LOGINAku kembali ke kamarku, mengurungkan niat untuk makan malam. Tubuhku terasa lelah, tetapi pikiranku terlalu gaduh untuk sekadar berbaring. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap jendela yang masih basah oleh sisa hujan.Hujan di luar memang sudah mulai reda. Namun di dalam diriku, kegelisahan justru semakin pekat.Sosok Kak Arga kembali terlintas di benakku. Raut wajahnya saat pergi tadi, cara ia menahan diri, semua itu menekan dadaku pelan-pelan. Rasa bersalah masih ada, dan mungkin akan selalu ada. Namun, aku tahu, membiarkannya pergi adalah pilihan yang paling jujur.Aku tidak bisa membiarkannya berharap padaku. Aku tidak sanggup menjadi seseorang yang memberinya harapan palsu, lalu menghancurkannya perlahan.Akan tetapi, semakin aku mencoba menenangkan diri dengan pikiran itu, semakin jelas satu nama lain mendominasi kepalaku.Tuan Adrian.Hubunganku dengannya tidak bisa terus seperti ini, dingin, penuh jarak, dan dipenuhi kesalahpahaman yang dibiarkan menggantung. Aku tidak taha
Hujan turun deras sejak sore tadi, memukul atap Rumah Jelita tanpa jeda. Langit di luar sudah gelap dengan cahaya dari kilatan petir, seolah ikut menekan suasana.Aku turun dari kamar dengan niat ikut makan malam bersama nona yang lain. Namun, sebelum sempat mencapai meja makan, suara ribut terdengar dari arah depan rumah. Suara itu terlalu keras untuk diabaikan.“Ada apa itu?” Nona Amara yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai satu pun lebih dulu melangkah ke depan. Wajahnya mengeras saat mendengar keributan tersebut.Aku mengikutinya dari belakang.Begitu sampai di ruang depan, pemandangan di sana membuat langkahku terhenti.Kak Arga?Aku melihat Kak Arga memasuki Rumah Jelita, menerobos masuk dengan tubuh basah oleh hujan. Rambut dan pakaiannya berantakan, sedangkan sudut bibirnya mengeluarkan darah.Beberapa pengawal tampak berusaha menghentikannya, tetapi Kak Arga tetap melangkah maju, seolah tidak peduli pada siapa pun yang mencoba menghalanginya.Matanya menyapu ruangan d
“Bawa rekaman itu bersamamu. Simpan baik-baik. Sebagai jaga-jaga kalau ....”“Kalau apa, Nona?”Nona Amara tidak menjawab. Bibirnya hanya melengkung tipis, senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya.“Aku rasa ... kamu tahu maksudku, Melati.”Setelah itu, ia kembali memusatkan perhatian pada kemudi. Tidak ada penjelasan lanjutan.Aku pun memilih diam. Tidak lagi bertanya, tidak lagi memaksa. Sepanjang sisa perjalanan, hanya suara mesin yang menemani kami. Sunyi yang terasa berat dan menekan.Mobil berhenti di halaman Rumah Jelita.Saat aku hendak membuka pintu dan turun ....“Melati.”Panggilan itu membuat gerakanku tertahan. Aku menoleh. “Ya, Nona?”Nona Amara menatapku serius. Kali ini tanpa senyum.“Apa pun yang terjadi hari ini ... aku harap hanya kita yang tahu.” Ia berhenti sejenak, seolah menimbang kata-katanya. “Dan satu hal lagi ... jangan pernah sepenuhnya percaya siapa pun di rumah ini.”Aku menelan ludah.“Iya, Nona.”Nona Amara lantas membiarkanku pergi.Setibanya di
Aku terdiam, napasku seolah tertahan usai sebuah kalimat mengejutkan keluar dari mulut Nona Amara.“Kamu harus merebut Adrian dari Vanya. Aku akan membantumu.”Sejenak, aku merasa suara mesin mobil menjadi satu-satunya hal yang benar-benar ada. Dadaku terasa mengencang. Aku menoleh menatap Nona Amara, mencoba meyakinkan diri bahwa aku tidak salah dengar.“Apa maksud Nona?” Suaraku nyaris tidak keluar. “Kenapa ... tiba-tiba Nona bicara begini?”Nona Amara tidak langsung menjawab. Tangannya tetap erat memegang setir, pandangannya lurus ke depan. Namun rahangnya terlihat mengeras, seolah ada sesuatu yang sedang ia tekan agar tidak meluap.“Vanya ...,” ucapnya, pelan namun tegas. “Dia sangat licik.”Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.“Aku tidak bisa mempercayakan Adrian untuk dicintai oleh perempuan seperti dia.”Suaranya sedikit menurun. “Aku sudah melihat sendiri bagaimana ia menguasai Tuan Bakri. Dan sekarang, ia berharap bisa menguasai putranya, Adrian. Tentu aku tidak akan
Bab 105Melihat Nyonya Vanya berjalan menghampiri Nona Amara, aku buru-buru mengeluarkan ponsel dan merekam kejadian di depan sana.Nona Amara masih berdiri diam di tempatnya. Ia tidak mundur sedikit pun. Sementara itu, langkah Nyonya Vanya sudah semakin dekat dengannya.Nona Amara melepas kaca mata hitamnya. Tidak lama kemudian, tangannya yang lain terangkat dan langsung mengayun ke pipi Nona Amara.Aku melebarkan mata.Gerakan tangan Nyonya Vanya begitu cepat, seolah keputusan itu sudah dibuat jauh sebelum mereka bertemu di tempat ini.Kepala Nona Amara terhuyung ke samping. Rambutnya sedikit berantakan akibat hempasan tangan Nyonya Vanya.Dadaku seketika terasa runtuh.Nona Amara tidak terjatuh, tidak mundur, tidak juga membalas. Ia tetap berdiri tegak, meski perlahan tangannya terangkat untuk menyentuh pipinya sendiri. Mengusap pelan bekas tamparan tadi.Untuk beberapa detik, dunia di sekeliling kami terasa berhenti bergerak.Satu tanganku mencengkeram jok mobil di depanku kuat-ku
Bab 104Aku terbangun, lalu menurunkan kaki dan duduk di tepi ranjang. Tanganku meraih tombol di sisi tempat tidur, dan jendela di depanku pun terbuka pelan.Cahaya matahari pagi yang lembut menembus kaca bening dan menerpa tubuhku. Sekalipun hatiku terasa enggan bergerak, nyatanya waktu tetap melangkah tanpa menunggu.Hari kembali berjalan, seolah tidak peduli pada apa pun yang tertinggal di dalam dada.Bohong jika saat ini aku mengatakan tidak lagi memikirkan Tuan Adrian. Bahkan di antara tidur dan bangunku, nama dan wajahnya selalu muncul lebih dulu.“Huh ....” Bahkan di pagi hari, aku sudah menghela napas.Aku bertanya-tanya, apa lagi yang akan terjadi hari ini? Aku harap, tidak ada.Aku sungguh tidak ingin memenangkan apapun di rumah ini. Aku hanya ingin keluar hidup-hidup, dengan diriku yang masih utuh.**Usai sarapan, aku melihat Nona Amara sudah kembali menuruni tangga dengan pakaian yang berbeda dari yang ia kenakan sebelumnya. Kini penampilannya jauh lebih rapi dan siap bep







