Share

BAB 3 Perjanjian

Author: Rusmidah
last update publish date: 2026-08-18 20:02:12

Keheningan di koridor lantai dua belas terasa makin mencekam.

Prewa Zalas menatap Rayung tanpa berkedip. Tatapannya yang sehitam jelaga tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun—sebuah reaksi dingin yang tidak wajar bagi seseorang yang baru saja diberi tahu bahwa ada entitas mengerikan yang sedang menunggangi bahunya.

"Kalian berdua" suara Prewa memecah hembusan dingin AC lorong.

"Keluar. Kunci pintu tangga darurat dan pastikan tidak ada yang naik ke lantai ini."

Dua pria berbadan tegap yang berdiri kaku di belakang Prewa langsung mengangguk tanpa bertanya. Mereka berbalik cepat, menjalankan perintah sang bos dengan kepatuhan mutlak.

Dalam hitungan detik, koridor luas itu hanya menyisakan Prewa, Rayung, Alan dan sosok raksasa berkepala tiga yang masih bertengger menyeramkan di atas paha dan bahu sang mafia.

Prewa melangkah mendekati Rayung. Sepatu kulitnya menghantam marmer tanpa ragu, memaksa Rayung untuk menahan napas dan menjejakkan kakinya lebih kokoh ke lantai.

"Kamu pikir saya akan percaya begitu saja pada cerita mistis seorang pelamar kerja?"

Prewa berhenti tepat satu meter di depan Rayung.

Jarak yang cukup dekat untuk Rayung bisa mencium aroma cologne mahal berpadu samar dengan bau mesiu dari balik jas pria itu.

"Di dunia saya, orang yang tiba-tiba datang dan tahu terlalu banyak biasanya cuma punya dua identitas: penyusup, atau mata-mata musuh."

Rayung mendengkus dingin. Keberaniannya terpacu oleh rasa penasaran atas misteri ibunya. "Kalau saya mata-mata, saya nggak bakal sebodoh itu ngaku bisa lihat makhluk halus di bahu Anda, Pak Prewa. Saya bisa aja pura-pura jadi staf admin biasa lalu racunin kopi Anda tiap pagi."

Mata Prewa menyipit tajam. Ada kilatan berbahaya yang memancar dari kelereng matanya, namun bibirnya yang tegas tidak menunjukkan penolakan. "Buktikan."

"Apa?"

"Buktikan kalau kamu tidak sedang mengarang cerita,"

tekan Prewa dingin. "Gambarkan apa yang sedang nempel di tubuh saya sekarang. Detail."

Rayung mengalihkan pandangannya dari wajah Prewa ke area di atas bahu pria itu. Makhluk raksasa berkepala tiga itu menyeringai, memamerkan deretan gigi hitam yang runcing bak jarum. Hawa amis besi berkarat kian menusuk hidung Rayung, membuat perutnya mual.

"Tinggi makhluk itu hampir tiga meter, kulitnya hitam membusuk seperti daging terbakar," Rayung memulai deskripsinya dengan suara tertahan.

"Punya tiga kepala tanpa wajah utuh. Kepala sebelah kiri terus bergerak gelisah, kepala tengah punya mata merah membara, dan kepala kanan... bibirnya robek sampai ke telinga."

Prewa tetap berwajah datar, tapi jemari di tangan kanannya tampak mengetuk paha secara konstan.

"Jemari tangannya panjang, berkuku hitam runcing," lanjut Rayung, matanya menatap lekat lilitan gaib di leher Prewa.

"Tangan kirinya mencekik leher Anda dari belakang, sementara tangan kanannya... menancap tepat di dada kiri Anda. Dia lagi meremas area jantung Anda, Pak. Biasanya tiap malam atau tiap kali udara dingin, dada kiri Anda pasti rasanya seperti ditusuk jarum beracun dan napas Anda mendadak sesak, kan?"

Secara kasat mata, Prewa tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Namun, Rayung menyadari lirikan mata Prewa yang sempat terlempar ke arah dada kirinya sendiri—sebuah reaksi refleks yang mengonfirmasi bahwa tebakannya seratus persen akurat.

