Share

BAB 7

Author: Syifa Safaah
last update publish date: 2026-01-26 11:10:41

Evans menggeleng tegas. "Itu hal yang mustahil. Tidak mungkin gadis seperti dia akan membuatku tertarik. Aku hanya ingin dia menanggung hukuman yang jauh lebih berat dan menyakitkan daripada langsung membunuhnya."

Perkataan Evans menumbuhkan kernyitan di alis Natthan. "Maksudmu?"

"Jika saja aku langsung membunuhnya, maka penderitaan Ranira akan berakhir begitu saja. Tapi jika aku membiarkan dia tinggal di mansion ini dan membuatnya menderita sebagai tawananku, maka dia akan merasa sepanjang hidupnya seperti sebuah neraka. Aku harap Papa mengerti maksudku."

Natthan terdiam sesaat. Benaknya sedang mencerna ucapan Evans.

Senyum Evans terlihat misterius. Dari raut wajah Evans, Natthan bisa melihat kesungguhan di sana.

"Kau akan pastikan dia menderita?"

Evans mengangguk. "Tentu saja."

Kali ini Natthan menarik sebelah sudut bibir, membentuk senyum miring. "Kalau begitu lakukan sesukamu. Tapi kau harus janji untuk jangan pernah jatuh cinta pada gadis itu!"

"Aku janji."

Tersenyum puas, Natthan lalu menepuk bangga pada pundak kanan putra angkatnya tersebut.

Evans balas tersenyum sambil berkacak pinggang. Matanya memperhatikan Natthan yang kini kembali menaruh pistol yang tadi sempat diambilnya dan pistol itu pun kembali dipajang di dinding ruangan setelah pelurunya dikeluarkan.

***

"Tenggorokanku kering sekali. Aku sangat haus. Bahkan tidak ada air minum di kamar ini. Kurasa di lantai ini juga ada dapur. Aku harus mencari minum." Ranira menyibak selimut, menurunkan kedua kakinya menapak ke lantai.

Berjalan keluar kamar, Ranira menyusuri lantai tersebut demi mencari dimana letak dapur.

Embusan napas lega keluar dari mulutnya begitu melihat sebuah pintu yang sepertinya adalah pintu menuju dapur.

Ranira tersenyum dan masuk ke dalamnya. Namun senyumnya memudar berganti raut terkejut ketika melihat pemandangan di dalam dapur yang luas dan mewah tersebut.

"Evans," bisik Ranira terkejut.

Evans dan Sofia sedang bermesraan di dalam dapur yang tampak mengkilat. Sofia duduk di meja kabinet, sedangkan Evans berdiri di depannya.

Keduanya menoleh pada Ranira yang berdiri tercenung di ambang pintu.

Dengan tanpa peduli Evans melanjutkan aksinya mencium bibir Sofia, membuat Sofia mendesah dalam pelukannya.

Ranira menelan ludah. Mengalihkan pandangan ke arah lain. Seketika ia merasa menjadi orang bodoh saat menyaksikan kegiatan mereka.

"Sial! Kenapa harus ada mereka di sini?" batin Ranira menggerutu.

Ingin pergi, tapi dahaga menyiksa tenggorokannya. Akhirnya Ranira mematung sambil mencoba pura-pura tak melihat.

"Oh, Tuan Evans!" Sofia mendesah.

Evans menjauhkan tubuhnya, kembali mengancingkan kemejanya.

Setelahnya, Evans melangkah tenang melewati tubuh Ranira seakan tidak peduli Ranira memergokinya.

Namun, lelaki itu sempat melirik dengan senyum smirknya ke arah Ranira. Sebelum akhirnya lelaki tampan itu pun benar-benar meninggalkan dapur.

"Huh ..." begitu Evans pergi, Ranira menghembuskan napas lega sembari mengelus dada.

"Hai Ranira! Apa yang sedang kau lakukan di sini?" sambil mengikat tali gaun piyama warna pink yang dipakainya, Sofia menghampiri Ranira dan bertanya dengan senyum lebar.

Ranira menoleh. Merasa risih melihat dua tanda merah di atas dada Sofia yang terkesan sengaja ditunjukan oleh wanita itu.

