แชร์

Murka

ผู้เขียน: NisfiDA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-14 08:03:38

"Aluna, kamu di sini?" ucap Rena saat akhirnya menemukan Aluna di taman belakang, napasnya terdengar sedikit terengah.

Aluna langsung menoleh saat mendengar suara Rena. Matanya sedikit melebar karena terkejut. Belum sempat ia mengambil buku kecilnya, Rena sudah lebih dulu menarik tangannya.

"Ayo masuk!" ujar Rena dengan nada terburu-buru, wajahnya terlihat panik. "Tuan mencarimu. Dia sangat marah pagi ini."

Mata Aluna langsung terbelalak. Tubuhnya menegang seketika.

Ia menatap Rena dengan ekspresi cemas, jantungnya mulai berdebar cepat.

"T-tuan Arsen sangat marah?" gumamnya dalam hati, rasa takut mulai menyelimuti dirinya.

Langkahnya terasa berat, tetapi ia tidak bisa menolak saat Rena terus menariknya masuk ke dalam rumah.

Di sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Ia tahu—

Pertemuan kali ini tidak akan berjalan dengan baik.

Setelah beberapa menit, mereka tiba di ruang tengah, tempat semua pelayan sudah berkumpul. Suasana terasa tegang, tidak ada yang berani berbicara.

Bi Ina yang melihat kedatangan Aluna bersama Rena langsung berjalan cepat menghampiri mereka. Wajahnya terlihat panik dan khawatir.

"Aluna, kamu dari mana saja?" tanya Bi Ina dengan nada cemas, matanya menatap tajam ke arah Aluna.

Aluna ingin menjawab. Tangannya mulai bergerak untuk mengambil buku kecilnya. Namun, Rena lebih dulu berbicara.

"Dia berada di taman belakang, Kepala Pelayan," jawab Rena dengan cepat, membuat Aluna menundukkan kepalanya merasa bersalah.

Bi Ina kembali menatap Aluna. Ekspresinya berubah menjadi lebih serius.

"Kenapa kamu ke sana?" tanyanya dengan nada sedikit menekan.

Aluna hanya diam. Tangannya menggenggam buku kecilnya, tetapi ia belum menulis apa pun.

"Kamu sudah tahu, bukan, ke mana kamu harus pergi pagi hari ini?" sambung Bi Ina dengan nada tegas, namun masih terdengar khawatir.

Aluna semakin menunduk. Jantungnya berdebar kencang.

Ia tahu—

Ia telah membuat kesalahan besar.

Melihat Aluna hanya diam sambil menundukkan kepalanya, Bi Ina merasa bersalah karena sempat menggunakan nada tinggi.

Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Lalu, ia menoleh ke arah para pelayan lainnya.

"Kalian boleh pergi. Biarkan saya yang mengurus Aluna," ucap Bi Ina dengan nada tegas.

"Baik," jawab mereka serentak.

Para pelayan pun perlahan meninggalkan ruang tengah, menyisakan Bi Ina dan Aluna di sana.

Bi Ina kembali menatap Aluna yang masih tidak berani mengangkat wajahnya.

"Bi Ina tahu alasan kamu ke taman belakang itu. Kamu sedang menghindari Tuan, bukan?" ucap Bi Ina dengan nada lebih lembut.

Aluna perlahan menganggukkan kepalanya.

Melihat itu, Bi Ina kembali menghela napas, kali ini lebih berat.

"Kamu sadar tidak? Sikapmu seperti itu justru akan membuatmu dalam masalah, Aluna," jelasnya dengan suara pelan namun tegas. "Tuan Arsen tidak akan memberikan toleransi. Jadi, percuma saja kamu menghindar seperti itu. Yang ada, kamu justru akan semakin terjerumus ke dalam masalah yang lebih besar."

Aluna tetap diam. Tangannya mengepal kecil, sementara air matanya mulai menetes tanpa bisa ia tahan.

Rasa bersalah memenuhi hatinya.

Ia tidak hanya takut pada Tuan Arsen—

Tetapi juga merasa bersalah kepada Bi Ina.

Mungkin saja—

Bi Ina akan dimarahi karena dirinya yang mencoba kabur.

Bi Ina sebenarnya tidak tega melihat Aluna menangis. Namun, sebagai kepala pelayan di rumah itu, ia harus tetap tegas.

"Sudah, kamu harus berhenti menangis. Karena Tuan Arsen sudah menunggumu," ucap Bi Ina dengan nada tegas, meski terdengar sedikit lembut.

Ucapan itu membuat Aluna perlahan mengangkat wajahnya.

Mata sayunya menatap Bi Ina dengan penuh harapan. Ia menggelengkan kepalanya pelan, seolah memohon agar tidak dipaksa bertemu Arsen.

Namun, Bi Ina hanya bisa menatapnya dengan rasa bersalah.

