مشاركة

Bab.9

مؤلف: Addarayuli
last update تاريخ النشر: 2026-09-03 14:00:40

"Pak RW! Tolong jelaskan maksudnya ini apa?!" suara Leo menggelegar, memotong kasak-kusuk warga. Matanya menatap tajam ke arah kerumunan. "Atas dasar apa tempat ini dituduh kos maksiat?! Sembarangan sekali melayangkan tuduhan tanpa bukti!"

Leo kemudian menoleh ke arah sosok wanita yang berdiri di ambang pintu, lalu menggelengkan kepala dengan nada merendahkan.

"Lagipula, lihat Mbak Sri ini. Kasihan. Sudah ditinggal dan didipu suami, belum memiliki anak bukan berarti tidak bisa memiliki anak. Jangan malah ditambah-tambahin beban hidupnya dengan tuduhan yang makin memperjelas status lamanya itu!" lanjut Leo, yang bukannya membela, justru makin menguliti luka lama.

Pintu kayu berderit pelan. Mbak Sri melangkah keluar. Daster batik lusuh yang dikenakannya melambai ditiup angin pagi. Tubuhnya gemetaran hebat, badannya terasa dingin, dan matanya berkaca-kaca menahan lelehan air mata serta rasa malu yang menumpuk di dada saat menjadi pusat perhatian seluruh warga kampung.

Belum sempat Mbak Sri bersuara, Marni maju beberapa langkah dari kerumunan. Tangan kanannya terangkat tajam, menunjuk tepat di depan muka Mbak Sri.

"Enggak usah akting sedih, Sri!" pekik Marni dengan suara melengking. "Warga sudah muak! Kamu itu memang wanita tidak benar! Jangan sok suci di kampung ini!"

Mbak Sri tak sanggup mendongak. Jemari tangannya meremas kain daster batiknya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menunduk dalam-dalam, membiarkan helai rambutnya menutupi wajahnya yang memerah, tak mampu lagi menatap tatapan-tatapan menghina yang menguliti harga dirinya pagi itu.

Pagi itu, suasana di halaman rumah Mbak Sri memanas. Pak RW dan Marni berdiri dengan dada terbusung, mengompori belasan warga yang berkumpul. Kasak-kusuk tuduhan jahat berhembus liar, menyudutkan Mbak Sri yang berdiri gemetar di ambang pintu.

Sebelum air mata Mbak Sri menetes, Bimo yang sudah mengenakan seragam polisi lengkap hendak berangkat dinas melangkah keluar paling depan bersama Mas Rehan.

Langkah sepatu Bimo menapak tegas, memotong riuh suara warga. Di sampingnya, Mas Rehan berjalan tenang sembari merapikan kancing jas hitamnya, memegang selembar amplop cokelat tebal dengan logo firma hukum.

"Ada apa ini ramai-ramai di depan rumah orang pagi-pagi?" suara Bimo terdengar berat dan berwibawa. Matanya menatap tajam ke arah Pak RW dan Marni.

Marni yang tadinya berteriak keras, mendadak mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Pak RW berdeham, mencoba mempertahankan posisinya sebagai ketua RW.

"Begini, Bim... eh, Pak Polisi," ujar Pak RW agak gugup. "Warga cuma mau menuntut kejelasan soal motor CB itu. Kata Teguh dan Marni, Mbak Sri nampung barang enggak benar!"

Mas Rehan maju satu langkah, tersenyum dingin. Ia membuka amplop cokelat itu dan mengeluarkan selembar surat berstempel resmi.

"Pak RW," potong Mas Rehan dengan nada tenang namun menekan. "Saya Rehan, kuasa hukum keluarga ini. Ini adalah surat somasi resmi."

Mas Rehan menyerahkan kertas itu tepat di depan dada Pak RW, membuat pria paruh baya itu terperanjat.

"Surat... somasi?" bisik Pak RW, tangannya gemetar menerima kertas itu.