"Aku hanya mau mengambil minum. Aku haus sekali." Dengan cepat Ranira menuju dispenser dan menuangkan air di gelas kosong.

Tangan Ranira berkeringat memegangi gelas itu. Rasanya menjijikan mengingat apa yang baru saja disaksikannya.

"Tadi kau melihat apa yang kami lakukan. Sekarang kau paham kan, bagaimana Evans sangat candu pada tubuhku. Dia selalu menginginkanku di mana pun dan kapan pun," kata Sofia dengan bangga.

Sofia terang-terangan mendekati Ranira dan berdiri di belakangnya hanya untuk membanggakan diri sebagai kesayangan boss mafia tampan itu.

"Aku tidak tahu apa yang membuatmu merasa bangga menjadi mainan dari seorang pemimpin kejahatan? Evans hanya menyukai tubuhmu, memainkanmu sesukanya, menjadikanmu selayaknya boneka pemuasnya. Dan aku yakin pria iblis itu sama sekali tidak menggunakan hatinya setiap kali menyentuhmu," kata Ranira yang sontak membuat wajah Sofia muram.

"Aku tidak berharap mendapatkan hati Evans karena itu tidak mungkin terjadi. Evans adalah lelaki yang tidak suka berkomitmen. Bagiku aku sudah senang menjadi wanita satu-satunya yang ia perlakukan dengan istimewa di mansion ini. Aku bisa mendapatkan semua kemewahan di sini. Bisa tinggal di mansion mewah ini adalah sebuah keberuntungan bagiku," jawab Sofia sembari tersenyum.

Ranira berdecak miris. "Ini bukan mansion. Bagiku tempat ini lebih pantas disebut sebagai neraka."

"Persetan dengan apa pun yang ingin kau katakan. Aku mencintai Evans dan sangat senang menjadi wanita kesayangannya," kata Sofia tersenyum percaya diri.

Setelah melemparkan tatapan meremehkan pada Ranira, Sofia lantas bersilang dada dan menarik dirinya dari sana.

Menyisakan Ranira yang meremas gelasnya dengan tangan. Ranira merasa Sofia telah menjadi bodoh karena terobsesi pada karismatik seorang Evander.

Semoga saja kebodohan itu tak menular padanya.

***

"Enny, apakah tidak ada baju lain yang bisa kupakai?" tanya Ranira pada pelayan yang baru saja masuk ke kamarnya sambil mengantarkan makan siang.

"Memangnya kenapa dengan semua baju yang ada di lemari itu?" Enny balas bertanya. "Semua baju itu telah disiapkan oleh Tuan Evans lima jam sebelum kau datang ke rumah ini."

Ranira sempat terkejut mendengar fakta itu.

Berarti Evans langsung mempersiapkan semua keperluan Ranira sebelum ia menginjakkan kaki di mansion ini.

"Masalahnya semua baju yang ada di lemari itu sangat pendek dan terlalu seksi. Membuatku risih memakainya."

"Kau tak berhak protes. Jika Tuan Evans menentukan sesuatu, tidak ada yang bisa menggugatnya. Perlu kau tahu kalau semua baju yang ada di lemari ini dibeli atas izin dari Tuan Evans."

"Jadi, dia sendiri yang memilihnya?" pekik Ranira melebarkan mata.

Enny mengangguk.

Pantas saja semua bajunya terkesan kekurangan bahan! Pikir Ranira.

"Sekarang pakailah baju yang ada dan segera habiskan makananmu!" Enny tak perlu merasa ragu memerintah Ranira sebab semua pelayan di sini pun tahu bahwa Ranira bukanlah wanita spesial bagi tuan mereka.

Saat ini Ranira memang baru saja mandi. Tubuh langsingnya terlilit handuk putih saja yang panjangnya selutut.

Sambil merapatkan handuknya yang agak basah, Ranira membiarkan pelayan bermuka masam itu beranjak pergi meninggalkan kamarnya.

"Jika saja ibuku melihatku memakai baju yang seksi seperti ini, dia pasti akan marah," gumam Ranira sambil meraih salah satu baju yang menurutnya lebih tertutup daripada yang lain.

