benar tidak percaya. Sementara Aluna hanya memandang mereka bergantian dengan wajah bingung. "Kamu cemburu kepadaku?" tanya Jack sambil terkekeh kecil. Arsen langsung menatap tajam ke arahnya. "Aku tidak cemburu." "Kamu jelas cemburu." "Aku hanya tidak suka." Jack langsung tertawa. "Bedanya di mana?" Arsen terdiam. Membuat Jack semakin yakin dengan dugaanny

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Hidup Sedikit Tenang

    "Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Arsen sambil memperhatikan Aluna yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit. Aluna langsung menganggukkan kepalanya pelan. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa minggu lalu. Bahkan warna pucat di wajahnya sudah mulai berkurang. Melihat itu, Arsen akhirnya merasa sedikit lega. "Baiklah." Arsen berdiri dari kursinya lalu merapikan jas yang dikenakannya. "Hari ini kita pulang." Seketika mata Aluna langsung berbinar. Senyuman kecil muncul di wajahnya. Hal itu membuat Arsen terkekeh pelan. "Kamu senang sekali?" Aluna langsung mengangguk cepat. Sejak dua minggu berada di rumah sakit, akhirnya hari yang ditunggunya datang juga. Sebenarnya, sejak beberapa hari lalu Aluna sudah ingin pulang. Dia sudah bosan melihat dinding kamar rumah sakit setiap hari. Namun Arsen selalu menolaknya. Pria itu terus memaksanya untuk tetap dirawat sampai dokter benar-benar mengizinkan pulang. Dan karena tidak punya pilihan lain— Aluna ak

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Amarah

    "Di mana mereka?" tanya Arsen begitu tiba di apartemen Bella. Wajahnya terlihat dingin. Tatapannya tajam. Sementara Jack yang berdiri di depan pintu apartemen hanya mengusap wajahnya lelah sebelum menjawab, "Mereka ada di kamar Bella." Suara Jack terdengar lirih. Benar-benar menunjukkan betapa lelahnya dirinya menghadapi semua ini. "Bawa aku ke sana." Jack langsung menatap Arsen serius. "Arsen…" "Apa?" "Kamu tidak akan macam-macam, kan?" Arsen menatap balik sahabatnya itu. Rahangnya perlahan menegang. "Aku mendapatkan informasi dan bukti." "Bukti apa?" tanya Jack mengernyit. "Bahwa Roy memang pria brengsek." Seketika Jack langsung terdiam. Tatapannya berubah serius. "Maksudmu?" Arsen mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan beberapa foto dan data yang tadi dikirim asistennya. "Pria itu bukan hanya meninggalkan Bella." "Dia juga beberapa kali terlihat bersama wanita lain." Jack langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosinya perlahan mulai naik. Namun Arse

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Murka

    "Aluna, kamu di sini?" ucap Rena saat akhirnya menemukan Aluna di taman belakang, napasnya terdengar sedikit terengah. Aluna langsung menoleh saat mendengar suara Rena. Matanya sedikit melebar karena terkejut. Belum sempat ia mengambil buku kecilnya, Rena sudah lebih dulu menarik tangannya. "Ayo

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Pelayan Pribadi

    "Bi, ada apa?" tulis Aluna di buku kecilnya, lalu menunjukkannya saat melihat Bi Ina berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah bingung. Bi Ina tampak sangat gelisah. Ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar itu kepada Aluna. Beberapa detik ia hanya terdiam, membuat Aluna semakin pena

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Mencoba Melindungi

    "Ada apa, Bi?" tanya pelayan lain dengan nada penasaran saat melihat Bi Ina keluar dari kamar Aluna. Wajahnya terlihat bingung, menunggu penjelasan. Bi Ina menghela napas panjang, menundukkan kepala sejenak. Ekspresinya menunjukkan rasa tidak percaya sekaligus prihatin. "Tuan baru saja memperlaku

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Ketakutan

    "Kemarilah," ucap Arsen kepada Aluna. Aluna mengangguk. Langkahnya begitu gemetar. Ada rasa takut yang jelas dirasakannya dalam diri. Arsen berdiri di depan jendela kamarnya. Sesekali ia menoleh, menatap Aluna dengan tatapan tajam. "Taruh nampan itu di meja," ucapnya singkat. Aluna menganggukka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status