Teilen

Bab.74

last update Veröffentlichungsdatum: 05.10.2026 14:01:36

Pagi belum benar-benar terang ketika Mbak Sri mulai mengumpulkan kesadarannya. Suara derit halus dari ranjang kayu menyertai pergerakan pertamanya. Namun, begitu ia beringsut untuk duduk, Mbak Sri mengeluh pelan sembari memegangi pinggangnya.

"Aduh... kok badan rasanya remuk begini, ya?" gumamnya lirih pada diri sendiri.

Rasa pegal luar biasa menjalar dari area punggung hingga ke lipatan paha. Saat ia meluruskan kaki dan bersiap berdiri, Mbak Sri memejamkan mata sebentar. Ada ra

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (6)
goodnovel comment avatar
Null_null
dari awal ni mas gavin emang misterius , gak espek kalau dia bakal masang kamera tersembunyi dan diam2 suka sm mbak sri
goodnovel comment avatar
Null_null
Kerjaan mas gavin apa sih??
goodnovel comment avatar
Null_null
Gavin nih seumuran sm mas dimas yah atau mas bimo?
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.90

    Matahari sore baru saja tergelincir di balik deretan pohon mangga di halaman Wisma Asri. Sebuah mobil minibus abu-abu berhenti tepat di depan gerbang berpagar besi tempa hijau. Suara mesinnya mati, disusul bunyi pintu mobil yang terbuka dan derit koper besar yang diturunkan ke atas lantai semen.Mas Bayu menyapu pandangannya ke sekeliling halaman. Setelah hampir satu bulan lebih mengasingkan diri di mess proyek akhirnya ia kembali. Debu proyek dan aroma semen yang biasa menemaninya kini berganti dengan wangi bunga melati dari pekarangan Wisma Asri yang akrab.Belum sempat Mas Bayu melangkah tiga tindak, pintu utama wisma terbuka lebar."Nah, benar kan kata gue! Mas Bayu sampai!" seru Raka, penghuni paling lantang, sambil berlari kecil menuruni tangga teras.Satu per satu penghuni Wisma Asri keluar. Dimas, Leo, Nico, Mas Rehan, Pak Doni, Bimo, Fahri, hingga Gavin merangsek maju. Suasana seketika riuh."Halo, Mas! Akhirnya balik juga ke peradaban!" D

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.89

    Pagi itu, sinar matahari baru saja menerobos celah-celah pepohonan di area proyek pembangunan. Suasana di lapangan yang biasanya bising oleh suara mesin, pagi ini terasa agak sunyi dan dibalut canggung.Di depan proyek, Mas Bayu, Pak Doni dan Mas Rehan sedang duduk Bersama. Hingga tak lama kemudia, tak jauh dari tempat mereka duduk, di balik gerbang berhenti sebuah motor membuat ketiganya menoleh.Sesosok wanita anggun dengan pakaian rapi bertandang ke lokasi. Ia adalah Mbak Sri, yang datang tepat waktu sesuai dengan janji yang telah ia buat sebelumnya. Mbak Sri hadir untuk menemui Mas Bayu.Namun, kehadiran Mbak Sri yang tak disangka-sangka oleh Pak Doni dan Mas Rehan membuat suasana seketika menegang.Mas Rehan dan Pak Doni menghentikan pembicaraan mereka begitu melihat kedatangan Mbak Sri. Wajah mereka menunjukkan terkejut yang luar biasa.Mas Rehan terperanjat, "Mbak Sri? Anda... bagaimana bisa ada di sini pagi-pagi begini?"Pak Doni s

