LOGIN"Jangaan!" sebelum Evans berhasil menarik pelatuknya, Ranira lebih dulu keluar dari tempat persembunyian dan berteriak keras.
Sontak saja teriakannya itu membuat semua orang yang ada di sana menoleh.
Tak terkecuali Natthan yang kini mengerutkan dahinya, marah.
"Evans, siapa gadis itu?" tanya Natthan kesal.
Evans menurunkan pistolnya. Dalam hati Evans berdecak kesal melihat Ranira bisa sampai di markas rahasia mereka.
"Ck! Apa yang dia lakukan di sini?" cetus batin Evans. Sorot matanya menggelap berikut dengan rahangnya yang mengetat.
"Bawa lelaki tua ini ke tempat penyekapan!" Evans memerintah pada bawahannya.
Dua orang bawahan Evans langsung bergerak melakukan yang disuruh, sedangkan yang lainnya tetap berdiri tegap dan menatap tajam ke arah Ranira yang sedang berdiri gemetaran di tempatnya.
"Evans, Papa sedang bertanya padamu. Siapa gadis itu dan kenapa dia bisa ada di sini?!" ulang Natthan, meninggikan suaranya.
"Dia Ranira, salah satu tawananku."
"Kau tahu kalau markas ini sangat rahasia. Tidak boleh ada orang asing yang masuk ke sini kecuali dengan persetujuan semua anggota!"
"Aku mengerti, Pa. Maaf."
Natthan mendengus kesal. "Berikan gadis itu hukuman yang seberat-beratnya! Jika perlu, bunuh saja dia setelah kau bosan agar dia tak membocorkan soal pergerakan kita pada dunia luar."
Perintah Nathan berhasil membuat Ranira terhenyak kaget. Mulut wanita itu menganga.
Dibunuh? Apakah nyawa Ranira akan berakhir di tempat ini? Di tangan seorang Evander si boss mafia kejam?
"Baik, Pa. Akan kuberi dia pelajaran agar dia tak berani lagi melakukan kesalahan sefatal ini," kata Evans sambil menatap tajam Ranira dari kejauhan.
"Kalau begitu lakukan sekarang!" perintah Natthan sambil berlalu pergi dari markas tersebut dengan wajah muram.
Ketika langkah Natthan melewati dirinya, wajah Ranira seketika pucat pasi melihat tajamnya mata lelaki setengah baya itu menghunus padanya. Terlihat jelas raut tidak suka yang terpancar di wajah Natthan pada Ranira.
"Siapa yang menyuruhmu datang ke mari?" suara dingin Evans terdengar. Membuat Ranira meremas tangannya di sisi tubuh.
"A-aku, aku haus. Aku sedang mencari dimana letak dapur di sini. Tapi malah terjebak di ruangan ini." Terpaksa Ranira berkata bohong demi keselamatannya.
Jika sampai Evans tahu niatnya adalah kabur, bisa saja Evans melesatkan peluru ke dadanya saat ini juga.
"Alasan yang sangat bodoh! Kau pikir aku mudah dibohongi," sinis Evans, kemudian mengangkat kembali pistolnya, kali ini tepat mengarah pada kepala Ranira dari kejauhan.
"A-apa yang mau kau lakukan?"
"Kau telah berani memasuki markas rahasia ini. Dan hukuman bagi orang asing yang berani masuk ke sini adalah dibunuh," kata Evans.
Mata Ranira terbelalak kaget. Mulutnya terbuka.
"Aku hanya tidak sengaja masuk. Aku menyasar ke tempat ini."
"Tapi kau sudah mencoba ikut campur saat aku hampir menembak kepala lelaki tua tadi."
"Itu karena lelaki tua itu tidak bersalah. Kau dan semua anggotamu yang sudah licik mengambil alih tanah miliknya. Dia sudah tua, tidak pantas diperlakukan kejam seperti itu." Ranira mencoba mengatakan apa yang ia rasakan dalam hatinya.
Namun Evans hanya tersenyum miring. Masih sambil mengacungkan pistol ke arah kepala Ranira.
"Mulutmu sudah terlalu banyak bicara. Sekarang giliranku untuk membungkamnya. Akan kubuat kau tidak pernah bisa mengatakan apa pun lagi," ucap Evans sebelum akhirnya menarik pelatuk pistolnya dan membuat Ranira langsung memejamkan mata.
