LOGIN(Pov Melati)Setelah kegiatan sarapan di Rumah Jelita selesai, semua nona pun memulai aktivitas mereka masing-masing. Hanya aku yang tidak memiliki kegiatan apa pun di rumah ini, sehingga ... kini aku hanya berdiri diam di tepi kolam renang sambil berpikir.Aku tidak bisa terus menunggu. Jika aku ingin menyelamatkan Tuan Adrian dari Nyonya Vanya, dari permainan kotor yang mengintai keluarga Hartono, dan dari kesepian yang ia bangun sendiri, maka aku harus bergerak lebih dulu.Pemikiran itu tidak datang dengan tiba-tiba. Ia lahir dari malam yang panjang sebelumnya. Buah dari kesadaran yang akhirnya muncul dari balik rasa takut.Kesadaran itu pun lantas menumbuhkan sebuah tekad yang kemudian membawaku menuju dapur, mengikat rambutku, mengenakan celemek, lalu mulai menyiapkan bumbu.Bukankah aku harus melakukan sesuatu? Jadi, mulai hari ini aku akan memulainya dengan memasak makan siang untuk Tuan Adrian.Aku akan merebut hatinya melalui apa yang masuk ke perutnya.Tanganku bergerak tanp
(Pov Adrian)Pukulan datang tanpa peringatan, menghantam rahangku dengan keras. Kepalaku terpelanting dan tubuhku terhuyung beberapa langkah ke belakang. Rasa nyeri menyambar cepat, disusul rasa logam di lidah.Aku mengangkat wajah, melihat siapa yang memiliki tenaga begitu kuat dan berani melakukannya padaku.Arga.Pria itu menatapku tajam dengan napasnya yang memburu. Seluruh tubuhnya tegang seperti tali yang ditarik terlalu keras, sementara tangannya masih mengepal di samping tubuhnya.“Dasar berengsek kau, Adrian.”Aku menyeka sudut bibirku dengan punggung jari. Darah menempel di kulitku.Belum sempat aku membuka mulut, suara lain menyela tajam dan panik. “Arga!”Vanya melangkah cepat ke arah kami, meraih lengan Arga dan menariknya mundur. “Apa yang kau lakukan?”Dia lantas berdiri di antara kami, seolah menghalangi sang adik agar tidak kembali mendekatiku. Wajahnya terlihat memucat, tetapi aku yakin itu bukan karena terkejut, melainkan takut jika keributan kami menarik perhatian
(Pov Adrian)Gosip adalah mata uang paling murah di sebuah perusahaan, tidak terkecuali di Hartono Group. Dan seperti mata uang lainnya, nilainya justru melonjak ketika dibiarkan beredar tanpa klarifikasi.Itulah yang sedang kusiapkan saat ini. Sebuah mata uang bernama perselingkuhan, untuk diedarkan ke seluruh perusahaan.Namun, rupanya ada satu variabel di luar perhitunganku.Melati.Ia tiba-tiba masuk ke dalam rencanaku.Hari itu, Melati datang ke kantorku, tepat pada saat yang paling tidak seharusnya ia lihat, yaitu ketika aku dan Vanya sedang berciuman.Aku terkejut oleh kehadirannya. Tatapan matanya masih kuingat dengan jelas. Kaget, kecewa, dan ada usaha keras untuk menelan sesuatu yang terlalu pahit, agar tidak tumpah di hadapanku.Melati tidak marah. Tidak pula bertanya. Ia hanya pergi dengan permintaan maaf.Aku ingin mengejarnya. Namun ... mata uangku belum selesai kubuat.Tidak lama setelah itu, Danu datang bersama salah satu sekretarisku, orang pertama yang akan mengedark
Aku kembali ke kamarku, mengurungkan niat untuk makan malam. Tubuhku terasa lelah, tetapi pikiranku terlalu gaduh untuk sekadar berbaring. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap jendela yang masih basah oleh sisa hujan.Hujan di luar memang sudah mulai reda. Namun di dalam diriku, kegelisahan justru semakin pekat.Sosok Kak Arga kembali terlintas di benakku. Raut wajahnya saat pergi tadi, cara ia menahan diri, semua itu menekan dadaku pelan-pelan. Rasa bersalah masih ada, dan mungkin akan selalu ada. Namun, aku tahu, membiarkannya pergi adalah pilihan yang paling jujur.Aku tidak bisa membiarkannya berharap padaku. Aku tidak sanggup menjadi seseorang yang memberinya harapan palsu, lalu menghancurkannya perlahan.Akan tetapi, semakin aku mencoba menenangkan diri dengan pikiran itu, semakin jelas satu nama lain mendominasi kepalaku.Tuan Adrian.Hubunganku dengannya tidak bisa terus seperti ini, dingin, penuh jarak, dan dipenuhi kesalahpahaman yang dibiarkan menggantung. Aku tidak taha
Hujan turun deras sejak sore tadi, memukul atap Rumah Jelita tanpa jeda. Langit di luar sudah gelap dengan cahaya dari kilatan petir, seolah ikut menekan suasana.Aku turun dari kamar dengan niat ikut makan malam bersama nona yang lain. Namun, sebelum sempat mencapai meja makan, suara ribut terdengar dari arah depan rumah. Suara itu terlalu keras untuk diabaikan.“Ada apa itu?” Nona Amara yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai satu pun lebih dulu melangkah ke depan. Wajahnya mengeras saat mendengar keributan tersebut.Aku mengikutinya dari belakang.Begitu sampai di ruang depan, pemandangan di sana membuat langkahku terhenti.Kak Arga?Aku melihat Kak Arga memasuki Rumah Jelita, menerobos masuk dengan tubuh basah oleh hujan. Rambut dan pakaiannya berantakan, sedangkan sudut bibirnya mengeluarkan darah.Beberapa pengawal tampak berusaha menghentikannya, tetapi Kak Arga tetap melangkah maju, seolah tidak peduli pada siapa pun yang mencoba menghalanginya.Matanya menyapu ruangan d
“Bawa rekaman itu bersamamu. Simpan baik-baik. Sebagai jaga-jaga kalau ....”“Kalau apa, Nona?”Nona Amara tidak menjawab. Bibirnya hanya melengkung tipis, senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya.“Aku rasa ... kamu tahu maksudku, Melati.”Setelah itu, ia kembali memusatkan perhatian pada kemudi. Tidak ada penjelasan lanjutan.Aku pun memilih diam. Tidak lagi bertanya, tidak lagi memaksa. Sepanjang sisa perjalanan, hanya suara mesin yang menemani kami. Sunyi yang terasa berat dan menekan.Mobil berhenti di halaman Rumah Jelita.Saat aku hendak membuka pintu dan turun ....“Melati.”Panggilan itu membuat gerakanku tertahan. Aku menoleh. “Ya, Nona?”Nona Amara menatapku serius. Kali ini tanpa senyum.“Apa pun yang terjadi hari ini ... aku harap hanya kita yang tahu.” Ia berhenti sejenak, seolah menimbang kata-katanya. “Dan satu hal lagi ... jangan pernah sepenuhnya percaya siapa pun di rumah ini.”Aku menelan ludah.“Iya, Nona.”Nona Amara lantas membiarkanku pergi.Setibanya di







