分享

BAB 6

作者: Syifa Safaah
last update publish date: 2026-01-26 11:09:58

"Jangaan!" sebelum Evans berhasil menarik pelatuknya, Ranira lebih dulu keluar dari tempat persembunyian dan berteriak keras.

Sontak saja teriakannya itu membuat semua orang yang ada di sana menoleh.

Tak terkecuali Natthan yang kini mengerutkan dahinya, marah.

"Evans, siapa gadis itu?" tanya Natthan kesal.

Evans menurunkan pistolnya. Dalam hati Evans berdecak kesal melihat Ranira bisa sampai di markas rahasia mereka.

"Ck! Apa yang dia lakukan di sini?" cetus batin Evans. Sorot matanya menggelap berikut dengan rahangnya yang mengetat.

"Bawa lelaki tua ini ke tempat penyekapan!" Evans memerintah pada bawahannya.

Dua orang bawahan Evans langsung bergerak melakukan yang disuruh, sedangkan yang lainnya tetap berdiri tegap dan menatap tajam ke arah Ranira yang sedang berdiri gemetaran di tempatnya.

"Evans, Papa sedang bertanya padamu. Siapa gadis itu dan kenapa dia bisa ada di sini?!" ulang Natthan, meninggikan suaranya.

"Dia Ranira, salah satu tawananku."

"Kau tahu kalau markas ini sangat rahasia. Tidak boleh ada orang asing yang masuk ke sini kecuali dengan persetujuan semua anggota!"

"Aku mengerti, Pa. Maaf."

Natthan mendengus kesal. "Berikan gadis itu hukuman yang seberat-beratnya! Jika perlu, bunuh saja dia setelah kau bosan agar dia tak membocorkan soal pergerakan kita pada dunia luar."

Perintah Nathan berhasil membuat Ranira terhenyak kaget. Mulut wanita itu menganga.

Dibunuh? Apakah nyawa Ranira akan berakhir di tempat ini? Di tangan seorang Evander si boss mafia kejam?

"Baik, Pa. Akan kuberi dia pelajaran agar dia tak berani lagi melakukan kesalahan sefatal ini," kata Evans sambil menatap tajam Ranira dari kejauhan.

"Kalau begitu lakukan sekarang!" perintah Natthan sambil berlalu pergi dari markas tersebut dengan wajah muram.

Ketika langkah Natthan melewati dirinya, wajah Ranira seketika pucat pasi melihat tajamnya mata lelaki setengah baya itu menghunus padanya. Terlihat jelas raut tidak suka yang terpancar di wajah Natthan pada Ranira.

"Siapa yang menyuruhmu datang ke mari?" suara dingin Evans terdengar. Membuat Ranira meremas tangannya di sisi tubuh.

"A-aku, aku haus. Aku sedang mencari dimana letak dapur di sini. Tapi malah terjebak di ruangan ini." Terpaksa Ranira berkata bohong demi keselamatannya.

Jika sampai Evans tahu niatnya adalah kabur, bisa saja Evans melesatkan peluru ke dadanya saat ini juga.

"Alasan yang sangat bodoh! Kau pikir aku mudah dibohongi," sinis Evans, kemudian mengangkat kembali pistolnya, kali ini tepat mengarah pada kepala Ranira dari kejauhan.

"A-apa yang mau kau lakukan?"

"Kau telah berani memasuki markas rahasia ini. Dan hukuman bagi orang asing yang berani masuk ke sini adalah dibunuh," kata Evans.

Mata Ranira terbelalak kaget. Mulutnya terbuka.

"Aku hanya tidak sengaja masuk. Aku menyasar ke tempat ini."

"Tapi kau sudah mencoba ikut campur saat aku hampir menembak kepala lelaki tua tadi."

"Itu karena lelaki tua itu tidak bersalah. Kau dan semua anggotamu yang sudah licik mengambil alih tanah miliknya. Dia sudah tua, tidak pantas diperlakukan kejam seperti itu." Ranira mencoba mengatakan apa yang ia rasakan dalam hatinya.

Namun Evans hanya tersenyum miring. Masih sambil mengacungkan pistol ke arah kepala Ranira.

"Mulutmu sudah terlalu banyak bicara. Sekarang giliranku untuk membungkamnya. Akan kubuat kau tidak pernah bisa mengatakan apa pun lagi," ucap Evans sebelum akhirnya menarik pelatuk pistolnya dan membuat Ranira langsung memejamkan mata.