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.88

    Suasana di Kos Wisma Asri menjelang pukul sembilan pagi mulai berangsur sepi. Kebisingan khas pagi hari seperti suara deru motor, celoteh penghuni kos yang berebut kamar mandi, hingga denting alat masak kini telah mereda. Mayoritas penghuninya sudah berangkat menembus kemacetan kota untuk bekerja dan berkuliah. Hanya tersisa keheningan yang dibalut sepoi angin pagi dan suara jangkrik liar di sudut halaman.Di dalam kamarnya, Mbak Sri berdiri mengamati penampilannya. Ia meraih tas selempang kulit warna cokelat pastel lalu memakainya serong di bahu. Matanya menatap lekat pantulan dirinya di cermin rias berukuran sedang. Dress bunga-bunga kecil berwarna lembut yang melekat di tubuhnya tampak begitu rapi, membalut sosoknya yang biasanya hanya mengenakan daster atau kaos santai sehari-hari. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat, namun penuh arti mengembang di bibirnya.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Mbak Sri meraih botol parfum kaca berdesain elegan dari atas me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.87

    Suara tumisan bumbu halus di atas wajan besar beradu dengan keheningan pagi yang masih samar. Jarum jam dinding di dapur umum menunjukkan pukul 04.15 WIB. Asap tipis beraroma bawang merah, terasi, dan daun jeruk membumbung tinggi, memenuhi ruangan berubin putih tersebut.Setelah tiga hari tutup total demi mengurus berkas perceraiannya di Pengadilan Agama, Mbak Sri akhirnya kembali ke tempat yang paling membuatnya merasa hidup: dapur katering milik pribadinya. Hari ini, ia harus menyelesaikan 50 kotak nasi tumpeng mini dan 100 porsi prasmanan untuk acara syukuran kantor.Dengan cekatan, Mbak Sri mengaduk sambal goreng ati dengan sutil kayu besar. Keringat tipis mulai menetes di pelipisnya. Tangannya yang sigap dan terlatih melangkah dari satu kompor ke kompor lain.Ting!Suara denting notifikasi ponsel terdengar dari balik saku apron kain motif kotak-kotak biru yang ia kenakan.Mbak Sri mengecilkan api kompor terlebih dahulu. Ia me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.86

    Angin malam berembus dingin, membawa aroma tanah basah yang kian pekat. Langit di atas sana gulita, tertutup awan mendung yang menggantung rendah, seolah menyimpan beban yang siap ditumpahkan kapan saja.Mbak Sri duduk sendirian di kursi kayu teras rumahnya. Matanya menatap lurus ke arah langit malam yang hampa. Sebuah helaan napas berat terdengar beberapa kali dari bibirnya, terlepas bersama rasa sesak yang tak kunjung mereda. Malam ini seharusnya terasa begitu berharga—sebuah garis akhir dari drama panjang yang menguras emosi dan air mata. Namun, bukannya lega, hatinya justru terasa ganjil, gundah, dan tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di relung dadanya yang paling dalam."Mas Bayu..." lirih Mbak Sri sangat pelan, hampir tak terdengar, mengucap nama seseorang yang kini jauh darinya.Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di atas kepalanya. Sebuah elusan hangat pada pucuk kepala yang seketika menghentikan lamunannya.Mbak Sri te

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.85

    Suara dentang halus koin dan kunci di dalam saku celana mengiringi langkah Mas Bayu saat ia melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Suasana ruangan terasa sunyi, hanya derak halus kipas angin yang membelah udara panas sore itu.Mas Bayu melepas topi rimba kesayangannya, meletakkannya dengan layu di atas meja kayu yang dipenuhi tumpukan berkas. Matanya yang tampak lelah tertuju pada segelas air putih dingin yang berdiri anggun di sudut meja. Tanpa ragu, ia meraih gelas itu, menempelkan pinggirannya ke bibir, dan meminumnya hingga tandas tanpa henti.Glek... glek... glek."Haaah..."Terdengar suara helaan napas panjang yang sarat akan beban keluar dari mulut Mas Bayu. Ia menurunkan gelas kosong itu, lalu perlahan menjatuhkan punggungnya, menyandarkan tubuhnya yang letih ke sandaran kursi busa. Mas Bayu mendongak, menatap kosong ke arah langit-langit plafon ruangan yang putih bersih.Tatapannya benar-benar kosong. Sudah hampir satu bulan dia

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status