ログイン"Kemarilah," ucap Arsen kepada Aluna.
Aluna mengangguk. Langkahnya begitu gemetar. Ada rasa takut yang jelas dirasakannya dalam diri. Arsen berdiri di depan jendela kamarnya. Sesekali ia menoleh, menatap Aluna dengan tatapan tajam. "Taruh nampan itu di meja," ucapnya singkat. Aluna menganggukkan kepalanya lagi. Dengan hati-hati, dia menuruti semua perintah Arsen. Perlahan, ia meletakkan nampan di atas meja besar di tengah kamar. Setelah selesai, Arsen bersuara kembali. "Kemarilah dan mendekat," perintahnya dengan nada dingin. Aluna menarik napas dalam-dalam. Tubuhnya terasa kaku. Langkahnya gemetar saat mulai mendekat. Setiap langkah terasa berat, seolah setiap gerakannya diawasi oleh tatapan Arsen yang menusuk. Aluna berhenti tepat di depan Arsen. Namun baginya itu belum cukup. "Mendekatlah," ucap Arsen dengan suara yang menekan. Aluna merasa gugup dan takut. Langkah kakinya terasa berat. Dia tidak tahu sebenarnya apa yang akan dilakukan Tuan. Saat Aluna benar-benar dekat, Arsen tiba-tiba memeluknya dari depan. Hal itu membuat Aluna sangat terkejut. Tubuh Arsen sangat dekat, dan aura intens yang keluar darinya membuat Aluna semakin panik. Aluna mencoba menarik diri, ingin sekali berteriak, tetapi suaranya tidak keluar. Tangannya memukul-mukul Arsen agar dilepaskan. Namun, Arsen tetap menahan Aluna dengan kuat. "Kau wangi sekali," ucapnya dengan suara serak, penuh ketegangan. Setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang, Arsen akhirnya melepaskan Aluna perlahan. Dia melangkah mundur, menatap gadis itu dengan tajam. "Kamu harus ingat," ucap Arsen dengan nada dingin tapi tegas, "ketika bekerja di sini, lakukan semuanya dengan hati-hati. Satu kesalahan saja, dan kamu akan tahu akibatnya." Aluna menundukkan kepalanya, masih terengah-engah, lalu menulis di buku kecilnya: "Aku mengerti, Tuan." Arsen menatapnya sebentar lagi, lalu kembali ke tempatnya di dekat jendela, meninggalkan Aluna dengan perasaan takut namun sadar bahwa apa yang dikatakan agen tentang dirinya memang benar. Aluna langsung membalikkan badannya dan berlari meninggalkan ruangan itu. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal. Sementara itu, Arsen berdiri di dekat jendela, menatap Aluna yang menjauh dengan tatapan tajam. Ia merasakan sesuatu yang tumbuh dalam dirinya—sebuah intensitas yang sulit dikendalikan. Aroma tubuh Aluna… berbeda dan memikat. Hal itu membuat hawa hatinya semakin memuncak. Arsen memegangi pelipisnya, menahan sakit yang terasa. Ia tahu, jika tidak berhati-hati, hal ini bisa berakibat buruk. Suasana kamar tetap hening, hanya terdengar napas Arsen yang dalam dan detak jantung Aluna dari kejauhan. Aluna terus berlari, tubuhnya gemetar, sementara pikirannya dipenuhi rasa takut dan kekacauan. Ia baru saja menyadari betapa serius dan kuatnya Tuan rumah itu. Di balik jendela, Arsen menarik napas panjang, menenangkan dirinya. Intensitas yang dirasakannya membuatnya sadar: ia harus lebih berhati-hati dengan pelayan baru itu. Beberapa menit kemudian, Aluna akhirnya bebas dari Arsen. Kini ia berada di kamarnya, dengan cepat mengambil semua barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Bi Ina, yang awalnya berniat bertanya, terkejut melihat Aluna begitu sibuk beres-beres. "A-Aluna… apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Bi Ina, segera mendekat. Aluna tidak mendengar. Ia terlalu fokus membereskan barang-barangnya. Namun Bi Ina tidak ingin Aluna mendapatkan