LOGINEvans menggeleng tegas. "Itu hal yang mustahil. Tidak mungkin gadis seperti dia akan membuatku tertarik. Aku hanya ingin dia menanggung hukuman yang jauh lebih berat dan menyakitkan daripada langsung membunuhnya."
Perkataan Evans menumbuhkan kernyitan di alis Natthan. "Maksudmu?"
"Jika saja aku langsung membunuhnya, maka penderitaan Ranira akan berakhir begitu saja. Tapi jika aku membiarkan dia tinggal di mansion ini dan membuatnya menderita sebagai tawananku, maka dia akan merasa sepanjang hidupnya seperti sebuah neraka. Aku harap Papa mengerti maksudku."
Natthan terdiam sesaat. Benaknya sedang mencerna ucapan Evans.
Senyum Evans terlihat misterius. Dari raut wajah Evans, Natthan bisa melihat kesungguhan di sana.
"Kau akan pastikan dia menderita?"
Evans mengangguk. "Tentu saja."
Kali ini Natthan menarik sebelah sudut bibir, membentuk senyum miring. "Kalau begitu lakukan sesukamu. Tapi kau harus janji untuk jangan pernah jatuh cinta pada gadis itu!"
"Aku janji."
Tersenyum puas, Natthan lalu menepuk bangga pada pundak kanan putra angkatnya tersebut.
Evans balas tersenyum sambil berkacak pinggang. Matanya memperhatikan Natthan yang kini kembali menaruh pistol yang tadi sempat diambilnya dan pistol itu pun kembali dipajang di dinding ruangan setelah pelurunya dikeluarkan.
***
"Tenggorokanku kering sekali. Aku sangat haus. Bahkan tidak ada air minum di kamar ini. Kurasa di lantai ini juga ada dapur. Aku harus mencari minum." Ranira menyibak selimut, menurunkan kedua kakinya menapak ke lantai.
Berjalan keluar kamar, Ranira menyusuri lantai tersebut demi mencari dimana letak dapur.
Embusan napas lega keluar dari mulutnya begitu melihat sebuah pintu yang sepertinya adalah pintu menuju dapur.
Ranira tersenyum dan masuk ke dalamnya. Namun senyumnya memudar berganti raut terkejut ketika melihat pemandangan di dalam dapur yang luas dan mewah tersebut.
"Evans," bisik Ranira terkejut.
Evans dan Sofia sedang bermesraan di dalam dapur yang tampak mengkilat. Sofia duduk di meja kabinet, sedangkan Evans berdiri di depannya.
Keduanya menoleh pada Ranira yang berdiri tercenung di ambang pintu.
Dengan tanpa peduli Evans melanjutkan aksinya mencium bibir Sofia, membuat Sofia mendesah dalam pelukannya.
Ranira menelan ludah. Mengalihkan pandangan ke arah lain. Seketika ia merasa menjadi orang bodoh saat menyaksikan kegiatan mereka.
"Sial! Kenapa harus ada mereka di sini?" batin Ranira menggerutu.
Ingin pergi, tapi dahaga menyiksa tenggorokannya. Akhirnya Ranira mematung sambil mencoba pura-pura tak melihat.
"Oh, Tuan Evans!" Sofia mendesah.
Evans menjauhkan tubuhnya, kembali mengancingkan kemejanya.
Setelahnya, Evans melangkah tenang melewati tubuh Ranira seakan tidak peduli Ranira memergokinya.
Namun, lelaki itu sempat melirik dengan senyum smirknya ke arah Ranira. Sebelum akhirnya lelaki tampan itu pun benar-benar meninggalkan dapur.
"Huh ..." begitu Evans pergi, Ranira menghembuskan napas lega sembari mengelus dada.
"Hai Ranira! Apa yang sedang kau lakukan di sini?" sambil mengikat tali gaun piyama warna pink yang dipakainya, Sofia menghampiri Ranira dan bertanya dengan senyum lebar.