Ranira berdiri pasrah jika satu peluru itu akan menembus kepalanya dan merenggut nyawanya.

DOR!

Suara tembakan terdengar keras mengejutkan Ranira. Namun Ranira merasa heran saat menyadari dirinya masih hidup.

Ranira membuka mata, lantas menoleh ke belakang. Desah lega keluar dari mulutnya begitu tahu ternyata yang barusan Evans tembak adalah vas bunga yang terletak tepat di samping kepalanya.

"Semuanya keluar! Tinggalkan ruangan ini! Aku akan memberikan pelajaran pada gadis itu!" perintah Evans pada seluruh bawahannya yang sejak tadi hanya menonton dengan raut puas karena melihat ketakutan di wajah Ranira.

"Baik, Tuan Evans."

Degup jantung Ranira memompa kuat. Keringat dingin pun membanjiri pelipisnya.

"Evans akan memberiku pelajaran? Kali ini apa lagi yang akan dia lakukan padaku?" batin Ranira panik.

Begitu seluruh bawahan Evans pergi dan menutup rapat pintu markas, kini tersisa Evans dan Ranira saja di dalam ruangan yang dindingnya didominasi warna hitam dan merah tersebut.

"Tikus kecil, kau salah dengan berani masuk ke kandang singa. Kali ini aku mengurungkan niatku menembakmu. Tapi jika kau melakukan kesalahan lagi, aku pastikan kepalamu akan bernasib sama seperti vas bunga itu." Sambil melangkah menghampiri Ranira, tangan kanan Evans lalu menunjuk pada vas bunga mahal yang telah pecah dan berserakan di lantai, tepat di dekat kaki Ranira.

Mendengar ancaman Evans, kuduk Ranira merinding ngeri.

"Aku minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Sekarang tolong lepaskan aku!"

"Kau terlihat berani saat kita pertama kali bertemu. Tapi sekarang aku melihatmu begitu lemah dan cengeng. Sekarang kau harus paham. Tidak boleh ada seorang pun yang membangkangku atau mencoba melawanku!"

Evans membuyarkan tangannya yang tadi bertolak pinggang, kemudian ia membalikan badan dan hendak beranjak pergi dari sana.

Ranira menatap punggung Evans sambil berteriak keras.

Teriakan yang berhasil membuat langkah Evans terhenti sejenak.

"Dasar iblis! Kau jahat, Evander! Kau manusia yang sangat jahat! Kau pikir kau akan bahagia dengan membuat orang lain menderita? Hah? Kau salah. Semua kepuasan yang kau dapatkan itu bukanlah kebahagiaan. Kau tertawa di atas penderitaan orang lain!"

"Selamanya hidupmu tidak akan bahagia! Aku pastikan itu!" lanjut Ranira berteriak hingga urat-urat lehernya bertonjolan.

Evans terdiam sesaat tanpa menoleh ke belakang. Namun tangan kanannya sempat mengepal kuat.

Selanjutnya, Evans kembali melangkah dan memilih tak mempedulikan teriakan wanita itu.

"Pelayan! Bawa dia kembali ke kamarnya!"

***

Evans sedang duduk di minibar sambil menikmati segelas sampanye saat Natthan datang menghampirinya dan duduk di sampingnya.

"Bagaimana dengan gadis itu? Apa kau sudah membunuhnya?" tanya Natthan sambil menuangkan sampanye ke dalam gelas.

Evans menjauhkan gelasnya dari bibir, lalu menjawab. "Dia masih hidup. Aku tidak membunuhnya."

"Kenapa kau membiarkannya hidup? Itu bisa mengancam keamanan organisasi kita."

"Tenang saja, Pa. Gadis itu sangat bodoh dan penakut. Dia tidak mungkin membahayakan kita. Aku bisa jamin itu," kata Evans meyakinkan ayahnya, kemudian Evans kembali meneguk sampanye di gelasnya hingga tandas.

"Kau belum menceritakan tentang latar belakang gadis itu pada Papa. Setahu Papa, kau hanya bermain-main dengan Sofia saja akhir-akhir ini. Tapi tiba-tiba gadis itu ada di mansionmu. Siapa namanya? Bagaimana ceritanya dia bisa ada di tempat ini?" sejak pertama melihat Ranira, Natthan penasaran.

Sebab hanya Ranira saja yang berani masuk ke dalam markas rahasia mereka.