masalah lagi dari Tuan. Dengan lembut, ia menarik tubuh Aluna agar menatapnya. Saat Aluna menoleh, Bi Ina melihat air mata yang mengalir di pipi gadis itu. Wajah ketakutan begitu jelas terpancar. "Katakan kepada Bi Ina… apa yang sudah Tuan lakukan kepadamu?" tanya Bi Ina, sambil memegangi wajah Aluna dengan lembut. Aluna hanya menangis tanpa suara. Tubuhnya gemetar hebat. Bi Ina sudah bisa menebak apa yang terjadi, tapi ia tetap ingin Aluna merasa aman. Dengan perlahan, Bi Ina memeluk Aluna, mencoba menenangkannya. "Tidak apa-apa, oke? Bi Ina di sini. Jangan takut," ucapnya sambil mengelus punggung Aluna dengan lembut. Aluna menundukkan kepalanya di bahu Bi Ina, air matanya masih menetes, tetapi sedikit demi sedikit ia mulai merasa lebih tenang di pelukan wanita itu. ** Beberapa menit berlalu. Aluna mulai tenang, namun Bi Ina tahu ketakutan itu masih ada di dalam dirinya. Bi Ina kembali bertanya, sambil mendorong sedikit tubuh Aluna agar gadis itu menatapnya. "Katakan kepada Bi Ina… apa yang sudah Tuan lakukan kepadamu?" tanya Bi Ina dengan lembut. Aluna menelan ludah. Tangannya masih gemetar saat ia mengambil buku kecil yang tergantung di lehernya. Perlahan, ia mulai menulis. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat buku itu dan menunjukkannya kepada Bi Ina. "Ternyata, yang dikatakan oleh agen itu benar." Bi Ina membaca tulisan itu dengan wajah serius, lalu menghela napas panjang. Ia memeluk Aluna lagi dengan lebih erat, mencoba memberikan rasa aman. "Bi Ina sudah menduga, Aluna… tapi kamu kuat. Jangan takut, oke? Bi Ina akan selalu di sini," ucapnya sambil mengelus punggung Aluna. Aluna menundukkan kepala, masih gemetar, namun sedikit demi sedikit rasa takutnya mulai berkurang. "Apa Tuan sampai membuatmu cedera atau merampas barangmu?" tanya Bi Ina, sambil menatap Aluna dengan penuh perhatian. Aluna menggelengkan kepalanya. Tangannya masih gemetar saat ia mengambil buku kecilnya dan menulis. "Tidak… Tuan hanya menahan dan menekanku sangat dekat… aku sangat takut." Bi Ina membaca tulisan itu, wajahnya menegang. Ia memeluk Aluna lebih erat. "Bi Ina tahu, Aluna… itu menakutkan. Tapi kamu kuat, kamu bisa melewati ini," ucapnya sambil mengelus punggung Aluna. Aluna menundukkan kepala, napasnya masih terengah-engah, tetapi sedikit demi sedikit mulai menenangkan diri. Bi Ina menatap Aluna dengan serius. "Ingat, Aluna… kamu harus selalu berhati-hati di dekat Tuan. Satu kesalahan bisa membuatmu dalam bahaya, tapi Bi Ina akan selalu menolongmu." Aluna menganggukkan kepalanya, masih menahan gemetar. "Sekarang istirahatlah," ucap Bi Ina lembut, sambil menepuk bahu Aluna. "Jangan kabur jika ada masalah. Itu justru akan membuatmu semakin dalam masalah." Aluna menundukkan kepala, kemudian perlahan menaruh buku kecilnya di meja. Ia mencoba menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Bi Ina tetap berdiri di dekatnya, memastikan Aluna merasa aman. "Bi Ina akan selalu di sini, oke? Kamu tidak sendiri." Aluna mengangguk pelan, rasa takutnya perlahan mulai mereda, meskipun ketegangan di hatinya masih tersisa."Sayang."Aluna yang sedang duduk di sofa langsung membelalakkan matanya.Tatapannya beralih kepada Arsen.Panggilan itu begitu asing di telinganya.Arsen sendiri terlihat tenang, seolah tidak menyadari bahwa satu kata sederhana tadi berhasil membuat Aluna terkejut.Aluna perlahan mengangkat kedua tangannya."Kenapa?" tanyanya dengan bahasa isyarat.Arsen mengernyitkan