Ranira menoleh. Merasa risih melihat dua tanda merah di atas dada Sofia yang terkesan sengaja ditunjukan oleh wanita itu.
"Aku hanya mau mengambil minum. Aku haus sekali." Dengan cepat Ranira menuju dispenser dan menuangkan air di gelas kosong.
Tangan Ranira berkeringat memegangi gelas itu. Rasanya menjijikan mengingat apa yang baru saja disaksikannya.
"Tadi kau melihat apa yang kami lakukan. Sekarang kau paham kan, bagaimana Evans sangat candu pada tubuhku. Dia selalu menginginkanku di mana pun dan kapan pun," kata Sofia dengan bangga.
Sofia terang-terangan mendekati Ranira dan berdiri di belakangnya hanya untuk membanggakan diri sebagai kesayangan boss mafia tampan itu.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu merasa bangga menjadi mainan dari seorang pemimpin kejahatan? Evans hanya menyukai tubuhmu, memainkanmu sesukanya, menjadikanmu selayaknya boneka pemuasnya. Dan aku yakin pria iblis itu sama sekali tidak menggunakan hatinya setiap kali menyentuhmu," kata Ranira yang sontak membuat wajah Sofia muram.
"Aku tidak berharap mendapatkan hati Evans karena itu tidak mungkin terjadi. Evans adalah lelaki yang tidak suka berkomitmen. Bagiku aku sudah senang menjadi wanita satu-satunya yang ia perlakukan dengan istimewa di mansion ini. Aku bisa mendapatkan semua kemewahan di sini. Bisa tinggal di mansion mewah ini adalah sebuah keberuntungan bagiku," jawab Sofia sembari tersenyum.
Ranira berdecak miris. "Ini bukan mansion. Bagiku tempat ini lebih pantas disebut sebagai neraka."
"Persetan dengan apa pun yang ingin kau katakan. Aku mencintai Evans dan sangat senang menjadi wanita kesayangannya," kata Sofia tersenyum percaya diri.
Setelah melemparkan tatapan meremehkan pada Ranira, Sofia lantas bersilang dada dan menarik dirinya dari sana.
Menyisakan Ranira yang meremas gelasnya dengan tangan. Ranira merasa Sofia telah menjadi bodoh karena terobsesi pada karismatik seorang Evander.
Semoga saja kebodohan itu tak menular padanya.
***
"Enny, apakah tidak ada baju lain yang bisa kupakai?" tanya Ranira pada pelayan yang baru saja masuk ke kamarnya sambil mengantarkan makan siang.
"Memangnya kenapa dengan semua baju yang ada di lemari itu?" Enny balas bertanya. "Semua baju itu telah disiapkan oleh Tuan Evans lima jam sebelum kau datang ke rumah ini."
Ranira sempat terkejut mendengar fakta itu.
Berarti Evans langsung mempersiapkan semua keperluan Ranira sebelum ia menginjakkan kaki di mansion ini.
"Masalahnya semua baju yang ada di lemari itu sangat pendek dan terlalu seksi. Membuatku risih memakainya."
"Kau tak berhak protes. Jika Tuan Evans menentukan sesuatu, tidak ada yang bisa menggugatnya. Perlu kau tahu kalau semua baju yang ada di lemari ini dibeli atas izin dari Tuan Evans."
"Jadi, dia sendiri yang memilihnya?" pekik Ranira melebarkan mata.
Enny mengangguk.
Pantas saja semua bajunya terkesan kekurangan bahan! Pikir Ranira.
"Sekarang pakailah baju yang ada dan segera habiskan makananmu!" Enny tak perlu merasa ragu memerintah Ranira sebab semua pelayan di sini pun tahu bahwa Ranira bukanlah wanita spesial bagi tuan mereka.
Saat ini Ranira memang baru saja mandi. Tubuh langsingnya terlilit handuk putih saja yang panjangnya selutut.
Sambil merapatkan handuknya yang agak basah, Ranira membiarkan pelayan bermuka masam itu beranjak pergi meninggalkan kamarnya.
