Share

Bab.8

Author: Addarayuli
last update publish date: 2026-09-02 14:01:44

"Mbak Sri, mending sama Leo aja. Leo masih muda, pasti bisa bikin Mbak Sri punya anak dan buktiin kalau Mbak Sri itu nggak mandul."

Mbak Sri mendadak membeku. Wajahnya yang biasa tenang mendadak memerah padam sampai ke leher. Tangannya refleks mengayun, melayangkan pukulan pelan namun bertubi-tubi ke bahu Leo.

Plak! Plak!

"Hush! Ngawur kamu, ya! Nyebut kamu, Leo!" Mbak Sri setengah berbisik, matanya mendelik panik ke arah lorong rumah, takut ada anak kos lain atau orang yang mendengar. "Bangun, bangun! Enggak usah aneh-aneh kepalanya ditaruh di situ!"

Bukannya kapok, Leo justru makin menyamankan posisinya. Ia menggeser kepala sedikit lebih dekat, menyerap aroma parfume Mbak Sri yang khas bercampur pewangi pakaian dari daster batik adem milik wanita di sampingnya itu. Senyum jahil makin lebar terkembang di bibirnya.

"Dih, galak amat sih, Mbak. Leo kan cuma menawarkan solusi," goda Leo dengan nada manja yang sengaja diseret-seret. Matanya mengedip pelan, menatap Mbak Sri dari bawah dengan tatapan polos tapi penuh niat tersembunyi. "Daripada si Teguh yang nyuri motor almarhum bapak Mbak Sri dan pergi sama Wanita lain bahkan bawa semua uang Mbak, terus malah nyalahin Mbak Sri gara-gara belum punya momongan? Mending sama yang fresh gini, kan?"

"Leo! Ih, bener-bener ya ini anak!" Mbak Sri mencoba menarik bahunya, tapi Leo malah menahan pinggang Mbak Sri dengan satu tangannya dengan santai, membuat wanita yang beberapa tahun lebih tua darinya itu makin salah tingkah.

"Aduh, Leo, lepasin... Kalau ada yang liat gimana? Mbak Sri ini udah punya suami, kamu itu masih bau kencur!" Mbak Sri berusaha menetralkan napasnya yang mulai tidak teratur. Hawa panas mendadak menjalar di pipinya, bukan cuma karena malu, tapi juga karena godaan terang-terangan dari anak muda di pangkuannya ini.

Leo terkekeh pelan, suara tawa beratnya terdengar begitu dekat di dada Mbak Sri.

"Bau kencur begini juga Mbak Sri betah kan ditempelin?" bisik Leo makin jadi, mendongak makin dekat sampai jarak wajah mereka hanya tersisa belasan sentimeter. "Lagian, siapa suruh Mbak Sri kalau pakai daster wangi banget, bikin Leo mau nyender terus. Gimana? Penawaran Leo menarik, kan? Nanti kalau Mbak Sri mual-mual, kan Si Teguh mikirnya itu punya dia..."

"Aduh, aduh, makin ngaco omongannya!" Mbak Sri menepuk kedua pipi Leo dengan gemas bercampur panik, berusaha mendorong wajah tampan yang kelewat percaya diri itu menjauh. "Bangun nggak? Kalau nggak bangun, Mbak Sri aduin ke yang lain ya! Biar nanti kamu di keroyok terus di pukulin karena godain Mbak terus."

"Yah, mainnya ancaman..." Leo cemberut berpura-pura merajuk, tapi matanya tetap berkilat jahil. Perlahan, ia mengangkat kepalanya dari pundak Mbak Sri, lalu duduk tegak di sampingnya, namun posisinya masih melekat erat tanpa jarak.

Ia merangkul bahu Mbak Sri dengan santai, lalu berbisik tepat di telinganya, "Ya udah, sekarang selamat dari Leo. Tapi penawaran tadi nggak ada tanggal kadaluarsanya ya, Mbak Sri sayang."

Blush!!

Pipi Mbak Sri memerah, dia memalingkan wajahnya ke samping membuat Leo terkekeh pelan. Sambil bangkit dari duduknya, Leo membenarkan tasnya lalu mengusap pucuk kepala Mbak Sri dengan lembut sebelum pergi dari sana, meninggalkan Mbak Sri dengan rasa malu dan salah tigkahnya.

***

Suara garang knalpot motor dan hiruk-pikuk pasar kecamatan menyambut kedatangan Bimo dan Raka. Bimo menepuk kantong jaketnya, memastikan dokumen penting tertata rapi.