dahi."Apa?"Aluna mengulangi gerakannya, lalu menunjuk dirinya sendiri."Sayang?"Arsen akhirnya memahami maksudnya."Oh… kamu mempertanyakan panggilanku tadi?"Aluna langsung mengangguk.Arsen tersenyum tipis."Memangnya kenapa?"Aluna kembali menggerakkan tangannya."Kamu tidak pernah memanggilku seperti itu.""Aku tahu.""Lalu kenapa sekarang?"Arsen mendekat beberapa langkah."Karena aku ingin mulai membiasakan diri."Aluna menatapnya bingung."Membiasakan diri dengan apa?" tanya Arsen sambil tersenyum kecil.Aluna menggelengkan kepalanya.Arsen terkekeh pelan."Baiklah, aku akan menjelaskannya."Ia kemudian duduk
"Kau berubah," ucap Jack sambil menatap Arsen yang sedang menyelesaikan beberapa berkas di ruang kerjanya. Arsen mengangkat kepalanya. "Apa maksudmu?" Jack menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kau bahkan bisa menahan dirimu." Arsen mengernyit. "Aku tidak mengerti." Jack terkekeh pelan. "Biasanya kalau sedang tertekan atau emosimu tidak stabil, kau selalu pergi ke bar." "Tapi sekarang tidak lagi." Arsen kembali menatap berkas di depannya. "Aku sudah berhenti." Jawaban singkat itu membuat Jack mengangkat sebelah alisnya. "Berhenti?" "Iya." Jack tersenyum tipis. "Kalau tidak salah, dulu kau bilang itu satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiranmu." Arsen menghela napas pelan. "Itu dulu." "Lalu sekarang?" Arsen terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Sekarang aku punya alasan untuk berhenti." Jack memperhatikan ekspresi sahabatnya itu. "Aluna?" Arsen tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. Jack terkekeh kecil. "Aku benar-benar tidak menyang
"Bagaimana kabarnya Bella?" tanya Arsen saat mereka sedang duduk di ruang kerjanya. Jack yang berdiri di dekat jendela hanya terdiam beberapa saat. Tatapannya menerawang ke luar. "Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. Arsen langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa begitu?" Jack tertawa kecil. Namun tidak ada kebahagiaan dalam tawanya. Justru terdengar pahit. "Aku sudah tidak lagi ingin tahu tentang dia." Arsen menatap sahabatnya lekat. Sedangkan Jack mengembuskan napas panjang. "Karena aku begitu kecewa berat dengannya." Suasana ruangan mendadak menjadi hening. Arsen memahami perasaan itu. Bagaimanapun juga, Jack mencintai Bella selama bertahun-tahun. Bukan sebentar. Bukan satu atau dua bulan. Melainkan bertahun-tahun. Dan semua perasaan itu berakhir dengan cara yang sangat menyakitkan. "Aku tidak marah karena dia hamil," lanjut Jack dengan nada tenang. "Aku juga tidak marah karena anak itu bukan anakku." Arsen tetap diam mendengarkan. "Tapi aku kecewa karena dia m
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jack kepada Aluna dengan bahasa isyarat. "Sudah sangat membaik," balas Aluna dengan bahasa isyarat. Senyuman kecil terukir di bibirnya. "Jangan tersenyum kepada Jack," tegur Arsen tiba-tiba. Seketika Jack mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?" tanyanya heran. Arsen yang sedang duduk di sofa hanya menatap Aluna dengan wajah datar. "Aku tidak suka." Jack langsung menatap sahabatnya itu beberapa saat. Lalu dia menunjuk dirinya sendiri. "Kamu sedang berbicara tentang aku?" "Iya." Jack langsung memegangi dahinya. "Arsen, kamu serius?" "Tentu saja." Jawaban cepat itu membuat Jack benar-benar tidak percaya. Sementara Aluna hanya memandang mereka bergantian dengan wajah bingung. "Kamu cemburu kepadaku?" tanya Jack sambil terkekeh kecil. Arsen langsung menatap tajam ke arahnya. "Aku tidak cemburu." "Kamu jelas cemburu." "Aku hanya tidak suka." Jack langsung tertawa. "Bedanya di mana?" Arsen terdiam. Membuat Jack semakin yakin dengan dugaanny
