LOGINMalam semakin larut. Di ruang rawat yang tenang, Anya akhirnya tertidur setelah obat penenang mulai bekerja. Wajah wanita itu masih terlihat pucat. Bahkan dalam tidurnya pun keningnya masih sedikit berkerut seolah mimpi buruk belum benar-benar meninggalkannya.Nares duduk diam di samping ranjang cukup lama menatap wajah Anya tanpa berkedip. Tatapannya perlahan berubah gelap. Semakin ia memikirkan semuanya… semakin banyak hal yang terasa salah. Pria itu akhirnya berdiri lalu berjalan keluar kamar rawat.Begitu pintu tertutup, ekspresinya langsung berubah dingin dan menekan. Ia menghubungi satu nomor. Tak butuh waktu lama sampai panggilan terangkat.“Tuan.”“Jhon,” suara Nares rendah dan berat. “Selidiki semua tentang enam tahun lalu.”Jhon langsung serius.“Maksud Tuan… malam di vila itu?”“Ya.”Tatapan Nares mengeras.“Aku ingin tahu kenapa aku bisa tidur dengan Anya.”Hening beberapa detik.“Baik, Tuan.”Panggilan langsung terputus. Tidak sampai beberapa jam, Jhon sudah kembali memba
Di rumah, Juan berjalan mondar-mandir sejak satu jam lalu. Ponselnya terus menempel di telinga. Namun panggilan pada nomor Anya tidak pernah diangkat.Wajahnya makin gelap setiap detik berlalu.nSementara di sofa ruang tamu, Kyan dan Kiara terus memperhatikannya dengan cemas.“Ayah Juan…” panggil Kiara pelan. “Mama belum pulang?”Juan mencoba tersenyum tenang meski rahangnya menegang.“Mungkin masih kerja.”“Tapi Mama nggak pernah malam begini…” gumam Kyan pelan.Juan kembali mencoba menelepon.nDan kali ini… sambungan terangkat. Wajah Juan langsung berubah serius.“Anya?!”Namun suara yang terdengar justru suara pria lain.“Anya bersamaku.”Deg.Juan langsung mengenali suara itu.Nares.Sebelum Juan sempat bicara lagi,Tut.Panggilan diputus begitu saja.nJuan langsung mengepalkan tangan kuat-kuat sampai buku jarinya memutih.“Sialan…”Kyan dan Kiara langsung saling berpandangan bingung.Sementara itu di rumah sakit, lampu kamar rawat bersinar redup dan tenang.nKelopak mata Anya perlaha
“Anya pernah dilecehkan belasan pria.” Deg. Juan langsung menarik napas pelan. “Ya,” katanya lirih. “Aku tahu.” Kini giliran Leon yang terkejut. “Kamu sudah tahu?” “Dari dulu.” Leon memejamkan mata sesaat lalu mengusap wajahnya kasar. “Aku memang menyukai Anya,” katanya akhirnya. “Aku juga sayang Kyan dan Kiara seperti anakku sendiri.” Tatapannya perlahan berubah rumit. “Tapi…” Juan langsung menatapnya tajam. Leon mengepalkan tangan. “Mengingat dia pernah disentuh banyak pria…” Suara Leon mengecil. “Aku merasa jijik.” Buk! Juan langsung menghajarnya tanpa ragu. Tubuh Leon terhuyung ke samping. “Kau bajingan.” Juan menatapnya penuh kemarahan. “Setelah semua yang Anya lewati… kau masih berani bilang jijik?!” Leon menyeka darah di bibirnya lalu tertawa kecil miris. “Jangan munafik, Juan.” Tatapannya perlahan naik tajam. “Memangnya kamu mau punya pasangan bekas?” Deg. Kalimat itu menggantung di udara. Dan tanpa mereka sadari… Beberapa meter dari sana, Anya berdir
Malam itu Leon baru kembali dari luar kota setelah perjalanan kerja hampir seminggu penuh. Ia baru turun dari mobil saat melihat Juan berdiri di depan rumah sambil merokok sendirian. Leon langsung mengernyit. “Tumben mukamu kusut begitu.” Juan meliriknya sebentar lalu membuang asap rokok pelan. “Nares kembali.” Kalimat itu langsung membuat langkah Leon berhenti. Tatapannya berubah dingin seketika. Beberapa detik suasana langsung hening. Berbeda dengan Juan yang merasa kedatangan Nares hanya menciptakan saingan baru… Leon justru merasakan sesuatu yang jauh lebih gelap. Amarah. Amarah besar yang selama enam tahun ini tidak pernah benar-benar hilang. Rahang Leon mengeras. “Di mana dia?” tanyanya pendek. Juan meliriknya pelan. “Kau mau ngapain?” Leon tersenyum dingin. “Membunuhnya.” Juan menghela napas panjang. Ia tahu Leon tidak bercanda.bKarena dibanding dirinya… Leon selalu paling membenci Nares. Bukan karena cinta segitiga. Tapi karena Nares adalah alasan terbesar penderi