"Betul," sambung Mas Rehan. "Atas tindakan Bapak dan Mbak Marni yang memprovokasi warga tanpa bukti, kami mengancam memenjarakan Anda berdua atas pasal pencemaran nama baik dan pelanggaran UU ITE terkait penyebaran fitnah di grup W******p warga semalam. Ancaman hukumannya tidak main-main, maksimal empat tahun penjara."

Marni langsung pucat pasi. "Lho, kok saya? Saya cuma dengar cerita dari Teguh!"

Bimo melangkah mendekat, memperbaiki posisi sabuk dinasnya. Sorot matanya mengunci Marni dan Pak RW.

"Perlu Saya pertegas," ucap Bimo dengan nada dingin khas aparat penegak hukum. "Status motor CB yang ada di dalam rumah ini sudah resmi dilaporkan sebagai barang curian Teguh di Polsek. Laporannya Saya sendiri yang pegang. Mbak Sri di sini adalah korban penipuan Teguh, bukan penadah."

Bimo menatap warga di sekelilingnya. "Siapa pun di sini yang ikut-ikutan menyebarkan fitnah atau mencoba melakukan main hakim sendiri, akan Saya angkut sekalian ke kantor polisi pagi ini juga!"

Mendengar ancaman pidana resmi dari pengacara berpakaian rapi dan polisi berseragam lengkap yang siap berangkat dinas itu, nyali Pak RW dan Marni runtuh seketika. Keringat dingin mulai membasahi dahi Pak RW.

"E-eh... bukan begitu, Mas Bimo, Mas Rehan," gagap Pak RW. Ia berbalik menghadap warga dengan wajah panik. "Bubar! Bubar semua! Ini cuma salah paham! Jangan ada yang kerumunan di sini, ayo bubar!"

"Tapi Pak RW, katanya tadi..." celetuk salah satu warga.

"Bubar saya bilang!" potong Pak RW setengah berteriak, mengibaskan tangannya panik.

Warga yang tidak ingin berurusan dengan hukum dan polisi akhirnya membubarkan diri satu per satu dengan berbisik-bisik. Marni menyelinap cepat di antara kerumunan, setengah berlari karena takut ditarik ke kantor polisi.

Di ujung gang, Teguh yang tadinya mengintip dari balik tiang listrik sambil berharap melihat Mbak Sri dihakimi warga, mendadak terbelalak. Melihat provokasinya gagal total dan Bimo menoleh ke arahnya, Teguh langsung balik badan dan lari terbirit-birit ketakutan.

Halaman kos Mbak Sri kembali hening. Mas Rehan menepuk bahu Bimo pelan, sementara Mbak Sri mengusap napas lega di ambang pintu, menyapu genangan air mata yang batal menetes.

***

Suasana koridor kos malam itu sudah sangat lengang. Denting sendok dari dapur umum tak lagi terdengar, dan satu per satu lampu di depan kamar penghuni kos lain telah dipadamkan. Hanya menyisakan pendar lampu kuning remang-remang di ujung lorong.

Langkah kaki Mbak Sri terhenti tepat di depan pintunya. Ia memutar badan, menatap Bayu yang sejak tadi berjalan pelan di sampingnya.

"Terima kasih ya, Mas Bayu... sudah mau mengantar dan mendengarkan keluhan Sri malam ini," ucap Mbak Sri pelan, berusaha mengukir senyum meski matanya masih menyiratkan rasa lelah.

Mbak Sri memutar gagang pintu dan mendorongnya sedikit. Namun, baru saja daun pintu terbuka beberapa senti, sebuah tangan kekar menahannya.

Bayu tak lantas melepaskannya. Ia justru memajukan langkah, menepis jarak yang tersisa di antara mereka. Mbak Sri tertegun, punggungnya sedikit bersandar pada kusen pintu saat napas hangat Bayu mulai terasa mendekat.

"Mbak Sri..." panggil Bayu dengan suara berat, hampir berbisik agar tak memecah keheningan koridor.

"Y-ya, Mas?" bisik Sri gagap, jantungnya mendadak berdebar kencang. Matanya bertabrakan langsung dengan tatapan Bayu yang begitu dalam dan hangat.

