LOGINSetelah turun dari mobil, Anya langsung menggenggam tangan Kyan dan Kiara lalu berjalan menuju rumah. Namun baru beberapa langkah, Kyan tiba-tiba menarik pelan ujung baju ibunya. “Mama…” Wajah bocah itu merah sampai ke telinga. Bahkan ia terlihat salah tingkah sambil menunduk malu-malu. Anya menoleh bingung. “Apa?” Kyan menggigit bibirnya kecil lalu berkata pelan, “Om ganteng tadi… panggil aku sayang…” Kiara yang berjalan di sisi lain langsung ikut memeluk lengan Anya sambil tertawa malu-malu. Wajah kecilnya ikut merah. “Aku juga dipanggil sayang…” gumamnya pelan. Anya langsung menatap kedua anak itu beberapa detik sebelum menghela napas geli. “Tiap hari Mama juga panggil kalian sayang.” Ia menyipitkan mata curiga. “Tapi kalian nggak pernah malu kayak gitu.” Kyan dan Kiara langsung menjerit malu bersamaan lalu memeluk kaki Anya erat-erat sambil tertawa kecil. “Kan beda…” gumam Kyan. “Iya… Om ganteng soalnya…” tambah Kiara polos. Anya langsung memijat pelipis. “Ya Tuhan
Sebuah suara bariton terdengar dari arah depan. “Mama…?” Langkah mereka langsung terhenti. Kyan dan Kiara spontan menoleh bersamaan.nSementara wajah Anya perlahan berubah datar saat melihat siapa yang berdiri beberapa meter di hadapan mereka. Nares. Pria itu melangkah perlahan. Tatapannya jatuh pada Kyan dan Kiara beberapa detik sebelum kembali menatap Anya. “Mama?” ulangnya pelan. “Mereka berdua anakmu?” Suasana langsung berubah aneh. Anya melirik Juan yang berdiri di sampingnya. Sementara dalam hati Juan terasa seperti ada sesuatu yang menghantam keras. Dia… kembali? Tatapan Juan langsung berubah waspada. Sedangkan Nares kini melirik Juan sinis. Ada rasa kesal sekaligus penasaran dalam matanya. Anak Anya sama dia? Juan segera mengusap kepala Kyan lalu berkata lembut, “Sayang, panggil Om.” Kyan langsung tersenyum manis pada Nares. “Om… kamu sangat tampan.” Kiara langsung ikut mengangguk semangat. “Benar! Wajah Om ganteng banget!” Nares sedikit terd
Anya berjalan menuruni tangga sekolah dengan langkah perlahan. Tangannya menggenggam tangan kecil Kyan erat, sementara Kiara berada dalam gendongan Juan sambil memeluk leher pria itu manja. Suasana yang tadi penuh amarah perlahan mulai mereda. Anya menoleh pada putranya lalu berkata lembut, “Masalah hari ini bukan salahmu. Ibu nggak akan nyalahin kamu.” Kyan langsung mendongak. Wajah kecilnya masih sedikit cemberut, tapi matanya berbinar mendengar ucapan itu. “Aku tahu,” katanya penuh percaya diri. “Mama memang paling baik.” Kiara langsung ikut mengangguk cepat dari gendongan Juan. “Kyan benar. Mama memang terbaik!” Juan tertawa kecil mendengar keduanya kompak membela ibunya. “Itu sebabnya aku sangat menyukai ibu kalian.” Anya langsung melirik Juan malas. “Jangan ngomong sembarangan di depan anak-anak.” Namun Kyan justru langsung menyeringai jahil. “Ayah Juan suka Mama lagi…” Kiara langsung ikut menimpali dengan mata bulat polosnya. “Ayah Juan nanti nikah sama Mama?” Jua
“Sekarang sudah mengerti belum?”Guru itu langsung mengangguk cepat. “Sudah, Bu… sudah.”Anya tersenyum tipis lalu melirik wanita paruh baya itu sambil mengangguk pelan penuh kemenangan. Sementara itu Kyan dan Kiara langsung menjulurkan lidah ke arah Ronald dengan wajah puas. Juan sendiri sampai harus memalingkan wajah karena menahan tawa. Kekalahan telak wanita tua itu benar-benar memalukan.Namun wanita paruh baya itu menghentakkan kaki dengan kesal. Wajahnya merah padam menahan malu.“Anya! Kau sombong apa? Bahkan kau sudah dibuang oleh keluarga Mahesa!” bentaknya. “Dan sekarang kau malah punya dua beban kecil!”Ia menunjuk Kyan dan Kiara dengan sinis.“Kau pikir dengan masa lalumu itu masih bisa menikah dengan orang kaya dan menjamin hidup dua bocah sialan itu? Hah? Siapa yang kasih kau muka setebal ini? Apalagi kau berani menamparku!”Anya langsung membentak balik.“Bukannya itu kau?”Ruangan langsung hening.“Muka sebesar dan setebal itu terus maju mendekat. Kalau nggak ditampar