"BPKB sama STNK asli motor CB almarhum Bapak aman kan, Mas?" tanya Raka setengah berbisik sambil mengedarkan pandangan.

"Aman di saku dalam," jawab Bimo tenang. "Yang penting kita temukan dulu di mana Teguh parkir itu motor."

Baru saja mereka melangkah melintasi deretan pedagang sayur, Raka mendadak menarik lengan Bimo. "Mas! Itu Teguh!"

Tak jauh dari mereka, Teguh sedang berdiri santai dekat area parkir liar. Namun, insting Teguh cukup tajam. Begitu matanya beradu pandang dengan Bimo yang mengenakan jaket kepolisian, wajahnya langsung pucat pasasi.

"Brengsek!" umpat Teguh. Tanpa berpikir panjang, ia langsung balik badan dan melesat masuk ke dalam gang sempit antarlapak pasar.

"Teguh! Berhenti!" teriak Bimo mencoba mengejar.

Namun, sesaknya gang pasar dan tumpukan keranjang pedagang membuat Teguh berhasil meloloskan diri melompati pagar belakang pasar. Teguh lolos, namun ia terpaksa meninggalkan kunci dan motor tua almarhum Bapak yang terparkir begitu saja.

Bimo menghela napas panjang sambil menghampiri juru parkir pasar. Ia mengeluarkan BPKB, STNK, serta kartu anggotanya. "Pak, motor CB ini milik keluarga kami yang dibawa lari. Ini surat sah kepemilikannya."

Setelah mencocokkan nomor rangka dan mesin, juru parkir itu mengangguk paham. "Oalah, oke Mas. Silakan di bawa."

Sementara itu di Wisma Asri, Leo baru saja terbangun dari tidurnya dengan kepala masih agak berat. Mbak Sri sudah menyapu air matanya, berusaha menyembunyikan duka mendalam yang menguras emosinya sejak pagi.

Suara dentuman khas mesin Honda CB tua terdengar memasuki halaman kosan.

Mbak Sri bergegas berlari ke luar. Matanya berbinar haru saat melihat Bimo menuntun motor kesayangan almarhum bapaknya masuk ke dalam garasi, disusul Raka dari belakang.

"Mas Bimo... Raka..." bisik Mbak Sri, suaranya bergetar. Tangannya gemetaran mengelus tangki cat merah motor tersebut. "Motor Bapak... benar-benar balik..."

"Aman, Mbak. Surat-surat sah kita bikin Teguh tak punya kuasa," kata Raka tersenyum lega.

Namun, ketenangan itu mendadak pecah ketika ponsel Bimo berdering keras. Bimo mengangkat telepon tersebut dengan wajah yang berangsur-angsur mengeras.

"Siap, komandan. Bagaimana situasinya?" tanya Bimo pendek.

Ia mendengarkan penjelasan dari seberang telepon selama beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas berat.

"Bim, pantauan kami Teguh sekarang ada di warung area bawah. Dia sedang provokasi Pak RW sama warga kampung. Tampaknya dia mau bikin gerakan buat ngeruduk Wisma Asri besok pagi."

"Paham. Terima kasih infonya, usahakan tetap pantau pergerakannya," jawab Bimo lalu mematikan sambungan telepon.

"Ada apa, Mas?" tanya Leo yang baru keluar dari kamar.

"Teguh belum kapok," ujar Bimo dingin. "Dia sengaja memanfaatkan situasi untuk menghasut warga dan Pak RW. Kita harus siap-siap, besok pagi kemungkinan besar bakal ada badai di depan pagar."

Malam itu, suasana Wisma Asri terasa begitu mencekam. Lampu teras sengaja dipadamkan sebagian. Di dalam ruang tengah, Bimo, Raka, Leo, dan Mbak Sri duduk melingkar.

"Mas Bim, apa kita perlu lapor ke Kapolsek sekarang supaya disiapin personel?" tanya Leo serius.

"Belum saatnya, Le," jawab Bimo sambil mengusap wajahnya. "Teguh main halus pakai isu warga. Kalau polisi datang malam ini, warga malah makin curiga kalau kita sembunyi di balik seragam. Kita lihat dulu apa yang sebenarnya dia semburkan ke warga."

Mbak Sri menunduk layu, menatap cangkir teh hangat yang mulai dingin. "Maafin Mbak ya... Gara-gara masalah pribadi Mbak, kalian jadi ikut kerepotan begini."