"Aku tahu belakangan ini semuanya terasa berat buat kamu," ujar Bayu pelan. Tangannya yang satu lagi terangkat ragu, lalu perlahan merapikan helaian rambut Mbak Sri yang menutupi sebagian wajahnya. Tepi jemarinya sempat menyentuh pipi Mbak Sri, membuat Wanita itu menahan napas.

"Tapi aku cuma mau kamu tahu... kamu enggak pernah sendirian menghadapi ini semua. Ada aku di sini. Aku mau jadi orang yang selalu bisa kamu sandari, Mbak Sri."

Mbak Sri terpaku. Ruang di antara mereka terasa makin menyempit. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana pandangan Bayu turun sebentar ke bibirnya, sebelum kembali mengunci matanya. Keheningan malam seolah menarik mereka makin dalam, menyapu seluruh keraguan yang ada.

Bayu menundukkan kepalanya sedikit demi sedikit, mendekatkan wajahnya. Mbak Sri tak bergerak mundur, ia justru memejamkan mata perlahan, terbawa oleh kehangatan dan ketulusan suasana malam itu.

“M-mas…”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.52

    Suasana di kamar Mas Bayu yang semula tenang berubah menjadi penuh kepanikan saat pintu terbuka. Mas Bayu melangkah masuk dengan bersandar pada pintu, wajahnya pucat dan kepala terbebat perban putih."Minum dulu, Mas!" ucap Mbak Sri sigap. Dengan telaten, ia membantu Mas Bayu memegang cangkir dan meminum teh manis hangat buatannya.Mas Bayu meminum teh hangat itu perlahan. Setelah menyeruputnya hingga separuh, ia menghela napas panjang dan menatap orang-orang di sekelilingnya. "Terima kasih banyak ya, Mbak Sri. Terima kasih juga buat adik-adik kos semua yang sudah mengkhawatirkan saya."Masih dengan wajah yang terlihat panik, Mbak Sri bertanya menuntut penjelasan. "Sebenarnya apa yang terjadi sama Mas Bayu? Pulang-pulang kok kepalanya sudah diperban begini?"Mas Bayu mengusap dadanya sebentar, lalu menjelaskan. "Jadi begini, pas pekerjaan di proyek baru selesai dan saya mau siap-siap pulang, tiba-tiba penyangga besi di atas jatuh. Kayu yang ditopang di at

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.51

    Matahari sore mulai bergeser ke barat, memancarkan sinar jingga yang menerpa debu-debu halus di area proyek. Di tengah riuhnya suara cetok semen dan dentangan besi, Mas Bayu berdiri terpaku. Tatapannya kosong mengarah ke fondasi bangunan yang separuh jadi. Pikiran pria itu melayang jauh dari area lapangan tempatnya berdiri."Mas Bayu? Melamun aja, nih," tegur seorang arsitek muda sambil melangkah mendekat. Di tangannya, ia memegang gulungan kertas kerja yang sudah sedikit terlipat di bagian ujungnya.Mas Bayu tersentak pelan, lalu menoleh. Ia berusaha mengulas senyum tipis di wajahnya yang tampak lesu. "Eh... nggak papa, Mas."Sang arsitek mengamati wajah Mas Bayu dengan dahi berkerut. "Lagi ada pikiran ya, Mas? Dari habis makan siang tadi kulihat kok nggak semangat banget. Padahal biasanya Mas Bayu paling ceria kalau pas makan siang, terus pasti selalu muji-muji enaknya masakan dari nasi boks yang dibawa."Mas Bayu menghela napas pelan. "Enggak kok, cuma

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.50

    Keheningan menyelimuti kamar saat Mas Rehan terus memeluk Mbak Sri dengan erat. Selama beberapa menit, tak ada suara lain selain deru napas mereka yang perlahan menyatu. Mbak Sri menyandarkan seluruh beban hatinya di dada Mas Rehan, merasakan hangatnya rasa aman yang terpancar dari sosok pria itu. Tangan Mas Rehan bergerak lembut, mengelus rambut Mbak Sri perlahan dari puncak kepala hingga menyusuri punggungnya, memberikan ketenangan yang selama ini amat dibutuhkan Mbak Sri hingga gejolak di hatinya berangsur tenang."Sudah, ya... Jangan takut lagi. Mbak Sri itu wanita yang kuat. Ingat, Mbak nggak sendirian di sini," bisik Mas Rehan begitu lembut, tepat di samping telinga Mbak Sri, menyalurkan setiap helai motivasi agar wanita itu bisa kembali berdiri tegak.Masih dalam keadaan sesenggukan dan napas yang tersengal, Mbak Sri perlahan melonggarkan dan melepaskan pelukannya. Tangan gemetarnya terangkat mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. Saat matanya melir