"Maafkan Bi Ina… karena di sini adalah kekuasaan Tuan Arsen," ucapnya dengan suara lirih, menyiratkan kesedihan yang ia rasakan.

Tiba-tiba—

"Apakah kalian sudah menemukan Aluna?" teriak Arsen dari kejauhan, suaranya menggema dan penuh kemarahan.

Bi Ina dan Aluna langsung tersentak kaget.

"Harus berapa lama lagi aku menunggu?" teriak Arsen kembali dengan nada lebih tinggi, membuat suasana semakin mencekam.

Tubuh Aluna langsung menegang. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya.

Bahkan hanya dengan mendengar suaranya saja—

Ia sudah merasa sangat takut.

Apalagi jika harus berhadapan langsung dengan Arsen.

"Ayo, Aluna. Jangan sampai Tuan semakin marah," ucap Bi Ina sambil langsung menarik tangan Aluna.

Aluna tidak punya pilihan selain mengikuti. Dengan langkah terburu-buru, mereka menaiki tangga menuju lantai atas. Jantung Aluna berdebar sangat kencang. Rasa takut memenuhi dirinya hanya dengan memikirkan akan bertemu Arsen.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di lantai atas, tepat di depan kamar Tuan Arsen.

Tok… tok…

"Siapa?" teriak Arsen dari dalam, suaranya terdengar dingin dan tidak sabar.

"Saya, Tuan… Bi Ina," jawab Bi Ina dengan nada sedikit gemetar.

"Apakah kamu sudah menemukan Aluna?" tanya Arsen dari dalam dengan nada menekan.

Bi Ina tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke samping, menatap Aluna yang terlihat sangat ketakutan. Tubuh gadis itu gemetar, wajahnya pucat.

Bi Ina menarik napas pelan, lalu kembali menatap pintu.

"S-sudah, Tuan. Sekarang dia bersama saya," jawabnya dengan gugup.

Terdengar suara langkah kaki mendekat dari dalam kamar.

Setiap langkah itu terasa seperti tekanan bagi Aluna.

Tubuhnya semakin gemetar. Napasnya tidak teratur.

Beberapa detik kemudian—

Pintu terbuka.

Bi Ina sempat memejamkan matanya sejenak. Saat ia membukanya kembali, Arsen sudah berdiri tepat di depan mereka dengan tatapan dingin yang tajam.

"Masuk," ucap Arsen dengan nada rendah dan tegas.

"B-baik, Tuan," jawab Bi Ina dengan cepat.

Namun—

"Tidak," ucap Arsen tiba-tiba, membuat Bi Ina terdiam dan bingung.

"Bukan Bi Ina," lanjutnya dengan tatapan yang beralih ke arah Aluna. "Tapi dia yang masuk bersamaku."

Aluna langsung menegang.

Matanya melebar, napasnya tertahan.

Sementara itu, Bi Ina hanya bisa terdiam dengan perasaan cemas yang semakin dalam.

Ia tahu—

Mulai saat ini, Aluna harus menghadapi semuanya sendirian.

"Cepat masuk!" bentak Arsen dengan nada tinggi, membuat Aluna tersentak kaget.

Aluna langsung menganggukkan kepalanya pelan. Dengan berat hati, ia melepaskan genggaman tangannya dari Bi Ina.

Bi Ina hanya bisa menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

Tak lama setelah genggaman itu terlepas, Aluna melangkah mendekat ke arah Arsen dengan langkah ragu.

Saat ia sudah berada di dekatnya—

"Bi, tolong barang-barang Aluna pindahkan ke kamar saya," ucap Arsen dengan nada tegas, tanpa menoleh.

Ucapan itu membuat Aluna langsung terkejut.

Ia menoleh cepat ke arah Bi Ina, matanya melebar seolah ingin menolak.

Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun—

"Aku tidak ingin mendapatkan protes dari gadis bisu," ucap Arsen dengan nada dingin, membuat Aluna terdiam seketika.

Kata-kata itu terasa menusuk.

Aluna menundukkan kepalanya, menahan perasaan yang tiba-tiba terasa sesak.

"Lalu, jangan harap kamu bisa keluar dari kamarku ini tanpa izinku," lanjut Arsen dengan suara rendah namun penuh tekanan.

Tubuh Aluna langsung menegang.

Rasa takut perlahan bercampur dengan perasaan tertekan yang semakin dalam.

Sementara itu, di belakangnya, Bi Ina hanya bisa mengepalkan tangannya pelan.

Ia ingin membantu—

Namun ia tidak bisa melawan perintah Tuan Arsen.

Dan saat itu, Bi Ina tahu—

Aluna benar-benar sudah berada dalam jangkauan Arsen sepenuhnya.