Sudah dua tahun terakhir Prewa menderita sakit dada misterius yang makin hari makin menyiksa. Berbagai dokter spesialis jantung terbaik di dalam dan luar negeri telah ia datangi, namun hasil laboratorium selalu menyatakan bahwa fungsi organ tubuhnya sempurna. Tidak ada penyakit medis.

Sekarang, jawaban itu ada di depan matanya. Dua tahun ia bertahan hidup menanggung siksaan makhluk gaib ini hanya karena ketahanan fisik dan daya tahannya yang luar biasa.

"Siapa yang mengirimnya?" tanya Prewa pendek, suaranya kini terdengar jauh lebih rendah dan penuh intimidasi.

Sebagai pemimpin keluarga kriminal terbesar yang menguasai jalur bisnis gelap dan korporasi, Prewa tahu betul bahwa serangan tidak hanya datang dalam bentuk peluru atau bom.

"Mana saya tahu!" tangkas Rayung . "Saya cuma bisa melihatnya, bukan detektif gaib! Tapi yang jelas, makhluk ini bukan cuma sekadar ketempelan hantu jalanan. Ini guna-guna atau kutukan tingkat tinggi. Makhluk ini sengaja diikat ke tubuh Anda buat menguras energi hidup Anda perlahan-lahan."

Makhluk berkepala tiga itu terkekeh pelan. Bisikan ghaib kembali merayap di dalam kepala Rayung: 'Dia pintar... anak Aruna pintar...'

Rayung memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Pikiran tentang ibunya kembali membakar dadanya. Selama ini, paman yang merawatnya selalu bilang bahwa Aruna—ibunya—meninggal karena bunuh diri saat Rayung masih kecil. Sebuah luka trauma kelam yang membuat Rayung selalu merasa terbuang dan bersalah. Namun bisikan makhluk ini mengisyaratkan hal lain: bunuh diri itu bisa jadi hanyalah kebohongan besar.

"Dengar ya, Pak Prewa. Saya nggak peduli Anda ini bos mafia, pengusaha sukses, atau penjahat kelas atas," tegas Rayung dengan napas memburu.

"Saya cuma mau satu hal: makhluk ini harus kasih tahu saya apa hubungan dia dengan Aruna—ibu saya—dan apa yang sebenarnya terjadi saat ibu saya meninggal!"

Prewa mengamati Rayung dengan tatapan menguliti. Ia bisa membaca ketakutan dan emosi mendalam yang bergolak dari gadis di depannya, namun matanya memancarkan nekad yang tak tergoyahkan.

"Kamu mau pekerjaan di sini?" tanya Prewa tiba-tiba, melenceng dari topik.

Rayung mengerutkan kening. "Hah?"

"Posisi staf administrasi yang kamu lamar tadi. Gaji pokok lima belas juta per bulan, belum termasuk bonus." Prewa merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu akses berwarna hitam pekat dengan ukiran emas bertuliskan nama resminya, lalu mengulurkannya pada Rayung. "Tapi jobdesk kamu berubah. Kamu bukan staf admin biasa."

Rayung menatap kartu emas itu dengan ragu. "Terus?"

"Kamu jadi asisten pribadi saya," ujar Prewa tanpa batas negosiasi. "Tugas utama kamu cuma satu: berdiri di samping saya, awasi makhluk itu, dan cari cara untuk menyingkirkannya sebelum jantung saya benar-benar berhenti."

Rayung menelan ludah. "Dan soal misteri ibu saya?"

"Begitu makhluk itu lepas atau memberikan jawaban yang kamu cari, kamu bisa pergi membawa informasi itu. Plus, jaminan keamanan penuh dari Zalas Corp seumur hidupmu," jawab Prewa dingin. "Bagaimana?"

Rayung menatap kartu akses hitam di tangan Prewa, lalu beralih menatap tiga kepala bermata merah yang sedang menatapnya penuh ancaman di atas bahu pria itu.

Rasa takut akan dunia ghaib dan bahaya mafia memang nyata, namun kebenaran tentang ibunya jauh lebih berharga dari sekadar nyawanya sendiri.

Rayung mengulurkan tangan, menyambar kartu akses hitam itu dari genggaman Prewa.