"Dia anak kandung Mike Moseley." Jawaban Evans sukses mengejutkan Natthan hingga bola mata ayahnya itu terbelalak lebar.

"Apa? Dia putrinya si penghianat itu?" pekik Natthan keras. "Untuk apa kau membiarkannya berada di mansion ini? Harusnya kau langsung membunuhnya. Tindakanmu mengampuni Mike saja sudah salah besar. Lalu sekarang kau membiarkan putrinya hidup."

Natthan berdiri dari duduknya. Wajahnya terlihat marah. Evans mendongkak menatap pada Natthan yang berjalan tegas menuju ke sebuah ruangan yang membuat Evans terkejut.

Itu adalah ruangan dimana Natthan menyimpan koleksi senjatanya.

"Pa, apa yang akan Papa lakukan?"

"Jika kau tak mau membunuh gadis itu, biar Papa saja yang melakukannya. Dia harus menanggung hukuman karena penghianatan ayahnya!" Natthan sudah siap mengambil sebuah pistol besar, lalu mengisinya dengan peluru.

Evans segera mencegah dengan memegangi pistol itu sebelum Natthan berhasil melangkah pergi.

"Lepaskan Papa, Evans! Papa harus membunuh gadis itu!"

"Jangan lakukan itu, Pa!"

"Kenapa? Kenapa kau mencegah Papa melakukannya? Oh, apa jangan-jangan kau mulai tertarik pada gadis itu? Iya?" mata Natthan memicing.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   TAMAT - BAB 143

    Setelah melewati berbagai dilemma kehamilan yang membuat Jessica cukup puas. Akhirnya, saat yang mereka nanti-nanti akan tiba sebentar lagi.Di sini. Di dalam sebuah ruang bersalin yang cukup luas, dengan dibantu oleh dokter kandungan yang sengaja dipilih oleh James untuk menangani Jessica.Hari ini bayi mereka akan lahir ke dunia.Di atas-ranjang rumah sakit, Jessica sedang berjuang untuk mengeluarkan buah hati pertamanya lahir. Jessica terus mengejan mengikuti perintah dokter. “Tahan. Tarik napas perlahan, lalu mengejan.”Jessica berulangkali meremas tangan James dengan sangat kencang. Hingga James ikut merasakan sakit akibat kuku-kuku istrinya yang tak begitu panjang namun terasa menusuk.“Semangat, sayang. Kau pasti bisa. Ada aku di sampingmu,” James menatap wajah meringis Jessica dengan keringat yang bercucuran.Meski merasa panik karena tak tega melihat Jessica kesakitan. Tapi James harus berusaha bersikap tenang. Agar Jessica juga ikut tenang karenanya.“Ayo! Pintar. Cob

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 142

    Jessica terenyuh. Ia membekap mulutnya sendiri melihat betapa romantisnya James. Lalu Jessica meraih kalung indah yang menggantung indah di hadapannya kemudian menatapnya dengan takjub.“Kau suka?” tanya James.Jessica mengangguk. “Sangat suka. Terimakasih, James.”“Sama-sama, sayang.”James tersenyum senang. Begitu Jessica menghambur memeluknya. James langsung membalas dekapan hangat istrinya itu dengan tangan terbuka.Sungguh. Jessica bentuk anugerah terindah yang Tuhan berikan untuknya.Tak berselang lama, Jessica kembali mengurai dekapan mereka. Ia beralih menatap James dengan sebuah senyum manis yang tersumir di bibirnya.“Sebenarnya, aku juga memiliki sebuah kejutan anniversary untukmu.”James menaikan sebelah alisnya. “Benarkah? Apa itu?”Jessica tak langsung menjawab. Tapi ia membuka tas selempang yang ia kenakan. Lantas mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.Kening James berkerut dalam saat ternyata Jessica mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyodorkannya pada James.“Apa in