"Sekarang pergilah. Lakukan apa yang saya perintahkan tadi," ucap Arsen kepada Bi Ina dengan nada dingin, tanpa sedikit pun menoleh.

"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu," jawab Bi Ina dengan sopan, meskipun suaranya terdengar berat.

Namun sebelum benar-benar pergi, matanya sempat mencuri pandangan ke arah Aluna.

Tatapan itu penuh kekhawatiran.

Aluna yang menyadarinya hanya bisa menatap balik dengan mata sayu, seolah meminta pertolongan.

Namun Bi Ina hanya bisa menahan diri.

Dengan langkah pelan, ia membalikkan badan dan keluar dari kamar itu, menutup pintu dengan hati-hati.

Klik.

Suara pintu yang tertutup terasa seperti penutup dari harapan kecil yang tadi masih tersisa.

Kini—

Hanya tersisa Aluna dan Arsen di dalam satu ruangan yang sama.

Suasana menjadi sunyi.

Namun justru sunyi itu terasa jauh lebih menakutkan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Perubahan Drastis

    "Kau berubah," ucap Jack sambil menatap Arsen yang sedang menyelesaikan beberapa berkas di ruang kerjanya. Arsen mengangkat kepalanya. "Apa maksudmu?" Jack menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kau bahkan bisa menahan dirimu." Arsen mengernyit. "Aku tidak mengerti." Jack terkekeh pelan. "Biasanya kalau sedang tertekan atau emosimu tidak stabil, kau selalu pergi ke bar." "Tapi sekarang tidak lagi." Arsen kembali menatap berkas di depannya. "Aku sudah berhenti." Jawaban singkat itu membuat Jack mengangkat sebelah alisnya. "Berhenti?" "Iya." Jack tersenyum tipis. "Kalau tidak salah, dulu kau bilang itu satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiranmu." Arsen menghela napas pelan. "Itu dulu." "Lalu sekarang?" Arsen terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Sekarang aku punya alasan untuk berhenti." Jack memperhatikan ekspresi sahabatnya itu. "Aluna?" Arsen tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. Jack terkekeh kecil. "Aku benar-benar tidak menyang

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Luka yang Tersisa

    "Bagaimana kabarnya Bella?" tanya Arsen saat mereka sedang duduk di ruang kerjanya. Jack yang berdiri di dekat jendela hanya terdiam beberapa saat. Tatapannya menerawang ke luar. "Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. Arsen langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa begitu?" Jack tertawa kecil. Namun tidak ada kebahagiaan dalam tawanya. Justru terdengar pahit. "Aku sudah tidak lagi ingin tahu tentang dia." Arsen menatap sahabatnya lekat. Sedangkan Jack mengembuskan napas panjang. "Karena aku begitu kecewa berat dengannya." Suasana ruangan mendadak menjadi hening. Arsen memahami perasaan itu. Bagaimanapun juga, Jack mencintai Bella selama bertahun-tahun. Bukan sebentar. Bukan satu atau dua bulan. Melainkan bertahun-tahun. Dan semua perasaan itu berakhir dengan cara yang sangat menyakitkan. "Aku tidak marah karena dia hamil," lanjut Jack dengan nada tenang. "Aku juga tidak marah karena anak itu bukan anakku." Arsen tetap diam mendengarkan. "Tapi aku kecewa karena dia m

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Hidup yang Berubah

    "Bagaimana keadaanmu?" tanya Jack kepada Aluna dengan bahasa isyarat. "Sudah sangat membaik," balas Aluna dengan bahasa isyarat. Senyuman kecil terukir di bibirnya. "Jangan tersenyum kepada Jack," tegur Arsen tiba-tiba. Seketika Jack mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?" tanyanya heran. Arsen yang sedang duduk di sofa hanya menatap Aluna dengan wajah datar. "Aku tidak suka." Jack langsung menatap sahabatnya itu beberapa saat. Lalu dia menunjuk dirinya sendiri. "Kamu sedang berbicara tentang aku?" "Iya." Jack langsung memegangi dahinya. "Arsen, kamu serius?" "Tentu saja." Jawaban cepat itu membuat Jack benar-benar tidak percaya. Sementara Aluna hanya memandang mereka bergantian dengan wajah bingung. "Kamu cemburu kepadaku?" tanya Jack sambil terkekeh kecil. Arsen langsung menatap tajam ke arahnya. "Aku tidak cemburu." "Kamu jelas cemburu." "Aku hanya tidak suka." Jack langsung tertawa. "Bedanya di mana?" Arsen terdiam. Membuat Jack semakin yakin dengan dugaanny