"Setuju," kata Rayung tegas. "Tapi ada satu syarat."

Satu alis Prewa terangkat. "Syarat?"

"Jangan pernah sentuh atau atur hidup pribadi saya di luar urusan makhluk ini,"

ancam Rayung dengan jari telunjuk teracung. "Dan kalau saya blak-blakan bilang ada bahaya gaib, Anda wajib dengar dan menurut. Deal?"

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sudut bibir Prewa tertarik sedikit—sebuah sunggingan tipis yang memancarkan aura dominasi yang amat berbahaya.

"Deal," sahut Prewa pendek. "Ikut saya ke lantai teratas. Ada hal pertama yang harus kamu periksa di ruangan saya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 30 IKATAN DI DALAM DARAH

    Perjalanan kembali dari pemakaman keluarga Zalas terasa jauh lebih panjang daripada saat mereka berangkat.Rayung duduk di samping Prewa di kursi belakang mobil. Sejak meninggalkan Makam Pertama, pria itu nyaris tidak berbicara. Tangannya sesekali mencengkeram dada kiri, tepat di tempat rasa sakit yang selama ini menghantuinya kembali menyerang.Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.Cincin Zalas di jarinya memancarkan cahaya merah samar.Rayung memperhatikannya sejak tadi.“Prewa, tangan lo.”Prewa menurunkan pandangan. “Kenapa?”“Cincin itu masih bereaksi.”“Sejak kita meninggalkan makam.”“Terus kenapa nggak bilang?”“Saya tidak ingin membuatmu semakin khawatir.”Rayung mendengus kecil.“Wah, perhatian banget. Sayangnya, gue tetap khawatir meskipun lo diam.”Prewa menoleh sekilas. Ada bayangan senyum tipis di sudut bibirnya, tetapi segera menghilang ketika rasa

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 29 JAWABAN DARI DALAM MAKAM

    “Aku adalah orang yang seharusnya dikubur bersama ayahmu.” Suara itu masih menggema ketika Prewa menyadari sesuatu telah berubah. Cincin di jarinya mendadak terasa panas. Ia menunduk. Lambang keluarga Zalas pada cincin itu memancarkan cahaya merah samar, sama seperti tujuh lingkaran yang terukir di pintu makam. “Prewa, lepaskan cincin itu!” seru Rayung. Prewa mencoba menariknya, tetapi cincin tersebut seolah melekat pada kulitnya. Rasa panas menjalar dari jarinya ke pergelangan tangan, lalu naik menuju dadanya. Ia mengertakkan gigi. “Rayung, apa yang terjadi?” “Gue nggak tahu! Tapi sesuatu sedang mengikat lo!” Dari dalam lubang terdengar suara tawa. “Kau sudah menjawab panggilanku, pewaris Zalas. Sekarang darahmu telah mengenali tempat ini.” Prewa mengangkat senjatanya ke arah lubang. “Kalau kamu menginginkan saya, keluarlah dan hadapi saya.” “Prewa, jangan!” Terlambat. Tanah di sekitar makam bergetar hebat. Ketujuh pilar batu menyala satu per satu, kecuali pilar ketuj

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 28 MAKAM PERTAMA

    Mobil hitam itu melaju membelah jalanan malam. Prewa duduk di sebelah Rayung, sementara Alan mengemudi dan Kip memantau peta dari tablet di tangannya. Tidak ada yang banyak bicara sejak mereka meninggalkan rumah persembunyian. Rayung terus menatap rambut Aruna yang melingkari pergelangan tangannya. Ujungnya kembali memancarkan semburat merah. “Lo yakin kita harus ke sana malam ini?” tanyanya akhirnya. Prewa menoleh. “Kamu ingin menunggu sampai Harsa menghilang lagi?” “Bukan itu maksud gue.” “Lalu?” Rayung ragu. Ia ingin mengatakan bahwa Aruna telah memperingatkannya, tetapi setiap kali hendak membuka mulut, ia teringat ekspresi Prewa saat mendengar nama ayahnya di balik pintu batu. Pria itu membutuhkan jawaban. Masalahnya, Rayung mulai takut bahwa jawaban tersebut justru akan menghancurkannya. “Gue cuma merasa tempat itu berbahaya,” katanya. Prewa memandang rambut di pergelangan tangannya. “Sejak kita menemukan pintu di bawah pohon pule, kamu terus merasakan sesuatu, buk