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.49

    Tangan kanan Mbak Sri mencengkeram dada kirinya erat-erat, menahan rasa sesak yang kian melilit napasnya. Cobaan yang bertubi-tubi datang seolah tanpa jeda membuat ketakutan menggerogoti hatinya. Sejak awal menikah, hubungannya dengan keluarga suami memang tak pernah benar-benar hangat. Suara Ibu Mertua yang selalu menuntut momongan, diiringi cacian dan makian tajam, masih berdenging nyaring di telinganya. Padahal, segala usaha dan doa telah mereka tumpahkan, hanya saja Tuhan tampaknya belum memercayakan sesosok buah hati di tengah-tengah mereka.Sebuah tepukan lembut di bahunya mengejutkan Mbak Sri. Ia mendongak pelan dan mendapati Mas Bayu berdiri menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Melihat pandangan teduh itu, tangis Mbak Sri justru pecah semakin deras.Namun, sebuah panggilan hangat tiba-tiba mengalihkan perhatiannya."Mbak Sri! Kamu tidak apa-apa?"Mas Rehan bergegas mendekat, matanya menelusuri tubuh Mbak Sri dengan cemas. Dengan teliti

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.48

    Mas Rehan terpaksa menghentikan laju motornya ketika melihat kerumunan warga di depan Kos Wisma Asri. Suasana tampak gaduh dan riuh. Tanpa berpikir panjang, ia menstandarkan motornya, melepaskan helm, dan berlari kecil menuju kerumunan itu.Begitu sampai di sana, pandangan Mas Rehan langsung tertuju pada dua orang wanita berbeda usia yang sedang berdebat sengit dengan Mas Bayu. Tatapan Mas Rehan kemudian beredar mencari sosok Mbak Sri. Di sudut lain, ia melihat Mbak Sri sedang terduduk sambil menangis sesenggukan di kursi teras kos.Melihat kekacauan tersebut, Mas Rehan memberanikan diri menyela pembicaraan. "Permisi, ada apa ini?" tanya Mas Rehan dengan nada tegas.Kedua wanita itu menoleh seketika dengan wajah merah padam karena emosi. Wanita yang lebih muda, Lastri, tersenyum smirk meremehkan. "Kenapa? Kamu salah satu dari simpanan Sri?" tanyanya sinis.Mendengar pertanyaan melenceng itu, Mas Rehan terkejut bukan main. Matanya langsung mengara

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.47

    Suasana di depan gerbang kos yang biasanya tenang mendadak panas. Puji membendung amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun, matanya melotot tajam menatap Sri yang sedang menunduk di balik tubuh seorang pria."Dasar wanita murahan! Wanita gatal!" teriak Puji, suara seraknya memecah udara sore. "Pantas saja dari dulu kamu tak kunjung memberikan aku cucu! Kamu itu pasti mandul gara-gara sering digilir banyak pria di kos ini! Kos ini isinya pria semua, pasti setiap malam kamu tidur ganti-ganti pasangan dengan mereka!"Lastri, kakak ipar Sri, menyilangkan dada sambil tersenyum sinis, mengompori ibunya. "Betul itu, Ibu! Biar semua orang tahu kelakuan aslinya!"Puji semakin menjadi-jadi, menunjuk muka Sri dengan jari yang gemetar. "Kamu juga tega-teganya memfitnah Teguh, memasukkan anakku sendiri ke penjara! Semua ini cuma demi memuaskan hasrat kamu sama pria-pria kos itu, kan? Supaya tidak ada yang menghalangi kamu bermesraan sama mereka!"Tes!Air

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status