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 141

    “Aku memang sudah gila sejak dulu. Kau baru tahu, ya? Ayo! Kita pelorotkan celanamu di sana!” Alden bergerak menarik tangan James. Hingga membuat James terkejut dan mencoba menggapai tangan Jessica.Tapi sayangnya, Jessica malah terkekeh dan tak berniat menolong James dari aksi Alden yang tak berprikemanusiaan!“Jessica! Tolong aku! Jangan biarkan cecunguk got ini menjatuhkan harga diri suamimu, sayang. Bilang padanya agar dia berhenti menarik tanganku!” James sedikit berteriak pada Jessica saat Alden menariknya mulai menjauh.Tapi balasan yang diberikan Jessica sungguh diluar dugaan.“Tidak apa. Bawa saja, Alden. Biar suamiku itu kapok dan tidak lagi mau mengumbar janji. Aku bahkan rela kalau para tamu undangan harus melihat isi celananya,” teriak Jessica lalu tergelak.James yang terus diseret oleh Alden melongo ucapan Jessica. Lantas ia merutuk dengan kesal.“Istri dan teman memang sama gilanya!”Dan hari itu..Semua tamu undangan yang hadir menjadi saksi mata bagaimana James hanya

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 140

    Hari ini..James dan Jessica mengunjungi pemakaman tempat Cinta-nya beristirahat dalam damai.Dengan sebuah buket mawar putih yang Jessica bawa. Langkah mereka terhenti di samping pusara buah hatinya.Jessica mengukir seulas senyum manis lalu ia meluruhkan tubuhnya hingga sejajar dengan nisan Cinta.“Jadi.. selama ini kau orangnya?” Jessica melirik kearah James. “Yang selalu menaruh sebuket mawar putih di makam Cinta? Mengapa aku tidak pernah menyadarinya selama ini? Aku just ru berpikir Aldenlah yang melakukan itu.”James tersenyum, lalu ia mengangguk. “Nyaris setiap hari aku ke sini. Meski hanya sekadar untuk menyapa anak kita. Aku sengaja membawakannya mawar putih sebab aku tahu kalau kau sangat menyukainya.”Jessica ikut menoleh pada nisan anaknya. Kalau saja Cinta masih hidup. Mungkin usianya sudah lebih dari dua tahun saat ini.Tapi Tuhan terlalu menyayangi Cintanya. Hingga ia harus berpisah bahkan sebelum Jessica pernah memberikan asi-pertama untuk anaknya itu.“Cinta. Buah hat

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 139

    Di pinggir jalanan yang lengang. James melangkah gontai seakan ia adalah seonggok raga yang tak memiliki jiwa. Pikirannya masih berkabut tentang bayangan senyum bahagia yang mungkin terpatri di bibir manis Jessica setelah gadis itu resmi menjadi Nyonya ferdinan.James mengerjap. Ia menghembuskan napas kasarnya yang terasa begitu berat. “Akhirnya kalian resmi menikah. Aku bahagia, Jessica. Aku bahagia untuk pernikahan kalian,” gumam James yang masih berjalan seraya menatapi jalanan kota jakarta yang selengang hatinya kini.Rencananya, setelah dari sini James memang akan pergi ke Amerika. Dan hal itu sudah ia ungkapkan pada Arya. Tapi sepertinya Arya tak bisa tutup mulut. Hingga lelaki itu memberitahukannya pada Alden.Sekarang James sedang melangkah menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari gereja tempat Jessica menikah. Sebab, di pelataran gereja itu sendiri sudah dipenuhi oleh mobil para jemaat yang menghadiri dan mobil khusus pengantin. Hingga mobil James tak muat untuk ikut

  • Gadis Kesayangan Tuan Mafia   BAB 138

    Ranira dan Harish juga Elijah juga tak kalah bingungnya. Mereka menggigit bibir melihat kekacauan yang sedang Alden ciptakan.Pendeta itu mengangguk. “Dia adalah Jessica calon istriku dan aku ingin menikahinya. Tapi karena pernikahan itu tak bisa dipaksakan, maka aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku memutuskan untuk membatalkannya.”Jessica terhenyak. Ia menyentuh lengan Alden agar menatapnya.“Apa yang sedang kau lakukan ini, Alden? Mengapa berkata seperti itu?”“Jessica. Aku mohon. Jangan lanjutkan sandiwara ini. Jangan membuatku semakin berharap. Aku tahu nama siapa yang tersemat di dalam hatimu bahkan saat kakimu pertama kali menginjak altar ini. Kau akan menikah denganku, tapi nama orang lain yang kau pikirkan.”“Alden..”“Sekarang aku juga mau bertanya padamu. Katakan dengan sangat jujur. Saat ini kita ada di dalam gereja, Jessica. Dan aku berharap kau tidak akan berbohong,” kata Alden lalu menyentuh puncak kepala Jessica dengan telapak tangannya. “Jessica fatima suri

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status