"Jangan bicara begitu, Mbak Sri," potong Raka tegas. "Wisma Asri ini rumah kita. Almarhum Bapak nitipin Mbak ke kita semua. Teguh cuma benalu yang kepanasan."

Mereka menghabiskan sisa malam dalam kesiapsiagaan, menyusun rencana untuk menghadapi tuduhan apa pun yang akan dilemparkan besok pagi.

Brak! Brak! Brak!

Suara gedoran keras pada pagar besi Wisma Asri memecah ketenangan pagi.

Di luar pagar, Pak RW Parmin berdiri menunjuk-nunjuk rumah dengan wajah merah padam. Di sampingnya, Marni, janda pemilik warung kelontong berdiri sambil berkacak pinggang bersama puluhan warga yang sudah terprovokasi.

"Keluar kalian! Jangan sembunyi di dalam!" teriak Marni dengan suara melengking. "Postingan di F******k sudah jelas! Kos-kosan ini cuma kedok tempat maksiat!"

Dari balik gang sempit yang berjarak agak jauh dari kerumunan, Teguh berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding sarang burung walet. Sambil bersedekap, sunggingan senyum puas dan licik terukir jelas di wajahnya menyaksikan kekacauan yang berhasil ia ciptakan.

Pak RW Parmin maju menempelkan wajahnya di sela-sela besi pagar, berteriak garang.

"Buka pagarnya! Mbak Sri, keluar kamu! Kita butuh kejelasan tuduhan kos maksiat ini!" seru Pak RW Parmin. "Dasar wanita nakal! Sudah ditinggal suami, mandul tak bisa punya anak, malah pelihara laki-laki tak jelas di dalam kosan! Bikin kotor nama kampung saja!"

Pintu depan Wisma Asri perlahan terbuka. Bimo, Raka, Leo, dan Rehan melangkah keluar bersama-sama menghadapi kepalan tangan warga yang melayang di udara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.52

    Suasana di kamar Mas Bayu yang semula tenang berubah menjadi penuh kepanikan saat pintu terbuka. Mas Bayu melangkah masuk dengan bersandar pada pintu, wajahnya pucat dan kepala terbebat perban putih."Minum dulu, Mas!" ucap Mbak Sri sigap. Dengan telaten, ia membantu Mas Bayu memegang cangkir dan meminum teh manis hangat buatannya.Mas Bayu meminum teh hangat itu perlahan. Setelah menyeruputnya hingga separuh, ia menghela napas panjang dan menatap orang-orang di sekelilingnya. "Terima kasih banyak ya, Mbak Sri. Terima kasih juga buat adik-adik kos semua yang sudah mengkhawatirkan saya."Masih dengan wajah yang terlihat panik, Mbak Sri bertanya menuntut penjelasan. "Sebenarnya apa yang terjadi sama Mas Bayu? Pulang-pulang kok kepalanya sudah diperban begini?"Mas Bayu mengusap dadanya sebentar, lalu menjelaskan. "Jadi begini, pas pekerjaan di proyek baru selesai dan saya mau siap-siap pulang, tiba-tiba penyangga besi di atas jatuh. Kayu yang ditopang di at

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.51

    Matahari sore mulai bergeser ke barat, memancarkan sinar jingga yang menerpa debu-debu halus di area proyek. Di tengah riuhnya suara cetok semen dan dentangan besi, Mas Bayu berdiri terpaku. Tatapannya kosong mengarah ke fondasi bangunan yang separuh jadi. Pikiran pria itu melayang jauh dari area lapangan tempatnya berdiri."Mas Bayu? Melamun aja, nih," tegur seorang arsitek muda sambil melangkah mendekat. Di tangannya, ia memegang gulungan kertas kerja yang sudah sedikit terlipat di bagian ujungnya.Mas Bayu tersentak pelan, lalu menoleh. Ia berusaha mengulas senyum tipis di wajahnya yang tampak lesu. "Eh... nggak papa, Mas."Sang arsitek mengamati wajah Mas Bayu dengan dahi berkerut. "Lagi ada pikiran ya, Mas? Dari habis makan siang tadi kulihat kok nggak semangat banget. Padahal biasanya Mas Bayu paling ceria kalau pas makan siang, terus pasti selalu muji-muji enaknya masakan dari nasi boks yang dibawa."Mas Bayu menghela napas pelan. "Enggak kok, cuma