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 27 PESAN YANG DISEMBUNYIKAN

    Rayung terus menggenggam rambut Aruna sepanjang perjalanan menaiki tangga batu.Pikirannya masih tertinggal di ruangan bawah tanah. Suara dari balik pintu, cincin Zalas pada tangan misterius itu, dan penglihatan tentang ayah Prewa berputar-putar di kepalanya.Namun, ada satu hal yang jauh lebih mengganggunya.Pesan terakhir Aruna.Jangan biarkan Prewa menemukan makam ayahnya.Rayung melirik pria yang berjalan di sampingnya.Prewa tampak tenang, tetapi rahangnya mengeras sejak mereka meninggalkan pintu batu. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada sesuatu yang mengikuti mereka.“Prewa.”“Hm?”“Kalau ternyata ayah lo memang dibunuh karena mengetahui rahasia keluarga, apa yang bakal lo lakukan?”Langkah Prewa tidak melambat.“Saya akan mencari orang yang bertanggung jawab.”“Terus kalau orang itu ternyata masih hidup?”“Saya akan membuatnya menjawab semua pertanyaan saya.”“Kalau dia keluarga lo sendiri?”Kali ini, Prewa berhenti.Ia menoleh dan menatap Rayung dengan mata g

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 26 — NAMA YANG TERKUBUR

    Prewa tidak bergerak. Suara dari balik pintu itu masih menggema di kepalanya, memanggil nama ayahnya seolah-olah pemilik suara tersebut mengenal pria itu dengan sangat baik. Mustahil. Ayahnya telah meninggal bertahun-tahun lalu. Tidak ada alasan bagi seseorang yang terkurung di tempat ini untuk memanggilnya. “Siapa kamu?” tanya Prewa dingin. Dari balik pintu terdengar tawa pelan. “Kau benar-benar tidak mengenaliku?” Rahang Prewa mengeras. “Jawab pertanyaan saya.” “Darahmu masih sama. Wajahmu pun mengingatkanku kepadanya. Tapi rupanya, mereka berhasil membuatmu melupakan segalanya.” Rayung memperhatikan Prewa. Pria itu tetap mengarahkan senjatanya ke pintu, tetapi jemarinya mencengkeram gagang senjata lebih kuat daripada sebelumnya. “Prewa,” bisik Rayung, “lo pernah dengar suara itu?” “Tidak.” “Terus kenapa lo kelihatan seperti baru melihat hantu?” Prewa meliriknya tajam. “Saya tidak melihat apa pun.” “Gue tahu. Maksud gue—” “Saya tahu maksud kamu.” R

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 25 — DARAH YANG DISEMBUNYIKAN

    Rayung masih menatap Prewa ketika suara dari balik pintu kembali terdengar.“Dia tidak pernah menceritakan apa yang dilakukan keluarganya kepada ibumu.”Prewa mengangkat senjatanya, meskipun ia tidak dapat melihat apa pun di balik pintu selain retakan yang memancarkan cahaya merah.“Kalau kamu mengenal keluarga saya, sebutkan namamu.”Tawa rendah menggema dari balik batu.“Nama tidak berarti apa-apa bagi mereka yang sudah dikorbankan.”Rayung mengepalkan tangan. Rambut Aruna masih melilit pergelangan tangannya, terasa hangat sekaligus berdenyut seperti sesuatu yang hidup.“Jangan dengarkan dia, Rayung,” ujar Prewa tanpa menoleh. “Tempat ini sengaja mempermainkan pikiranmu.”“Bagaimana kalau dia mengatakan sesuatu yang benar?”“Kalau benar, kita akan mencari buktinya. Bukan menuruti perintahnya.”Jawaban itu membuat Rayung terdiam. Ia ingin mempercayai Prewa, tetapi penglihatan barusan masih terbayang jelas. Aruna berdiri di depan pintu, sementara seorang laki-laki muda terikat di bela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status