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Arsen sambil memperhatikan Aluna yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit. Aluna langsung menganggukkan kepalanya pelan. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa minggu lalu. Bahkan warna pucat di wajahnya sudah mulai berkurang. Melihat itu, Arsen akhirnya merasa sedikit lega. "Baiklah." Arsen berdiri dari kursinya lalu merapikan jas yang dikenakannya. "Hari ini kita pulang." Seketika mata Aluna langsung berbinar. Senyuman kecil muncul di wajahnya. Hal itu membuat Arsen terkekeh pelan. "Kamu senang sekali?" Aluna langsung mengangguk cepat. Sejak dua minggu berada di rumah sakit, akhirnya hari yang ditunggunya datang juga. Sebenarnya, sejak beberapa hari lalu Aluna sudah ingin pulang. Dia sudah bosan melihat dinding kamar rumah sakit setiap hari. Namun Arsen selalu menolaknya. Pria itu terus memaksanya untuk tetap dirawat sampai dokter benar-benar mengizinkan pulang. Dan karena tidak punya pilihan lain— Aluna ak
"Di mana mereka?" tanya Arsen begitu tiba di apartemen Bella. Wajahnya terlihat dingin. Tatapannya tajam. Sementara Jack yang berdiri di depan pintu apartemen hanya mengusap wajahnya lelah sebelum menjawab, "Mereka ada di kamar Bella." Suara Jack terdengar lirih. Benar-benar menunjukkan betapa lelahnya dirinya menghadapi semua ini. "Bawa aku ke sana." Jack langsung menatap Arsen serius. "Arsen…" "Apa?" "Kamu tidak akan macam-macam, kan?" Arsen menatap balik sahabatnya itu. Rahangnya perlahan menegang. "Aku mendapatkan informasi dan bukti." "Bukti apa?" tanya Jack mengernyit. "Bahwa Roy memang pria brengsek." Seketika Jack langsung terdiam. Tatapannya berubah serius. "Maksudmu?" Arsen mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan beberapa foto dan data yang tadi dikirim asistennya. "Pria itu bukan hanya meninggalkan Bella." "Dia juga beberapa kali terlihat bersama wanita lain." Jack langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosinya perlahan mulai naik. Namun Arse
"Aluna, kamu di sini?" ucap Rena saat akhirnya menemukan Aluna di taman belakang, napasnya terdengar sedikit terengah. Aluna langsung menoleh saat mendengar suara Rena. Matanya sedikit melebar karena terkejut. Belum sempat ia mengambil buku kecilnya, Rena sudah lebih dulu menarik tangannya. "Ayo
"Bi, ada apa?" tulis Aluna di buku kecilnya, lalu menunjukkannya saat melihat Bi Ina berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah bingung. Bi Ina tampak sangat gelisah. Ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar itu kepada Aluna. Beberapa detik ia hanya terdiam, membuat Aluna semakin pena
"Ada apa, Bi?" tanya pelayan lain dengan nada penasaran saat melihat Bi Ina keluar dari kamar Aluna. Wajahnya terlihat bingung, menunggu penjelasan. Bi Ina menghela napas panjang, menundukkan kepala sejenak. Ekspresinya menunjukkan rasa tidak percaya sekaligus prihatin. "Tuan baru saja memperlaku
"Mulai makanannya," ucap Arsen singkat. Seketika para pelayan bergerak. Salah satu dari mereka mulai menyajikan hidangan di depan Tuan rumah itu dengan hati-hati. Aluna berdiri tidak jauh dari meja makan. Matanya memperhatikan setiap gerakan para pelayan lain, berusaha mengingat apa saja yang har