Ranira berdiri pasrah jika satu peluru itu akan menembus kepalanya dan merenggut nyawanya.
DOR!
Suara tembakan terdengar keras mengejutkan Ranira. Namun Ranira merasa heran saat menyadari dirinya masih hidup.
Ranira membuka mata, lantas menoleh ke belakang. Desah lega keluar dari mulutnya begitu tahu ternyata yang barusan Evans tembak adalah vas bunga yang terletak tepat di samping kepalanya.
"Semuanya keluar! Tinggalkan ruangan ini! Aku akan memberikan pelajaran pada gadis itu!" perintah Evans pada seluruh bawahannya yang sejak tadi hanya menonton dengan raut puas karena melihat ketakutan di wajah Ranira.
"Baik, Tuan Evans."
Degup jantung Ranira memompa kuat. Keringat dingin pun membanjiri pelipisnya.
"Evans akan memberiku pelajaran? Kali ini apa lagi yang akan dia lakukan padaku?" batin Ranira panik.
Begitu seluruh bawahan Evans pergi dan menutup rapat pintu markas, kini tersisa Evans dan Ranira saja di dalam ruangan yang dindingnya didominasi warna hitam dan merah tersebut.
"Tikus kecil, kau salah dengan berani masuk ke kandang singa. Kali ini aku mengurungkan niatku menembakmu. Tapi jika kau melakukan kesalahan lagi, aku pastikan kepalamu akan bernasib sama seperti vas bunga itu." Sambil melangkah menghampiri Ranira, tangan kanan Evans lalu menunjuk pada vas bunga mahal yang telah pecah dan berserakan di lantai, tepat di dekat kaki Ranira.
Mendengar ancaman Evans, kuduk Ranira merinding ngeri.
"Aku minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Sekarang tolong lepaskan aku!"
"Kau terlihat berani saat kita pertama kali bertemu. Tapi sekarang aku melihatmu begitu lemah dan cengeng. Sekarang kau harus paham. Tidak boleh ada seorang pun yang membangkangku atau mencoba melawanku!"
Evans membuyarkan tangannya yang tadi bertolak pinggang, kemudian ia membalikan badan dan hendak beranjak pergi dari sana.
Ranira menatap punggung Evans sambil berteriak keras.
Teriakan yang berhasil membuat langkah Evans terhenti sejenak.
"Dasar iblis! Kau jahat, Evander! Kau manusia yang sangat jahat! Kau pikir kau akan bahagia dengan membuat orang lain menderita? Hah? Kau salah. Semua kepuasan yang kau dapatkan itu bukanlah kebahagiaan. Kau tertawa di atas penderitaan orang lain!"
"Selamanya hidupmu tidak akan bahagia! Aku pastikan itu!" lanjut Ranira berteriak hingga urat-urat lehernya bertonjolan.
Evans terdiam sesaat tanpa menoleh ke belakang. Namun tangan kanannya sempat mengepal kuat.
Selanjutnya, Evans kembali melangkah dan memilih tak mempedulikan teriakan wanita itu.
"Pelayan! Bawa dia kembali ke kamarnya!"
***
Evans sedang duduk di minibar sambil menikmati segelas sampanye saat Natthan datang menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Bagaimana dengan gadis itu? Apa kau sudah membunuhnya?" tanya Natthan sambil menuangkan sampanye ke dalam gelas.
Evans menjauhkan gelasnya dari bibir, lalu menjawab. "Dia masih hidup. Aku tidak membunuhnya."
"Kenapa kau membiarkannya hidup? Itu bisa mengancam keamanan organisasi kita."
"Tenang saja, Pa. Gadis itu sangat bodoh dan penakut. Dia tidak mungkin membahayakan kita. Aku bisa jamin itu," kata Evans meyakinkan ayahnya, kemudian Evans kembali meneguk sampanye di gelasnya hingga tandas.
"Kau belum menceritakan tentang latar belakang gadis itu pada Papa. Setahu Papa, kau hanya bermain-main dengan Sofia saja akhir-akhir ini. Tapi tiba-tiba gadis itu ada di mansionmu. Siapa namanya? Bagaimana ceritanya dia bisa ada di tempat ini?" sejak pertama melihat Ranira, Natthan penasaran.
Sebab hanya Ranira saja yang berani masuk ke dalam markas rahasia mereka.