Sore hari Anya baru kembali ke kantor setelah menemani Delia meeting di luar bersama klien besar perusahaan. Wajahnya terlihat lelah. High heels yang ia pakai sejak pagi bahkan mulai terasa menyiksa kakinya. Begitu memasuki lobby kantor, beberapa karyawan langsung menyapanya hormat.“Selamat sore, Bu Anya.”Anya hanya mengangguk kecil sambil membuka blazer yang terasa sesak. Namun baru beberapa langkah menuju lift, resepsionis buru-buru memanggilnya.“Bu Anya!”Anya menoleh. “Ya?”Resepsionis itu tersenyum lebar sambil menunjuk meja depan.“Ada titipan bunga buat Ibu.”Anya mengernyit bingung lalu berjalan mendekat.Di atas meja resepsionis tergeletak sebuah buket bunga besar yang sangat indah. Mawar putih bercampur lily dengan pita hitam elegan. Jelas bukan bunga murah. Anya langsung menghela napas panjang.“Dari siapa?” tanyanya malas.Resepsionis itu malah tersenyum makin heboh.“Dari pria tinggi…”Ia menurunkan suara penuh semangat.“Dan ganteng banget, Bu.”Anya langsung tahu sia
Setelah turun dari mobil, Anya langsung menggenggam tangan Kyan dan Kiara lalu berjalan menuju rumah. Namun baru beberapa langkah, Kyan tiba-tiba menarik pelan ujung baju ibunya. “Mama…” Wajah bocah itu merah sampai ke telinga. Bahkan ia terlihat salah tingkah sambil menunduk malu-malu. Anya menoleh bingung. “Apa?” Kyan menggigit bibirnya kecil lalu berkata pelan, “Om ganteng tadi… panggil aku sayang…” Kiara yang berjalan di sisi lain langsung ikut memeluk lengan Anya sambil tertawa malu-malu. Wajah kecilnya ikut merah. “Aku juga dipanggil sayang…” gumamnya pelan. Anya langsung menatap kedua anak itu beberapa detik sebelum menghela napas geli. “Tiap hari Mama juga panggil kalian sayang.” Ia menyipitkan mata curiga. “Tapi kalian nggak pernah malu kayak gitu.” Kyan dan Kiara langsung menjerit malu bersamaan lalu memeluk kaki Anya erat-erat sambil tertawa kecil. “Kan beda…” gumam Kyan. “Iya… Om ganteng soalnya…” tambah Kiara polos. Anya langsung memijat pelipis. “Ya Tuhan
Setelah jam kuliah berakhir, Emily langsung menuju tempat praktik ibunya. Langkahnya tergesa, pikirannya penuh. Begitu sampai, ia mengetuk singkat lalu langsung membuka pintu. Tok tok tok. “Ma...” Emily masuk dan tanpa ragu memeluk ibunya. Dr. Melita terkejut sebentar, lalu tersenyum lembut. “Ka
Anya sudah rapi, tas tersampir di bahu, sepatu terpasang sempurna. Namun langkahnya terhenti di ruang tengah. Anya melirik ke arah tangga, menunggu. Leon sudah berdiri di dekat pintu, kunci mobil berputar-putar di jarinya. “Yuk, berangkat. Nanti telat,” katanya santai. Anya mengangguk, tapi m
Pelukan itu masih terjadi. Nares berdiri kaku, sementara Anya tetap menempel di punggungnya. Di dalam kepalanya, sesuatu bertabrakan keras. Pergi… atau tinggal. Mengungkapkan… atau memendam selamanya. Jika ia diam, Anya akan baik-baik saja. Gadis itu akan tetap tertawa, kuliah, hidup tanpa
Pagi masih muda ketika Nares tiba di kediaman Dito. Udara dingin belum sepenuhnya pergi. Rumah tua itu selalu memberi kesan tenang seperti tempat yang aman untuk mengambil keputusan besar. Dito sedang menikmati teh paginya ketika melihat Nares masuk. “Kamu datang pagi-pagi,” ucap Dito sambil ters