"Jika saja ibuku melihatku memakai baju yang seksi seperti ini, dia pasti akan marah," gumam Ranira sambil meraih salah satu baju yang menurutnya lebih tertutup daripada yang lain.
Sebuah dress hitam simple berlengan spageti dengan model rok yang sedikit mengembang. Panjangnya sekitar sepuluh sentimeter di atas lutut.
Merasa perutnya lapar, Ranira bergegas menghabiskan makan siangnya yang tadi dibawakan oleh Enny.
Namun belum sempat makanan itu habis, suara ketukan pintu mengejutkannya. Membuat Ranira cepat menelan makanan di mulutnya dan menatap waspada ke arah daun pintu.
"Siapa itu? Semoga bukan Evans," batin Ranira panik.
Kemudian pintu pun berayun terbuka dan seseorang masuk ke dalamnya.
Setelah melewati berbagai dilemma kehamilan yang membuat Jessica cukup puas. Akhirnya, saat yang mereka nanti-nanti akan tiba sebentar lagi.Di sini. Di dalam sebuah ruang bersalin yang cukup luas, dengan dibantu oleh dokter kandungan yang sengaja dipilih oleh James untuk menangani Jessica.Hari ini bayi mereka akan lahir ke dunia.Di atas-ranjang rumah sakit, Jessica sedang berjuang untuk mengeluarkan buah hati pertamanya lahir. Jessica terus mengejan mengikuti perintah dokter. “Tahan. Tarik napas perlahan, lalu mengejan.”Jessica berulangkali meremas tangan James dengan sangat kencang. Hingga James ikut merasakan sakit akibat kuku-kuku istrinya yang tak begitu panjang namun terasa menusuk.“Semangat, sayang. Kau pasti bisa. Ada aku di sampingmu,” James menatap wajah meringis Jessica dengan keringat yang bercucuran.Meski merasa panik karena tak tega melihat Jessica kesakitan. Tapi James harus berusaha bersikap tenang. Agar Jessica juga ikut tenang karenanya.“Ayo! Pintar. Cob
Jessica terenyuh. Ia membekap mulutnya sendiri melihat betapa romantisnya James. Lalu Jessica meraih kalung indah yang menggantung indah di hadapannya kemudian menatapnya dengan takjub.“Kau suka?” tanya James.Jessica mengangguk. “Sangat suka. Terimakasih, James.”“Sama-sama, sayang.”James tersenyum senang. Begitu Jessica menghambur memeluknya. James langsung membalas dekapan hangat istrinya itu dengan tangan terbuka.Sungguh. Jessica bentuk anugerah terindah yang Tuhan berikan untuknya.Tak berselang lama, Jessica kembali mengurai dekapan mereka. Ia beralih menatap James dengan sebuah senyum manis yang tersumir di bibirnya.“Sebenarnya, aku juga memiliki sebuah kejutan anniversary untukmu.”James menaikan sebelah alisnya. “Benarkah? Apa itu?”Jessica tak langsung menjawab. Tapi ia membuka tas selempang yang ia kenakan. Lantas mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.Kening James berkerut dalam saat ternyata Jessica mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyodorkannya pada James.“Apa in
“Aku memang sudah gila sejak dulu. Kau baru tahu, ya? Ayo! Kita pelorotkan celanamu di sana!” Alden bergerak menarik tangan James. Hingga membuat James terkejut dan mencoba menggapai tangan Jessica.Tapi sayangnya, Jessica malah terkekeh dan tak berniat menolong James dari aksi Alden yang tak berprikemanusiaan!“Jessica! Tolong aku! Jangan biarkan cecunguk got ini menjatuhkan harga diri suamimu, sayang. Bilang padanya agar dia berhenti menarik tanganku!” James sedikit berteriak pada Jessica saat Alden menariknya mulai menjauh.Tapi balasan yang diberikan Jessica sungguh diluar dugaan.“Tidak apa. Bawa saja, Alden. Biar suamiku itu kapok dan tidak lagi mau mengumbar janji. Aku bahkan rela kalau para tamu undangan harus melihat isi celananya,” teriak Jessica lalu tergelak.James yang terus diseret oleh Alden melongo ucapan Jessica. Lantas ia merutuk dengan kesal.“Istri dan teman memang sama gilanya!”Dan hari itu..Semua tamu undangan yang hadir menjadi saksi mata bagaimana James hanya