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Hidup Sedikit Tenang

    "Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Arsen sambil memperhatikan Aluna yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit. Aluna langsung menganggukkan kepalanya pelan. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa minggu lalu. Bahkan warna pucat di wajahnya sudah mulai berkurang. Melihat itu, Arsen akhirnya merasa sedikit lega. "Baiklah." Arsen berdiri dari kursinya lalu merapikan jas yang dikenakannya. "Hari ini kita pulang." Seketika mata Aluna langsung berbinar. Senyuman kecil muncul di wajahnya. Hal itu membuat Arsen terkekeh pelan. "Kamu senang sekali?" Aluna langsung mengangguk cepat. Sejak dua minggu berada di rumah sakit, akhirnya hari yang ditunggunya datang juga. Sebenarnya, sejak beberapa hari lalu Aluna sudah ingin pulang. Dia sudah bosan melihat dinding kamar rumah sakit setiap hari. Namun Arsen selalu menolaknya. Pria itu terus memaksanya untuk tetap dirawat sampai dokter benar-benar mengizinkan pulang. Dan karena tidak punya pilihan lain— Aluna ak

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Amarah

    "Di mana mereka?" tanya Arsen begitu tiba di apartemen Bella. Wajahnya terlihat dingin. Tatapannya tajam. Sementara Jack yang berdiri di depan pintu apartemen hanya mengusap wajahnya lelah sebelum menjawab, "Mereka ada di kamar Bella." Suara Jack terdengar lirih. Benar-benar menunjukkan betapa lelahnya dirinya menghadapi semua ini. "Bawa aku ke sana." Jack langsung menatap Arsen serius. "Arsen…" "Apa?" "Kamu tidak akan macam-macam, kan?" Arsen menatap balik sahabatnya itu. Rahangnya perlahan menegang. "Aku mendapatkan informasi dan bukti." "Bukti apa?" tanya Jack mengernyit. "Bahwa Roy memang pria brengsek." Seketika Jack langsung terdiam. Tatapannya berubah serius. "Maksudmu?" Arsen mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan beberapa foto dan data yang tadi dikirim asistennya. "Pria itu bukan hanya meninggalkan Bella." "Dia juga beberapa kali terlihat bersama wanita lain." Jack langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosinya perlahan mulai naik. Namun Arse

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Informasi Ditemukan

    "Bagaimana? Apa perasaanmu sudah benar-benar membaik?" tanya Arsen pelan kepada Aluna. Aluna yang sedang duduk bersandar di ranjang langsung menganggukkan kepalanya kecil. Wajahnya terlihat sedikit lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya. Bahkan senyum kecil kini mulai sering terlihat di wajah pucatnya. Melihat itu, Arsen akhirnya bisa sedikit bernapas lega. "Syukurlah." Tangannya perlahan merapikan selimut Aluna yang sedikit berantakan. "Sekarang kamu harus banyak makan." "Supaya cepat sembuh dan bisa pulang dari sini." Aluna kembali mengangguk kecil sambil tersenyum. Namun beberapa detik kemudian— Tatapannya justru terus tertuju pada Arsen. Membuat pria itu mengernyit pelan. "Kenapa melihatku seperti itu?" tanyanya. Aluna hanya tersenyum kecil tanpa menjawab. Hal itu justru membuat Bi Ina yang sedang berada di sofa terkekeh pelan. "Nona Aluna sekarang lebih sering tersenyum kalau bersama Tuan." "Bi Ina," tegur Arsen pelan. Namun wajahnya justru terlihat sedi

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Pelayan Pribadi

    "Bi, ada apa?" tulis Aluna di buku kecilnya, lalu menunjukkannya saat melihat Bi Ina berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah bingung. Bi Ina tampak sangat gelisah. Ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar itu kepada Aluna. Beberapa detik ia hanya terdiam, membuat Aluna semakin pena

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Mencoba Melindungi

    "Ada apa, Bi?" tanya pelayan lain dengan nada penasaran saat melihat Bi Ina keluar dari kamar Aluna. Wajahnya terlihat bingung, menunggu penjelasan. Bi Ina menghela napas panjang, menundukkan kepala sejenak. Ekspresinya menunjukkan rasa tidak percaya sekaligus prihatin. "Tuan baru saja memperlaku

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Ketakutan

    "Kemarilah," ucap Arsen kepada Aluna. Aluna mengangguk. Langkahnya begitu gemetar. Ada rasa takut yang jelas dirasakannya dalam diri. Arsen berdiri di depan jendela kamarnya. Sesekali ia menoleh, menatap Aluna dengan tatapan tajam. "Taruh nampan itu di meja," ucapnya singkat. Aluna menganggukka

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Kesalahan Yang Terjadi

    "Mulai makanannya," ucap Arsen singkat. Seketika para pelayan bergerak. Salah satu dari mereka mulai menyajikan hidangan di depan Tuan rumah itu dengan hati-hati. Aluna berdiri tidak jauh dari meja makan. Matanya memperhatikan setiap gerakan para pelayan lain, berusaha mengingat apa saja yang har

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status