"Dia anak kandung Mike Moseley." Jawaban Evans sukses mengejutkan Natthan hingga bola mata ayahnya itu terbelalak lebar.
"Apa? Dia putrinya si penghianat itu?" pekik Natthan keras. "Untuk apa kau membiarkannya berada di mansion ini? Harusnya kau langsung membunuhnya. Tindakanmu mengampuni Mike saja sudah salah besar. Lalu sekarang kau membiarkan putrinya hidup."
Natthan berdiri dari duduknya. Wajahnya terlihat marah. Evans mendongkak menatap pada Natthan yang berjalan tegas menuju ke sebuah ruangan yang membuat Evans terkejut.
Itu adalah ruangan dimana Natthan menyimpan koleksi senjatanya.
"Pa, apa yang akan Papa lakukan?"
"Jika kau tak mau membunuh gadis itu, biar Papa saja yang melakukannya. Dia harus menanggung hukuman karena penghianatan ayahnya!" Natthan sudah siap mengambil sebuah pistol besar, lalu mengisinya dengan peluru.
Evans segera mencegah dengan memegangi pistol itu sebelum Natthan berhasil melangkah pergi.
"Lepaskan Papa, Evans! Papa harus membunuh gadis itu!"
"Jangan lakukan itu, Pa!"
"Kenapa? Kenapa kau mencegah Papa melakukannya? Oh, apa jangan-jangan kau mulai tertarik pada gadis itu? Iya?" mata Natthan memicing.
Menanggapi itu, Jessica langsung berdecih meludah ke sampingnya. Ia tak ingin membuat James besar kepala dan menganggapnya menikmati tautan bibir mereka.Meskipun sebenarnya, Jessica memang merasakan sedikit gelenyar aneh yang menjalar di tubuhnya ketika James menjamah bibirnya tadi.Tetapi Jessica tidak ingin menunjukan itu."Jangan mimpi! Salah besar jika kau berpikir aku menikmati sentuhanmu. Aku muak padamu! Aku membencimu!" tegas Jessica."Benarkah?" James memicingkan mata.Jessica terdiam dengan mengatur napasnya. Ia tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Tatapan James begitu lekat menatapnya, seolah lelaki itu ingin menyelami apa yang ada dalam pikirannya."Kau seorang putra dari keluarga terhormat. Bisakah kau berperilaku lebih manusiawi? Kau sudah menghancurkan kehormatan seorang wanita, lalu mengganggu ketenangannya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, kau bahkan tak meminta maaf. Sikapmu betul-betul tidak mencerminkan derajatmu." akhirnya Jessica bangkit berdiri, ia bisa turu
Pulang menuju rumahnya, Jessica menggerutu sepanjang jalan. Ia tidak habis pikir dengan Alden. Lelaki kaya itu membuatnya jengah dan sebal."Mungkin dia pikir karena aku ini wanita miskin dan dia bisa memanfaatkanku. Tidak! Aku paham apa yang ada dalam pikiran lelaki pembual seperti dia. Yang ada di dalam otaknya hanya bagian dalam paha wanita!" gerutu Jessica sembari terus melangkahkan kakinya, menyusuri gang kecil yang menyambung menuju ke kontrakannya.Fisiknya sangat lelah. Sejak tadi pagi, entah berapa kali Jessica menahan mual. Jessica menunduk, mengelus perutnya yang masih datar.Sekarang Jessica sudah bisa menerima kehamilannya. Bahkan Jessica menyesal mengapa dulu ia sempat ingin menggugurkan kandungannya."Mama tahu kau pasti lelah. Maaf ya, seharusnya dalam kondisi hamil muda seperti ini Mama tidak terlalu keras bekerja. Tetapi Mama perlu bekerja untuk dapat uang," ucap Jessica pada bayi yang ada dalam rahimnya.Sampai langkahnya terhenti di depan pintu kontrakannya. Jessic
Namun saat mulutnya terbuka dan benar-benar nyaris menelan semua obat itu, tiba-tiba Jessica langsung memuntahkannya ke lantai dan mengurungkan niatnya."Tidak! Aku tidak bisa melakukan ini! Tidak bisa!" isaknya, lalu menangis dan berbaring miring di atas ranjangnya.Jemarinya meremas bantal dengan kuat, ingin sekali Jessica menjerit marah.Mengapa hati kecilnya melarangnya melakukan itu? Mengapa hati kecilnya tak mengizinkanna melenyapkan bayi milik James yang sedang dikandungnya?***"Tuan Alden! Anda membeli sebuah bunga?" Nando—sekretaris Alden bertanya pada Alden ketika bossnya itu menghentikan mobil di toko bunga, lalu membeli buket bunga mawar berukuran sedang dari sana.Masih berdiri di dalam toko itu, Alden mendekatkan bunga ke hidungnya, aroma wangi dari bunga mawar itu langsung membelai indera penciumannya.Alden tersenyum menatap bunga di tangannya. Senyum itu membuat Nando semakin bingung. Pasalnya, ia seperti tak mengenal sosok Alden yang saat ini berdiri di hadapannya.