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.50

    Keheningan menyelimuti kamar saat Mas Rehan terus memeluk Mbak Sri dengan erat. Selama beberapa menit, tak ada suara lain selain deru napas mereka yang perlahan menyatu. Mbak Sri menyandarkan seluruh beban hatinya di dada Mas Rehan, merasakan hangatnya rasa aman yang terpancar dari sosok pria itu. Tangan Mas Rehan bergerak lembut, mengelus rambut Mbak Sri perlahan dari puncak kepala hingga menyusuri punggungnya, memberikan ketenangan yang selama ini amat dibutuhkan Mbak Sri hingga gejolak di hatinya berangsur tenang."Sudah, ya... Jangan takut lagi. Mbak Sri itu wanita yang kuat. Ingat, Mbak nggak sendirian di sini," bisik Mas Rehan begitu lembut, tepat di samping telinga Mbak Sri, menyalurkan setiap helai motivasi agar wanita itu bisa kembali berdiri tegak.Masih dalam keadaan sesenggukan dan napas yang tersengal, Mbak Sri perlahan melonggarkan dan melepaskan pelukannya. Tangan gemetarnya terangkat mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. Saat matanya melir

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.49

    Tangan kanan Mbak Sri mencengkeram dada kirinya erat-erat, menahan rasa sesak yang kian melilit napasnya. Cobaan yang bertubi-tubi datang seolah tanpa jeda membuat ketakutan menggerogoti hatinya. Sejak awal menikah, hubungannya dengan keluarga suami memang tak pernah benar-benar hangat. Suara Ibu Mertua yang selalu menuntut momongan, diiringi cacian dan makian tajam, masih berdenging nyaring di telinganya. Padahal, segala usaha dan doa telah mereka tumpahkan, hanya saja Tuhan tampaknya belum memercayakan sesosok buah hati di tengah-tengah mereka.Sebuah tepukan lembut di bahunya mengejutkan Mbak Sri. Ia mendongak pelan dan mendapati Mas Bayu berdiri menatapnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Melihat pandangan teduh itu, tangis Mbak Sri justru pecah semakin deras.Namun, sebuah panggilan hangat tiba-tiba mengalihkan perhatiannya."Mbak Sri! Kamu tidak apa-apa?"Mas Rehan bergegas mendekat, matanya menelusuri tubuh Mbak Sri dengan cemas. Dengan teliti

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.48

    Mas Rehan terpaksa menghentikan laju motornya ketika melihat kerumunan warga di depan Kos Wisma Asri. Suasana tampak gaduh dan riuh. Tanpa berpikir panjang, ia menstandarkan motornya, melepaskan helm, dan berlari kecil menuju kerumunan itu.Begitu sampai di sana, pandangan Mas Rehan langsung tertuju pada dua orang wanita berbeda usia yang sedang berdebat sengit dengan Mas Bayu. Tatapan Mas Rehan kemudian beredar mencari sosok Mbak Sri. Di sudut lain, ia melihat Mbak Sri sedang terduduk sambil menangis sesenggukan di kursi teras kos.Melihat kekacauan tersebut, Mas Rehan memberanikan diri menyela pembicaraan. "Permisi, ada apa ini?" tanya Mas Rehan dengan nada tegas.Kedua wanita itu menoleh seketika dengan wajah merah padam karena emosi. Wanita yang lebih muda, Lastri, tersenyum smirk meremehkan. "Kenapa? Kamu salah satu dari simpanan Sri?" tanyanya sinis.Mendengar pertanyaan melenceng itu, Mas Rehan terkejut bukan main. Matanya langsung mengara

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.47

    Suasana di depan gerbang kos yang biasanya tenang mendadak panas. Puji membendung amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun, matanya melotot tajam menatap Sri yang sedang menunduk di balik tubuh seorang pria."Dasar wanita murahan! Wanita gatal!" teriak Puji, suara seraknya memecah udara sore. "Pantas saja dari dulu kamu tak kunjung memberikan aku cucu! Kamu itu pasti mandul gara-gara sering digilir banyak pria di kos ini! Kos ini isinya pria semua, pasti setiap malam kamu tidur ganti-ganti pasangan dengan mereka!"Lastri, kakak ipar Sri, menyilangkan dada sambil tersenyum sinis, mengompori ibunya. "Betul itu, Ibu! Biar semua orang tahu kelakuan aslinya!"Puji semakin menjadi-jadi, menunjuk muka Sri dengan jari yang gemetar. "Kamu juga tega-teganya memfitnah Teguh, memasukkan anakku sendiri ke penjara! Semua ini cuma demi memuaskan hasrat kamu sama pria-pria kos itu, kan? Supaya tidak ada yang menghalangi kamu bermesraan sama mereka!"Tes!Air

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status