Sebuah dress hitam simple berlengan spageti dengan model rok yang sedikit mengembang. Panjangnya sekitar sepuluh sentimeter di atas lutut.

Merasa perutnya lapar, Ranira bergegas menghabiskan makan siangnya yang tadi dibawakan oleh Enny.

Namun belum sempat makanan itu habis, suara ketukan pintu mengejutkannya. Membuat Ranira cepat menelan makanan di mulutnya dan menatap waspada ke arah daun pintu.

"Siapa itu? Semoga bukan Evans," batin Ranira panik.

Kemudian pintu pun berayun terbuka dan seseorang masuk ke dalamnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 88

    "Nyonya Ranira tertidur, Tuan?" Enny terkejut melihat Evans yang menggendong tubuh Ranira yang tertidur di dalam mobil."Ya. Tolong bawakan tasnya yang tertinggal di mobilku!" perintah Evans sambil terus berjalan dan membawa tubuh istrinya masuk ke dalam pintu utama mansion.Enny mengangguk patuh dan melakukan apa yang disuruh.Sementara itu, Evans terus melangkah masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai atas.Setelah lift itu tiba, Evans pun keluar dari dalamnya dan melangkah memasuki kamar."Aku bingung bagaimana caranya kau bisa tidur pulas di dalam mobil," gumam Evans tersenyum menatap wajah istrinya yang baru saja ia baringkan di atas ranjang mereka.Evans duduk di dekat kaki Ranira dan melepaskan sepatu wanita itu satu per satu.Selanjutnya Evans berdiri membungkuk sambil menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada.

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 87

    "Sepertinya Erick mengetahui sesuatu, Tuan. Karena rekanku bilang Erick mencari Anda dengan wajah emosi. Dia meneriaki Anda dengan sebutan penculik dan pembunuh. Mungkinkah Erick sudah tahu kalau kebakaran yang menewaskan kedua orang tua Tuan Evans adalah disebabkan oleh Anda?" salah satu bawahan Nathan berasumsi.Ranira yang masih berada di bawah kolong meja pun spontan membekap mulutnya dengan satu telapak tangan. Ia terkejut mendengar penuturan Nathan dan kedua bawahannya.Ternyata Nathan lah yang membakar rumah Evans dan membuat kedua orang tuanya tewas. Tapi apa tujuan Nathan melakukan semua itu?Kenapa tiba-tiba ia mengadopsi Evans? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam benak Ranira."Jika benar begitu, maka pamannya Evans itu harus segera dilenyapkan. Aku tidak mau nantinya dia akan menjadi ancaman besar untukku. Evans sudah menjadi milikku. Aku tidak mau kehilangan anak cerdas itu. Ka

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 86

    "Benar. Wah, ternyata kau masih mengingatku ya." Thomas tersenyum lebar. Lalu ia melihat kea rah Ranira dan berjabat tangan untuk berkenalan."Thomas, aku minta maaf, aku harus mengantar istriku ke toilet," ujar Evans."Kenapa harus diantar segala? Toiletnya tak jauh, kan? Istrimu tidak akan tersesat. Kau di sini saja. Kita baru saja bertemu. Masih ada beberapa hal penting yang perlu kubicarakan padamu." Thomas terus nyerocos dengan wajah santainya.Hal itu membuat Evans berdecak sebal. Karena tak tahan Evans pun menggenggam tangan kanan Ranira dan hendak pergi meninggalkan Thomas begitu saja.Namun Ranira menggeleng dan berkata. "Temani temanmu. Aku bisa pergi sendiri ke toilet. Tunjukan saja di mana arah toiletnya!""Ranira, aku yang akan mengantarmu.""Tunjukan saja, Evans! Temanmu itu sepertinya masih ingin bernostalgia denganmu."Sej