Seketika Jessica mematung di tempatnya. Ia berpikir, setiap kali melewati gang yang tak jauh di depannya itu, Jessica memang seringkali melihat ada beberapa lelaki yang sedang mabuk dan berjudi. Kini, Jessica jadi takut dan gamang jika harus melanjutkan langkah kakinya.Ketika melihat Jessica tak bergerak atau pun bereaksi, James akhirnya mulai kembali menyalakan mesin mobilnya. Bermaksud untuk meninggalkan Jessica saja. Gadis ini terlihat sedang berpikir seperti siput saja. Lambat sekali menurut James.Tapi, ketika mesin mobil James benar-benar menyala. Pintu mobil depannya juga sudah ditutup. Jessica mulai membuka mulutnya dan segera bergerak untuk menghadang mobil James yang sudah kembali pada posisi yang benar.“James, Tunggu!” teriak Jessica.Sontak saja James menghentikan mobilnya. Diam-diam di dalam mobil, sudut bibirnya terangkat.Jessica mengetuk kaca mobil, dan James menurunkannya.“James. Enghh ... boleh aku menumpang padamu?” tanya Jessica dengan wajah malu dan takut.Jame
"Hei! Buka matamu! Aku mohon, Tuan! Sadarlah!" Jessica menepuk-nepuk kedua pipi Alden untuk menyadarkannya."Lebih baik segera bawa saja dia ke rumah sakit!" salah satu orang yang ikut berkerumun di sana memberi saran.Jessica mengangguk, membiarkan orang-orang itu membawa Alden masuk ke dalam mobil bagian belakang. Jessica dipaksa ikut ke mobil dan ia duduk dengan menaruh kepala Alden di atas pangkuannya.Padahal seharusnya Jessica sudah tiba di tempat kerjanya. Tetapi dengan terpaksa Jessica menghubungi atasannya dan meminta izin kalau ia akan sangat terlambat masuk kerja. Awalnya Jessica mendapat omelan dari atasannya. Tetapi syukurlah atasannya masih berbaik hati dengan tidak memecatnya.Mungkin karena selama ini Jessica selalu bekerja dengan baik tanpa mengambil cuti satu kalipun.Sepanjang jalan menuju rumah sakit, sesekali Jessica menunduk memperhatikan wajah tampan yang berada sangat dekat dengannya. Kedua alisnya saling bertaut saat benaknya memikirkan sesuatu.Setelah diperi
Bukan hanya saat kakek dan ibu kandungnya meninggal, tapi juga karena desakan para anggota klan mafia yang dipimpin Evans terus mendesaknya untuk ikut bergabung dengan mereka.Jika bukan karena Ranira, mereka pasti tak segan mencelakai James karena dianggap berkhianat pada klan mereka."Tapi aku tidak dibutuhkan di sana, Nek. Kalian mulai saja acaranya tanpa aku," kata James dengan wajah biasa saja saat mengatakan itu. Tapi jauh dalam hatinya, jelas James tidak sedang baik-baik saja.Dan Ranira selalu marah setiap kali James mengatakan itu.“Kau jangan bicara begitu! Pokoknya kau harus datang ke sini! Kalau kau berkeras tidak mau datang, Nenek pastikan, kau tidak akan pernah melihat wajah nenek lagi besok pagi!' kata Ranira sebelum mengakhiri sambungan telponnya.James berdecak mendengar itu. Ranira mengancamnya dan James tahu kalau Neneknya itu tidak pernah bermainmain dengan perkataannya.Maka mau tidak mau, James harus datang ke sana. Karena ia tidak ingin kehilangan Ranira yang sa