Hari ini..James dan Jessica mengunjungi pemakaman tempat Cinta-nya beristirahat dalam damai.Dengan sebuah buket mawar putih yang Jessica bawa. Langkah mereka terhenti di samping pusara buah hatinya.Jessica mengukir seulas senyum manis lalu ia meluruhkan tubuhnya hingga sejajar dengan nisan Cinta.“Jadi.. selama ini kau orangnya?” Jessica melirik kearah James. “Yang selalu menaruh sebuket mawar putih di makam Cinta? Mengapa aku tidak pernah menyadarinya selama ini? Aku just ru berpikir Aldenlah yang melakukan itu.”James tersenyum, lalu ia mengangguk. “Nyaris setiap hari aku ke sini. Meski hanya sekadar untuk menyapa anak kita. Aku sengaja membawakannya mawar putih sebab aku tahu kalau kau sangat menyukainya.”Jessica ikut menoleh pada nisan anaknya. Kalau saja Cinta masih hidup. Mungkin usianya sudah lebih dari dua tahun saat ini.Tapi Tuhan terlalu menyayangi Cintanya. Hingga ia harus berpisah bahkan sebelum Jessica pernah memberikan asi-pertama untuk anaknya itu.“Cinta. Buah hat
Di pinggir jalanan yang lengang. James melangkah gontai seakan ia adalah seonggok raga yang tak memiliki jiwa. Pikirannya masih berkabut tentang bayangan senyum bahagia yang mungkin terpatri di bibir manis Jessica setelah gadis itu resmi menjadi Nyonya ferdinan.James mengerjap. Ia menghembuskan napas kasarnya yang terasa begitu berat. “Akhirnya kalian resmi menikah. Aku bahagia, Jessica. Aku bahagia untuk pernikahan kalian,” gumam James yang masih berjalan seraya menatapi jalanan kota jakarta yang selengang hatinya kini.Rencananya, setelah dari sini James memang akan pergi ke Amerika. Dan hal itu sudah ia ungkapkan pada Arya. Tapi sepertinya Arya tak bisa tutup mulut. Hingga lelaki itu memberitahukannya pada Alden.Sekarang James sedang melangkah menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari gereja tempat Jessica menikah. Sebab, di pelataran gereja itu sendiri sudah dipenuhi oleh mobil para jemaat yang menghadiri dan mobil khusus pengantin. Hingga mobil James tak muat untuk ikut
Ranira dan Harish juga Elijah juga tak kalah bingungnya. Mereka menggigit bibir melihat kekacauan yang sedang Alden ciptakan.Pendeta itu mengangguk. “Dia adalah Jessica calon istriku dan aku ingin menikahinya. Tapi karena pernikahan itu tak bisa dipaksakan, maka aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku memutuskan untuk membatalkannya.”Jessica terhenyak. Ia menyentuh lengan Alden agar menatapnya.“Apa yang sedang kau lakukan ini, Alden? Mengapa berkata seperti itu?”“Jessica. Aku mohon. Jangan lanjutkan sandiwara ini. Jangan membuatku semakin berharap. Aku tahu nama siapa yang tersemat di dalam hatimu bahkan saat kakimu pertama kali menginjak altar ini. Kau akan menikah denganku, tapi nama orang lain yang kau pikirkan.”“Alden..”“Sekarang aku juga mau bertanya padamu. Katakan dengan sangat jujur. Saat ini kita ada di dalam gereja, Jessica. Dan aku berharap kau tidak akan berbohong,” kata Alden lalu menyentuh puncak kepala Jessica dengan telapak tangannya. “Jessica fatima suri