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 85

    "Tuan Evans, Nona Ranira sudah datang!" Frank melihat Ranira yang baru saja keluar dari pintu utama dan berdiri di teras depan mansion.Sementara Evans sendiri memunggungi Ranira sambil menelpon seseorang di dekat mobilnya.Ucapan Frank membuat mata Evans pun menoleh ke arah teras dan seketika itu Evans terperangah selama beberapa detik.Matanya mengerjap, merasa takjub pada penampilan Ranira yang begitu cantik dan menawan dengan balutan dress warna merah berkerah sabrina yang panjang roknya mencapai mata kaki.Sial! Evans tak dapat menyangkal jika malam ini Ranira terlihat begitu ... cantik."Aku sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang?" ajak Ranira pada Evans.Evans tersadar dari lamunannya. Saking terpesona, Evans sampai tak menyadari tiba-tiba Ranira sudah berdiri di depannya."Eh, iya. Ayo kita berangkat!" Evans mengangguk, lalu memb

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 84

    Apakah Cristie tak takut Evans akan menghukumnya?Enny menganggukan kepala, membenarkan pernyataannya. "Benar, Nyonya. Bahkan saat ini Tuan Evans sedang memberikan hukuman pada Cristie di bawah. Semua pelayan menyaksikan hukuman itu, termasuk Lusia—ibunya."Mendengar hal tersebut, Ranira segera menaruh gelas kosongnya di atas meja kemudian ia berdiri dan bergegas keluar kamar untuk melihat hukuman apa kiranya yang sedang diberikan oleh Evans pada Cristie.Lift berdenting, Ranira pun sampai di lantai bawah dan kini kakinya melangkah keluar dari pintu lift dan terus berjalan menuju ruang tengah, tempat dimana Evans dan semua pelayan sedang berkumpul menyaksikan hukuman Cristie."Tuan Evans! Tolong hentikan! Tangan putriku sudah memerah. Tolong tuan ..." Lusia memohon sampai bersimpuh di depan kaki Evans agar tangan Cristie tak lagi dicambuk dengan menggunakan gesper berwarna hitam.

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 83

    Evans yang duduk di sampingnya pun mengerutkan dahi. Antara kaget dan bingung karena anjing milik istrinya itu selama ini terlihat sehat-sehat saja.Berbeda dengan mereka, Cristie justru tak memasang wajah terkejut sedikit pun. Yang ada sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring. Ia merasa puas melihat Ranira yang panik mendengar kematian anjing kesayangannya."Benar, Nyonya. Aku baru saja mau melihat anjing Anda untuk memastikan dia makan dengan baik, tapi kulihat dia sudah kaku di kandangnya.""Evans, aku harus melihatnya sekarang!" mendorong kursinya ke belakang, Ranira lantas memegangi perutnya sambil berjalan cepat menuju ke halaman belakang mansion."Ranira!" Evans memanggil dan menyusul segera. Takut sekali Ranira yang panik itu tak berhati-hati saat berjalan dan jatuh karena wanita itu setengah berlari.Benar saja apa yang dikatakan oleh Enny.

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 27

    "M-maaf. Aku hanya penasaran dengan bekas luka di punggungmu. Itu bekas luka apa?" tanya Ranira gugup."Bukan urusanmu," cetus Evans dingin lalu melepaskan tangan Ranira dengan menyentaknya.Kemudian Evans beranjak pergi meninggalkan ruang olahraga dengan

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 21

    Namun saat kesadarannya mulai kembali, Ranira segera mendorong dada Evans hingga lelaki itu menjauhkan bibirnya.Dengan cepat Ranira menarik napasnya dalam-dalam. Anehnya, Ranira malah merasa seperti ada sesuatu yang hilang saat Evans menghentikan ciumannya.

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 15

    "Soal itu tidak perlu kau ingatkan. Evans memang selalu menginginkanku setiap waktu. Dia tidak bisa jauh dariku. Tapi ada hal penting yang ingin kuberitahukan padamu.""Benarkah? Sepenting apakah yang ingin kau katakan?" tanya Ranira melipat kedua tangannya di dada.&n

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 16

    "Apa? Jadi Evans akan mengajak gadis itu pergi bersamanya besok?" Natthan terkejut mendengar kabar yang disampaikan oleh Rey, bawahannya.Sambil duduk di kursinya, tangan kanan Nathan terkepal kuat."Sialan! Sepertinya Evans tahu kalau aku berniat menying

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status