Saat Anya hendak pergi, Nares tiba-tiba menarik tangannya kuat hingga tubuh wanita itu terhuyung dan menabrak dada bidang pria tersebut. Belum sempat Anya mengeluh, Nares sudah menangkup pinggangnya, menarik wajah itu semakin dekat. Tatapannya tajam, penuh rasa possessif yang nyaris menyesakkan.“Aku belum selesai sama kamu,” gumamnya pelan.Nares menunduk hendak mencium bibir Anya lagi, namun tiba-tiba ponsel Anya berdering nyaring.Anya langsung menoleh. Nama wali kelas Kiara dan Kyan muncul di layar.Entah kenapa, dada Anya langsung terasa tidak enak. Ia buru-buru mengangkat telepon itu.“Halo, Bu?”Di seberang sana terdengar suara panik.“Bu Anya bisa datang ke sekolah sekarang? Kyan berkelahi… dan Kiara menangis dari tadi, tidak bisa berhenti.”Wajah Anya langsung pucat.“Apa?”Anya langsung mendorong tubuh Nares tanpa pikir panjang. Wajahnya yang tadi masih kesal kini berubah penuh kecemasan.“Kyan berantem…” bisiknya panik.Ia bahkan tidak peduli lagi pada Nares. Tidak peduli p
Nares masih bertelanjang dada saat jemarinya menyentuh ujung hidung Anya yang kini terkurung di dalam pelukannya. Wajah pria itu tampak begitu cerah, bahkan ia terkekeh pelan melihat reaksi Anya yang geli. Namun ketika jarinya turun menyentuh bibir Anya, wanita itu bergerak lalu perlahan membuka mata. Begitu menyadari wajah Nares berada sangat dekat di hadapannya, Anya langsung terkejut setengah mati. "Eh… kamu gila, ya?" katanya spontan sambil menggeser wajah, berusaha menjauh sedikit. Alih-alih melepaskan, Nares justru menarik lengannya kembali. Senyum jahil terukir di bibirnya. "Ya, aku memang gila," ucapnya santai. "Nona Anya mau obati aku nggak?" Wajah Nares semakin mendekat. Refleks, Anya menarik selimut hingga menutupi dadanya. Tatapan pria itu benar-benar seperti binatang buas yang siap menerkam kapan saja. Dan tepat saat Nares hendak mencium bibirnya, Anya buru-buru menahan leher pria itu dengan kedua tangan. "Kau benar-benar sudah gila," gerutunya. "Aku harus pergi. A
Siang itu ibu kota terasa lebih lengang dari biasanya ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat meluncur keluar dari area bandara dengan pengawalan di depan dan belakang. Kilau bodinya memantulkan cahaya matahari, memotong jalanan seperti penguasa yang kembali menagih takdir. Di dalam mobil,
Di depan kelas, suasana mendadak hening. Alex berdiri di depan papan tulis dengan kepala tertunduk. Tangannya saling meremas, jelas tidak nyaman. Guru kelas berdiri di sampingnya. “Alex ingin menyampaikan sesuatu,” ujar sang guru. Alex menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Kiara. “Aku… ak
Leon tidak langsung pergi setelah memastikan Kyan dan Kiara masuk kelas. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Ia berbelok menuju gedung administrasi dan berhenti tepat di depan pintu bertuliskan Ruang Kepala Sekolah. Tok tok tok. Tanpa menunggu jawaban, Leon masuk. Kepala sekolah yang tengah merap
Malam itu, lampu kamar Kiara masih menyala. Jam di dinding sudah melewati tengah malam, tapi anak kecil itu belum juga terlelap. Leon berdiri di ambang pintu sebentar, lalu melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang. Kiara memeluk bantal kecilnya, matanya terbuka, menatap langit-langit. “Kenapa Ki







